
Zidan tengah memperhatikan sang ayah yang kini sedang terbaring lemah dengan banyak alat yang membantu menopang hidupnya.
"Andaikan daddy bisa mengerti apa yang orang lain inginkan, pasti keluarga kita bahagia. Sedari dulu daddy selalu memaksaku untuk ini dan itu hingga akhirnya aku menjadi anak yang dingin, begitu pula dengan Ezra," ujar Zidan dengan suara lirih.
"Jika waktu itu daddy tidak menceraikan mommy, mungkin aku akan menjadi anak yang paling bahagia. Tumbuh dengan sosok ibu yang menyayangiku, mengajariku, dan membimbingku. Bukanmya malah di besarkan dengan keegoisanmu," lanjut Zidan.
"Jika banyak orang bertanya, apa aku tak pernah membenci ayah? jawabannya pernah, aku pernah membencimu sangat-sangat membencimu. Tapi aku sadar, perjuangan mu untukku hidup. Lelahmu dalam bekerja setidaknya kau tidak membiarkan aku telantar, kau menyayangiku dengan caramu sendiri aku tau itu. Tapi, bisakah kau menghilangkan sedikit saja sifat egoismu dad?" lirih Zidan.
Zidan melihat jam tangannya, dia segera bangkit dari duduknya dan pergi keluar dari kamar rawat Jacob.
Tanpa Zidan ketahui jika kedua sudut mata Jacob mengeluarkan air mata, pria itu tak tahu jika sebenarnya daddynya mendengar apa yang ia bicarakan di alam bawah sadarnya.
Zidan melihat sang istri yang sedang kewalahan dengan putra bungsunya yang sedang merengek.
"Ada apa? kenapa Kino seperti itu pada bunda?" tanya Zidan ketika sampai di dekat mereka.
Kino terdiam, yang tadinya menangis seketika diam akibat pertanyaan sang papah. Dia takut dengan papahnya itu, berbeda dengan sang bunda dia selalu berani merengek.
"Ini mas, Kino minta ke mansion Amora. Dia bilang tadi Ravin video call, terus dia lihat Ravin lagi asik berenang dengan Cia." terang Kirana sambil menatap suaminya.
Zidan menatap sang anak, putranya masih saja menangis walau tidak ada suaranya. Dia tahu jika Kino ingin bermain dengan sepupunya itu.
Zidan berjongkok di depan Kino, dia menatap sang putra yang juga tengah menatapnya.
"Sekarang papah masih sibuk, gimana kalau minggu kita main ke mansion Ravin dan Cia?" bujuk Zidan sambil menghapus air mata sang anak.
"Nda mau ... lama!" rengek Kino.
"Oke, sabtu sore kita berangkat terus nginap minggu sore kita pulang. Bagaimana?" tawar Zidan.
Kino tampak berpikir, dia menghitung dengan jarinya entah apa yang dia hitung.
"Kok tepet banget hiks ... tepet itu hiks ...," isak Kino kembali.
"Gak cepet sayang, lama ... orang sampe 24 jam kok di sana," bujuk Zidan.
Kino terdiam, dia tampak berpikir ucapan sang papah. Netranya menatap bundanya yang sepertinya menahan tawa.
"Dua puluh empat? belalti banyak? boleh di tambah catu jam lagi nda? nanggung pah." pinta Kino sambil menunjuk dua dan lima jarinya.
Zidan tampak menghela nafasnya, putranya sangat pintar bernegoisasi. pasti dia akan sangat sukses menjadi Ceo perdagangan.
"Oke, 25 jam. Sudah, sekarang Kino jangan merengek lagi, kasihan bunda ngadepin kamu," pasrah Zidan.
Kino mengangguk senang, dia bangkit dan berlari menuju kamarnya. Sepertinya dia akan berbicara dengan Ravin mengenai kedatangannya.
Zidan, dia menatap istrinya yang tertawa akibat ulahnya.
"Kalau Kino gak merengek, mana mau kamu ke Mansion Wesley ... Nginep lagi. Kamu itu makanya jangan terlalu sibuk mas, sekali-kali main sama anak kamu," ledek Kirana.
"Main sama dia yang ada aku emosi terus, dia gak mau ngalah kalau di kasih tau yang," rengek Zidan.
"Dih, kamunya aja yang gengsian. Kayak kemarin, Kino bilang itu hewan entok tapi kamu bilangnya bebek. Akhirnya ributkan! emang bener anaknya kok ya!" ujar Kirana.
