Dark Memory

Dark Memory
Duit cepuluh libu?



"Mau kemana kamu Frans?" tanya Geo yang melihat putranya akan segera pergi.


Frans menghentikan langkahnya, dia berbalik dan menatap sang papah dengan wajah datarnya.


"Bukan urusan papah," ujar Frans.


"Jangan kurang ajar kamu Frans!" sentak Geo.


"Aku sudah besar pah, jadi papah gak usah ikut campur urusanku," ujar Frans dan beranjak keluar mansion.


Geo mengepalkan tangannya, dia menahan emosinya yang sedari tadi ingin dia keluarkan. Keras kepala sang anak menurun darinya, tentunya dia sadar hal itu.


"Mas, kamu ngapain diem berdiri di sini? mau cosplay jadi patung?" tanya Ane yang baru menghampiri suaminya.


Geo menoleh dengan kesal, baru saja sang putra membuat dirinya kesal. Sekarang malah sang istri.


"Aku habis negur Frans," ujar Geo.


Ane menggelengkan kepalanya, dia menepuk pundak suaminya pelan.


"Frans sudah besar mas, berilah dia sedikit kebebasan. Apalagi umurnya sudah 26 tahun, jangan kamu perlakukan dia seperti anak 7 tahun mas," nasehat Ane.


"Dia belum bisa mengambil keputusan honey, kalau dia bisa ngambil keputusan gak mungkin dia memutuskan pertunangannya dengan wanita yang jelas-jelas dia cintai!" kesal Geo.


Bukannya kesal Ane malah tertawa, dia bahkan sampai menepuk bahu suaminya sebagai pelampiasan.


"Sakit yang, cewek mah kebiasaan tangan kanan buat nutup mulut tangan kiri buat nabok," gerutu Geo.


"Habisnya kamu lucu sih ... gini yah mas, Frans itu lagi mengalami bimbang dengan perasaannya. Dia belum mengerti apa itu cinta, dia belum mengerti apa itu kehilangan. Yang dia tahu jika dia nyaman dengan Aqila, tapi mungkin aja ada hal yang membuatnya kecewa dengan Aqila," terang Ane.


Geo menghela nafasnya, dia menggenggam tangan sang istri dengan lembut.


"Bukan hanya itu saja, aku mencurigai jika Frans melepaskan Aqila karena Daniel," ujar Geo.


"Daniel?" kaget Ane.


"Iya, mungkin Daniel telah tahu hubungan Frans dengan Aqila. Sehingga Frans takut Aqila di lukai oleh Daniel, kau tahu bukan daniel akan melakukan apa saja untuk mendapat apa yang ia mau?" terang Geo...


Ane mengingat betul siapa Daniel, dialah adik ipar Ane. Hanya saja harta membuat kedua saudara ini terpecah hingga saat ini dan. entah sampai kapan.


"Aku yakin suatu saat Frans akan menemukan kebahagiaannya sendiri," lirih Geo.


"Harus ... mendiang istrimu selalu berharap Frans menemukan cinta sejatinya bukan? biarlah dia mencarinya sendiri, kita sebagai orang tua tak sepatutnya ikut campur karena ini masalah hati," terang Ane.


Benar apa yang di katakan Ane, sebagai orang tua tugas mereka hanya mengarahkan bukan memilih.


***


"Cia lagi apa sayang?" tanya Amora ketika melihat Cia yang memanjat jendela dan melihat ke luar.



"Lagi liat calon maca depan mommy," sahut cia.


kening Amora mengerut, dia mendekati putrinya dan melihat apa yang putrinya liat.


"Astaga Cia, itu pohon mangga. Bukan calon masa depan," ucap Amora.


"Nanti kalau pohon manggana udah belbuah, jadi maca depan, cekalang macih calon mommy," ujar Cia tanpa menoleh.


Amora menggelengkan kepalanya, dia teringat akan sang putra yang belum terlihat batang hidungnya.


"Si Ravin kemana lagi," gumam Amora.


"Mommy cali Lavin?"


"ASTAGA?!"



Amora terkejut melihat Ravin yang memakai selimut di sekujur tubuhnya. Bahkan anak itu sudah terlihat seperti hantu selimut.


"Ravin ngapain nak," kekeh Amora.


"Lagi coba hal balu." ujar Ravin sambil melepas selimutnya.


Amora menggelengkan kepalanya, ada-ada saja kelakuan putranya itu.


"Cia sama Ravin mau ngemil apa sore ini sayang?" tanya Amora.


"Hm ... Lavin mau cilok," pinta Ravin.


