I Wanna Touch Your Heart (Vol 2)

I Wanna Touch Your Heart (Vol 2)
K E N A N G A N



“Tak perlu banyak bicara, cukup menetaplah dihidupku dan jangan pernah beranjak pergi selamanya.”


“Sunny, aku sangat mencintaimu,” ucap Kenan dengan lirih


Iya kak Kenan,  aku pun juga sangat mencintai kakak dengan sepenuh hatiku.


Setelah mengungkapkan segala kegundahan hatinya, Kenan pun merebahkan dirinya di atas pangkuan Sunny dan kepalanya berada tepat diatas paha Sunny.


Kakak tenanglah dan istrahatlah. Ujar Sunny, sembari membelai lembut dahi hingga ubun-ubun kepala Kenan.


Perlahan-lahan Kenan memejamkan matanya sejenak, tidak tidur namun sekedar menenangkan pikirannya yang sedang kacau balau.


“Sayang, mau kah kamu menikah denganku?” tanya Kenan sembari merangkul panggul Sunny dengan menggunakan tangan kirinya.


Yah, tentu aku mau kak! tapi bukan sekarang, karena kakak pun harus menyelesaikan permasalahan kakak. Tukas Sunny sembari tersipu malu


“Begitu yah, tapi aku sudah tidak sabar lagi ingin melihatmu hamil sayang,”


Aishh, kak Kenan… sabar yah sayang. Ucap Sunny sembari terus membelai kepala Kenan


 “Sayang,” Kenan meraih tangan kanan Sunny yang sedang membelai


Kenapa kak? jawab Sunny sembari memandang wajah Kenan yang tengah memandangnya pula


 “Aku ingin memelukmu sayang,” ujar Kenan sembari beranjak dari pembaringannya


Hmmpp…


Sunny membelai lembut punggung Kenan, Kenan pun membalas belaian Sunny.


“Sayang, ini sudah malam! biar ku antar kamu pulang.”


Tidak usah repot-repot kak, aku kan bawa mobil.


“Yakin!!”


Kenan menyentuh wajah Sunny


Iya sayang… balas Sunny sembari menggenggam tangan yang sedang


menyentuh wajahnya dengan begitu lembut tersebut.


____________________*___________________


Pak Calvin, ini semua laporan dan juga data-data yang bapak minta.


“ohh letakkan saja di atas meja saya,” Calvin yang dirundu pilu semenjak kejadian beberapa waktu yang lalu.


“argh…


Kenapa aku jadi kacau begini…” gumam Calvin yang sedang menyenderkan dirinya dikursi kerja yaitu tepatnya di ruangan direktur.


Calvin mengambil ponselnya dan mencoba untuk menelpon Sunny.


“hallo Sunny, maaf jika aku mengganggumu.


Ah aku ingin mengajakmu makan malam sepulang kerja yah, anggap saja sebagai permintaan maafku.”


Hmm.. Sunny aku tidak tahu harus berbuat apalagi jika aku harus melepaskanmu.


“Di sebuah resto Korea”


“Seharusnya tadi aku menjemputmu Sunny.”


Tidak perlu kak, lagi pula aku pun membawa mobil sendiri.


“Sunny, aku ingin  minta maaf atas perlakuanku pada malam itu.


Aku tidak menyangka jika tunanganmu datang.”


Iya sudah kak, yang sudah berlalu biarlah berlalu, lagi pula kak Kenan sangat mempercayaiku dan aku pun tidak mungkin mengkhianati kak Kenan.


“Sunny, seandainya kelak tunanganmu itu bukanlah jodohmu! bagaimana?”


Aku hanya bisa menyerahkan semuanya kepada Tuhan, dan biarlah Tuhan yang bertindak. Aku pun sudah lelah jika harus mencari yang baru.


“Iya Sunny, aku hanya mengajakmu berpikir dan berandai-andai saja.”


