
Ini adalah hari yang mereka tunggu-tunggu. Pernikahan Lia dengan Ezra dan Aqila dengan Frans.
Gio datang dengan Aqila yang menggandeng lengannya, dia menghampiri Frans yang sedang menunggu Aqila.
Gio melepaskan lengan Aqila, dia menduduki Aqila tepat di sebelah Frans.
"Sudah siap?" tanya penghulu tersebut.
"Ekhem siap pak," sahut Frans.
"Baiklah, saudara Frans saya kawinkan dan saya nikahkan engkau dengan Aqila Lawrance dengan maskawin 50% saham FG Group do bayar tunai!"
"Saya terima ...,"
***
Para tamu sudah memenuhi aula gedung, setelah akad sekarang ini adalah proses pertukaran cincin.
Lia tersenyum menatap Ezra begitu pula dengan Ezra. Berbeda dengan Aqila dan Frans yang bingung bagaimana mengekspresikan wajah mereka.
Setelah pertukaran cincin, para pengantin bersalaman dengan para tamu.
Keluarga Elvis tak menghadiri, mereka mengabari jika mereka harus pergi ke luar negri karena mengurus masa penyembuhan Jacob. Dan Ezra pun cuek akan hal itu, dirinya hanya bisa menerima dan berdamai dengan apa yang terjadi. Dan ini lah kehidupan dan lembaran barunya.
"Capek kak," lirih Lia.
Ezra mengajak istrinya duduk, dia menjongkokkan dirinya di depan Lia dan menyingkap gaunnya sedikit keatas.
"Kenapa kamu pakai hak tinggi? kan tadi aku bilang pakai sendal biasa aja," dingin Ezra.
Lia menggeleng, dirinya akan terlihat sangat pendek jika memakai hak tinggi.
"Gak mau, nanti beda tinggi sama kak Ezra," ujar Lia.
Ezra menghela nafasnya, dia melepas sendal Lia. Setelah itu dia berdiri dan meninggalkan Lia yang bingung mengapa suaminya pergi.
Tak lama Ezra kembali dengan sebuah botol kecil di tangannya, dia kembali berjongkok di depan Lia dan mengambil kaki istrinya itu.
"Mau ngapain?" kaget Lia.
"Kaki kamu bengkak, aku baca artikel katanya kalau orang hamil kakinya pasti sering bengkak kalau kebanyakan berdiri," ujar Ezra.
Lia tersenyum, Ezra sangat perhatian terhadap dirinya, sampai-sampai dirinya merasa malu dengan para tamu yang menatap Ezra dengan takjub.
"Shhh, jangan di teken kak. Sakit kakinya," ringis Lia saat Ezra mengurut kakinya.
"Iya sebentar," ujar Ezra.
Sedangkan pengantin lain, tepatnya di sebelah mereka menatap mereka dengan iri. Aqila dan Frans masih diam, mereka bahkan hanya tersenyum paksa saat menyapa tadi.
"Kamu capek juga?" tanya Frans memecah keheningan.
Aqila menggeleng, dia duduk dan memperhatikan para tamu. Sedangkan Frans menghela nafasnya dan duduk di samping sang istri .
"HELLO BRO!"
Seru seorang pria terhadap Frans, Frans pun bangkit dan menyambut uluran tangan pria tersebut. Dia memeluk singkat ala pria terhadapnya.
"Kapan kau sampai?" tanya Frans.
"Baru saja," sahut pria tersebut.
"Oh ya mana istrimu? aku tak datang karena ada urusan mendadak," ujar Frans.
"Santai saja, istriku sedang ke kamar mandi. Dia akan menyusul kesini," ujar pria itu.
Tak lama ada seorang wanita dengan balutan dress berwarna biru laut. Wanita itu tampak tersenyum mematap suaminya.
"Nah itu dia istriku," seru pria tersebut.
"Halo, saya Clara istri dari mas Rey," ujar wanita itu yang tak lain adalah Clara.
Aqila bersalaman dengan Clara, dia tersenyum tipis sampai sebuah suara membuat mereka kaget.
"Eh si perebut, ngapain lu ada disini?"
Aqila dan Frans menatap wanita itu yang tak lain adalah Ica dengan pandangan bingung. Lalu tatapan mereka teralih pada Clara dan Rey.
"Perebut? emangnya kapan kamu pacaran ama yang lain Rey? perasaan kamu jomblo mulu dah?" heran Frans.
"Bukan pelakor, tapi perebut orang tuan orang! ngapain lu ada disini huh?" sarkas Ica.
Clara menundukkan kepalanya, Rey pun merangkul istrinya guna menenangkannya.
"Maaf, dia istri saya. Memang dia memiliki masa lalu yang tak baik, tapi tolong jangan memojokkan dia seperti itu," ujar Rey.
Ica membulatkan matanya. "Istri? di jebak lu ama dia sampe mau nikahin perempuan ular ini?"
"Tutup mulut anda!" sentak Rey.
