
"Eunghh!" lenguh sorang pria yang terbaring lemah yang tak lain adalah Zidan.
Zidan mengerjapkan matanya menyesuaikan cahaya yang masuk. Netranya menatap dinding yang bercat putih yang mana membuatnya bingung.
"Aku di rumah sakit?" gumam Zidan.
Cklek!
Netra Zidan beralih menatap orang yang baru saja memasuki ruang rawatnya, dia tersenyum ketika mendapati sang istri yang masuk dengan menggendong putra mereka.
"MAS!" seru Kirana.
Kirana langsung berjalan cepat mendekati suaminya, dia bahagia melihat sang suami yang sudah siuman.
"Kamu gak papa? masih ada yang sakit?" tanya beruntun Kirana.
"Gak aku udah gak papa," lirih Zidan.
Ekhem!
Zidan dan Kirana menoleh, mereka terkejut melihat Alden dan Amora masuk ke dalam ruang rawat Zidan.
"Ka-kalian?!" kejut Zidan.
"Iya, ini kami. Kenapa? kaget?" ledek Alden.
Bugh!
"Mas!" peringat Amora.
Alden terkekeh, dia menghampiri ranjang Zidan bersamaan dengan sang istri.
"Gimana keadaan lu? bertahun-tahun hilang, Akhirnya muncul juga karena kecelakaan. Kenapa gak dari dulu aja lu kecelakaan," ujar Alden yang mendapat tatapan tajam dari Amora.
"Maaf mas, pas kita kecelakaan Amora yang menolong kita. Bahkan mereka yang mencari pendonor darah untukmu," terang Kirana.
Zidan memutar bola matanya, dia kesal menatap Alden yang sepertinya membanggakan dirinya.
"Anggaplah utang budi! dulu aku menyelamatkan seorang anak laki-laki yang tidak tau di mana ayahnya!" senggol Zidan.
"Lu ...,"
"Udah udah! kalian ini," sela Amora.
Alden dan Zidan membuang wajah mereka, bahkan mereka juga tak menyadari ada dua sosok batita yang kini berperang mata.
"Apa liat-liat Lavin? pengen di tolok matana hah?!" ujar Ravin yang mana membuat orang dewasa menatap mereka.
"Dih! geel! citu juga napa liat-liat caya? naksil yah?!" balas Kino.
Amora dan Kirana langsung menutup mulut anak mereka yang akan kembali mengatakan sesuatu.
"Lepas mommy! bial dia sadal udah pelelok Lavin!" cerocos Ravin saat Amora melepas bekapannya.
"Pelelok pelelok, ngomong cadel aja banggana!" ucap Kino yang tak mau kalah.
"Cadel teliak cadel! ndak ngaca kamu ya?! kulang kaca di lumah?!" ucap Ravin tak terima.
"Kalo kulang bial daddy sultan Lavin yang belikan, dasal kele!" lanjut Ravin.
Kino merasa tak terima, dia berusaha turun dari gendongan sang bunda. Begitu pula Ravin sehingga kini anak berdua itu saling berhadapan dengan mata yang saling menatap tajam.
"Dek! gak boleh gitu, Ravin itu sepupu kamu!" peringat Kirana.
"Dih, sepupu kino kok delek," sindir Kino.
Ravin tak terima, dia menoleh menatap sang mommy yang memperhatikannya.
"Mommy, Lavin minta kacana mommy!" pinta Ravin.
"Buat apa?" heran Amora.
"Buat dia ngaca mukana sapa yang paling delek, dasal! olang kaya balu ya kamu ha?!" ucap Ravin yang mana membuat Kino tambah kesal.
Akhirnya mereka berdua berantem dengan saling menjambak. Bahkan Ravin sudah berusaha menendang Kino tetapi di karenakan kaki mereka yang masih pendek hingga hanya angin yang Ravin tendang.
"Ayo terus! hajar Vin! jangan ampe kendor!" seru Alden.
"Jangan mau kalah Kino, amalkan yang papah ajarkan!" seru Zidan tak mau kalah.
Kirana dan Amora menatap suami mereka masing-masing, mereka mengangkat tangan mereka dan menjewer telinga suami mereka.
"AAAA SAKIT YANG!" seru keduanya.
BUGH!
Mereka terkejut, bahkan Amora dan Kirana melepaskan jeweran mereka dan menghampiri putra mereka yang terjatuh.
"Sakit sayang, udah jangan nangis yah," panik Amora ketika melihat putranya yang hanya diam sambil menatap Kino.
Kino pun tak jauh beda dengan Ravin, mereka saling menatap tajam dan memulai lagi perkelahian mereka dengan saling mendorong.
"RAVIN!"
"KINO!"
