
Pagi ini Lia sedang sibuk olahraga bersama temannya, tetapi dirinya ingin ke kamar mandi untuk buang air.
"Gue ke kamar mandi dulu yah, bye!" pamit Lia dan pergi dari sana menuju kamar mandi.
Saat akan sampai, seseorang menariknya ke sebuah ruangan yang mana membuat Lia terkejut.
"KAK EZRA!" kaget Lia.
"Syuutt ... jangan berisik ay, nanti mereka denger," ujar Ezra sambil menempelkan telunjuknya pada bibir Lia.
Lie menghempaskan tangan Ezra, dia kesal dengan suaminya ini.
"Ngapain sih kak?" kesal Lia.
"Aku kangen!" seru Ezra sambil memeluk Lia.
Lia memutar bola matanya malas, dia kesal dengan Ezra yang mencari kesempatan padahal mereka sedang latihan.
"Nanti bakal ada yang tau kita disini kak," bujuk Lia.
"Gak, lorong ini udah di tutup," terang Ezra.
"Apa?!" kaget Lia dan melepas paksa pelukan Ezra.
"Iya, aku kasih tau Reno kalau kita udah nikah. Terus dia yang bantuin aku buat ketemu sama kamu," terang Ezra.
Lia membulatkan matanya, dia terkejut saat tahu ternyata Ezra memberi tahu Reno tentang pernikahan mereka. Apakah suaminya amnesia? bukankah kemarin dia bilang untuk tidak mempublikasikan pernikahan mereka?
"Loh, gimana sih kak?! katanya gak boleh kasih tau ke siapapun!" kesal Lia.
"Kalau Reno gak papa lah, lumayan bisa di jadikan babu cinta kita." ujar Ezra sambil menaik turunkan alisnya.
Sementara itu, kini Reno tengah berada di tengah jalan sambil memegang sebuah karton dengan tulisan ADA PROYEK YANG SEDANG BERLANGSUNG!
"Letnan! kita mau ke kamar mandi loh!" gerutu seorang wanita sambil menatap kesal ke arah Reno.
"Lu gak baca tulisan gede begini hah?! apa perlu gue ambilin kaca mata badak?!" kesal Reno.
Akhirnya wanita itu pergi meninggalkan Reno yang menahan kesal.
"Jendral gak ada akhlak! mentang-mentang kangen ama bininya, gue yang di jadiin korban! nyesel gue tau kalau dia udah nikah," gerutu Reno.
Tak lama Reno mendengar langkah sepatu, dia menoleh menatap Ezra yang sudah selesai dengan acara kangen-kangenan.
"Udah dral?" tanya Reno.
Ezra tak menjawab, dia pergi begitu saja meninggalkan Reno yang menatapnya kesal.
"Udah di bantuin juga, gak tau terima kasih!" gerutu Reno.
Sementara Ezra kembali ke kamarnya, dirinya sangat kesal dengan Lia yang menyuruhnya kembali.
"Heran! mesra sama istri sendiri masak gak boleh!" gerutu Ezra.
Lain halnya dengan Lia, dia telah selesai buang air dan kembali ke kamarnya untuk bersiap latihan.
"Eh, lu liat Mesya gak?" tanya Ica.
"Gak, gue gak liat, coba tanya Lia. Kali aja dia Liat," jawab Viola.
Lia yang merasa terpanggil akhirnya menolehkan kepalanya, dia menatap bingung Ica yang mendekat ke arahnya
"Lu liat Mesya?" tanya Ica.
"Gak, kan gue habis dari kamar mandi. Mungkin dia lagi ada urusan kali," jawab Lia.
Ica segera keluar dari kamar, dia mencari Mesya entah apa yang wanita itu perlukan sekarang.
Saat melewati ruang jendral besar, Ica mendengar suara Mesya dari dalam.
Ica mendekat ke pintu, dia berusaha mendengarkan apa yang di bicarakan orang yang berada di dalam.
"MESYA!"
"Kenapa ayah bentak aku demi anak angkat itu? permintaan ku simple, pilih anak kandung ayah ini atau anak angkat gak tau diri itu!" ucap Mesya.
Ica yang merasa jika Mesya akan keluar segera bersembunyi, dan benar saja Mesya keluar dan menutup pintu itu kembali.
Ica menatap kasihan Mesya yang menutup wajahnya dan menangis tersedu-sedu. Dirinya merasa beruntung karena orang tuanya sangat memanjakan dirinya, hanya saja dirinya yang tak mau mengikuti keinginan orang tuanya.
