I Wanna Touch Your Heart (Vol 2)

I Wanna Touch Your Heart (Vol 2)
Pemulihan hati



Setelah mengetahui kebenaran dari foto-foto sensual milik Kenan bersama Denia, kini Kenan harus menghadapi Jeho yang tidak akan tinggal diam melihat kebahagiaannya.


“Sunny, mungkin untuk beberapa hari aku akan pergi ke luar kota untuk menyelesaikan beberapa hal,” ujar Kenan saat sedang bersama Sunny.


Iya kak, kakak tetap selalu menjaga kesehatan saat disana.


“Iya sayang, tentunya.” Kenan mengusap-usap kepala Sunny dengan lembut.


Beberapa hari kemudian…


“Raka, dalam beberapa hari ke depan kita akan ke luar kota untuk menyelesaikan beberapa urusan.”


Baik pak Kenan, untuk keperluan lainnya saya akan segera persiapkan. Ujar Raka, sekretaris pribadi Kenan.


“Pak Tino dan bi Ina, tolong urus rumah dengan baik, karena saya akan pergi dalam beberapa hari.”


Pak Kenan sudah selesai menelpon orang-orang rumah.


Kenan bersama sekretaris pribadinya dan juga beberapa orang kepercayaan pergi mendampingi Kenan untuk urusan dinas.


***


“Raka, kamu sudah bersamaku selama beberapa tahun terakhir ini. Saya sangat mempercayaimu, saya tidak ingin dikecewakan lagi.” Ujar Kenan sembari berbaring di sebuah kamar hotel.


Iya pak Kenan, apa pun yang bapak rencanakan untuk kemajuan perusahaan, saya akan sebisa mungkin membantu.


“Iya Raka, besok saya akan menemui mama dari Jehonathan Albertus.”


Bapak ingin menemuinya mama dari direktur sombong yang sudah mendepak kita dari perusahaan itu pak!! tukas Raka emosi.


“Raka, kedatangan saya ialah ingin meluruskan permasalahan selama ini. Sepertinya Jeho sudah bertindak semakin jauh.” Ucap Kenan dengan sendu.


Baik pak, jika itu keputusan bapak. Jadi, bapak memilih untuk pergi ke kota ini, karena ingin menemui orang tua pak Jeho??


“Iya itu bagian terpentingnya juga. Sudahlah kita istrahat dulu hari ini.


Malam pun tiba, Kenan yang telah membuat janji akan menemui ibu kandung Jeho, bersiapa-siap untuk pergi.


“Kediaman orang tua dari Jeho”


“Raka, kamu boleh ikut masuk, atau tetap disini juga tidak apa-apa,” ujar Kenan saat sedang memberhentikan mobilnya di depan gerbang rumah.


Saya akan menunggu di teras rumah pak, kebetulan ada kursi santai.


“Oke Raka..”


Kenan mulai melangkahkan kakinya dengan mengela napas panjang, berharap semua berjalan sesuai rencana.


Kenan menekan bel rumah, sehingga muncullah seorang wanita paru baya keluar dari balik pintu.


“Permisi, saya Kenan yang membuat janji dengan ibu beberapa hari lalu. Apakah ini benar kediaman ibu Jovierna Kusuma??” ujar Kenan sembari meraih tangan wanita tersebut.


Iya, dengan saya sendiri. Silakan masuk! ujar sang wanita tersebut dengan tersenyum lembut.


Silakan duduk nak… ujar wanita tersebut.


“Maaf jika saya mengganggu ibu,,” ujar Kenan dengan penuh senyuman sendu.


Iya nak, silakan…


“Sebelumnya saya minta maaf jika kedatangan saya mungkin tak terdugam dan saya pun cukup bingung ingin memulai dari mana,” tukas Kenan dengan gugup.


“Saya adalah Kenan WIjaya Kusuma. Anak dari Thomas Kusuma dan Ester bu…” sejenak suasana pun mendadak menjadi hening.


Kamu, Kenan dari almarhum suami saya… ujar wanita tersebut dengan raut wajah yang terkejut.


