I Wanna Touch Your Heart (Vol 2)

I Wanna Touch Your Heart (Vol 2)
Beri aku waktu



“I wanna touch your heart – Volume II”


Author by Natalie Ernison


Axelle masih berupaya untuk meyakinkan Rachelie akan perasaannya. Namun selalu saja kesempatan itu hilang lagi.


“Perusahaan Kusuma Group”


Axelle masih saja disibukkan dengan urusan pekerjaannya. Papi Kenan yang akhir-akhir ini sering tidak sehat, dan membuat Axelle harus menggantikan posisi papi Kenan.


Permisi pak Axelle, ingin makan siang bersama? ujar Friska menawarkan pada Axelle agar makan siang bersama.


“Sorry Friska, aku masih banyak pekerjaan, kamu duluan saja..” tukas Axelle masih memeriksa tumpukan dokumen-dokumen penting.


Kalau begitu, aku akan menunggumu Ax’


“Friska… makanlah duluan, okay..” Axelle menghentikan pekerjaannya sejenak.


Tapi aku ingin makan bersamamu, apakah itu salah? Friska mendekati Axelle dengan gaya yang cukup menggoda.



“Sorry Friska, kuharap kamu mengerti posisimu adalah pegawaiku, jadi tidak terlalu baik jika kita begini..” Axelle mencoba menghindari Friska yang berusaha mendekatinya.


Hmm… baik pak Axelle, maaf jika saya bersikap kurang ajar.. tukas Friska, lalu bergegas keluar dari ruangan Axelle.


Hmm… Axelle hanya bergumam dan menggelengkan kepalanya.


Ahk… “Pekerjaan ini sangat sulit, pantas saja papi kelelahan..” gumam Axelle, lalu meraih ponselnya.


Axelle: “Hai, apakah malam ini bisa makan malam bersama?”


Rach: “aku sibuk, maaf!”


Axelle: “Aku akan datang membawa makanan ke kantormu..—“


Tsk.. “Rachelie, kamu sudah mulai jual mahal sekarang denganku, okay, aku suka..” gumam Axelle sambil mengingat Rach.


***


“Kediaman Rachelie”


Axelle sudah berdiri di depan pintu utama kantor sekaligus kediaman Rachelie, dengan membawa seikat bunga mawar merah.


Dengan siapa—ujar Rachelie yang baru saja membuka pintu, dan sangat terkejut saat melihat Axelle tiba dengan membawa seikat bunga.



“Selamat malam…” ujar Axelle dengan wajah dipenuhi senyuman.


Iyaa selamat malam… Rach serasa membatu, dan tak menyangka Axelle akan melakukan hal ini.


“kamu sibuk bukan, jadi aku membawa makan malam kita kemari..” ujar Axelle dengan wajah dipenuhi senyuman, seakan menambah ketampanan dan senyum tulusnya.


Masuklah… Rach pun mempersilakan Axelle untuk masuk. Mereka pun mekan terlebih dahulu sehingga topic pembicaraan mereka dapat berjalan dengan baik.


“Rachelie, mengapa kau sekarang berubah? apakah kesempatanku sudah tidak ada lagi?” ujar Axelle sambil meraih tangan Axelle.


Tidak ada… jawab Rach singkat dan menepis tangan Axelle.


“Rachelie, kita sudah sama-sama dewasa, setidaknya tolong beritahu aku, jika aku ada kesalahan, sehingga kita bisa perbaiki..”


Hah.. lucu sekali kamu Axelle, apakah kamu tidak pernah berpikir bagaimana perasaanku selama ini!


“iya, justru itu aku ingin kita bicara dengan kepala dingin mengenai kesalah pahaman kemarin..”


Salah paham? yah, akulah yang seharusnya minta maaf karena aku sudah salah paham dengan perasaanmu. Kamu bahkan tidak pernah menyukaiku, tetapi dengan bodohnya aku sangat percaya dengan segala pernyataan cintamu.. lirih Rach dengan mata yang berkaca-kaca.