Ohh baik kak…


Sepanjang makan malam mata Calvin tak lepas dari wajah cantik Sunny, Sunny pun mengetahui hal tersebut, hanya saja Sunny tidak mempedulikannya.


“Sunny, kamu tidak mau datang ke rumahku lagi??”


Maaf kak, aku sedang sibuk-sibuknya mengurus berkas-berkas kantor.


Ohh iya kak, jika sudah tidak ada lagi yang ingin dibicarakan aku harus segera pulang! ucap Sunny sambil membereskan tasnya.


“iya Sunny, aku iringi dengan mobilku yah”


Tidak perlu kak, kakak langsung pulang saja…


“Oh oke,” Calvin pun kembali duduk sambil memandangi kepergian Sunny dengan wajah sendunya.


Wah baru ingat kalau tissue di apartemen habis, kalau begitu ke mini market dulu.


Sunny berbalik arah dan munuju sebuah mini market. Sambil mencari barang yang diinginkannya, tanpa sengaja bertemu dengan Adrian yang pada saat itu sedang sibuk memilih barang dan keduanya berpapasan.


Adrian yang menyadari bahwa wanita yang berada di sebarangnya idalah Sunny, sontak membuatnya terhenti sejenak dan memandangi Sunny dengan sendu. Sunny yang juga kebetulan membalik diri ke  arah Adrian berusahatetap memberikan senyuman ramah layaknya orang biasa.


Setelah melemparkan senyuman Sunny pun pergi menuju kasir sambil membawakan sebuah keranjang merah yang berisikan item-item barang yang telah ia pilih tersebut.


“Belanja banyak Sunny,” ujar Adrian sembari tersenyum sendu.


Ah ia kak Adrian… jawab Sunny singkat sambil membalikan diri lalu pergi dari tempat antrian pembayaran/ kasir.


“kamu baru pulang kerja,” tanya Adrian saat berada di loby dan keduanya terlihat sama berjalan menuju parkiran.


Iya kak, tadi ada urusan sedikit kadi aku langsung saja belanja kebutuhan rumah. Tukas Sunny sambil terus berjalan dan terlihat cukup cuek


“Masih suka pulang telat yah…” ucap Adrian yang membuat Sunny cukup tertegun dengan ucapan Adrian tersebut.


 Ah ia kak, karena pekerjaan cukup sibuk.


Sunny tetap berusaha tersenyum dan membuka pintu mobilnya.


“Hati-hati yah Sunny,” ucap Adrian yang masih berdiri di samping mobil cayla milik Sunny.


Aku duluan yah kak…


“Hmmpp…


Adrian menghela napasnya sembari menyalakan mobil dan mulai menyetir.


Berarti posisiku saat ini sudah menjadi kenangan dihati Sunny, bahkan cincin gold yang telah melingkar dijari manisnya sudah menunjukkan statusnya yang bukan lagi wanita single. Gumam Adrian sembari menyetir dan masih terus mengingat bayang-bayang wajah Sunny.


Sementara itu…


Kak Adrian, aku sudah mendapatkan lelaki yang mencintaiku dengan jujur dan tulus…


Gumam Sunny dalam benaknya sembari memandangi foto yang terletak di atas lemari samping ranjangnya.


Terlihat foro dirinya bersama Kenan sedang tersenyum lepas saat di pesta pertunangan mereka.


Tuhan, terimakasih telah mengirimkanku lelaki yang jujur dan tulus menerima bahkan


mencintaiku apa adanya. Tidak ada lagi yang aku cari selain mempertahankan cintaku bersama kak Kenan…


Adrian yang pernah menjadi bagian terpenting dalam hidup Sunny, kini telah menjadi kenangan masa lalunya. Sosok pria yang pernah Sunny cintai dengan sepenuh hati dan juga tak lepas dari suka duka, namun semua sudah berlalu yang cukup menjadi torehan cerita dan tak akan terulang kembali.


                                  ***