"Cia mauna telol gulung mommy,"


Makanan yang mereka pilih adalah makanan yang di larang oleh Alden, sebab mereka pasti akan membelinya dan tak menyuruh koki membuatkannya karena kata mereka rasanya beda.


"Jangan yah sayang, gimana kalau kebab di buatkan oleh paman koki?" bujuk Amora.


"Mommy gimana cih, tadi nawali cekalang milihin? jangan pinpin dong my," ujar Ravin


"Kan kalian milihnya gak sehat," bela Amora.


"Cehat kok, buktina Lavin tambah pintel," ujar Ravin.


Berulang kalinya Amora hanya bisa pasrah menanggapi ucapan sang anak, terserah sang anak untuk kali ini asalkan setelah memakannya dia akan mencekoki putra dan putrinya air putih.


"Yasudah, beli sana," pasrah Amora.


Ravin sangat senang, dia menarik Cia dan pergi menuju luar mansion. Sedangkan Amora memiringkan kepalanya yang heran dengan kepergian Ravin.


"Perasaan aku belum kasih mereka duit deh," gumam Amora.


Sementara Ravin dan Cia sudah keluar dari lift, tapi Cia segera menghentikan langkahnya begitu pula dengan Ravin.


"Eh, kita nda punya uang. Lavin cih nda minta mommy!" kesal Cia.


"Namana juga lupa, di lual lencana," ujar Ravin.


Ravin menoleh ke sana dan kemari, dia tersenyum ketika melihat bodyguard yang sedang berjaga.


"Lavin mau kemana?!"


"Cebental!"


Ravin berlari ke arah bodyguard itu, tangannya menarik kecil celana hitam sang bodyguard.


"Paman, paman," panggil Ravin.


Bodyguard tersebut menunduk. "Iya tuan kecil?"


"Paman puna uang ndak?" tanya Ravin.


"Punya, memang nya kenapa tuan?" bingungnya.


"Lavin pinjam boleh?" tanya Ravin


"Pinjam cedikit aja, nanti minta balikina cama daddy. Tenang aja paman, daddy kaya mda bakal kabul dali utang," bujuk Ravin.


Bodyguard tersebut merogoh sakunya, dia menemukan uang sepuluh ribu dan memberikannya ke Ravin.


"Nih tuan,"


"Uang apa itu? Lavin nda pelna liat," lirihnya.


Para bodyguard yang ada disana melongo mendengarkan, apakah Ravin belum pernah melihat uang berwarna ungu itu?


"Jangan yang ini ah paman, nda laku itu," ujar Ravin.


Cia yang melihat ada perdebatan segera menghampiri mereka, dia melihat uang yang ada di tangan bodyguard tersebut.


"Kamu minta cama paman penjaga? nda ada aklak kamu Lav," kesal Cia.


"Dih, kan Lavin nda nyolong. Olang Lavin cuma pinjam," bela Ravin.


"Maaf tuan, ini jadi gak pinjamnya?" bingung bodyguard tersebut.


Ravin menggeleng. "Nda laku itu paman, biacana mommy kacih yang walna bilu. Tapi kok itu ungu?"


Cia memukuk keningnya pelan, betapa bodoh nya Ravin ini atau memang tidak pernah melihat uang itu.


"Itu uang cepuluh libu Lavin, beli cilok dapet dua puluh biji itu. Gak usah katlo deh!" kesal Cia dan mengambil uang tersebut.


"Makacih ya paman, nanti kalau daddy pulang Cia minta tama daddy," ujar Cia.


Bodyguard tersebut mengangguk, setelah itu dia kembali fokus berjaga.


"Kok di ambil cih, minta yang biluuuu!" rengek Ravin.


Cia jengah, dia menarik Ravin keluar dari mansion menuju gerbang.


"Gak usah ngeyel deh Lav, pelutmu itu cudah gentong. Jangan jadi tambah gentong kayak cumo! DIET! bial nanti banak yang naksil," ujar Cia.


Ravin memajukan bibirnya, dia kesal dengan Cia yang meledeknya.


"Cia duga badana gendut," ucap Ravin yang mana membuat langkah Cia terhenti.


"Apa tadi kamu bilang?" tanya Cia dengan tatapan tajamnya.


Ravin meneguk ludahnya, sepertinya dirinya salah berbicara seperti itu pada Cia yang notabennya seorang perempuan.


"Lavin bilang ...,"


"PELGI AJA KAMU TINGGAL DI HUTAN LIAT KINGKONG PADA GENDUT MELEKA TETEP TANTIK JADI DANGAN BILANG KAYAK GITU TAMA CIA!"


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.