Ravin dan kino terdiam, tiba-tiba saja wajah mereka terlihat sangat cute dengan bibir yang melengkung ke bawah dan jari telunjuk yang menunjuk satu sama lain.
"Hiks ... dia na mommy hiks ... dia na huaaaa," tangis Ravin pecah.
Amora dan Kirana membawa kedua putra mereka ke gendongan mereka. Mereka berusaha menenangkan putra mereka.
"Udah yah cup cup jangan menangis lagi," ucap Amora.
Tapi tetap saja, mereka berdua menangis sampai ada dering ponsel Alden yang berbunyi.
"Siapa mas?" tanya Amora sambil menimang Ravin.
"Elbert," singkat Alden dan menjawab telpon tersebut.
"Halo,"
"Halo dad, dad aku dan si kembar ada di rumah sakit kota sebrang. Jendral mereka yang bernama Ezra tertembak pada perutnya dan teman mereka meninggal," ujar Elbert.
"APA?! EZRA TERTEM ...,"
"Halo! Elbert, ini om Zidan. Apakah Ezra sudah baik-baik saja?" tanya Zidan yang baru saja merebut ponselnya dengan paksa.
Alden mendengus kesal, dia menoleh menatap sang istri yang menggelengkan kepalanya pertanda untuk tidak mengganggu.
"Om Zidan? hahaha, om jangan gentayangan napa?! yang bawa pesawat bukan El om, jadi jangan neror El," ujar Elbert yang mana membuat Zidan terkejut.
"Om belum mati El, dan Ezra itu Leon!" ucap Zidan.
Tak ada sahutan dari sana sepertinya Elbert terkejut mendengar penuturan Zidan.
"Halo! El!" panggil Zidan.
"E-eh, iya om?"
"Kamu dengar om gak? gimana keadaan Ezra?" tanya Zidan.
"Leon eh maksudnya Ezra udah baik om, bahkan abis oprasi langsung sadar. Gimana gak sadar, orang ada belahan hati yang sedang menunggu." jawab Elbert disertai dengan kekehan.
Zidan tampak mengerutkan keningnya, dia menatap Alden yang juga tengah menatapnya.
"Belahan hatinya? siapa? Clara?"
Bugh!
"Aw!" ringis Zidan.
"Jangan ngawur kamu mas!" peringat Kirana yang memukul pelan kaki suaminya.
"Ish, ya kan aku taunya cuman Clara doang!" bela Zidan.
Sedangkan Elbert hanya bingung mendengar mereka yang saling bercakap hingga dia pun diam dan tak berbicara.
"Sini ponsel gue!" ujar Alden sambil memgambil ponselnya.
"Halo El, ini daddy," ujar Alden.
"Iya ini ...,"
"AAAA LIA DI LAMAR LANGSUNG AMA BABANG JENDRAL! teriak Reno yang dapat di dengar oleh Alden.
Alden mengerutkan keningnya, dia menoleh menatap sang istri yang juga tengah menatapnya. Kemudian dia menatap Zidan dan menatapnya tajam.
"Kan, telat anak lu. Putri gue dah di lamar sama si jendral, gak tau gue jendral siapa. Mampus lu, anak lu patah hati!" ledek Alden.
"Enak aja, anak lu juga kan cinta banget ama anak gue si Leon. Gak bakal dia nerima itu lamaran," cuek Zidan.
Tiba-tiba saja Alden membulatkan matanya ketika memlndengar Lia yang berteriak.
"IYA! AKU MAU!"
Alden memukul kaki Zidan, netranya menatap Zidan yang tengah kesal.
"Apaan sih lu?!" kesal Zidan.
"A-anak gu-gue nerima lamaran ntu jendral, hancur sudah harapan anak lu," ujar Alden.
"APA?! WAH PARAH ANAK LU GAK SETIA! PADAHAL ANAK GUE SELALU GUMAMIN NAMA ANAK LU," teriak Zidan.
Alden mematikan ponselnya, dia menatap tajam Zidan yang sepertinya menuduh sang putri.
"ANAK LU YANG GAK SETIA DODOL! LAGIAN JUGA MANA ADA ANAK LU LAMAR ANAK GUE HAH?! MANCING EMOSI LU MAH?!" balas Alden.
"LU! OK FINE! ANAK LU NIKAH AMA NTU JENDRAL, ANAK GUE BIAR GUE NIKAHIN AMA YANG LAEN!"
"Oh, sok atuh. Nikahin, kalau perlu kasih dia empat istri. Siapa tau kurang cakep dari anak gue," sombong Alden.
Amora dan Kirana saling tatap, begitu lula dengan Ravin dan Kino.
"Bukannya Ezra juga jendral yah?" gumam Kirana.
Kino.
Ravin yang wajahnya memang mirip dengan Elbert kecil.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.