I Wanna Touch Your Heart (Vol 2)

I Wanna Touch Your Heart (Vol 2)
Rasa kecewa terdalamku



“I wanna touch your heart – Volume II”


Author by Natalie Ernison


Rasa ingin memiliki terkadang membuat seseorang akan menghalalkan segala cara demi mendapatkannya. Tak peduli dengan perasaan orang lain, bahkan cenderung bersikap menyakiti. Namun, jika hal itu berubah menjadi perasaan cinta yang tulus, dan ingin memperbaiki diri, apakah masih ada kesempatan itu…


“Perusahaan Kusuma Group”


Axelle Arayan Kusuma Jr, ialah seorang pewaris tunggal dari putra pertama sekaligus anak tunggal dari Kenan Wijaya Kusuma. Axelle selalu berusaha bekerja dengan baik, memberi apa yang ia mampu lakukan.


Tok tok tok…


Cekreakkk.. seseorang membuka pintu dan masuk.


Permisi pak Axelle… ujar seorang wanita dengan nada menggoda.


“Ohh Friska.. ada apa?” ujar Axelle yang masih terlihat sibuk dengan layar komputernya.


Hmmm… apakah ingin makan siang bersama, aku membawa makanan masakan rumah.. Friska menawarkan untuk makan siang bersama.


“Ohh yah… itu hal bagus, tetapi aku ingin menyelesaikan pekerjaanku terlebih dahulu..” tukas Axelle dengan


tersenyum ramah pada Friska, sebuah senyuman yang selalu ia torehkan pada Friska.


Oke.. semangat… ujar Friska menyemangati, lalu pergi dari ruangan Axelle.


Friska pergi ke loby untuk mengambil titipan barang belanja online miliknya, dan tanpa sengajar ia melihat mobil milik Rachelie terparkir di depan Starbucks, yang bertepatan di seberang gedung perusahaan milik Kusuma Group.


“Ohh ini akan jadi hal bagus…” batinnya. Ia tersenyum miring, lalu bergegas masuk ke dalam gedung lagi.


Memandang sekitar, seakan sedang mencari sesuatu.


Axelle!! ujar Friska memanggil, Axelle pun segera menghampirinya.


“Ada apa Friska? ayo kita makan bersama..” ajak Axelle dengan senyuman khasnya.


Hmmm… Axelle aku tiba-tiba ingin minum kopi starbuck.. rengek Friska dengan tingkah manjanya.


“Ohh okay.. sekalian makan siang di sana..”


Okay… “Hmm.. tunggu saja, pertunjukkan akan segera dimulai..” batin Friska.


>>


Mereka berjalan bersama, dan duduk di meja bagian tengah.


Axelle… tolong ambilkan creamer lagi, aku ingin lebih banyak.. ujar Friska dengan nada manjanya. Sontak membuat Rachelie tersadar, dan melihat ke  arah mereka, dan saat Axelle berbalik dari arah kasir, ia pun melihat Rachelie.


Langkah Axelle sempat terhenti sejenak, namun Rachelie membuang muka, lalu segera pergi dari tempat tersebut.  Karena memang ia telah menyelesaikan kegiatannya.


Axelle, thank you… kamu yang terbaik… ujar Friska dengan tingkah manjanya, saat Rachelie meleweti mereka. Axelle memandang sendu Rachelie yng baru saja lewat di samping mereka.


Kamu tidak senang kita di sini?


“Tidak tidak Friska, aku senang.. mari lanjutkan lagi…”


***


Sementara di sisi lainnya…


“Toko Kosmetik Rach”


Rachelie baru saja tiba dengan mobil milik kepunyaannya, dan membawa bebepa gelas starbucks yang akan ia berikan pada beberapa pegawainya.


Melemparkan tas sembarangan ke  atas sofa, duduk bersandar di kursi kerjanya sambil memutar-mutarkan kursinya.


“Ada apa denganku, sudah jelas-jelas mereka bahagia.. hmm.. sudahlah..” gumam Rachelie. Ia sangat terbakar api cemburu, saat melihat seorang pria yang pernah sangat ia cintai bersama wanita lain. Namun ia sadar akan statusnya saat ini yang hanya sebatas mantan kekasih.


