
"Mamah ...," lirih Ezra.
Wanita itu tampak tersenyum manis, dia berjalan mendekati Ezra yang tengah menahan air matanya agar tidak keluar.
"Putra mamah sudah besar yah nak, selamat atas pernikahanmu. Makasih Karena kamu telah menjadikan Zanna istrimu, mamah yakin kalian akan bahagia." ucap Wanita itu sambil mengulurkan tangannya mengelus pipi Ezra.
Ezra terdiam, dia memejamkan matanya menikmati sentuhan sang ibu. Sedari lahir dirinya tak pernah merasakannya, dan untuk itu pertama kalinya dia merasakan bagaimana sentuhan sang ibu.
"Leon ... bisa mamah minta sesuatu pada mu nak," tanya wanita itu.
Ezra membuka matanya, dia mengangguk pelan. Dirinya tak lagi dapat menahan air matanya, sehingga kini air matanya telah mengalir di pipinya.
"Tolong jaga Zanna, jaga keluarga kecilmu. Jangan sakiti dia nak, jaga kepercayaannya untukmu. Jika kau menyakiti dia, sama saja kau menyakiti mamahmu ini. Jangan pernah sekali-kali kamu khianatin dia, sebab ... mamah tiada karena sebuah pengkhianatan," ujar wanita itu.
"Hiks ... hiks ... siapa yang ...,"
Tiba-tiba pandangan Ezra menggelap, dia terjatuh tak sadarkan diri. Terakhir yang di lihatnya sebelum menutup mata adalah sang mamah yang tersenyum menatapnya.
"EZRA!"
"EZRA!"
Ezra mengerutkan keningnya, tak lama kelopak matanya yang tadinya terpejam akhirnya terbuka juga. Dia mengerjapkan matanya menyesuaikan cahaya yang masuk.
"Shhss," ringis Ezra yang merasakan kepalanya sangat pusing.
"Are you okay?" tanya seorang pria.
Ezra mengalihkan pandangannya, dia menatap pria tersebut yang ternyata adalah temannya Haikal.
"Haikal, kok lu bisa disini?" heran Ezra sambil berusaha bangkit dari tidurnya.
"Yee seharusnya gue yang tanya, kenapa lu gak jawab telpon gue. Jadinya kan gue khawatir, terus nyamperin lu kesini. Ternyata malah ketiduran di sofa," terang Haikal.
Ezra teringat akan mamahnya, dia mengedarkan pandangan ternyata benar dirinya di sofa. Bukankah dirinya terjatuh? kenapa sekarang ada di sofa?
"Lu ... lu tadi masuk ngeliat mamah gue gak?" tanya Ezra dengan wajah paniknya.
"Ngaco lu! kalau gue ketemu sama mamah lu, gue beda alam dong sama lu. Gimana sih!" kesal Haikal.
"Gak ... ma-maksud gue ... ta-tadi gue ketemu nyokap kandung gue disini, tepatnya di lorong itu." ucap Ezra sambil menunjuk lorong tersebut.
"Mimpi kali lu, udah ah ... yok balik, udah malem juga. Apa mau nginap disini?" tanya Haikal.
Ezra terdiam, dia merasakan jika tadi benar-benar nyata. Bahkan dirinya bisa merasakan sentuhan sang mamah. Tapi kenapa dirinya seperti mimpi yang terasa nyata.
"Pulang aja yuk Zra, gue takut. kali aja ada hantunya ni mansion. Walaupun ada yang bersihin tiap minggu, tapikan serem Zra," bujuk Haikal.
"Bencong lu! badan doang gede, mental kecil," sindir Ezra.
"Gini-gini gue udah punya bini Zra!" kesal Haikal.
Ezra hanya memutar bola mataya malas, sedetik Kemudian dia menyadari jika tadi dirinya memegang sebuah kamera dan beberapa foto Lia.
"Tadi gue megang kamera, mana kameranya?" tanya Ezra sambil celingak-celinguk mencari kamera tersebut.
"Gak tau, orang gue lihat lu tidur gak megang apa-apa," heran Haikal.
Ezra mengedarkan pandangannya, dia mendapati kamera dan foto Lia yang berada di atas bufet di samping foto mamahnya yang sedang mengandung dirinya.
Ezra bangkit dari duduknya, dia mendekati bufet itu dan mengambil kamera serta foto Lia.
Saat Ezra ingin pergi, dia menghentikan langkahnya dan menatap foto sang mamah. Akhirnya Ezra memutuskan untuk mengambil foto tersebut dan keluar dari mansion menuju mobil.
