I Wanna Touch Your Heart (Vol 2)

I Wanna Touch Your Heart (Vol 2)
Permainan hati



“I wanna touch your heart – Volume II”


Author by Natalie Ernison


Friska yang kini telah menjadi seorang wanita dewasa, dan justru berbalik mengejar cinta Axelle. Namun Axelle sudah tak lagi sama perasaannya seperti saat ia masih berada di masa-masa sekolah menengah atas.


“Perusahaan xxx”


Hmm… mendengus kasar.


“Kenapa Axelle sekarang sudah mulai berbeda, apakah dia sudah benar-benar melupakanku… sialan kamu Rachelie, semua gara-gara Rachelie..” gumam Friska saat sedang duduk termenung di ruangan kerjanya.


Axelle, ups.. pak Axelle… ujar Friska yang datang menghampiri Axelle ke parkiran di sisi gedung perusahaan.


“Iya?” jawab Axelle sambil menghentikan niatnya yang ingin segera bergegas pergi.


Aku hari ini boleh menumpang di mobilmu? ohh.. atau kamu takut ada rumor pegawai dengan seorang atasan beredar..? ujar Friska dengan senyuman yang menggoda.


“Kenapa kamu bicara seperti itu Friska, aku tidak pernah menganggapmu seperti itu..”


Hmm, berarti aku boleh pergi denganmu? Friska tersenyum dan terus menatap lekat pada Axelle.


“Oke, silakan masuk..” keduanya pun pergi bersama, Friska sepertinya sudah bertindak lebih cepat.


>>


Axelle, kamu datanglah ke rumahku, mama serinng bertanya kapan Axelle datang? selalu begitu… ujar Friska sambil mencubiti lengan Axelle.


“Maaf Friska, aku sangat sibuk, dan bahkan aku sangat kekurangan waktu untuk hobiku..” tukas Axelle sambil menyetir.


Selama dalam perjalanan, Friska sangat memperhatikan sikap Axelle. Axelle yang sedari tadi dan setiap waktu rehat ia selalu sibuk dengan ponselnya. Tanpa sengaja Friska melihat layar ponsel milik Axelle. Di sana terlihat bahwa Axelle sedang berkirim-kirim pesan dengan Rachelie, nama Rachelie terlihat jelas di layar ponselnya.


Friska terlihat tidak suka, wajahnya berubah muram dan sangat kesal.


Axelle… kapan datang ke rumah, atau sekarang saja langsung ke rumahku… pinta Friska dengan penuh harap.


“Oke, hanya sebatas mampir, oke..”


Hmm….. Friska mengangguk girang dan langsung menepuk-nepuk bahu milik Axelle.


 ***


“Kediaman Friska family”


Hallo selamat sore nak Axelle… ujar seorang wanita menyapa kedatangan Axelle bersamma Friska.


“Hallo tante…” ujar Axelle menyapa kembali.


Silakan duduk nak Axelle… ujar ibu Friska dengan penuh keramahan.


Setelah beberapa saat kemudian, Axelle pun pulang kembali.


“Friska! sepertinya anak dari pewaris kusuma itu bisa menjadi tambang emas bagi kita..” tukas sang ibu Friska.


Mama, apa maksud mama?


“Mama sangat setuju jika kamu mendekati anak pewaris itu, sehingga kehidupan kita bisa lebih baik..” ujar sang ibu dengan penuh ambisi.


 Aku memang akan berniat menarik hatinya, dengan cara apa pun aku akan lakukan ma.. tukas Friska.


“Yah, itu baru anak mama…”


Terus, bagaimana hubungan mama dengan om Rogoue?


 Hahah…


“Om Ro hanya mencintai mama, dia bahkan rela bermain tangan dengan istri bodohnya itu…”


Mama Friska



Hmm… ma, ma.. pantas saja papa menceraikan mama!


 Huss…


“sudahlah Friska, yang pastinya semua demi masa depan kamu, bukan?”


Iya ma, kalau bisa buat keluarga om Ro bercerai…


“Jangan nak, nanti mama akan terikat…”


Hahahha… oke oke ma… keduanya pun tertawa lepas.


Ibu dari Friska memang masih terlihat muda, dan ternyata selama ini ibu Friskalah yang menjadi penyebab retaknya rumah tangga Rogoue family, ayah dari Jansen Rogoue.


 ***


 “Kediaman Ro/ Rogoue”


Dad, daddy ingin pergi kemana lagi? lirih sang ibu dari Jansen.


“Lepaskan! kamu bahkan sebagai istri sangat tidak berguna!” bentak sang suami/ ayah Jansen.


Daddy, kenapa daddy begini? apa yang kurang dari mami dad? lirih sang istri sambil meraih tangan sang suaminya.