Mesya menjauhkan tangannya dari wajahnya, dia menatap Ica yang sedang menatapnya khawatir. Tanpa aba-aba, Mesya langsung memeluk erat Ica. Dia menangis di pundak sahabatnya itu.
"Sakit ca, sakit hiks ... gue gak sanggup," isak Mesya.
Ica mengelus punggung sahabatnya ini, dia tahu apa yang dia Mesya rasakan. Dirinya mengerti betapa sakitnya sahabatnya ini, walaupun dirinya tak pernah merasakannya. Namun, dia tahu jika tak ada anak yang mau di teelantarkan.
"Sabar yah Sya, ada saatnya semua akan menjadi indah," ucap Ica.
***
"Ravin gak usah aneh-aneh kamu!" panik Alden ketika melihat singat Arthur yang sedang mengamuk dan parahnya lagi putranya sedang berada di dalam kandang singa itu.
Bagaikana tidak? anak itu tengah mengelus kepala singa itu yang sedang menatap garang ke arahnya.
"Sabal ... sabal, Cia na gak cengaja injak buntutna bubu. Nanti Lavin ajak bicala Cia cupaya minta maaf cama bubu," bujuk Ravin.
Singa tersebut mengaum, Alden pun di buat panik akibat singat tersebut yang mendorong Ravin sehingga putranya terpental hingga pagar besi.
PRANG!
"RAVIN!"
Alden langsung membuka kandang singa tersebut, dia langsung mendekati sang putra yang tengah berusaha bangun.
"Gak papa dek?" panik Alden.
"Nda papa, awas daddy! bial Lavin kacih cingana pelajalan!" kesal Ravin dan menyingkir dari Alden sehingga kini dirinya berhadapan dengan singa tersebut.
"Cinga nda ada otakna! di kacih lempel minta donat! nda ada otak na!" marah Ravin.
Ravin memukul kepala singa tersebut, secara mengejutkan singa tersebut mundur ketakutan yang mana membuat Alden heran.
"Mas! bawa Ravin keluar! Cepat!" panik Amora yang terlihat sedang menggendong Cia yang menangis akibat takut.
Alden mengangguk, dia segera menggendong Ravin dan keluar dati kandang tersebut tak lupa menyuruh para bodyguard mengunci kandang itu kembali.
"Ravin gak papa sayang? ada yang sakit nak?" panik Amora.
"Nda, Lavin kan kuat! tapi hiks ... punggungna ngilu mommy!" ujar anak itu dan berakhir merengek.
Alden membuka kaos belakang yang anaknya pakai, matanya membulat sempurna ketika melihat punggung Ravin yang membiru.
"Biru banget mas," ringis Amora.
"Bilangin tuh sama papi kamu bawa balik singanya," ujar Alden.
"Nda! jangan! nanti Lavin nda ada temen belantemnya," histeris anak itu.
Alden menghela nafasnya, jika singa itu terus berada di mansionnya. Itu akan membahayakan untuk Ravin dan Cia, apalagi Cia yang tadinya penasaran tak sengaja menginjak buntut singa tersebut
Alden dan Amora memutuskan masuk, netra Ravin menatap bingung para maid dan bodyguard yang memandang ke arahnya.
"BYE GES! HE LEDIS! MMWAAH," oceh anak itu saat menatap para bodyguard dan menoleh kepada para maid sambil memberi kiss jauh.
Alden dan Amora menghentikan langkah mereka, dengan menghela nafasnya Alden menutup wajah sang anak yang mulai caper itu.
"Lepas! lepas! daddy kayak nda pelnah liat yang bening aja!" gerutu Ravin.
"Tau dari mana kamu, masih kecil kok udah ngerti mana yang bening?" kaget Alden.
"Jelasna dali om Alsel tama om manol," seru Ravin.
Amora dan Alden saling pandang, mereka bingung dari mama Ravin tau kata manol? bukankah kata tersebut hanya Elbert yang tahu?
"Arsel tambah ngelunjak yang, anak kita di racunin terus otaknya," kesal Alden.
"Bener kata kamu, oke ... kita bilang papi suruh dia sunat lagi biar tau rasa!" geram Amora.
Alden meringis pelan, istrinya kalau marah benar-benar membuatnya takut.
"Termasuk untuk kamu juga! awas aja macam-macam!" sentak Amora dan pergi meninggalkan Alden bersama Cia yang ada di gendongannya.
"Aku lagi yang kena," lirih Alden.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.