“Iya bu, saya ingin meminta maaf dengan sepenuh hati. Tapi jujur saya awalnya tidak tahu apa yang menjadi permasalahan dari ibu saya terhadap keluarga ibu…”


Lalu dimana ibumu sekarang?? tukas wanita tersebut dengan wajah yang sudah mulai berkaca-kaca dengan nada yang cukup ketus.


“Sejak saya berusia hampir empat tahun, ibu saya menikah dengan lelaki lain dan meninggalkan saya bersama oma dan opa yang merawat saya. Hingga akhirnya oma opa meninggalkan…” suara Kenan kini berubah menjadi semakin berat.


Lalu bagaimana kehidupan kamu setelah itu nak? ibu dengar dari pengakuan Jeho, dia ingin menggulingkan hak waris asset dan saham yang selama ini kamu bangun??


“Betul bu, semua hak waris kini telah dibawah kendali Jeho, dan sepertinya Jeho sangat membenciku…” Kenan tertunduk sendu dengan suara yang lirih.


Nak Kenan, ibu sangat minta maaf atas apa yang telah Jeho lakukan. Semua sudah ibu anggap berlalu tapi tidak bagi Jeho…


“ibu, saya mohon pada ibu biarkan saya menikah dengan bahagia, tanpa Jeho harus berupaya menghancurkan semuanya.” Pinta Kenan dengan penuh lirih dan air matanya mulai menetes membasahi wajah tampannya.


Ibu sudah mengetahui semuanya nak, tapi Jeho tetap bertindak sesuai keinginannya. Ibu akan mencoba menasehatinya nak. Sudah cukup, ibu tidak mendendam padamu, semua sudah berlalu bahkan sudah puluhan tahun. Ujar ibu Jeho sembari mengusap punggung Kenan yang kini tertunduk di pangkuannya.


Mungkin mulai awal bulan, ibu akan pindah ke apartemen kediaman Jeho.


“iya bu, saya sudah bingung bagaimana cara menghadapi Jeho…”


Iya nak Kenan. Bagaimana pun juga kalian adalah saudara satu ayah.


Malam itu pun berlalu begitu saja, Kenan pun telah menemui ibu Jeho berharap ada titik terang untuk jalianan kekeluargaan mereka.


Beberapa minggu kemudian…


Iya kak, jika semua demi perusahaan aku tidak masalah.


“Iya sayang, tapi aku memang menyadari akhir-akhir ini aku sangat sibuk…”


Iya kak, tidak masalah. Aku akan berusaha mengerti. Kenan menyenderkan Sunny di bahunya dan merangkul Sunny dengan lembut.


***


“Kediaman Jeho”


“Mama, tidak biasanya memasak sebanyak ini?” ujar Jeho keheranan saat melihat ibunya yang tengah menyediakan makanan.


Iya anak mama yang tampan, malam ini kita akan ada tamu.


“Tamu? siapa ma?


Setelah beberapa saat kemudian…


“Permisi tante… “ sapa Kenan pada ibu Jeho bersama dengan Denia , Kenjo dan juga Sunny.


Silakan duduk nak.


Jeho, ayo nak sini!! ujar ibu Jeho sembari menghidangkan makanan.


“mama siapa yang…---“ Jeho tertegun melihat tamu yang saat ini duduk di meja makan.


“apa-apaan ini??” Jeho menghampiri ibunya.


Sudah sudah, makan dulu! nanti kita bicara.


Sepanjang makan malam bersama, Jeho lebih banyak diam tak bersua.


Jeho, sekarang kamu duduk di samping mama! ujar sang ibu seusai menyelesaikan makan malam bersama.


Mama, tidak ingin kamu menjadikan masa lalu pahit menjadi kebencian Jeho! kamu tidak boleh seperti itu nak…--- malam itu, sang ibu berusaha untuk menasehati Jeho agar membuka mata hati nuraninya.


“Ma, apa mama lupa bagaimana menderitanya kehidupan kita dulu ma!! semua gara-gara ibu murahannya Kenan!” tukas Jeho dengan nada membentak ke arah Kenan sembari menunjukkan jarinya.