“Kamu tahu apa yang kurang darimu?” tukas sang suaminya sambil mencengkram bagian rahang sang istri.


Apa dad?


“Kamu kurang menarik, dan aku sudah tidak lagi bergairah denganmu…”



Apa…. sang istri pun jatuh terperosot tak percaya akan apa yang telah ia dengar dari mulut sang suaminya.


“Kamu hanya sibuk dengan segala pekerjaanmu, aku pun butuh perhatianmu!”


Daddy!! siapa wanita itu? cepat katakan pada mami, siapa? lirih sang istri dengan isak tangis yang semakin menjadi-jadi sedari tadi.


“lepaskan! kamu bahkan tidak bisa melayani suami dengan baik!” bentak sang suami dan melepaskan genggaman tangan sang istri.


Arghhhkk… jerit histeris sang istri memenuhi rumah mewah milik Rogoue family.


Kenapa… kenapa setelah apa yang aku korbankan, kenapa suamiku bahkan berpaling dariku… lirih sang istri sambil tersungkur di lantai. Sementara sang suami pergi begitu saja, dan pergi menuju kediaman Friska family.



***


“Kediaman Friska family”


Hahhhaa… mas Ro, kamu nakal sekali mas…  suara sepasang wanita dan pria dari balik pintu kamar ibu Friska.


Hmmm…


“siapa yang berisik malam-malam begini..” gumam Friska yang seketika itu terbangun akibat suara yang ia dengar dari kamar sang ibu.


Friska berusaha mengabaikan, tetapi suara itu tak kunjung berhenti. Ia pun beranjak dari atas kasur miliknya, dan melangkah menuju asal suara.


“Mama, mengapa sampai pintu tidak dikunci..” keluh Friska lalu meraih ganggang pintu. Namun saat ia ingin menarik ganggang pintu, tanpa sengaja ia melihat perbuatan tak senonoh sang ibunya.


Mama!! om Ro!! teriak Friska sambil mendorong lebar pintu kamar ibunya.


“Friska! kamu tidak sopan sekali!!” bentak sang ibu sambil membungkus tubuhnya dengan selimut tebal yang terletak di atas kasur. Di sana juga ada seorang pria, yang juga merupakan ayah Jansen.


Kalian sangat tidak tahu malu! dasar **** teriak Friska.


“Kamu anak kurang ajar Friska..” teriak sang ibu juga.


Friska membanting pintu dengan cukup kuat dan berlari menuju kamarnya.


Hakk… “kenapa… kenapa keluargaku begini..” lirih Friska sambil meringuk di balik selimutnya.


Malam itu, Friska telah menyaksikan perbuatan tak senonoh sang ibu bersama seorang pria yang ialah ayah Jansen.


Selama berhari-hari bahkan minggu, Friska enggan untuk berbicara dengan sang ibunya. Ia pun terlihat semakin tidak sopan saja. Karena sudah ketidakadaannya seorang figure dari orang tuanya.


***


“Café xxx”


“Aku harap kamu jangan ganggu-ganggu hubunganku bersama Axelle!” tukas Friska dengan ketus.


Hmm.. kamu tidak perlu khawatir Friska, aku dan Axelle sudah tak lagi ada hubungan.


Tsk.. “jangan pikir karena kamu hanya seorang anak dari jutawan, lalu kamu pikir aku akan membiarkan kamu merebut Axelle lagi!”


Aku tidak merebutnya…


Hhaha..


“Yah, sadarlah Rachelie Bakhtiar, Axelle hanya kasihan padamu, ssehingga mencoba untuk membuka hubungan..” tukas Friska dengan sorot matanya yang penuh dengan rasa tidak senang.


Friska, apakah sudah tidak ada lagi yang ingin kamu bicarakan? aku sudah bisa pulang? aku banyak pekerjaan, harus mengurus usaha-usaha bisnisku… tukas Rachelie dengan gaya sombongnya, ia sebenarnya tidak berniat demikian, namun sikap Friska membuatnya bersikap begitu.


“Kamu memang sangat sombong Rachelie, jangan salah! semua kebahagiaanmu bisa dengan mudah hilang..” tukas Friska, lalu beranjak pergi meninggalkan Rachelie.


Huhh… menghela napas perlahan.


“Kenapa aku harus menuruti ajakannya untuk saling bertemu.. dasar wanita aneh..” gumam Rachelie, dan bergegas pergi.


>>


Axelle masih berusaha untuk melakukan pendekatan dengan Rachelie, namun Rachelie enggan untuk meresponinya.