Tok tok tok…


“permisi bos, ada Jansen..” ujar sang pegawainya.


Oke.. thank you…


“Ada apa…” gumam Rachelie, namun dengan senyumannya saat mengetahui Jansen datang menemuinya.



Jansen! ujar Rach memanggil Jansen yang sudah duduk manis di ruang tamu.



“Hallo ibu bos… apakah sibuk?” ujar Jansen dengan wajah dipenuhi senyuman.


Hmmm… tidak… aku kebetulan baru keluar untuk mengerjaan beberapa pekerjaanku..


“Kenapa tidak memberitahuku, biar aku temani kamu…” tukas Jansen dengan tersenyum ringan dan apa adanya.


Ahh, tidak perlu Jansen… kamu pun sedang di sibuki dengan proyek-proyek milyaran bukan? ujar Rach sambil menyangga kepalanya di  pinggir sofa.


Hmm… Jansen menggeleng.


“aku sangat santai Rach, jadi tidak terlalu ingin serius sekali, nanti kelapaku bisa botak..” ujar Jansen sambil terkekeh.


Tsk… Jansen kamu sejak sekolah memang sangat pintar rumus-rumus, berbeda denganku yang lebih senang santai.. tukas Rach dengan terkekeh pula.


“Iya Rach, aku sangat rindu dengan masa-masa sekolah kita dulu..” Jansen memandangi Rach dengan tatapan sendu.


Kenapa Jansen? kamu ada masalah? Rach bangkit dari senderannya.


“Tidak Rach, aku baik-baik saja..”


Wajahmu tidak bisa berbohong Jansen.. ada apa dengan om Ro?


Hmm..


“Daddy ketahuan berselingkuh dengan wanita muda Rach, mami sangat terpukul hingga terus-terusan menangis..” ujar Jansen dengan wajah semakin sendu.


Ahh… lalu apa lagi Jansen..—


Jansen menceritakan segala permasalahannya, karena baginya hanya Rachelie yang peduli padanya dan mengerti dirinya. Sehingga Jansen lebih ringan saat menceritakan keluh kesahnya pada Rachelie.


Sorry Jansen, aku tidak dapat berbuat apa-apa, aku hanya bisa berdoa semoga om Ro, kembali menjadi ayah yang penuh kasih sayang seperti dulu.. Rach menepuk bahu Jansen sebagai tanda prihatinnya.


“Thank you Rach, maaf jika kedatanganku mengganggu pekerjaanmu..” sesal Jansen dengan tersenyum pilu.


Kamu harus tetap menjadi anak yang baik, apa pun yang terjadi dalam keluargamu..


“gadis manja ini semakin dewasa saja, apakah mungkin aku sudah jatuh cinta padanya..” batin Jansen.


Drrtttt… satu pesan baru.


“Selamat siang Rachelie, kita harus bicara secara dewasa, bukan seperti ini. Bisakah kamu meluangkan waktumu?” Axelle.


Rach hanya menatap sejenak layar ponselnya, lalu mengabaikannya.


“Kenapa Rach? apakah om Bakhtiar memintamu untuk pulang?”


Ahh tidak Jansen, hanya saja ada pesanan barang lagi…


“Okay… kita makan siang bersama..”


Tapi bukankah kamu harus melanjutkan proyekmu?


“Tidak masalah, kita pesan saja dan makan bersama..”


Setelah beberapa saat kemudian, mereka pun menyantap makanan bersama. Jansen adalah sahabat masa kecil Rachelie, namun Rachelie cenderung egois dalam pertemanannya. Sementara Jansen adalah seorang yang sangat lembut pada wanita, hingga saat ini.


"Rachelie apakah kamu sudah punya seorang pacar?”


Tidak punya, aku sudah tidak memilikinya lagi..--- Rachelie menceritakan kisah pilunya, namun tidak secara keseluruhan.


Hmmm menghela napas pelan.


Begitulah Jansen, kisahku memang sangat malang bukan? aku yang dulu egois…


“Rachelie…” Jansen meraih tangan Rach dan menggenggamnya, membuat Rach sangat terkejut.


