
"Terus kalian tadi habis dari rumah sakit, dokternya bilang apa tentang kandungan Lia?" tanya Amora dengan wajah yang tersirat khawatir.
"Iya, tadi kata dokter gak papa. Kandungannya pun sehat, tapi tetap harus meminum vitamin penguat janin," terang Ezra.
Lia sedari tadi tak berbicara, dia sibuk memakan cemilan yang ada di meja. Menghiraukan suami dan mommynya mengobrol berdua.
"Lia,"
Lia baru menoleh ketika sang daddy memanggil, dia tersenyum lebar ketika melihat sang daddy menghampirinya.
"Daddy!" seru Lia.
Lia pun menaruh toples yang ada di pangkuannya, dia menerjang tubuh sang daddy dengan pelukan.
"Lia kangen,"
"Daddy juga kangen princess," ujar Alden.
Alden membawa putrinya duduk, Lia pun tak henti-hentinya memeluk Alden. Amora dan Ezra pun menatap ayah dan anak itu, Amora terkekeh berbeda dengan Ezra yang menatap datar dua orang di depannya.
"Kau mau ngapain kesini?" tanya Alden pada Ezra dengan Lia yang masih di pelukannya.
Ezra menunjuk dirinya sendiri. "Daddy tanya aku ngapain kesini? tentu saja mengantar istriku," heran Ezra.
"Ck, iya saya tahu. Lia sudah disini, terus kamu ngapain masih disini?" kesal Alden.
Ezra menatap Alden tak percaya, sedangkan Amora menggelengkan kepalanya. Selalu begini setiap mereka bertemu kembali, ada saja yang diributkan.
"Ya nungguin istri lah dad, apalagi?" kesal Ezra.
"Gak usah di tungguin, besok daddy bisa anter dia balik ke rumah kalian. Gak usah repot-repot nungguin," ujar Alden.
Ezra melongo, bukankah seharusnya dia yang berkata seperti itu? mengapa Alden membuatnya sangat bingung sekaligus kesal.
"Pulang sana," titah Alden.
"Daddy mengusirku?" tanya Ezra tak percaya.
"Anggaplah seperti itu," enteng Alden.
Ezra mendengus kesal, bukan dirinya tak mau pulang. Hanya saja dirinya tak bisa tidur jika sang istri tak ada disampingnya, dirinya sudah terbiasa dengan Lia di hidupnya.
"Mom," panggil Ezra meminta bantuan.
Amora menatap tajam Alden, tangannya mengambil buah pisang yang ada di meja. Setelah nya Amora mengupasnya.
"Mas, Ezra tetep disini bolehkan?" tanya Amora sambil mematahkan pisang tersebut dengan mata yang menatap tajam Alden.
Alden meneguk ludahnya kasar, dia mengangguk cepat sehingga Ezra tersenyum puas.
"Dasar isti!" sindir Ezra.
Amora, Alden dan Lia menatap Ezra dengan bingung.
"Ikatan suami takut istri," ujar Ezra.
"Hais ... kalian ini, sudahlah mommy mau ke kamar dulu," pamit Amora.
Amora ke kamar, Alden pun berani dengan Ezra. Dia melepaskan pelukan putrinya dan menatap sang putri dengan senyum.
"Sebentar yah, daddy mau bicara dulu sama suamimu," ujar Alden.
Lia mengangguk, dengan segera Alden menarik lengan Ezra agar mengikutinya.
"Apa sih dad? kita kayak lagi selingkuh tau gak!" kesal Ezra.
"Idih, stres kamu?!" kesal Alden.
"Ck, daddy mau ngapain sih aja Ezra kesini?!"
Alden menatap tajam Ezra. "Tadi saya dengar jika putri saya di bentak oleh seorang OB, apa benar begitu?" tanya Alden dengan dingin.
Ezra mengerutkan keningnya, dari mana Alden tahu hal itu? padahal tak ada yang menyebarkannya di medsos.
"Kok daddy bisa tau?"
"Kenapa? takut daddy tau huh? kenapa kau gak pecat dia hah?! kenapa malah kau memaafkan mereka?!" tanya Alden dengan nafas memburu.
Ezra menghela nafasnya pelan, daddynya pasti tau dari Emily karena Emily adalah asisten yang Alden berikan padanya. Pasti tentu saja Emily akan melapor apa yang terjadi.
"Aku kasihan padanya," ujar Ezra.
