Dark Memory

Dark Memory
Kesabaran Ezra



"Pelan-pelan jalannya, awas lantainya gak seimbang. Hati-hati jalanan turun,"


Begitulah kira-kira ocehan Ezra pada Lia yang saat ini baru saja memasuki mansion dengan Ezra yang menuntun lengannya bagaikan orang sakit.


"Ck! aku hamil, bukan sakit kak!" kesal Lia.


"Nanti janinnya gelundung gimana kalau salah pijak?" lugu Ezra.


"Emang kamu kira kelereng apa!" kesel Lia.


Terlihat Kirana tengah menggandeng lengan Kino menghampiri mereka berdua yang tengah ribut.


"Ada apa ini? Lia kenapa Ezra?" tanya Kirana.


"Ini bun, kita habis dari rumah sakit," ujar Ezra.


Kirana terkejut, dia melepas tangan Kino dan menghampiri menantunya


"Kamu sakit?" panik Kirana.


"Nggak bun, kak Ezra aja yang lebay!" kesal Lia.


Kirana menatap Ezra, sedangkan Ezra yang di tatap tak merasa bersalah.


"Menantu bunda tuh lagi bunting bun, makanya kak Ezra posesiv," celetuk Kirana yang baru memasuki mansion.


Kirana membulatkan matanya, dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Benar sayang?" kaget Kirana.


Lia mengangguk, tubuhnya langsung di peluk erat oleh Kirana.


"Selamat sayang, akhirnya kalian akan segera memiliki anak," ujar Kirana.


"Udah bun peluknya, kasihan anak aku kegencet," ujar Ezra sambil melepaskan pelukan Kirana.


Kirana mendengus kesal, putranya ini sangat posesiv terhadap istrinya.


"Bunda ikut seneng kalau kayak gitu, jaga baik-baik kandungan kamu. Jangan sampai stres, dibuat happy aja harinya yah sayang," tulus Kirana.


"Oh iya, orang tuamu sudah tau Lia?" tanya Kirana.


Lia menggeleng, sedangkan Ezra hanya menunggu apa yang akan di jawab oleh Lia.


"Nggak bun, kayaknya nanti aja deh. Orang waktu itu aja kak Ezra sampe di pukul sama daddy apalagi sekarang, bisa di gantung dia," terang Lia.


"Yasudah kalau begitu, kamu istirahat gih," titah Kirana.


Lia mengangguk, kemudian Ezra menarik tangannya. Mereka pun pamit ke kamar karena Lia harus istirahat.


"Aku gak mau tidur," lirih Lia ketika Ezra menggiringnya ke tempat tidur.


"Tapi kamu harus istirahat, tadi Viola cerita sama aku tentang apa yang di katakan dokter. Jadi aku takut kandungan kamu kenapa-napa," terang Ezra.


Lia akhirnya mengangguk pasrah, dia membaringkan dirinya sementara Ezra menyelimuti dirinya.


"Ngapain pake selimut sih? masih siang gini!" kesal Lia.


"Kan pake AC ay?" bingung Ezra.


Lia melihat AC yang menyala jika AC tersebut di nyalakan sangat dingin pasti Ezra akan keluar.


"Kamu mau kemama?" to the point Lia.


Ezra menggaruk pelipisnya. "Balik ngantor," ringis Ezra.


Lia menatap Ezra tajam, suaminya mau berangkat kembali dan istrinya baru pulang dari rumah sakit.


"Pergi sana!" ketus Lia.


"Marah ay?" tajya Ezra.


"GAK!"


"Kok ngegas?" bingung Ezra


Lia membalikkan badannya menjadi memunggungi Ezra, dia memejamkan matanya dan menghiraukan ucapan Ezra.


"Ay," panggil Ezra dengan lembut.


"Pergi, pergi aja! gak usah menye-menye!" ujar Lia.


Ezra menghela nafasnya kasar, sepertinya istrinya itu ngambek padanya. Mau tak mau dia harus membiarkan Lia sendiri dulu karena ada meeting penting dengan klien yang tak bisa dia tinggal.


Ezra pun keluar dari kamar, sementara Lia menangis karena kesal mungkin hormon ibu hamil.


"Jahat banget sih! hiks ... beneran pergi coba!" isak Lia ketika melihat Ezra yang keluar dari kamarnya.


"Kalau gue tinggalin ke kantor, si Lia bakalan ngambek," lirih Ezra.


"Ezra,"


"Eh, papah," kaget Ezra


"Kamu kenapa wajahnya keliatan bingung gitu? padahal seharusnya kamu seneng loh sebentar lagi akan menjadi ayah," hibur Zidan.


