
"KENAPA SEMUANYA DIAM?! KENAPA TIDAK ADA SATUPUN DARI KALIAN YANG BICARA HAH?!"
Semua keluarga hanya diam, bahkan tak ada satupun dari mereka yang mengangkat bicara.
"Kak Ezra ...,"
"DIAM!" bentak Ezra pada Lia.
Lia menutup mulutnya rapat-rapat, dia menunduk ketika merasa lemas karena Ezra membentaknya.
"Kalian, bicaralah. Apa yang sebenarnya terjadi? jika semuanya diam, aku akan mencari tahu sendiri," ujar Ezra.
"Ezra kami ... kami minta maaf, kami telah membohongi ka-kamu ka-kalau ...,"
"BISAKAH KALIAN CERITA DENGAN JELAS?!" kesal Ezra.
Ane memandang Zidan, dia mendapati Zidan yang mengangguk. Mungkin memang ini saatnya Ezra mengetahuinya.
"Ekhm ... jadi ...
Flashback on.
Diana dan Zidan berantem selama perjalanan ke rumah sakit, dia meminta untuk mobil di hentikan tapi Zidan menolaknya hingga berakhir Diana memaksa dengan terpaksa Zidan menepikan mobilnya.
"JANGAN GILA DIANA, KEADAAN KANDUNGAN KAMU SEDANG TAK BAIK!" sentak Zidan pada Diana yang keluar dati mobil
Zidan pun ikut keluar, dia menarik Diana yang berusaha untuk menghindar darinya.
"Lepas mas! kejar wanita itu jika kamu khawatir sama dia! gak usah pedulikan aku dan anak kita!" sentak Diana.
"Aku memikirkan bayi kita Na," bujuk Zidan.
"GAK! DI DALAM PIKIRANMU ITU HANYA ADA WANITA ITU! BUKAN AKU! terbukti dari kamu yang selalu berusaha menelponnya walau aku kesakitan disebelah kamu," ujar Diana.
Diana menepis lengan Zidan, dia berlari ke tengah jalan dan tak melihat jika ada sebuah truk yang menghampirinya.
"AAAAA!"
"DIANA!"
Flashback Off.
"Lalu papah membawa mamahmu ke rumah sakit, dokter mengatakan papah harus memilih salah satunya. Papah memilih mamahmu, tapi semuanya di luar kendali. Kamu selamat, dan mamahmu ... dia di kabarkan meninggal. Saat itu keluarga Reynand sangat murka saat tahu semuanya, dia menyuruh Papah tak menemui kamu hingga terpaksa papah harus membawa kamu pergi dan tidak tahu jika mamahmu ternyata masih hidup," terang Zidan.
Ezra sudah menangis, begitu pula dengan yang lain. Lia mengelus punggung suaminya yang bergetar, dia tahu seberapa kagetnya sang suami akibat cerita itu.
"Mamahmu koma, tapi waktu itu saya salah menculik orang. Hingga saya membawa mamah kamu dan merawatnya hingga dia sadar, dia koma selama 10 tahun dan 3 tahun kemudian kami menikah," ujar Geo.
"Benar, mamah kamu mendatangi papah. Awalnya papah terkejut, tapi mamahmu berkata jika dia menemui papah hanya untuk bercerai. Papah pun menyetujui nya karena papah gak mau menghalangi kebahagiaan mamahmu dan menderita disamping papah," ujar Zidan.
Ezra menutup wajahnya, sungguh sesak mengetahui hal ini. Dirinya tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu, dan saat dirinya besar kenyataan menamparnya bahwa keluarganya terpecah seperti ini.
"A-aku gak tau, aku gak tau harus berkata apa ... tapi ... tapi aku kecewa dengan semua ini,"
"Dan juga, aku ingin tahu siapa wanita yang menjadi selingkuhan papah? siapa yang tega menghancurkan keluarga kita, siapa yang dengan rela menjadi simpanan. Apakah dirinya tak memiliki harga diri?" sarkas Ezra.
Kirana memegang erat tangan Zidan, perkataan Ezra sangat menusuk dirinya. Dia juga sadar apa yang terjadi adalah salah dirinya.
"Apa kalian mendadak bisu huh?" kesal Ezra.
"Dia ...,"
"Biar gue yang kasih tau siapa selingkuhan dari bokap lu,"
Mereka semua tersentak kaget melihat Lio yang datang dengan Alden dan Amora di belakangnya.
"Cepatlah Lio, biar habis itu masalah Aqila. Daddy sudah tidak sabar!" jengah Alden.