Zidan menggembungkan pipinya kesal, sementara Kirana meringis melihat itu.
"Udah deh mas, kamu udah tua. Gak ada lucu-lucunya, ingat umur!" ujar Kirana dan beranjak dari hadapan Zidan.
"Dih, gini-gini juga masih banyak yang ngantri buat jadi bini kedua aku," gumam Zidan.
Sementara itu lini Kino tengah memvideo call Ravin, terlihat sepupunya itu tengah bermain dengan Cia.
"Lavin nanti aku mau ke lumah kamu lohh," pamer Kino.
"Iya kah? bagus lah, bawa cemilan yah! modal dikit kalo kecini," sahut Ravin.
"Belapa hali?" tanya Ravin sambil memakan kacang yang berada di toples.
"Dua puluh lima jam, banyak kan?!" seru Kino.
Ravin menghentikan kunyahannya, dia menghitung memakai jarinya. Biar begitu bocah itu sudah bisa membedakan jam dan hari.
"Kata bang Laskal, catu hali dua puluh empat jam. Telus kino bilangna dua ouluh lima jam, ya jadina cuma catu hali!" terang Ravin.
Kino akhirnya menghitung, raut wajahnya berubah menjadi terkejut.
"Benel! Kino di boongin cama papah! sebental, Kino bilang ke papah dulu!" ujar Kino dan segera mencari Zidan.
Berbeda dengan Ravin saling tatap dengan Cia, mereka bingung dengan tingkah Kino.
"Kino na calah hitung yah?" tanya Cia.
"Iya tali, calah hitung. Cekolah gak luluc sih dia," jawab Ravin dengan nada mengejeknya.
"Bukana Lavin belum cekolah duga? jadina belum luluc?" heran Cia
"Kata daddy udah, Lavin udah cekolah di pelut mommy. Makana bica kelual cendili dali pelut mommy," terang Ravin.
Cia pun hanya mengangguk, mereka kembali melihat Kino yang kembali dengan wajah di tekuknya.
"Papah balik ke kantol, nanti pulang Kino bilang ke papah bial bisa main lama-lama," ujar Kino.
"Nda kecini juga nda papa, kamu kan beban!" sindir Ravin.
"LAVIN KOK KAMU BEGITU! KINO NDA CUKAAAA!"
***
"Apa ini ada hubungannya dengan Frans? apa yang pria itu lakukan terhadapmu Aqila? jawab ayah!"
Deghhh!
Aqila tampak terkejut, dia menatap takut Gio yang sedang menatapnya penuh selidik.
"Ga-gak yah, Frans ... Frans ... ha-hanya memutuskan pertunangan kami," cicit Aqila.
"APA?! BAGAIMANA BISA?! AYAH HARUS BICARA INI DENGAN OM GEO!" sentak Gio dan mematikan sambungan video call mereka.
Aqila menghela nafasnya, dia menaruh kembali ponselnya dan menarik selimut menutupi tubuhnya.
"Bukan hanya itu yah, dia telah menghancurkan masa depan putrimu ini. Masa depanku telah rusak hiks ... Qila malu hiks ... untuk itu maafkan Qila belum bisa memberi tahumu, Qila takut ayah akan menanggung malu," isak Aqila.
Perut Aqila terasa sedikit sakit yang mana membuat Aqila sedikit meringis.
"Jangan rewel yah nak, maafin bunda. Bunda gak nangis lagi kok, udah yah sayang," ringis Aqila.
Tak lama perutnya kembali membaik, dia tersenyum dan menghapus air matanya pelan. Biarpun Frans meninggalkannya, setidaknya ada janin yang harus dia perjuangkan.
"Bisa gak nak, mual bunda kasih ke ayahmu aja. Biar seri sayang, bunda gak bisa kerja kalau mual terus. Nanti yang belikan kamu baju, perlengkapan, dan susu siapa sayang?" tanya Aqila sambil mengelus perutnya
"Kasih ke ayahmu aja yah, biar dia yang merasakannya yah sayang. Kasih ngidamnya juga ke ayah, biar kita gak repot-repot nyari. Ok sayang,"
Aqila berbicara pada anaknya sendiri, walau dia menganggap itu bercandaan. Tapi, kenyataannya itu benar-benar terjadi pada Frans saat ini.
"Huwek! Huwek!"
"Kayaknya gue salah makan deh," lirih Frans.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.