Ezra tersenyum. " Iya pah, sebentar lagi Ezra akan menjadi seorang ayah," ujar Ezra.


"Terus ... kenapa kamu keliatan bingung gitu?" heran Zidan.


Ezra menghela nafasnya, dia menatap Zidan dengan tatapan frustasi.


"Lia ngambek karena aku akan balik ke kantor, sementara kantor gak bisa aku tinggal karena ada meeting penting yang harus aku hadiri," ujar Ezra.


Zidan tersenyum, dia menepuk pundak anaknya pelan. " Temani istrimu," ujar Zidan.


"Tapi pah, meetingnya gimana? itu penting banget apalagi perusahaan kita akan mendapat untung 200 miliyar," ragu Ezra.


"Keadaan seorang wanita hamil jauh lebih sensitif ketimbang wanita lainnya, dia akan selalu kepikiran walau itu hal kecil. Istrimu masih berumur 19 tahun, dia harus hamil anakmu di umurnya yang masih terbilang sangat muda. Jika dia banyak pikiran, itu akan mempengaruhi kandungannya." terang Zidan sambil menatap Ezra dengan serius.


Ezra terdiam, benar apa yang di katakan Zidan. Dokter berkata jika istrinya tidak boleh kebanyakan fikiran yang akan memicu keguguran. Dia tak ingin kehilangan bayinya.


"Uang bisa kita cari, tapi rasa bahagia, aman, senangnya seorang istri itu susah kita dapat kan," ujar Zidan kembali.


Ezra menghela nafasnya pelan, sepertinya dia harus membatalkan meetingnya. Hilang sudah 200 miliyar dalam sekejap demi istri tercinta.


"Yasudah, aku telpon asistenku dulu untuk mengundur meetingnya, tapi kalau tidak bisa terpaksa aku haru membatalkannya," ujar Ezra.


Zidan mengangguk, dia melihat sang putra menjauhinya dan mulai menghubungi asistennya.


"Putraku sebentar lagi akan menjadi seorang ayah, dan aku akan jadi kakek. Semoga kelak aku bisa mendapati cucuku lahir," lirih Zidan.


***


Cklek!


Ezra masuk Setelah dia menelpon asistennya untuk memberitahu mengenai pembatalan meeting tersebut. Dan untunglah kliennya paham apa yang terjadi pada dirinya.


"Ay," panggil Ezra.


Lia tak menjawab, Ezra pikir istrinya tidur. Tapi tak lama terdengar suara isak tangis dari istrinya. Dengan buru-buru Ezra langsung mendekati ranjang dan melihat istrinya.


"Kok nangis ay? kamu kenapa? sakit perutnya?" panik Ezra.


Lia menatap kesal Ezra, dia membalikkan badannya dengan spontan yang mana membuat Ezra memekik histeris.


"ANAK AKU!"


Teriakan Ezra sontak membuat Lia terdiam dari tangisnya, dia membalikkan badannya dan menatap Ezra dengan bingung.


"Kamu hiks ... hiks ... kenapa?" bingung Lia dengan sesenggukan.


"Kamu kalau balikin badan pelan-pelan dong, aku takut anak aku kaget," ujar Ezra.


Ucapan Ezra membuat Lia menangis keras, dia merasa sakit karena suaminya hanya memikirkan calon anak mereka.


"Kamu kenapa lagi sayang? aku salah apa?" panik Ezra.


"KELUAR AJA KAMU! HIKS ... YANG DI PERHATIIN ANAKNYA DOANG!" kesal Lia.


Ezra menghela nafasnya, dia harus membujuk istrinya dengan selembut mungkin.


"Iya- iya, yaudah aku minta maaf," ujar Ezra.


"BUAYA!" teriak Lia.


Ezra menaikkan satu alisnya. "Kok buaya ay?" bingung Ezra.


"Iyalah, biasanya hiks ... Para buaya hiks ... bilang kayak gitu hiks ...," isak Lia.


Ezra sungguh tak habis pikir dengan kelakuan istrinya, dia bahkan hampir berteriak karena tak mengetahui bagaimana sikap para wanita.


"Iya ... yaudah aku salah," lirih Ezra.


"Bener, ini baru bener!" seru Lia.


Ezra melongo melihat istrinya yang kini sudah duduk dan bertepuk tangan layaknya anak kecil.


"Istri gue punya kepribadian ganda yah" batin Ezra.


**JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.


Tadinya mau up jam 10, eh tiba-tiba ada kerjaan yang gak bosa di tinggal. Hadeeehhh😩😩😩**