
"Hati-hati, sampaikan pada daddy dan mommy maaf aku telat datang dan aku akan menyusul besok," ujar Ezra.
Lia mengangguk, dia mendekatkan dirinya kala Ezra mengecup lembut keningnya.
"Kamu juga hati-hati, jaga mata jaga hati," ujar Lia.
Ezra terkekeh sembari mengangguk, dia membuka pintu mobil dan menaruh tangannya di kepala Lia saat sang istri masuk.
Ezra kembali menatap pintu mobil, dia hanya berdiri menatap mobil tersebut yang sudah pergi meninggalkan pekarangan mansion.
"Gue harus kembali ke mansion itu," gumam Ezra.
Ezra segera menuju garasi untuk mengambil motornya,dia harus cepat sampai di mansion lamanya yang berada di bandung.
Motor Ezra melaju meninggalkan mansion, keadaan jalan raya pun tampak ramai karena mungkin ini hari libur.
Berselang beberapa jam, Ezra sampai di mansionnya. Dia segera turun dan motor dan melepas helmnya.
"Gue harus cari dimana memory card dan kamera yang lain," gumam Ezra.
Ezra langsung membuka pintu mansion, dia segera menuju ruang yang menjadi awal dia menemukan memory card tersebut.
Cklek!
Tak!
Setelah masuk Ezra langsung menyalakan lampu, dia berjalan masuk dan menuju sebuah kotak yang berada di sudut ruangan.
Kreeet!
Ezra sibuk mencari, tapi dia tak menemukan apapun. Dia tak menyerah, bahkan semua barang disana telah ia keluarkan.
"Arghhh kenapa gak ada!" frustasi Ezra.
Tak tinggal diam, Ezra segera mencari ke tempat lain. Bahkan setiap sudut tak terlewatkan olehnya.
"Gak ada ... dimana gue bisa dapet itu kamera?!" kesal Ezra.
Ezra duduk terdiam di bangku yang sudah tampak usang di kamar tersebut, dia menatap kosong ke depan dan mengingat kembali apa yang terjadi.
"Mamah ... apa mamah masih hidup? lalu ... kemana dia saat ini?" gumam Ezra.
"Papah pasti tau sesuatu kan? gue harus tanya sama dia," gumam Ezra kembali dan bangkit dari duduknya.
Ezra melangkah mendekati pintu, tapi langkahnya terhenti ketika mengingat sesuatu.
"Selama ini papah mengganti identitasku, menghilangkan Zanna dari kehidupan ku. Setiap aku bertanya siapa Zanna pasti papah akan mengelak, dan saat aku menikahi Zanna papah tak ada masalah apapun. Tapi kenapa ... Kenapa dia selalu menyembunyikan fakta tentang Zanna? sebenarnya apa yang dia takutkan?" gumam Ezra.
Ezra kembali memikirkan video itu, lalu kembali pada masa lalunya.
"Gak ... bukan Zanna yang menjadi perkara utamanya tapi ... papah, mamah ... dan rahasia mereka," kaget Ezra.
***
"Lia, apa kau bahagia sayang?" tanya Amora pada Lia yang saat ini sedang asik makan kripik kentangnya.
Lia menoleh, dia mengangguk antusias sembari tersenyum.
"Syukurlah, mommy takut kamu gak bahagia apalagi Ezra mengalami hilang ingatan," ujar Amora.
"Gak mom, kak Ezra masih menyayangiku seperti dulu. Dia memperlakukanku seperto seorang putri, apa mommy tau? dia sangat jarang mengucapkan kata aku cinta kamu, tapi dia selalu menunjukkan perilakunya kalau dia mencintaiku?," ujar Lia.
Amora tersenyum, dia mengelus rambut sang anak.
"Mommy seneng dengernya, oh iya ngomong-ngomong kamu masih ...," ragu Amora.
Lia mengerutkan keningnya, dia tak mengerti maksud sang mommy.
"Masih apa mom?" bingung Lia.
"Masih itu loh," greget Amora.
"Apa sih mom?" heran Lia.
"SEGEL! KAMU MASIH SEGEL GAK?!" kesal AMora hingga tanpa sadar dia berteriak yang mana membuat merek ayang tadinya terfokus hal lain menjadi fokus kepada Lia.
Lia yang baru saja mengerti rasanya ingin menenggelamkan dirinya apalagi melihat tatapan aneh mereka.
"Mommy! ih! Lia malu loh!" gerutu Lia.
Lia mengangguk kecil yang mana membuat yang lain memekik histeris. Sementara Alden juga sama terkejut nya.
