
“I wanna touch your heart || Volume II”
Author by Natalie Ernison
“Sekolah menengah atas xx”
“Oke, karena kepengurusan periode saya tidak lama lagi akan berakhir, saya harap bagi para anggota yang menjadi kandidat dapat melaksanakan tugas tanggung jawab dengan baik.”
Prok prok prok….suara riuh tepuk tangan dari para siswa siswi yang sedang mendengarkan pidato dari Axelle.
Axelle… sebelum ujian aku ingin menonton bisokop bersamamu. Ujar Rachelie saat Axelle selesai menyampaikan pidatonya.
“kapan Rach?” jawab Axelle dengan tatapan datarnya.
Ammmhh… akhir pekan! ujar Rachelie penuh antusias.
“Oke.. jam 15.00..” Axelle pergi melaluinya.
“arghh.. sudah kuduga Axelle sebenarnya menyukaiku, dia hanya menjaga imagenya…batin Rachelie yang tengah kegirangan.
Akhir pekan pun tiba…
_____________*_____________
“Mall X”
Hai.. Rachelie melambaikan tangannya kepada Axelle yang baru saja tiba di loby utama.
Axelle.. ujar Rachelie memandanginya dengan wajah dipenuhi senyuman.
“Mana yang lain?” ujar Axelle sambil memandangi sekeliling mereka.
Kita hanya berdua. Sontak pernyataan Rachelie membuatnya terdiam sejenak.
“Maksudmu, kita hanya berdua??” tanya Axelle dengan menyipitkan matanya.
Hmm hmm.. Rachelie mengangguk kegirangan.
Mereka pun menonton bioskop berdua. Rachelie memilih film horror walau pun dirinya pun takut, dan kerap kali ia mendekap manja bahu Axelle.
“Rach.. hentikan sifat kekanakanmu, kamu sudah hampir lulus sekolah.” Tukas Axelle yang merasa geli dengan tingkah Rachelie.
“Rach.. aku akan pergi ke toilet, kamu pesanlah beberapa makanan..” Axelle meninggalkan ponselnya di atas meja begitu saja. Awalnya Rachelie bersikap acuh dengan ponsel yang sedang menganggur, namun tiba-tiba ponsel milik Axelle tersebut bergetar.
Drrtt…“Nona manis Friska memanggil…”
Nona manis Friska.. gumam Rachelie yang terlihat heran, lalu spontan meraih ponsel tersebut dan menjawab panggilan.
Friska: aku sudah membuat beberapa makanan rumah, apa kamu jadi datang sore ini?? mendengar pernyataan tersebut, membuat Rachelie meradang cemburu, lalu dengan ide buruknya, ia menjawab.
Rachelie: “Maaf, aku harap kamu berhenti mengganggu Axelle, aku pacarnya!” tiba-tiba panggilan terputus.
Hmmm.. Rachelie memiringkan senyuman jahatnya, seolah merasa cukup puas dengan reaksi suara yang tiba-tiba mengakhiri panggilan.
“Rachelie, kamu sudah memesan makanan??” Axelle yang baru tiba, dan Rachelie terburu-buru meletakan ponsel miliknya.
“setelah ini kita langsung pulang yah..” ujar Axelle sambil meneguk soft drink yang tersedia di atas meja.
“Hmm.. ingin bertemu dengan perempuan itu, jangan harap..batin Rachelie.
Argh… perutku sakit Axelle.. rintih Rachelie.
“Ada denganmu Rach? apa perlu ke klinik!” ujar Axelle cemas.
Aku mungkin butuh beberapa obat, nanti tolong temani aku ke century.. ujar Rachelie yang sedang mencoba berbohong.
“Oke Rach..” Axelle tidak menyadari drama yang sedang Rachelie mainkan. Rachelie memang sedang berbohong, karena ia tahu bahwa Axelle sangat peduli terhadap kelemahan seorang perempuan.
“Semestinya memang begini, Axelle hanya ditakdirkan untukku..”batin Rachelie.
“Rach.. apa perlu meminum the hangat..”
Emmm… Rachelie menggelengkan kepalanya dengan ekspresi sendu.
Axelle ini sudah malam, maaf membuatmu menungguku.. sesal Rachelie.
“Oke, aku harus pulang sekarang, kalau tidak mami akan khawatir..” Axelle pun bergegas pulang.
________________*_______________
“Kediaman Kusuma Teofanya”
"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktiv atau berada diluar jangkauan..”
“Kenapa Friksa tidak membalas pesanku, dan mematikan ponselnya.” gumam Axelle, namun ia tidak ambil pusing, mungkin saja si gadis kacamatanya sedang sangat sibuk, pikirnya.