"Sabar napa dad, kayak mau bagi-bagi sembako aja," kesal Lio.
Lio berjalan mendekati mereka, dia menatap wajah satu-persatu anggota keluarga dan tatapannya terhenti pada Kirana.
Tangan Lio terangkat, dia menunjuk Kirana yang tengah menunduk takut.
"Dia ... dia ibu tirimu sendiri Kirana Elvish," ujar Lio.
"Gak ... gak mungkin, dia ibu susu gue. Gak mungkin kan?" sangkal Ezra.
Lio terkekeh, dia menyilangkan tangannya di depan dada dan menatap Ezra.
"Sejak kapan seorang wanita bisa nyusuin padahal dia belum hamil, Viola lahir 7 tahun setelah kelahiran lu. Apa mungkin lu di susuin umur 7 tahun? pikir dong!" terang Lio.
Ezra menggelengkan kepalanya, air matanya mengalir deras hingga dirinya tak sanggup lagi berkata sungguh ini kenyataan terberat seumur hidupnya.
"Awal ... awal kalian membohongiku tentang Zanna, lalu ibu kandungku lalu ... selingkuhan ... selingkuhan penghancur keluargaku menjadi ibu tiriku yang aku anggap hah ... baik," isak Ezra.
Ezra bangkit dari duduknya, dia pergi dari sana dan Lia pun mengejarnya. Meninggalkan orang-orang yang bersedih dengan kekecewaan Ezra.
"Mas, kayaknya jangan sekarang. Kasihan mereka," bisik Amora pada Alden.
"Gak bisa!" sentak Alden.
Alden menghampiri Geo, dia menepuk bahu Geo seperti preman yang akan memalak.
"Mana anak lu? kenapa gak ikut buat tanggung jawab? emang dia pikir ini pengambilan raport SD apa yang bisa di wakilin orang tua?!" ujar Alden.
Geo berdiri, dia menarik Alden menjauh dari ruang keluarga.
"Lu nagihnya kagak tau tempat banget sih! lu gak liat lagi pada sedih karena masalah Ezra? sinting lu!" kesal Geo.
"Gue gak peduli, sekarang ajak anak lu kesini sekarang juga! gue butuh penjelasan dia," ucap Alden.
Geo mengangguk, dia menelpon putranya untuk menuju kemari.
***
"Kak dengerin Lia kak," bujuk Lia pada suaminya yang ternyata pergi ke kamar istrinya.
Ezra tak menjawab, dia mengeluarkan rokoknya dan menghisapnya. Dirinya sungguh tak bisa berpikir saat ini.
"Kak hiks ... kakak!" isak Lia saat melihat Ezra merokok.
Lia mendekati Ezra, Ezra yang melihat itu langsung menjatuhkan rokoknya dan mematikannya.
"Keluar ay, aku mau tenangin diri dulu. Kalau kamu disini aku gak bisa ngerokok, bahaya buat kehamilan kamu," bujuk Ezra.
"Aku gak suka kamu merokok!" sentak Lia.
Ezra menghela nafasnya kasar. "BISA GAK KAMU BIARIN AKU SENDIRI DULU HAH?!" bentak Ezra.
Lia terkejut hingga berdampak pada perutnya yang tiba-tiba terasa sakit, dia meremas perutnya dan meringis. Tangannya berusaha menggapai benda yang bisa menjadi penyanggahnya.
Ezra yang menyadari hal itu panik, dia mendekati istrinya dan menopang sang Istri.
"Ka ... kamu kenapa ay?" panik Ezra.
"Sa-sakit ... sakit hiks ... perut aku sakit hiks ...," ringis Lia.
Ezra panik, dia akan menggendong sang istri. Tapi secara mengejutkan dirinya merasakan darah yang mengalir di paha sang istri.
"Da-darah?" kaget Ezra.
"Sakit kak hiks ... sakit!" isak Lia.
Ezra segera tersadar dari keterkejutannya, dia segera menggendong sang istri dan membawanya keluar kamar.
"DADDY! MOMMY!" panik Ezra.
Alden terkejut, dia segera mendekati Ezra yang sudah berlari ke arah pintu utama.
"Kenapa dengan Lia Ezra? kau apakan putriku?!" khawatir Alden.
"Aku gak tau dad, tiba-tiba aja Lia kesakitan," panik ezra.
"ASTAGA LIA! EZRA CEPAT BAWA KE RUMAH SAKIT, JANINNYA BISA KEGUGURAN!" sentak Ane yang langsung datang saat Ezra berteriak.
"Apa? janin?" kaget Alden.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.