
"Kak, keluar yuk," ajak Lia.
"Bentar ay, aku urusin berkas kantor dulu," jawab Ezra tanpa melepas pandangannya dari Lia.
Lia kesal, dia bangkit dari ranjang dan mendekati Ezra yang terduduk di sofa di temani oleh laptopnya.
"Ayo iiihhh," rengek Lia.
Ezra tak menggubrisnya, tampaknya dirinya masih fokus. Hingga Lia melakukan sesuatu yang membuat Ezra memekik histeris.
"KAKAK!" teriak Lia sambil mencak-mencak tak jelas di hadapan Ezra.
"Eh ... eh okay! Kita pergi, jangan lompat begitu, bayinya bisa brojol nanti." ujar Ezra sambil menaruh laptopnya dan bangkit dari duduknya.
Ezra tak menghampiri istrinya, dia mengambil kursi roda dan menempatkan Lia disana.
"Kalau mau jalan-jalan harus pakai kursi roda, kalau gak mau diem aja dikamar," ujar Ezra yang tau akan protesan Lia.
Lia mencebikkan bibirnya, dia hanya menurut ketik Ezra mendorong kursi rodanya keluar.
PRANG!
BUGH!
PRANG!
BRAK!
"Eh ... itu ada suara apa yah dari bawah? kok ribut begitu?" tanya Lia sambil mendongak menatap Ezra.
Mereka juga heran, terlihat Lio dan Laskar berlari tergesa-gesa menuju bawah sementara Aurora sedang menahan Cia dan Ravin yang akan mengikuti para abangnya.
"Turun ayo! kita lihat," ujar Lia.
Ezra melepas pegangan pada kursi roda Lia, dia berjalan menuju pagar pembatas dan melihat banyaknya bodyguard serta orang berpakaian hitam yang berkumpul disana.
PRANG!
Suara pecahan itu kembali terdengar, Lia semakin cemas. Dia menjalankan sendiri kursi rodanya dan memasuki lift.
"Jangan kebawah ay, bahaya. Kamu lagi hamil, nanti ... loh ay? ayang!"
Ezra terkejut ketika tak mendapati sang istri yang ada di belakangnya, dia melihat lift yang menurun ke bawah.
Ezra segera berlari menuju lift, dia menekan tombol lift berharap pintu lift itu terbuka.
"Si4l!" umpat Ezra.
Ezra menoleh menatap Aurora yang masih sibuk menenangkan Cia dan Ravin.
"Ajak mereka masuk, jangan sampai keluar," titah Ezra yang di angguki oleh Aurora
Ezra segera menuju tangga, dia berlari ke bawah dengan gerakan cepat.
Sedangkan Lia sudah keluar dari lift, dia berdiri dan meninggalkan kursi rodanya di lift.
Sedangkan Ezra sudah sampai ke lantai bawah, dia segera menuju lift dan tak menemukan istrinya Bahkan kursi rodanya masih berada disana.
Ezra segera menuju ruang tamu karena dia tahu istrinya ada disini.
"BERHENTI! BERHENTI!" teriak Aqila.
Ezra mendapati istrinya yang sangat syok melihat bagaimana kacaunya Frans yang di pukuli oleh Gio. Bahkan Frans tak melawan sedikitpun ketika Gio memukulnya.
Ezra mendekati istrinya, dia menarik lengan istrinya karena mereka tak berhak ikut campur.
"Nanti kalau kamu kena gimana? gak usah yah," bujuk Ezra.
Lia menggeleng, dia menatap suaminya dengan tatapan terkejut.
"Siapa pria itu? kenapa teman daddy memukulnya? kenapa kak Aqila juga menangis histeris?"
Ezra menggendong istrinya, dia membawa sang istri menuju taman belakang. dirinya menyuruh maid untuk membawa vitamin beserta susu Lia.
"Tak usah di pikirkan, sekarang kau tenanglah gak usah banyak pikiran okay," bujuk Ezra.
Lia masih diam, dia mengingat jika kakak Ica adalah Frans. Pria itu memutuskan tunangan nya dengan Aqila, dan bukankah mereka sudah tak ada hubungan apa-apa lagi?
"Gak kak, bukannya kak Qila sudah tak ada hubungan dengan Frans? kenapa pria itu ada disini?" bingung Lia.