“Tidak perlu membicarakannya lagi, karena aku tidak suka..” tukas Jansen dengan tatapan yang dalam.


Rach masih terdiam sejenak, dadanya terasa sangat sesak. Ia tidak pernah berpikir bahwa Jansen akan melakukan hal itu padanya, walau sebatas genggaman tangan saja.


“Ayo Rachelie, makan hingga habis makanan ini..” Jansen bersikap seolah tak terjadi apa-apa lagi.


Sepanjang hari Jansen berada di kantor/ rumah kedua milik Rachelie. Mereka berbincang-bincang dengan waktu yang cukup lama, dan bahkan belajar memasak bersama.


***


“Friska sepertinya aku harus bicara pada Rachelie, bagaimana pun juga aku sudah mengatakan hal yang tidak tepat padanya..” sesal Axelle.


Menurutku itu tidak perlu, lagi pula Rachelie bisa dengan mudahnya bersama pria lain.. tukas Friska yang mencoba untuk terus memprovikasi Axelle.


“Friska aku..---“


Sehhttt… Axelle. Rcahelie tak pantas untukmu yang sangat baik, dia itu curang… ujar Friska, sambil mendekati wajah Axelle, dan menyentuh wajah tampan Axelle.


“Lalu aku harus bagaimana Friska?”


Lupakan saja dia, lagi pula hubungan kalian tidak didasarkan rasa cinta, kamu hanya kasihan padanya..


“Iya, kamu memang benar.. aku bahkan mengajaknya menjalin hubungan karena hanya ingin coba-coba..”


Nahh itu betul, jadi jangan hiraukan dia.. oke.


“tapi aku harus minta maaf padanya Friska..”


Kenapa Axelle.. apakah perasaanmu yang dulu padaku sudah berubah? hah… Friska terlihat kesal dan berbalik badan.


“Friska… kita hanya teman..—“


Cukup- Axelle.. perasaanmu hanya padaku, sekarang kamu hanya sedang bingung, jadi santai saja..


“Rachelie, aku akan merampas semua yang seharusnya menjadi milikku..” batin Friska.


Axelle, kamu pulanglah dulu, kamu kelelahan.. dan ini juice segar kesukaanmu..


“Terimakasih Friska..” Axelle pun kembali pulang ke kediamannya bersama papi Kenan dan mami Sunny.


***


“Toko Kosmetik Rach”


“Permisi bos, ada tamu di depan..” ujar salah seorang pegawai.


Ohh okay, thank you..


“Pasti Jansen..” gumam Rach, dan berjalan menuju ruang tamu.


“Rachelie…” ujar seorang pria tampan yang sudah duduk lalu berdiri, saat melihat Rach yang sudah tiba.


Axelle… seketika raut wajah Rachelie berubah.


“Rachelie kita harus bicara..” tukas Axelle.


Hmmm.. baiklah… Rachelie pun duduk untuk mendengarkan apa yang akan Axelle katakan.


“Aku minta maaf atas semua ucapanku padamu, aku tahu aku salah Rach, maukah kamu memaafkanku..?”


Iya, yang lalu biarlah berlalu… jawab Rach dengan wajah tersenyum tulus.


“Thank you Rach.. hmm, ini untukmu..” Axelle mengeluarkan sebuah kotak persegi panjang dari tas kerja miliknya.


Apa ini Axelle… Rach bingung dengan barang pemberian Axelle tersebut.


“ini cenderamata yang kupilih saat aku pergi ke Amrik, semoga kamu suka..”


Rach perlahan membukanya. Ternyata sebuah hiasan rambut yang sangat cantik nan mewah tentunya.


Woww.. thank you Axelle…


“Iya, kalau begitu sore ini, bisakah kita pergi ke luar, masih banyak yang ingin aku katakan..”


Aku bersiap-siap dulu…


Kesalah pahaman pun terselesaikan sudah, namun masih ada banyak hal yang akan terjadi di depannya nanti, terutama Friska, sepertinya tak akan tinggal diam saja.