"KAU! UMURMU MASIH 19 TAHUN, BAGAIMANA JIKA KAU HAMIL DI USIA SEGITU. ITU BAHAYA KAU TAHU!"
Bentakan Alden membuat semua orang terdiam, mereka kembali menatap Lia yang menundukkan kepalanya.
"Lia pakai obat pencegah gak?" tanya AMora dengan lembut.
Lia menggeleng lemah, terdengar Alden yang berdecak kesal dan mengambil ponselnya berniat ingin menelpon seseorang.
"Halo,"
"KAMU KE MANSION WESLEY SE-KA-RANG!" tekan Alden dan kembali mematikan ponselnya.
Alden pergi dengan keadaan marah, dia bukannya mempersalahkan hal itu. Dirinya takut Lia hamil dalam keadaan masih muda dan itu sangat beresiko tinggi.
"Mom gimana hiks ... kok daddy marah hiks?" isak Lia.
"Daddy khawatir sayang, dulu waktu mommy hamil abang Elbert. Di saat itu usia mommy menginjak usia 19 tahun, dan saat melahirkan Elbert ... keadaan mommy lemah hingga berakhir koma," tetang Amora.
Kirana dan Zidan hanya mendengarkan, mereka tak mau ikut campur dan ini masalah putra mereka.
"Lia takut ...," lirih Lia.
***
Tak berselang lama, Ezra sudah sampai di mansion Wesley. Dia mengerutkan keningnya ketika melihat tatapan marah dari Alden yang saat ini menyambut kedatangannya.
"Dad ... ada apa ini?" bingung Ezra.
BUGH!
Tanpa aba-aba, Alden memukul wajah Ezra. Amora dan Kirana memekik histeris, sementara Ezra menegakkan wajahnya kembali.
"Kenapa daddy memukul ku?" bingung Ezra.
Alden tak menjawab, dia akan kembali memukul Ezra. Namun, suara teriakan putrinya menghentikan pukulannya.
"BERHENTI DADDY!"
Ezra dan Alden menatap Lia yang mendekati mereka dengan wajah yang berlinang air mata.
"Daddy stop, jangan sakitin kak Ezra lagi hiks ... jika memang nanti Lia hamil, Lia akan berusaha untuk tidak seperti mommy hiks ... tapi lia mohon dad, jangan sakitin kak Ezra. Lagi pula Lia belum hamil hiks ...," isak Lia.
Alden melepaskan cengkeramannya pada kerah baju Ezra, dia pergi dari sana disusul dengan Amora. Sementara Kirana dan Zidan memilih untuk menuju taman tempat anak-anak bermain
Lia masih menangis sesenggukan, Ezra yang melihatnya langsung memeluknya. Dia tak mengerti apa yang terjadi, tapi kini dia harus menenangkan Lia lebih dulu.
"Jangan menangis," pinta Ezra.
"Maaf hiks ... tadi mommy nanya ...,"
Lia menceritakan semuanya, bukannya malah Ezra malah tertawa. Bahkan dia sampai mengeluarkan air mata.
"Kok ketawa sih?" bingung Lia.
"Lucu aja, yah ... mungkin daddy kamu khawatir, itu hal wajar karena dia trauma," terang Ezra.
Lia mengangguk, dia menarik Ezra menuju kamarnya. Dia tahu pasti suaminya sangat letih apalagi harus pulang dengan terburu-buru.
Sesampainya di kamar, Lia langsung mencari kotak p3k. Dia ingin mengobati luka lebam yang berada di sudut bibir Ezra.
"Aku obatin dulu sini," pinta Lia.
Ezra mengangguk, dia hanya menurut ketika Lia mengobati lukanya. Netra Ezra tak sengaja menatap sesuatu di meja belajar Lia, dia menepis lembut lengan Lia dan bangkit dari duduknya.
"Kak Ezra mau kemana? belum selesai obatinnya loh!" kesal Lia.
Ezra tak menggubrisnya, dia terfokus pada satu benda yang berwarna hitam. Ezra menyentuh benda tersebut dan membalikkan badannya.
"Ini kamera siapa?" tanya Ezra.
"Oh itu ... itu kameranya Lio, tapi udah lama banget gak di pake. Udah rusak kali, aku taro disitu biar jadi pajangan aja," jawab Lia.
Ezra tertegun, dia langsung menyalakan kamera itu tapi benar kata Lia. Kamera itu telah rusak. Dia segera membuka bagian penyimpanan memory, tapi kosong. Dia tak menemukan memory card disana.
"Ay, dimana memory card nya?"