Setelah beberapa minggu bahkan bulan, Axelle sudah tak lagi saling bertukar kabar dengan si gadis kacamatanya. Ia yang juga tengah sibuk mempersiapkan diri untuk memasuki pergurua tinggi, tidak lagi terusik dengan hal sesederhana itu.
Baginya, masuk perguruan tinggi dengan nilai terbaik, itulah yang menjadi pencapaian terbaiknya.
>>>
Semua siswa siswi sekolah menengah atas terlihat begitu antusias menanti pertandingan basket antar sekolah asal Axelle dan sekolah lainnya. Pertandingan tersebut diadakan di sebuah stadion yang cukup luas.
Riuh suara kerumuman manusia sungguh bising, dan para orang tua pun turut serta dalam acara pertandingan antar sekolah tersebut.
Axelle Axelle Axelle…suara dukungan dari para gadis dari sekolahnya pun semakin meriah, ditambah lagi para gadis-gadis dari sekolah lainnya, yang juga mengenal Axelle melalui setiap pertandingan sebelumnya.
Selama babak pertama, Axelle berkali-kali berhasil menambah skor timnya. namun itu tak berlangsung lama, setelah fokus matanya menuju penonton.
Di bagian kursi tengah, terlihat seorang gadis berkacamata tengah bersama seorang remaja lelaki. Lelaki tersebut tak lain ialah rivalnya dari sekolah yang sering ia kunjungi sebagai tempat pertandingan persahabatan.
Gadis kacamatanya terlihat tersenyum bahagia saat bersama lelaki lain, dan sesekali lelaki tersebut mengusap-usap kepalanya gemas.
Setelah melihat gadis pujaannya sedang bersama seorang lelaki dengan begitu bahagia. Axelle terbakar cemburu, dan hal itu membuatnya begitu emosional.
Dalam babak berikutnya, Axelle terlihat lebih garang, dan beberapa kali ia membuat rekanmau pun lawan mainnya terjatuh. Bahkan beberapa kali tembakan bolanya mengenai rekannya sendiri.
“Hei Axelle, ada apa denganmu.. kamu bermain kasar sekali..” tukas salah seorang rekannya.
Permainan pun selesai, dan penonton mulai membubarkan diri masing-masing. Axelle hanya terduduk di bawah tiang gawang, dengan air keringat bercucuran dan raut wajah penuh rasa kesal.
“Bravooo… kalian luar biasa…”
Jelas pelatih, itu pun berkat permaianan Axelle, walau hari ini Axelle terlihat cukup emosional. Ujar salah seorang rekan tim basketnya.
Gadis kacamatanya tengah bercengkrama dengan seorang lelaki dengan penuh kegembiraan. Melihat hal itu membuat Axelle meradang, dan tak tahan ingin berkata-kata kasar.
>>
“Friska!!” Axelle maraih tangan Friska lalu menuntunnya ke pinggir kursi penonton, yang terdapat sebuah lorong kecil.
Lepaskan aku Axelle, ini menyakitkan! ada apa denganmu! tukas Friska sambil menyentuh pergelangan tangannya yang terasa panas akibat cengkraman Axelle.
“Kenapa kamu tidak pernah membalas pesanku bahkan teleponu, dan siapa lelaki itu??” ujar Axelle dengan melontarkan pertanyaan yang cukup beruntun.
Kenapa denganmu, bukankah pacarmu yang memintaku untuk tidak mengganggumu. Tukas Friska kesal.
“Siapa? aku tidak punya pacar Friska!” tegas Axelle.
Aku pikir kamu lelaki yang jujur, ternyata kamu pintar sekali berbohong! tukas Friska dengan menyipitkan matanya, tanda tak percaya dengan apa yang ia dengan saat ini.
“Friska aku tidak pernah berpacaran dengan siapa pun!” tegas Axelle lagi.
Axelle sudahlah, aku tidak ingin dicap sebagai perempuan pengganggu..
“Friska, please dengarkan aku, dan coba jelaskan dari mana kamu mendapat cerita karangan ini..” ujar Axelle dengan wajah sendu, dan tak rela jika gadis kacamatanya masih salah paham.
Maaf Axelle.. aku harus cepat pulang.. Friska menarik kembali tangannya, lalu berpaling.
“Friska… Axelle mencoba menahan Friska, namun Friska tak bergeming sedikit pun.
“Bro, tolong jangan paksa friska.. dia sudah bilang tidak!” tukas seorang lelaki yang mencoba menghalangi langkah Axelle.
“Sorry, kita memang rekan main saat dilapangan, tapi tidak soal ini..” Friska pun beranjak pergi bersama seorang lelaki yang pernah menjadi lawan main baktet Axelle bersama para timnya.