Jeho!! cukup kamu! entah roh apa yang merasuki pikiranmu nak? mama tidak pernah mengajarimu untuk mendendam!! tukas sang ibu.


Kamu sudah merampas hasil kerja keras orang lain, sekalipun itu perusahaan milik papa dulu. Tapi kamu tidak berhak merampas semua hasil kerja keras Kenan! kamu tahu, kamu tidak lebih dari seorang pecundang!!


“Mama, lebih membela anak haram ini!!”


Jeho menghampiri Kenan dan ingin memukul.


Jeho stop!! sudah cukup kehidupan papa penuh dengan dendam hingga sakit-sakitan karena menyimpan banyak dendam, sekarang kamu mau seperti itu nak?? apa gunanya kekayaan jika hidup kita dipenuhi rasa benci… Ujar sang ibu dengan lirih sembari terisak.


Jeho hanya terdiam dengan berlingan air mata pilu.


Jeho, bagaimana pun juga Kenan tidak bersalah! yang salah itu Ester dan Thomas Kusuma kalian! mama sangat berharap kamu kembali menjadi Jeho anak mama yang dulu penuh kelembutan nak, bukan dipenuhi dendam seperti ini.


Jeho… lirih sang ibu memanggil Jeho yang berlari keluar dengan penuh kesedihan.


Tante, sudah tante tenang dulu… ujar Sunny sembari merangkul sang ibu dengan penuh kasih.


Maafkan Jeho nak, semua karena rasa dendamnya. Dia anak yang baik dan ibu sangat tahu itu, tapi setelah dia mengetahui semua kenyaaan pahit itu, hal tersebut yang membuat Jeho sangat terluka.


“Iya tante… aku pun sangat menegrti bagaimana terlukanya perasaan Jeho, namun semua butuh proses waktu.” Tukas Kenjo sembari menenangkan ibu Jeho.


Disisi lain area apartemen…


“Aku memang sudah kehilangan hati nurani, aku memang seorang pecundang…” gumam Jeho di sisi area apertemennya sembari terisak pilu.


Beberapa saat kemudian, Kenan bersama Sunny Kenjo Denia pun kembali pulang.


“Ma. Apakah Jeho adalah anak pecundang??” ujar Jeho dengan suara lirih.


Tidak, Jeho tetap anak mama tapi jika Jeho mau kambali menjadi dirimu yang sebenarnya. Tidak lagi dipenuhi rasa dendam nak. Ujar sang ibu sembari mendekap Jeho.


Jeho, Kenan pun sejak kecil mengalami kehidupan yang sulit namun dia tak pernah mendendam padamu! apa pun kesalahanmu padanya, Kenan tak pernah membalas perbuatanmu. Justru Kenan meminta ibu untuk mendamaikan kalian, apakah kamu lupa dulu Kenan pernah menjadi seorang sahabat berhargamu…


Ujar sang ibu dengan lirih pilu, sementara Jeho terus terisak dipelukan sang ibu.


Jika dibilang menderita, mama sangat menderita saat itu! tapi semua sudah berlalu Jeho. Tidak bisakah kamu memulai kehidupanmu yang baru dengan lebih bak lagi.


“Jeho hanya ingin mama hidup bahagia…” ujar Jeho sembari terus menangis.


Mama sudah bahagia melihat anak mama bertumbuh menjadi pria bertanggung jawab, jadi tidak perlu kamu mengambil alih kepemilikan perusahaan pun mama sudah cukup bahagia nak.


Mama, ingin kamu hidup dengan jujur dan tulus nak…


“ma… Jeho sudah bersalah. ampuni Jeho ma..” ujar Jeho dengan lirih.


Iya sayang, kamu tetaplah putra mama yang sangat berharga, jadi sekarang coba hiduplah dengan damai yah…


Malam itu menjadi momen haru bagi Jeho bersama sang ibu, berkat kasih sayang seorang ibu, akhirnya Jeho pun mulai memulihkan luka hatinya terhadap Kenan yang juga merupakan sudara beda ibu tersebut.