“Rachelie, maafkan aku, sangat maaf… aku tahu aku sangat salah, aku ingin meluruskan semuanya..” Axelle kembali meraih tangan Rachelie.


Untuk apa Axelle! aku sudah cukup tahu kamu selama ini.. Rach berusaha meronta dan melepaskan genggaman tangan Axelle.


“Rachelie, aku mengaku aku salah dan sangat salah, tetapi semenjak kita tidak saling berkomunikasi, aku selalu memikirkanmu, aku sadar aku sangat mencintaimu..” Axelle menahan tangan Rach.


Tapi kamu sangat kejam Axelle, aku bahkan sudah terlanjur berharap, tapi kamu sudah menghancurkan harapan besarku… lirih Rach.


“Tolong beri aku kesempatan lagi Rach…”


Lepaskan aku Axelle, kamu keterlaluan… ahk..


“Rachelie, aku mencintaimu..” perlahan Axelle mendekap tubuh Rach dan mencoba untuk menenangkan Rach.


Kamu jahat Axelle.. aku benci kamu.. aku benci!! lirih Rach dengan berlinangan air mata.


“Oke, oke.. aku minta maaf Rachelie, aku akan tebus kesalahanku..” Axelle membelai lembut rambut Rach dan menepuk-nepuk punggung Rach.


Karena Axelle selalu ingat, bagaimana mami Sunny selalu menenangkannya saat ia sedang sakit, sedih. Mami Sunny dan juga papi Kenan selalu memeluknya dengan penuh kasih sayang.


“Mari kita perbaiki hubungan ini, bisakah kamu memberiku kesempatan..” Axelle mencoba menenangkan Axelle sebisanya.


Aku sedang tidak ingin memikirkan hubungan Ax, aku ingin menenangkan pikiranku. Aku tidak ingin terburu-buru… Rach menyeka air matanya.



Hmm…


“Baiklah, aku tidak akan memaksamu, tapi kali ini perasaanku sangat jujur padamu Rach..” Axelle mengusap kepala Rach dengan lembut.


Kamu pulanglah, aku ingin beristirahat. Tidak baik pria dan wanita bertemu di dalam rumah selarut ini..


“Ohh, oke.. maaf Rach, aku hampir lupa. Kamu tidak marah dan dendam lagi padaku?”


Sudahlah, pulanglah…


“No no no.. aku harus pastikan, nona manja ini sudah baik sekarang..” Axelle mencoba untuk menghibur Rach.


“Senyum dulu.. ayoo senyum…”


Hmm… sudahlah…


“Oke.. aku pulang dulu, nonaku…”


Axelle kembali pulang, dan ia akhirnya berhasil memberikan Rachelie penjelasan yang tepat. Walau Rachelie masih merasa sangat kecewa, namun ia mencoba untuk percaya. Tapi Rachelie tidak ingin menjalin hubungan dengan terburu-buru, karena baginya cukup sekali saja dan jangan dua kali salah lagi.


***


“Rach, aku sering datang kemari, dan semua makanan di sini enak-enak..” tukas Jansen dengan penuh semangat.


Thank you Jansen, aku juga senang bisa menikmati kuliner di sini.


“Iya Rach, jadi jika kamu punya waktu luang, kita akan sering-sering saja datang kemari..”


Oke Jansen bawel..


Jansen selalu berusaha melakukan pendekatan pada Rach, dengan segala upayanya.


Lalu kita akan kemana lagi Jansen..?


Hmm…


“Kita akan menonton di bioskop, mau?”


Hmm.. okey…


Jansen dan Rachelie adalah teman yang sangat dekat. Jansen selalu memperlakukannya dengan sangat lembut, sekali pun Rachelie dikenal dengan julukan, ratu sombong sejak masa sekolahnya. Namun Jansen selalu bersikap berbeda, ia tak pernah mendengarkan perkataan teman-teman lainnya mengenai Rachelie.


