Dark Memory

Dark Memory
Jawaban Qila



"Aku ...,"


Aqila menjeda ucapannya, dia menoleh menatap Alden dan Amora yang mengangguk kemudian menatap Gio.


"Baiklah, aku mau menikah denganmu. Tapi ingat satu hal, aku menikah denganmu hanya karena bayi ini, karena perasaanku padamu sudah mati semenjak kau berkata jika aku wanita murahan seperti ibuku," dingin Aqila.


Setelah mengatakan itu Aqila pergi dari sana, Alden dan Amora mengikuti Aqila. Sementara Gio masih menatap Frans yang masih terkejut dengan jawaban Aqila.


"Bersyukurlah kamu karena putriku masih mau menikah denganmu," ujar Gio dengan datar dan pergi dari hadapan Frans yang memaksa senyumnya.


Frans berusaha jalan, mafioso pun yang sedari tadi diam karena di perintah Frans membantunya untuk berjalan.


"Aku sudah berhasil meyakinkan dia untuk menikah denganku, tapi aku gagal mengembalikan hatinya untukku," lirih Frans.


Seorang pria datang, dia adalah Kenan kelvin seorang tangan kanan Frans yang di tugasi oleh Frans untuk membantunya menangani mafianya.


"King, kita ke rumah sakit atau ke mansion?" tanya Kenan.


"Rumah sakit, aku harus memulihkan kesehatanku dan juga lebamku. Beberapa hari ke depan aku akan menikahi Aqila, tidak mungkin keadaanku seperti ini," lirih Frans.


Kenan menutup mulutnya, dia akan tertawa mendengar ucapan Frans yang tampak menyindir dirinya sendiri.


"Kenapa kau tertawa huh?"


"Tidak ada King, saya hanya menertawai penglihatan saya saja," ujar Kenan.


"Yang kau lihat itu aku bodoh!" kesal Frans.


***


Beberapa hari sejak kejadian itu, tak ada masalah apapun kembali di kediaman Wesley. Tampak semuanya sedang tertawa bahagia karena aksi dua bocah.


"Oh iya, kapan kalian akan mengadakan resepsi?" tanya Alden pada menantu beserta putrinya.


Lia menatap Ezra yang masih asik memainkan ponselnya, dia memukul lengan suaminya sehingga Ezra terkejut dan menatap mereka semua yang sedang menatapnya.


"Apa? ada apa?" kaget Ezra.


"Tadi daddy tanya, kapan kita mengadakan resepsi?" tanya Lia.


"Oh ... aku terserah kamu aja maunya gimana," ujar Ezra.


Lia mencubit lengan Ezra, bukan itu jawaban yang dirinya mau.


"AAAWWW AW!"


"Kok jawabannya begitu sih!" kesal Lia.


"Lah biasanya kamu juga begitu kalau aku tanya," ujar Ezra.


Lia ingin sekali membuang suaminya jika bukan karena Ezra masih dia butuhkan sebagai suaminya.


"Sudah-sudah, kalian ini!" jengah Amora.


"Bagaimana jika bareng saja dengan Aqila? kan mereka akan nikah juga? kalian nikah ulang aja, lagian waktu awal kalian nikah Ezra ngasih mahar MAHAAALL BAAANGEEET," ujar Alden dengan sindiran di akhir kalimatnya.


Gio dan Aqila menatap heran, memangnya berapa mahar yang Ezra kasih hingga Alden menyebutnya seperti itu.


"Emang Ezra ngasih apa? kok sampe mahal banget? pulau? hotel? mall? atau bandara?" tanya Aqila dengan heran.


Lia memandang Ezra dengan sinis, sementara Amora dan lainnya cengo mendengar pertanyaan Aqila.


"Kak Qila kau tahu, bukan itu yang kak Ezra kasih. Tapi ini melebihi yang kak Qila sebut," ujar Laskar.


"Benarkah? memangnya apa yang Ezra berikan, biar nanti akan ku gunakan untuk memeras Frans," antusias Aqila.


Alden tertawa saat melihat menantunya yang memasang wajah masam.


"Dia itu memberi mahar seharga sabun cuci piring Hahahaha!" ledek Alden.


Mereka semua tertawa berbeda dengan Lia dan Ezra yang hanya menatap datar mereka.


"Kita akan mengulang pernikahan, dan akan ku pastikan mahar yang ku berikan lebih besar dari pada milik Frans nanti," tekad Ezra.


"Emangnya kamu punya apa bisa ngalahin Frans?" tanya Lia menggoda suaminya.


Ezra menaikkan satu sudut bibirnya, dia menatap Lia dengan intens.


"Aku punya cinta kamu," gombal Ezra.


