
Lia sedang membereskan barangnya di bantu oleh Ezra, sore ini mereka akan langsung berangkat menuju mansion Elvis karena Zidan di kabarkan jika Jacob sudah di pindahkan ke mansion untuk rawat disana. Agar mereka tak perlu lagi bolak-balik ke rumah sakit.
"Ini apa ay?" tanya Ezra sambil menyerahkan barang yang ia pegang.
"Ini jaket," jawab Lia dengan singkat dan menatap bingung Ezra.
"Iya aku tau ini jaket, tapi ay ... ini jaket pria loh! Lio gak mungkin punya jaket dengan warna merah karena dia bilang jika dia tak menyukai merah." selidik Ezra sambil menatap Lia tajam.
Lia menggaruk belakang lehernya, dirinya kembali mengingat jaket siapa itu. Namun, sepertinya dirinya lupa.
"Aku lupa," ringis Lia.
"Lupa atau menghindar huh?!" ketus Ezra.
"Udahlah paling itu jaket doang," jengah Lia.
"Iya aku tau tapi ...,"
Tok!
Tok!
Tok!
Ezra memutar bola matanya malas, dia mendekat ke pintu dan membukanya.
"Kenapa?" datar Ezra.
"Itu ... bang El suruh abang menghadapnya sekarang, dia ada di ruang kerjanya," gugup Laskar.
"Hm," singkat Ezra.
Ezra kembali masuk, dia mengambil ponselnya dan keluar meninggalkan tatapan bingung Lia.
Ezra berjalan menuju ruang kerja Elbert, dia segera membuka pintu itu tanpa mengetuknya.
"Ada apa?" acuh Ezra sambil menatap Elbert yang sedang sibuk mengetik laptopnya.
"Duduk!" singkat Elbert.
Ezra mengangguk, dia menutup pintu dan berjalan menuju bangku yang berada di depan meja kerja Elbert.
Elbert menghentikan ketikannya, dia menutup laptopnya dan menautkan jarinya sambil menatap Ezra.
"Umurmu memang lebih tua dariku, tapi aku tetap kakak iparmu. Katakan, apa kau akan membahagiakan adikku?" tanya Elbert.
"Ya, saya akan membahagiakannya," jawab Ezra dengan mantap.
"Apakah kamu bisa berjanji tak akan membuat adik saya menangis?" tanya kembali Elbert.
Ezra diam, dia belum menjawab pertanyaan Elbert. Netranya menatap serius Elbert dan kembali membuka suara.
"Saya bukanlah pria sempurna, saya tidak bisa menjamin jika Lia tidak akan menangis. Tapi ... saya akan berusaha untuk selalu membuatnya bahagia," jawab Ezra.
Elbert menyunggingkan senyumannya, dia menegakkan tubuhnya tanpa melepas pandangan dari Ezra.
"Jika suatu saat saya sampai tahu kalau kamu mengkhianati adik saya, surat perceraian akan sampai ke tanganmu," terang Elbert.
Ezra mengangguk, tampaknya keluarga Lia sangat posesif kepadanya.
"Dan satu lagi, jika pak tua itu sudah sadar ... bawa pergi adik saya dari mansion Elvis. Terserah kamu ingin tinggal di mana, yang penting adik saya gak stres dengan pak tua bau tanah itu," ujar Elbert.
"Ck, pak tua bau tanah yang kamu maksud itu kakekku bodoh!" kesal Ezra.
"Yaudah sih ... mulut-mulut saya, kenapa situ yang sewot," sinis Elbert.
Sementara itu, kini kedua bocah siapa lagi kalau bukan Kino dan Ravin yang tengah berantem akibat Cia yang lebih memilih tinggal bareng keluarga Wesley.
"Kino sudah nak, kan Cia nya anak tante Amora. Kino gak boleh ambil anak orang nak," bujuk Kirana sambil menarik anaknya yang akan memukul Ravin.
"NDA! KAN ABANG YANG BAWA CIA HIKS ...," marah Kino.
"Dih, kok silik! kan Cia na adik Lavin, bukan adik citu!" sinis Ravin.
Kino berhasil lepas dari pegangan sang bunda, dia langsung memukul Ravin sehingga anak itu terjatuh dengan kepala yang terbentur meja.
BUGH!
"HIKS HUAAAA," tangis Ravin pecah sehingga mengundang perhatian Alden dan Zidan yang asik mengobrol.
"Ya ampun, Ravin!" panik Amora.
"Ravin gak papa Ra?" panik Kirana.
