Dark Memory

Dark Memory
Milih Gaun



Frans dan Aqila memasuki sebuah butik, setelah perdebatan tadi Aqila berhasil meyakinkan Elbert bahwa inilah pilihannya. Dan mau tak mau Elbert pun menyetujuinya.


"Selamat datang nyonya dan tuan, ada yang bisa kami bantu," ujar seorang wanita yang tampak seperti manejer butik tersebut.


"Saya ingin mencari sebuah gaun untuk pernikahan kami lusa," ujar Aqila.


"Baik nyonya, saya akan memilihkannya untuk anda. Sebentar," ujar wanita itu dan berlalu dari sana.


Frans melihat sebuah gaun yang sangat indah, dirinya terpukau dengan gaun itu apalagi membayangkan Aqila memakainya. Namun, bagian perut sangat kecil hingga akan membentuk perut Aqila.


"Kamu suka gaun itu? tapi sayangnya aku gak bisa pakai gara-gara kamu," sindir Aqila.


Frans menghela nafasnya, ini lah ujiannya saat ini. DIa harus memenangkan hati Aqila kembali.


"Yaudah iya, aku salah. SIni duduk, kamu pasti capek berdiri terus," bujuk Frans.


Aqila menyetujuinya, dia duduk di sebuah sofa sambil menunggu gaunnya datang.


"Ini dia nyonya, gaun terbaru dan terbagus di toko kami. Gaun ini sangat mahal karena di lapisi oleh berlian di beberapa maniknya," ujar wanita itu yang dayang dengan gaun yang sangat cantik.


Aqila terpesona melihat gaun itu, berbeda dengan Frans yang mengernyit bingung.


"Kok beberapa?" bingung Frans.


"Maksudnya tuan?" heran wanita itu.


"Kenapa berliannya hanya beberapa? kenapa gak semuanya aja sekalian?" ujar Frans.


Wanita itu tampak tersenyum canggung, sementara Aqila menatap tajam pada Frans.


"Apa? kan aku bener? aku mampu belinya loh, kamu tenang aja," ujar Frans.


"Hahaha gak usah di dengerin mbak, anggap aja patung," malu Aqila.


Wanita itu tersenyum, dia mengajak Aqila untuk mencoba gaun tersebut. Frans pun menyetujuinya sehingga kini Frans tengah asik menunggu.


"Kenapa lama sekali? apa selama ini perempuan berdandan?" gerutu Frans sambil melihat arlojinya.


Tak berselang kama, Aqila keluar dan gaunnya. Frans pun mengangkat wajahnya dan terpana melihat betapa cantiknya Aqila.


"Bagus?" tanya Aqila.


Frans masih diam, dia berdiri dari duduknya dan mendekati Aqila.


"Kau ... kau sangat cantik," puji Frans.


"Baru sadar situ?" sinis Aqila.


Frans merubah kembali ekspresinya, dia menatap Aqila dengan datar.


"Bagus, perutnya juga jadi gak kelihatan," singkat Frans.


Aqila menatap cermin, memang dirinya sangat cantik menggunakan gaun itu.


"Dulunya aku sangat memimpikan pernikahan ini, memilih gaun dengan Frans pria yang dulunya aku sangat cintai. Tapi setelah kejadian itu, impian ku ini hancur menjadi sebuah mimpi buruk. Apakah sekarang aku harus berdamai dengan masa lalu?" batin Aqila.


Frans menyadari adanya raut sedih dari wajah Aqila, dia heran mengapa Lia sedih.


"Kau tak menyukai gaunnya? kenapa wajahmu sangat murung?" khawatir Frans.


"Tidak, aku suka gaunnya. Beli yang ini saja, lagi pula pernikahan ini sangat singkat," ujar Aqila.


"Tapi ini adalah masa terindah bagi setiap pasangan dan hari yang sangat spesial," ujar Frans.


Aqila menatap Frans dengan tatapan yang tak bisa di baca.


"Iya, hari spesial bagi mereka yang menikah dengan pria yang membahagiakannya," bisik Aqila agar tak di dengar oleh wanita itu.


Frans tersenyum sendu, ini lah yang harus lewati. Sikap Aqila yang mejadi dingin terhadapnya.


"Mbak, bantu aku melepas baju ini," pinta Aqila dengan lembut.


Wanita pelayan toko itu mengangguk dan membawa Aqila untuk berganti baju.


Frans melihat ponselnya, banyak pesan masuk mengenai perusahaannya.