>>


“Kediaman Rogoue family”


Hakk hk… suara tangisan terdengar jelas dari lantai bawah, dan suara tersebut berasal dari dalam kamar pribadi orang tua Jansen.


Jansen melangkah pelan, dan melihat ke dalam kamar kedua orang tuanya.


“Mami, kenapa mami menangis begitu..” batin Jansen. Ia pun masuk perlahan.


“Mami… apa yang terjadi..?” tanyanya lalu duduk di samping sang ibunya.


Tidak apa-apa Jansen, kamu sudah pulang, bagaimana dengan Rachelie? ujar sang ibu yang masih berusaha untuk tetap tersenyum.


Mami Ro / Mami Jansen Ro



“Mami, apa yang terjadi! kenapa pipi mami memar begini?” Jansen menyentuh wajah sang ibu yang terlihat memar bahkan membengkak.


Inii..—lirih sang ibu dengan sesenggukan.


“Apakah daddy yang melakukan ini?” Jansen mengepalkan tangannya, ia sangat kesal. Karena sang ayahnya lagi-lagi bermain tangan pada sang ibunya.


Jansen, jangan katakan apa pun, mungkin daddy sedang lelah.. ujar sang ibunya.


“Kenapa mami terlalu baik pada daddy? apakah hanya karena daddy seorang jutawan, lalu mami takut jika daddy mengabaikan kita?”


Plak… suara tamparan mengenai wajah tampan Jansen.


Hentikan! kamu tidak berhak berkata seperti itu! kamu bisa seperti sekarang semua karena daddy! bentak sang ibunya.


Daddy Ro/ Daddy Jansen Rogoue


(Jutawan, di usia saat ini pun masih banyak wanita muda yang menempel padanya)



“Mami selalu membela daddy, walau pun daddy secara terang-terangan berselingkuh!” Jansen pun keluar dari kamar sang ibunya.


Ia masuk ke dalam kamar pribadinya, di sana ia menangis sejadi-jadinya. Kejadian kekerasan sang ayah terhadap sang ibunya, bukanlah sekali, melainkan sudah berkali-kali terjadi.


Jansen menyentuh layar ponselnya, berniat ingin melakukan panggilan suara bersama Rachelie.


“Hallo Rachelie..--- Jansen menceritakan segala keluh kesahnya, dan Rach pun dengan setia mendengarkan segala keluhannya.


Semakin hari Jansen semakin sering menemui Rach di tempat kerja Rach. Rach pun selalu menerima kedatangnya. Hingga suatu saat…


***


Maaf Axelle, tapi aku bersyukur kamu sudah tidak lagi bersama Rachelie. Karena beberapa kali aku melihatnya bersama pacar barunya waktu itu, sebenarnya aku tidak enak jika membicarakan ini padamu..—


“Friska, apakah kamu tidak ada pekerjaan lain, selain membicrakan masalah orang lain. Rachelie bebas dekat dengan siapa pun, dan itu sah-sah saja, jadi tolong jangan membicarakan hal yang tidak kamu tahu pasti..” tukas Axelle dengan ketus. Ia tak suka jika Friska seakan-akan membuat buruk Rach di depannya.


Hahh…


“Mengapa Friska seperti itu, dia sangat berbeda. Perasaanku padanya pun sudah tak lagi seperti dulu..” batin Axelle.


Ia yang dulu sangat menyukai dan mengagumi Friska, kini perasaan itu sudah tidak lagi sama. Bahkan Friska pun kini tak lagi seperti Friska yang ia kenal.


***


Daddy Rachelie /Father Bakhtiar


(Sibuk, baik hati, selalu memanjakan Rachelie)



Mami Rachelie Bakhti


(Mami yang selalu ceria dan sibuk dengan segala urusan bisnisnya)