Ezra menghela nafasnya, dia menjongkokkan dirinya di depan Lia yang duduk di kuris taman.
"Aku juga tidak tahu, nanti kita tanyakan," ujar Ezra.
Lia mengangguk, dia mengelus perutnya lembut yang mana membuat Ezra tersenyum lembut.
Tak lama maid datang membawa nampan berisi susu air putih dan vitamin. Dia menaruhnya di sebelah Lia.
"Sekarang minum susunya dan juga vitaminnya," titah Ezra.
"Ehm maaf tuan, lebih baik minum susunya di jeda beberapa jam lagi. Karena tidak baik meminum susu dan vitamin dalam waktu berdekatan," nasehat maid tersebut.
Ezra menatap vitamin dan susu itu, dirinya menag tak mengerti dengan hal seperti itu.
"Jadi sekarang minum vitamin dulu?" tanya Ezra dengan wajah bingungnya.
"Iya tuan," jawab maid tersebut.
"Terus susunya? kan sayang kalau gak di minum," ujar Ezra.
Lia tampak berpikir, tapi sedetik kemudian dia kembali berbicara dan memberikan usul pada Ezra.
"Gimana kalau kak Ezra minum susunya," saran Lia.
Ezra menaikkan satu alisnya. "Aku? kenapa aku? kan yang hamil kamu, ini kan susu hamil ay," bingung Ezra.
"Kan kakak juga bakal jenguk dedek, nanti juga nutrisinya ke dedek," lugu Lia.
"Bener juga, yaudah deh aku minum susunya biar si dedek sehat,"
Maid tersebut merasa cengo mendengar apa yang mereka katakan bahkan Ezra juga seperti Lia.
"Gimana caranya nutrisinya ke serep bayi?" batin maid tersebut.
Akhirnya Ezra meminumnya, dia menatap Lia yang tersenyum puas melihat Ezra yang meminum susunya.
"Uwek uhuk! uhuk! tidak enak sekali rasanya, kenapa daddy membeli susu hamil dengan rasa seperti ini!"
Senyum Lia luntur, dia heran karena sebelumnya dia belum pernah meminum susu hamil.
Ezra menatap maid itu yang terkejut, Ezra berdiri dan menatap maid tersebut dengan tajam.
"Ini susu apa? kenapa kau memberikan susu ini pada istriku? untung aku yang meminumnya, bagaimana jika istriku?!" kesal Ezra.
"Maaf tuan, tadinya saya ingin membuat susu biasa untuk non Lia. Tapi saya ingat jika non Lia sedang hamil, jadi saya buatkan non Lia susu hamilnya non Aqila yang kemarin nyonya belikan untuknya," ujar maid tersebut.
Ezra dan Lia merasa kaget, mereka tak tahu menahu dengan kehamilan Aqila. Bahkan mereka baru mendengarnya dari maid yang ada di dekat mereka ini.
"Kak Qila hamil? bukankah kak Qila belum menikah?" bingung Lia.
***
"CUKUP GIO! KAU AKAN MEMBUNUHNYA!" sentak Alden menarik Gio untuk menjauh dari Frans yang tampak tak berdaya.
"Ini gak membayar sedikitpun apa yang putriku alami, dia harus menanggung malu sekaligus kehilangan kehormatannya! sedangkan pria ini, dengan mudahnya dia memutus pertunangan dengan putriku dan malah merebut mahkota putriku!" marah Gio.
Aqila mendekati sang ayah, dia memeluk ayahnya agar tak kembali memukuli Frans.
"Jangan ayah, ayah akan membunuhnya nanti. Ayah bisa masuk penjara, Aqila hanya punya ayah," lirih Aqila.
Gio balik memeluk putrinya, putri tunggalnya yang dia sayangi melebihi nyawanya sendiri. Bahkan dia akan mengorbankan nyawanya hanya untuk sang putri.
Tapi ... begitu mudahnya Frans menghancurkan putri yang selama ini dirinya jaga bagai berlian.
"A-aqila ... sa-saya ma-mau bertanggung jawab ... sa-saya a-akan meni-menikahi kamu," lirih Frans.
Frans berusaha untuk mendekati Aqila di sisa-sisa tenaganya, dia menatap Aqila dengan tulus.
"Demi anak ki-kita ...," lirih Frans.
"Aku ...,"
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.