Alden mengambil kembali ponselnya, dia menghubungi irang kepercayaannya tapi suara Ezra menghentikannya.
"Dia mempunyai seorang putra yang sedang di rawat di rumah sakit, putranya mengalami kelainan jantung. Jika dia tak bekerja, lalu bagaimana dengan pengobatan putranya? apakah putranya akan menjadi korban karena keegoisan ibunya?" ujar Ezra.
Alden mematikan ponselnya, dia menatap Ezra yang menatapnya dengan memohon.
"Bagaimana perasaan daddy jika Ravin ada di posisi putra dia? bahkan ketika Ravin hanya sakit demam pun daddy sampai membawanya ke rumah sakit," ujar kembali Ezra.
"Terus? bagaimana dengan putriku?" tanya Alden.
"Aku sudah memberinya peringatan, jika dia mengulangnya kembali maka aku akan mengambil tindakan yang seharusnya," ujar Ezra.
Alden menghela nafasnya pelan, dia menepuk pundak Ezra beberapa kali.
***
"Ravin lagi apa sayang?" tanya Amora ketika melihat Ravin menghitung uangnya.
"Mommy diam dulu, Lavin lagi itung uang," ujar Ravin tanpa mengalihkan pandangannya.
"Itu uang dari siapa?" tanya Amora yang mana membuat Ravin kesal.
"Hiks ... kan tadi Lavin bilang diam dulu, hilang sekalang belapana," kesal Ravin.
Amora terkekeh, dia beralih menatap Cia yang sedang mengotak atik mainan berbienya.
"Kenapa sayang?" tanya Amora.
"Boneka yang dali bunda lucak, mommy," lirih Cia.
Amora melihat berbie itu, boneka yang sebelumnya Cia bawa dari rumah lamanya. Boneka yang di berikan oleh mendiang ibu kandung Cia.
"Ehm ... besok kita bawa ke toko boneka, biar mereka yang benarkan okay," bujuk Amora.
"Bica mommy?" lugu Cia.
"Bisa, ini kan tinggal di ganti tangan baru," ujar Amora.
Cia tersenyum, dia memeluk Amora dengan erat.
"Makacih mommy udah cayang cama Cia, cudah kacih Cia makan. Cudah belikan Cia mainan, makacih mommy," tulus Cia.
"Tidak perlu berterima kasih sayang, Cia anak mommy. Sama seperti Ravin, pasti mommy akan memberikan apapun untuk Cia," ujar Amora.
Cia menatap sang mommy, dia mencium lembut pipi Amora.
"I love you mommy!" seru Cia.
"I love you to dear," sahut AMora.
"LAVIN NDA DIAJAK PELUKAN?" histeris Ravin.
Amora dan Cia pun tertawa, mereka juga memeluk Ravin. Kegiatan mereka sedari tadi di lihat oleh Alden yang berdiri di ambang pintu.
"Kebahagiaan yang sebenarnya adalah bersama keluarga," lirih Alden.
Berbeda dengan Lia dan Ezra, kini mereka terpaksa menginap karena Lia yang tertidur. Ezra pun tak tega harus pulang malam seperti ini, apalagi Lia sedang hamil muda.
Ezra dan Lia sedang tertidur di tempat tidur dengan Lia yang ada di pelukan Ezra.
Ezra terbangun, dia mengerjapkan matanya dan melihat ternyata dirinya baru beberapa menit tertidur.
Netranya melihat sang istri yang tertidur di dada bidangnya yang tak berlapis baju yang sudah menjadi kebiasaannya.
"Ngantuk banget yah? sampe pules gitu?" gumam Ezra.
Tangan Ezra terukur untuk mengelus pipi Lia, wanita yang selama ini ada di mimpinya kini secara nyata ada di hadapannya.
Wanita yang selalu menariknya kembali dari memory hitamnya, wanita yang menjadi gembok dari kunci hatinya.
"Kamu adalah jawaban setiap pertanyaanku, kamu adalah sosok yang selalu aku impikan. Kamu wanitaku satu-satunya yang akan menjadi wanita pertama dan terakhir dalam hidupku,"
"Kamu wanita yang menerangkan Dark Memoryku, I Love You more,"
Ezra mencium kening Lia sangat lama hingga Lia tersenyum di dalam tidurnya.
Malam menyaksikan bagaimana Ezra sangat menyayangi Lia, rembulan pun menemani sepasang suami istri itu.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.