"Udah! malu di lihat irang!" ujar Frans.
Ica menatap sekitarnya, memang benar kini mereka menjadi pusat perhatian. Dia menoleh menatap Lia yang mengerutkan keningnya.
Lia menggeleng pelan, dia tak tahu jika Clara di undang. Bahkan dirinya mungkin sudah lupa dengan Clara.
"Bukan Lia, tapi abang," ujar Frans.
Ica menatap tak percaya pada abangnya. "Abang ngundang Clara? emangnya abang kenal?"
"Dia istri Rey, Rey sahabat abang ya pasti abang undang lah," ujar Frans.
Ica mendengus kesal, dia berlalu dari sana menuju keluarganya yang lain.
"Maafkan adik saya, dia jika sudah pernah punya masalah sama orang memang seperti itu," sesal Frans.
"Tak apa, aku mengerti," ujar Clara.
Aqila menatap Frans, kemudian netranya beralih menatap Rey yang juga tengah menatapnya.
"Yasudah, kami mau ketemu dengan adikku dulu. Ku dengar dia bersama calon suaminya," ujar Rey.
"Baiklah, teruma kasih sudah datang," tulus Frans.
Rey mengangguk, dia berlalu dati hadapan Frans dan menghampiri Lia dan Ezra.
"Selamat juga untuk kalian, istriku telah menceritakan siapa kalian. Maaf untuk kesalahannya pada kalian, tapi dia sudah berubah sungguh," ujar Rey.
Lia tersenyum, dia akan berdiri. Namun Ezra malah menahannya dan menatap Rey dengan datar.
"Bagus kalau kayak gitu, selamat juga untuk kalian. Ku harap kau bisa membimbing dia," ujar Ezra.
Marvin tersenyum tipis dan mengangguk, sementara Clara menatap Ezra. Walau dirinya telah menikah dengan Rey, tapi Ezra adalah cinta pertama nya. Masih sulit rasanya menghilangkan Ezra sepenuhnya dari hatinya.
"Lia, maaf dulu aku pernah berbuat kasar padamu," lirih Clara.
Lia tersenyum, dia memegang tangan kanan Clara dan mengelusnya pelan.
"Tak apa, kita sambut lembaran baru," sahut Lia.
Ezra menatap sang istri, Lia adalah sosok pemaaf dan gampang melupakan sesuatu yang menyakitinya. Berbeda lagi jika dia mengingatnya kembali, bisa kacau urusannya terlebih karena laki-laki.
"Kalau begitu kami permisi," ujar Rey dan mengajak istrinya pergi.
Rey mengajak istrinya menemui adiknya, dia menggandeng lengan sang istri dengan lembut.
"Abang!"
Rey menoleh, dia tersenyum lembut melihat seorang wanita yang datang bersama seorang laki-laki.
"Hai adik, bagaimana kabarmu?"
"Aku baik, oh ya kenalin ini Elbert calon suamiku," seru Audrey.
Rey tersenyum, dia beralih menatap pria yang menjadi tunangan sang adik. Netranya membulat sempurna begitu juga dengan lawannya yaitu Elbert.
"KAU!" seru keduanya.
"DIA ABANGMU?!" kaget Elbert sambil menunjuk Rey.
"DIA TUNANGANMU?!" kaget Rey sama saja dengan Elbert.
"BAGAIMANA BISA?!" seru keduanya saling tatap.
Clara dan Audrey sama bingungnya, memang Clara terkejut saat melihat Elbert tapi responnya lebih kaget lagi saat mengetahui jika ELbert adalah tunangan adik iparnya.
"Kenapa harus dia yang jadi kakak mu honey?!" rengek Elbert.
"Cih! kenapa harus pria ini yang jadi tunanganmu?" sentak Rey.
Elbert dan Rey saling menatap tajam, hingga suara Amora mengejutkan mereka.
"Eh Rey sudah datang? dimana bundamu?" tanya Amora.
"Oh, hai tante. Bunda lagi sama temannya, biasalah," ujar Rey dengan sopan.
"Mommy kenal sama dia?" kaget Elbert.
Amora mengerutkan keningnya bingung, bukankah Rey adalah teman kecil putranya. Bagaimana putranya bisa lupa.
"Loh dia itu Rey, temen kecil kamu yang sering kamu panggil Ley karena waktu itu kamu cadel. Kamu gak inget?"
"Pas aku umur berapa?" bingung Elbert.
"Pas kamu umur tiga kalau gak salah," gumam Amira.
Elbert memejamkan matanya. "Pantas aja El gak inget mommy, jangankan dia ... orang Elbert gak inget siapa yang cebokin El waktu bayi!" kesal Elbert.
___________
Hai hai hai.
Sorry nih telat up, aku udah kabarin di grup Chat. Banyak banget kerjaan dan baru sempet sekarangš©.
Oh iya, mau kalian gimana nih ... sebentar lagi novel ini bakal tamat. Nah ... kalian mau berlanjut ke cerita Frans dan Aqila atau yang lain?