Lia tersipu malu, sementara yang lain hanya meledek kebucinan Ezra.


"Lavin boleh nikah tama Cia?" tanya Ravin yang membuat suasana menjadi hening.


"Gak boleeehhh nak ... gak boleh, kalau gede baru boleh," ujar Amora.


"Lavin udah gede mommy," ujar Ravin.


Wajah Ravin memerah, dia menatap Laskar yang meledeknya.


"KAK LASKAL TENAPA CIH CILIK AMAT AMA LAVIN, DALI DULU CELALU BEGITU!" marah Ravin.


"Lavin jangan malah-malah, Cia nda like kalau Lavin malah," ujar Cia.


Ravin menormalkan ekspresinya, dia menyugar rambutnya dan menatap Cia dengan senyum.


"Lavin nda malah, Cia like lagi Lavin yah," ujar Ravin.


Sedangkan yang lain, mereka menatap adegan itu dengan diam. Tak menyangka jika anak sekecil Ravin akan berkata seperti itu.


"Ini nih ... pasti ajaran si Arsel kambing," geram Alden.


"Ya kamu pasti titipin si Ravin pasti sama si Arsel, makanya jadi bapak tuh yang becus!" kesal Amora.


"Gimana dia mau becus mor, orang becusnya cuman nambah anak terus," sindir Gio.


Alden menatap Gio tajam, sementara yang lain tertawa karena sahabat lama kembali bertemu ini.


"Cia mumpung pada ngoblol, mending kita kelual cali tukang cilok," ajak Ravin.


"Nanti di malahi daddy, nanti mommy nanic kita hilang," tila Cia.


"Nanti kita ajak paman jaga, nantikan daddy nda malah,"


Cia tampak berpikir, kemudian dia mengangguk dan mengikuti Ravin yang akan membawa pergi.


Sesampainya di pintu utama, Ravin menarik celana bodyguard itu dengan pelan.


"Paman bica ikut kita?" tanya Ravin.


"Memangnya tuan muda mau kemana?" heran bodyguard tersebut.


"Lavin tama Cia mau kelual, tapi paman jaga halus antelin," ujar Ravin.


Bodyguard tersebut tampak menimbang ucapan Ravin, dia takut Alden tak mengizinkan anak itu keluar.


"Tapi tuan kecil kan gak boleh keluar?"


"Kali cama paman boleh," bujuk Ravin.


Bodyguard tersebut akhirnya mengangguk, dia berjalan di belakang Ravin dan mengikuti anak itu keluar mansion.


"Kok nda ada, biacanya kan dicini ada abang jual cilok," ujar Cia.


"Iya kok nda ada? apa di taman yah?" gumam Ravin.


Tak lama ada mobik yang lewat, Ravin hafal betul mobil siapa itu.


"GLANDPAAAA!" Sefu Ravin di depan mobik itu.


"Awas taun kecil!" panik bodyguard tersebut.


Mobil tersebut rem mendadak karena terkejut melihat Ravin, Arthur dan Queen keluar karena khawatir dengan Ravin.


"Ya ampun, nih anak! bikin orang jantungaaaan aja!" kesal Arthur dan menggendong Ravin.


Sedangkan Queen menggandeng lengan Cia dan mengajaknya masuk ke dalam mobil.


"Dimana daddymu? kenapa dia membiarkan kamu keluar huh? wajahmu itu sangat limited, bagaimana jika kau di culik? emang daddymu kebanyakan anka jadinya bodo amatan begini!" kesal Arthur dan kembali ke dalam mobil.


Mobil Arthur memasuki mansion, setelah sampai di pelataran mansion Arthur keluar bersama Jeslyn dan dua bocah itu.


"ALDEEEENNN!" teriakan Arthur menggelegar.


Alden yang sedang asik berbincang terkejut mendengar teriakan sang papi, dia bangkit dari duduknya dan berlari ke arah pintu utama.


"Loh daddy kapan datang?" heran Alden.


"Barusan! saat anak kamu keluar dari mansion dan hampir tertabrak mobil papi!!" geram Arthur.


"Loh aku ga ..."


"Apa? kamu itu yah, mentang-mentang punya anak banyak jadinya di bodo. amatin begini. Hilang satu bisa buat lagi begitu?! huh," kesal Arthur.


"Gak gitu pi ... aku ...,"


"APA? PUTRIKU CAPEK NGELAHIRIN TERUS KAMU MALAH SIA-SIAIN!"


Alden merengut kesal, padahal dirinya ingin membela diri. Netranya menatap Ravin tajam, putranya selalu mencari maslaah dengannya.


"Emangnya aku juga gak berusaha buatnya apa? Setiap malem harus begadang, harus mupukin emang gak capek! batin Alden.


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.