>>


Axelle mengajak Rach untuk pergi ke sebuah event festival, dan berburu barang-barang unik bersama.


Emm.. enak enak… hhhh…


“tentu saja, ice cream di sini memang enak Rach..”


Iya Ax’… Rach terlihat begitu menikmati ice cream miliknya.


“Rach, aku akan pergi membeli sesuatu terlebih dahulu..” Axelle pun pergi, sedangkan Rach asyik dengan ice cream miliknya.


Drrttt….ponsel Axelle sedari tadi terus bergetar, tanpa sengaja Rach menatap layar ponsel milik Axelle.


Friska: “Kamu kemana hari ini pak bos tampan?”


Axelle: “Aku pergi menemui Friska, membicarakan semuanya..”


Friska: “Oh, jangan lupa katakan padanya perasaanmu yang sesungguhnya tidak pernah mencintai dia…”


Bak tersambar petir, itulah yang Rach alami saat membaca isi pesan Axelle dan Friska saat itu, tanpa sengaja ia harus melihat isi pesan yang belum sempat tertutup itu. Ia terdiam sejenak, dan rasanya sangat ingin segera pulang ke rumah untuk menangis sepuasnya.


Axelle pun kembali lagi...


“Rach.. aku memenangkan undian, dan dapat boneka kelinci lucu, untukmu..” Axelle menyodorkan boneka kelinci pada Rach.


Thank you… Rach menerima boneka itu dengan tangannya yang gemetar, ia merasa sangat sedih dan kecewa akan kenyataan yang baru saja ia ketahui.


Ax’ sepertinya aku harus segera pulang…


“Tapi ini masih belum larut malam Rach?”


Aahha.. maaf Ax’ tapi ada pekerjaan yang aku belum selesaikan..


“Ohh baiklah, aku akan mengantarmu pulang…”


Sepanjang perjalanan, Rach berpura-pura untuk tidur dengan alasan ia sangat kelelahan.


>>


“Rachelie… kita sudah sampai..” ujar Axelle sambil menyentuh pipi Rach.


Oke, aku masuk Ax’


“Rachelie…” Axelle meraih tangan Rach.


Kenapa Ax’? tanyanya dengan menghela napas, rasanya dadanya sangat penat dan sesak.


“Apakah kamu masih menyukaiku dan mencintaiku?” tanya Axelle sambil menatap dalam kedua mata Rach.


“Apakah Axelle ingin mengatakan bahwa dia tidak pernah mencintaku? tidak! lebih baik tidak sama sekali, aku


menyerah..” batin Rach.


Hahha.. tentu saja semua sudah berlalu, dan kamu adalah temanku.. yoo… Rach mengajak Axelle untuk salam persahabatn seperti saat sebelum mereka menjalin hubungan.


Bye bye Axelle… Rach pun bergegas masuk ke dalam rumah keduanya, yaitu berada di samping toko kosmetiknya.


***


“Kediaman Kusuma Teofanya”


Axelle pulang dan segera menuju kamar pribadinya.


“Hmm.. Friska mengapa masih membicarakan hal ini, tidakkah ini akan membuat kesalah pahaman yang parah nantinya..” gumam Axelle saat membaca pesandari Friska yang belum sempat ia baca, namun telah dibaca oleh Rach.


Haahhh…


“Berkat kesalah pahaman ini, aku jadi tahu, bahwa aku benar-benar menyayangi Rachelie..” tsk.. gumam Axelle.


Axelle rupanya sudah mulai jatuh cinta pada Rach, dan sebenarnya ia ingin mengajak Rach untuk kembali padanya, namun niatnya masih tak tersampaikan.


>>


Sementara di sisi lain…


Hahh ahhkk.. “kamu tega sekali Axelle… ahkk… isak tangis Rach sudah tak mampu ia bendung lagi. Rasa hancur hatinya sudah sangat dalam, dan kecewa yang tak akan mampu ia pungkiri.


Sebuah kenyataan pahit yang harus ia ketahui.


“Jika kutahu kamu tidak tulus lebih baik tidak perlu ada hubungan..” lirih Rach.


***