Hingga suatu saat, Axelle sangat memohon agar Rachelie menerima tawarannya yang ingin makan malam bersama di salah satu acara syukuran perusahaan. Rachelie pun akhirnya mengiyakan apa yang menjadi harapan Axelle selama ini.


Rachelie kini telah berdandan dengan begitu anggun, dan ia pun kini mengurangi hobinya yang suka mengenakan pakaian minim bahan.


“Hotel xxx”


Acara makan malam bersama di adakan di hotel berbintang. Keluarga Rogoue, Kusuma, Bakhtiar bahkan turut serta dalam acara tersebut. Semua yang hadir merupakan tamu-tamu penting.


Friska pun turur serta. Tak ingin kalah saingan, Friska pun selau berusaha mencari perhatian keluarga Kusuma, terutama mami Sunny. Mami Sunny yang merupakan wanita lemah lembut, ia selalu terbuka pada siapa pun.


Jansen tanpa sengaja juga sedang melewati kerumunan keluarga Kusuma, di sana ada Friska yang selalu menempel pada Axelle. Melihat hal itu, Jansen sangat tidak suka, ia berusaha agar Rachelie tidak melihatnya.


Drttt… “Rachelie, temui aku di sisi kanan gedung, tepatnya di bawah pohon..” Axelle.


Setelah membaca pesan tersebut, Rachelie pun bergegas menuju tempat yang telah Axelle katakan.


Namun…


“Rachelie, kamu kemana?” ujar Jansen meraih tangannya.


Aku harus pergi Jansen.. ujar Friska lalu melepaskan tangan Jansen.


“Tapi Rach…” lirih hati Jansen yang sangat tidak rela jika Rachelie akan kembali bersama Axelle.



Jansen, sorry.. ucap Rach lalu melangkah menuju tempat yang kini Axelle berada.


Namun Jansen, masih tak puas, ia pun masih berusaha mengikuti Rachelie secara diam-diam.


Friska diam-diam telah mengetahui hal itu, diam-diam pula Friska bergegas menuju ke tempat Axelle saat ini berada.


Axelle! teriak Friska yang sedang terengah-engah, karena ia berlari secepat mungki sebelu kedatangan Rachelie.


“Ada apa Rach.. ahh Friska..” tukas Axelle, ia mengira Rachelie sudah tiba, namun yang ia dapati ialah Friska.


Axelle, cepat katakan kamu mencintaiku… tukas Friska seakan sedang memaksa.


“Maaf Friska, kita hanya teman, dan seterusnya..”


Bukan… bukan itu Axelle.. aku mencintaimu, aku jauh lebih baik dari wanita sombong itu… ujar Friska sambil


meraih tangan Axelle.


“Friska, aku mencintai Rachelie…”


Bohong.. kamu bahkan hanya merasa kasihan padanya…



“Iya itu dulu, tapi kini aku sadar bahwa Rachelie tulus padaku, begitu pun aku..”


Tidak Axelle.. bohong, kamu tidak mencintainya, itu bukan cinta.. lirih Friska yang sudah berderai air mata.


“Friska, sangat maaf. Komohon lupakan semua kenangan masa lalu kita, sekarang berbeda..” tukas Axelle sambil menyeka air mata Friska.



Axelle, aku… tiba-tiba Friska mendengar suara langkah kaki seseorang, sejenak ia berbalik dan terlihat Rachelie berjalan ke arahnya dan Axelle.


Axelle… ujar Rach menyapa.


“Haii…” ujar Axelle melambaikan tangannya dan tak menghiraukan keberadaan Friska.


Axelle, kamu hanya boleh melihatku.. ujar Friska dengan sorot mata yang sangat tajam, dan…


Cup…. tanpa aba-aba, Friska langsung menyambar bibir Axelle, dan bertepatan dengan kedatangan Rach.


Axelle… langkah Rach terhenti, dan air matanya sudah mulai membanjiri pipi mulusnya.


“Sudah cukup, jangan lihat lagi..” ujar Jansen sambil meraih dan mendekap tubuh Friska hingga tak melihat pemandangan menyakitkan itu.


Ahk… lenguh Rach menahan kehancurannya.



“Friska! apa yang kamu lakukan!” Axelle mendorong tubuh Friska, namun Rach sudah menyaksikan semuanya.


“Rachelie…”


Tidak Axelle… Friska mendekap erat tubuh Axelle.


“Rachelie… tunggu..” Axelle mendorong tubuh Friska darinya, dn berusaha meraih tangan Rach.


“Axelle!!” tukas Jansen menahan langkah Axelle.


“Kamu puas menyakiti Rachelie, sekarang pergi jauh-jauh atau aku akan membuat perhitungan..” peringat Jansen.


Pergi… lirih Rach dan masih berada dalam dekapan Jansen…


***