"Gak ... gak papa mbak, cuma benjol aja," ucap Amora.
Alden segera mengambil alih sang putra, dia mengusap pelan kepala sang putra yang benjol.
"Udah gak papa, anak laki-laki harus jagoan. Katanya mau jaga Cia, Ravin harus kuat," bujuk Alden.
"Hiks ... tapi cakit huaaaa ... Kino nda ada otakna! otakna tulun ke dengkulna! Lavin di dolong Kino daddy hiks ...," aduk Ravin.
Alden mengangguk, dia membawa sang anak menjauh dari sana sementara Amora menatap Kirana yang sepertinya merasa bersalah.
"Maaf ya Ra, karena Kino Ravin jadi luka begitu," sesal Kirana.
"Gak papa mbak namanya juga anak kecil ya pasti gitu. Asalkan masih di batas wajar," terang Amora.
Sedangkan Zidan menyuruh anaknya mendekat, dia menggandeng sang anak menuju sofa dan memegang kedua pundak sang anak.
"Kino kenapa dorong Ravin? kan bahaya nak, kalau sampe kepala Ravin berdarah gimana? Ravin itu sepupu Kino loh," tanya Zidan dengan nada lembut. Dia tak ingin sang anak takut dan berakhir berbohong.
"Kino kecel kalna Lavin popoli Cia cupaya ikut mommy amol," cicit Kino
"Popoli?" bingung Zidan.
Kino mengangguk, dia memilin jarinya satu sama lain sambil menundukkan kepalanya.
"Popoli apaan sih?" heran Zidan sambil menatap Kirana.
"Popoli? aku gak tau," ucap Kirana.
Amora tampak berpikir, sedetik kemudian dia tertawa dan menatap Zidan yang sedang bingung.
"Mungkin maksudnya memonopoli kali, soalnya Ravin suka bilang itu kalau mas Alden bujuk aku untuk tidak kasih dia susu," ucap Amora.
Zidan dan Kirana mengerti, mereka menatap Kino yang sepertinya merasa bersalah.
"Kino sayang, Cia sudah memilih tinggal disni. Nanti kapan-kapan Cia bisa nginap di mansion kita, kan kak Lia sudah jadi istri kak Ezra. Jadi, kalau mommy Amora ingin menjenguk kak Lia, dia bisa membawa Cia," bujuk Zidan.
"Udah sekarang Kino minta maaf sama Ravin, sebentar lagi kita akan pulang," pinta Zidan.
Kino mengangguk, dia pergi dari sana dan mencari Alden yang ternyata sedang berada di taman belakang sambil melihat singa milik Arthur.
"Daddy Alden," panggil Kino.
Alden menoleh, dia tersenyum menatap Kino yang berjalan kecil menghampirinya sambil menautkan jarinya. Persis seperti Ravin yang merasa jika dirinya salah dan ingin meminta maaf.
"Kenapa nak?" tanya Alden.
"Kino ... kino mau minta maap cama Lavin," ujar Kino.
Alden mengangguk, dia ingin menurunkan sang anak. Namun, putranya malah semakin memeluk lehernya erat.
"Ravin, kino mau minta maaf loh," bujuk Alden tetapi tetap saja bocah itu tak mau.
"Lavin, Kino minta maap yah ... kata papah kalau ndak mau maapin olang nanti benjolna nda cembuh. Jadi kepala Lavin gak balik lagi loh, nanti Cia na ilvil tama Lavin," bujuk Kino dengan bualannya.
Ravin terdiam, dia tampak berpikir dengan ucapan Kino barusan.
"Nanti palana Lavin nda balik lagi? hiks ... nda mauu!" histeris Ravin.
"Makanya, turun dan maafin Kino dulu. Besok kepala Ravin balik lagi," bujuk Alden.
Akhirnya Ravin turun dari gendongan Alden, dia mendekat ke arah Kino dan memeluknya begitu pula dengan Kino.
"Teletabis belpelukan!" seru Cia yang baru saja datang sambil di gendong oleh Lio.
Alden terkekeh, menurutnya mempunyai anak di umurnya yang tak lagi muda sangat menyenangkan. Dia dan sang istri tak sepi walau putra-putri mereka sibuk dengan aktifitas di luar karena adanya anak batita itu.
"Cia duga mau peluk," ujar Cia.
"Jangan, nanti Cia tergencet," larang Lio.
Akhirnya Cia menurut dan hanya menatap Kino dan Ravin yang sedang berpelukan.
"Bisa-bisa rebutan lagi mereka," batin Lio.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.