"Sudah, ayo kita pulang," ajak Aqila.


Frans terkejut sehingga ponselnya jatuh dan membuat layarnya retak. Frans dengan sabar mengambil kembali ponselnya dan melihatnya.


"Rusak?" tanya Aqila merasa bersalah karena telah mengagetkan Frans.


Frans menoleh menatap Aqila, dia tersenyum sembari menggeleng.


"Gak papa, aku bisa beli baru," ujar Frans.


"Bukan salah kamu, hanya ponsel bisa di ganti," ujar Frans.


Frans menarik tangan Aqila lembut, tapi Aqila malah menariknya dan menatap Frans dengan tajam.


"Belum halal!" sindir Aqila dan berjalan mendahului Frans.


Frans tersenyum geli, dia tau Aqila masih kesal dengan dirinya.


"Kalau udah halal, boleh pegang sepuasnya dong?" gumam Frans.


***


Bukannya pulang, Frans malah mengajak Aqila ke toko perhiasan.


"Kok kesini? kan aku bilangnya pulang? kamu ngerti gak sih apa.mau aku?!" kesal Aqila.


"Tadi Ezra kirim pesan, katanya kita suruh kesini dan mereka lagi nunggu ke dalam," lembut Frans.


Aqila membulatkan mulutnya, dia keluar meninggalkan Frans yang menghela nafasnya.


"Lia!" panggil Aqila ketika dia memasuki toko tersebut dan melihat Lia sedang memilih cincin bersama Ezra.


"Isni kak! kita pilih cincin," ajak Lia.


Para bumil itu memilih cincin, sedangkan para pria hanya menunggu dengan bosan.


"Ngomong-ngomong kau memberikan mahar apa untuk Lia?" tanya Frans.


"Bagaimana jika sebuah jet menurutmu?" tanya balik Ezra.


"Bagus, pilihan yang bagus," jawab Frans.


"Lalu kau ingin memberi Aqila apa?" tanya balik Ezra.


Frans tampak berpikir, dua menatap Aqila tang tengah tersenyum senang dengan Lia yang juga merasa bahagia.


"Saham, aku memberinya setengah persen sahan perusahaanku. Aku tahu itu tak seberapa dengan apa yang terjadi pada dirinya sekarang, tapi dengan begitu aku membuatnya merasa istimewa," ujar Frans.


Ezra membulatkan matanya, setengah saham artinya Perusahaan Frans setengahnya adalah milik Aqila.


"Kenapa gak semuanya aja? kenapa harus setengah?" heran Ezra.


Frans menatap Ezra dengan datar, dia tahu jika Ezra berusaha meledeknya.


"Ayo ay kita pulang," ajak Lia.


"Udah selesai?" sahut Ezra.


Lia mengangguk, Ezra menepuk bahu Frans untuk meminta izin dia pulang duluan


Frans hanya mengangguk, dia menunggu Aqila yang masih asik melihat-lihat.


"Apa yang kau cari?" tanya Frans yang kini sudah berada di belakang Aqila.


Aqila menoleh sebentar, dia menunjuk ke arah sebuah gelang yang sangat indah.


"Kau ingin itu?" tanya Frans.


Aqila mengangguk antusias, Frans pun tersenyum dan menanyakan gelang itu pada pelayan toko.


"Saya minta di ambilkan gelang itu," ujar Frans.


"Maaf tuan, gelang itu sudah di beli," ujar pelayan tersebut.


"Yah ...," kecewa Aqila.


Frans tak bisa melihat raut wajah Aqila, dia kembali berbicara pada pelayan tersebut.


"Saya beli dua kali lipat dengan harga yang anda tawarkan pada pembeli sebelumnya," ujar Frans.


"Maaf pak, hal seperti itu tidak di perbolehkan," ujar pelayan tersebut.


"Ehm gak papa, ayo Frans kita pulang. Aku sudah lelah," lirih Aqila.


Frans mengangguk, dia mengajak Aqila pulang. Saat berada di dalam mobil Frans mengirim pesan pada Kenan. Dia menyuruh Kenan untuk mencari gelang dengan ciri-ciri yang ia sebutkan.


"Mampir ke penjual rujak dulu, aku pengen rujak," pinta Aqila.


Dengan senang hati Frans mengangguk menyetujui keinginan Aqila. Dia senang Aqila mau berbagi apa yang dia idamkan pada dirinya.


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.