Haikal langsung keluar, tak lupa dia mengunci mansion. Sambil berjalan, dia terus menggerutu akibat Ezra yang meninggalkannya.
"Temen gak ada akhlak! main tinggal-tinggal aja! ****** emang!"
***
Berbeda dengan Lia yang saat ini tengah memikirkan Ezra, bahkan dirinya tak bisa tidur karena khawatir dengan suaminya itu.
"Udah sih Li, kalau khawatir telpon aja. Dari pada kayak cacing kepanasan begitu!" kesal Mesya.
Bagaimana tidak, sedari tadi mereka merasa jengah dengan Lia yang berjalan maju mundur dengan tidak jelas.
"Takut ganggu," cicit Lia.
"Yaelah Li, yang penting kamu bini sahnya ini. Pelakor aja berani nelpon suami orang pas istrinya ada," ujar Ica.
Viola terkekeh, begitu pula dengan Mesya. Berbeda dengan Ica yang mendengus sebal.
"Udah Li, abang gue ada urusan. Asal lo tau, tadinya Dokter Clara calon tunangan abang gue. Eh malah di tolak ama abang gue karena dia masih kepikiran lu," terang Viola.
"Sekarang udah dapet gue, bisa jadi kan lem biru dia," kesal Lia.
"Lem biru?" heran ketiga temannya.
"Lempar beli yang baru," terang Lia.
Mereka semua menepuk keningnya, mereka sepertinya harus terbiasa dengan tingkah dan sifat ajaib teman mereka.
Dertt!
Dertt!
Ponsel Lia berdering, dia melihat siapa yang menelponnya. Ternyata Ezra menelpon istri kecilnya itu.
"Kenapa? kok dari tadi gak di angkat-angkat?" tanya Viola.
"Gue takut nangis," jawab Lia dengan suara bergetarnya
Viola menghela nafasnya, kakak iparnya itu telah menutup wajahnya. Bisa di tebak kini Lia sedang menangis.
Akhirnya Viola mendekati ranjang Lia, dia mengangkat telpon itu agar sang abang tahu.
"Halo ay, kok kama angkatnya? kamu tidur yah?" panik Ezra.
"Halo bang, ini gue,"
"Kok kamu sih, istri abang mana?" heran Ezra
"Istri abang nangis tuh, dari tadi khawatir sama abang." terang Viola sambil menduduki dirinya di samping Lia.
"Kasih ponselnya sama Lia, biar abang yang ngomong," pinta Ezra.
Viola memberi ponsel itu pada Lia, tetapi wanita itu mendorong ponselnya dan semakin terisak.
"Ini, suaminya mau ngomong juga!" kesal Viola.
Lia tetap tidak mau, entah mengapa dirinya saat ini sangat kekanakan.
Akhirnya Viola terpaksa meloud speaker ponsel Lia agar temannya itu dengar.
"Ay, kakak salah yah? kok nangis? kedengeran loh nangisnya," tanya Ezra dengan lembut yang mana membuat pekikan histeris Mesya dan Ica.
Lia akhirnya mengangkat wajahnya, dia menghentikan tangisannya.
"Gak hiks ... Lia gak nangis hiks ...," isak Lia.
"Kok suaranya kayak gitu? katanya gak nangis?" gurau Ezra.
"Gak hiks ... huaaa!"
Viola panik, dia segera mengambil tisu dan memberikannya ke Lia.
"Ay, udah dong jangan nangis. Aku pergi belum sehari loh, udah yah sayang. Aku gak tenang kalau begini jadinya," bujuk Ezra.
"Hiks ... gak ... a-aku gak papa, a-ku cuma kangen. Hiks ... udah, ka-kamu hati-hati," ujar Lia dengan sesenggukan.
"Iya ... tidur gih, nanti besok kakak telpon lagi. Bye sayang,"
"Bye," lirih Lia.
Viola mematikan ponsel Lia, dia membantu Lia untuk merebahkan tubuh Lia. Dia menarik selimut hingga ke batas dada Lia.
"Gak usah khawatir, abang gue gak bakal macem-macem. Udah tidur, besok juga di telpon lagi," bujuk Viola.
Lia mengangguk, dia memejamkan matanya. Dan tak lama dengkuran halus terdengar.
"Jadi pengen nikah gue," gemas Ica.
"Sana, sama kingkong!" ledek Mesya.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.