
Dor!
Bunyi dentuman yang sangat keras membuat helikopter yang di tumpangi si kembar dan Ezra mendarat dengan terpaksa.
Ternyata bukan hanya helikopter mereka, beberapa helikopter yang pain pun mendarat karena dentuman keras itu.
"Jendral Ezra!"
Ezra yang baru saja turun dari helikopter menoleh, dia mendapati Jendral Rangga yang berlari ke arahnya.
"Maaf jendral, kapten Gavin mengabari saya jika anggota yang naik pesawat mengalami keterlambatan karena tiba-tiba saja pesawat mengalami kerusakan mesin." lapor Rangga sambil menatap Ezra yang terkejut.
Ezra menatap sekelilingnya, anggota yang berada disini hanya ada 25 apakah seimbang dengan lawan mereka nanti?
"Berapa jendral yang ada?" tanya Ezra.
"Hanya saya dan anda," jawab Rangga.
Ezra mengangguk, dia mendapati Reno yang berlari ke arahnya.
"KITA HARUS SEGERA PERGI DARI SINI! MEREKA BERNIAT MELEMPARKAN BOM KE ARAH KITA!" teriak Reno yang sudah lebih dulu berlari.
Mereka pun akhirnya menjauh dari tempat itu, Ezra menarik Lia untuk mengikutinya.
JDEER!
"Aaaa," panik Lia.
Ezra menjatuhkan tubuhnya dan Lia ketika mendengar dentuman keras itu. Dia melindungi kepala Lia dengan tangannya sehingga kini mereka tengkurap bersama.
"SIAPKAN SENJATA!" teriak Ezra dan bangkit dari jatuhnya.
Para anggota pun mengarahkan senjata mereka kepada beberapa pasukan yang mendekat ke arah mereka.
"Kita boleh nembak mereka?" tanya Lia sambil menatap Ezra yang sedang membidik satu orang yang mendekati mereka.
Dor!
Lia terkejut, dia menatap orang yang baru saja Ezra tembak.
"Tentu saja, mereka warga asing yang merusak dan pemberontak. Mereka buat kerusakan, kami sudah di memberi pilihan tetapi mereka malah menyatakan perang," ucap Ezra.
Suara pistol yang bergemuruh, para anggota maju untuk menembak. Sementara Ezra memberi intruksi pada anggota lain.
"Kita cari tempat persembunyian, kita bagi dua kelompok agar lebih mudah." titah Ezra sambil membagi anggotanya. Ada yang di pimpin olehnya dan ada juga oleh Rangga.
"Dan kamu Lia, ikut saya!" titah Ezra kembali.
Lia hanya mengangguk, tetapi Rangga merasa tak terima. Dia menarik Lia ke barisannya.
"Gak bisa gitu dong, Lia ikut sama saya," ucap Rangga.
"Saya sudah membagi rata, bahkan di kamu ada 13 dan saya hanya ada 12." ucap Ezra sambil menarik kembali Lia.
Lia merasa jengah dengan perdebatan yanga ada, dia menghempaskan tangannya dari kedua pria itu.
"Gini aja, mending kalian suit! cepet buruan! keburu mereka dateng lagi!" seru Lia.
Rangga dan Ezra menatap datar Lia, kemudian tatapan mereka beralih saling tatap.
Jdeerr!
Mereka semua terkejut, dengan cekatan Ezra menarik Lia dan pergi dari sana. Sementara Rangga berdecak kesal karena Ezra berhasil membawa Lia.
"Si4l, gagal pdkt gue!" decak Rangga.
"Jendral, lebih baik kita segera pergi!" ucap seorang letnan.
Rangga mengangguk, dia pergi bersama anggotanya yang lain menuju tempat aman.
Sementara itu, Ezra berlari bersama Lia begitu pula dengan anggota yang lain. Lio dan Reno juga berada di kelompok Ezra.
"Hah ... hah ... capek! bentar dulu hah!" ucap Reno.
Lia baru menyadari jika temannya yang lain tidak ada, dan hanya ada dirinya dan Lio sebagai anggota baru.
"Kita cari tempat berlindung, pasukan akademi lain sepertinya juga belum sampai. Sedari tadi kita tidak melihat mobil mereka," ucap Ezra.
Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan, dengan penuh kewaspadaan para anggota tetap mengedarkan pandangannya.
Dor!
"Akh!"
Mereka semua terkejut, Lio dengan segera menembak orang yang bersembunyi di balik pohon. Sementara yang lain berusaha untuk kembali mencari apakah ada musuh lain di belakang mereka.
"Kau tidak apa jendral?" tanya Lia sembari menatap Ezra yang meringis sambil memegangi lengan atasnya.
"Tidak, hanya terkena goresan peluru," ucap Ezra.
Sayang sekali, Ezra terlambat menghindar. Tapi untung saja pendengaran Lia kuat sehingga dia menarik Ezra walau terlambat.
Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan, tetapi secara mengejutkan beberapa orang menyerang mereka.
Lio segera menembak orang itu begitu juga yang lain tetapi jumlah mereka semakin banyak, Lia dan Ezra pum berusaha untuk melawan tetapi mereka kalah jumlah hingga ada selain mereka yang tumbang.
"Mereka semakin banyak!" ucap anggota lain.
"Mundur!" teriak Ezra karena dia merasa musuh mereka semakin banyak, yang ada mereka akan mati konyol disini.
Lio dan Reno membantu anggota yang tumbang, mereka berlari begitu juga dengan yang lain. Ada 3 orang yang terkena tembakan yang mana membuat mereka harus membantu.
Ezra dan Lia berlari tetapi sayang, kaki Lia tersangkut akar pohon yang mana membuat dirinya terjatuh.
Bugh!
"Aakhh!"
Lio, Reno dan Ezra menoleh kan kepala mereka, mereka berhenti dan menatap Lia yang terjatuh. Dengan segera Ezra berlari menuju Lia dan menolong nya.
"Ayo cepatlah!" ucap Ezra sambil menarik Lia bangun.
Akhirnya Lia berhasil berdiri, dia berlari kembali dengan Ezra yang menggenggam tangannya.
DOR!
Lia dan Ezra terhenti, Mereka terdiam begitu juga dengan Reno dan Lio yang menoleh kembali menatap Lia dan Ezra dan membulatkan mata mereka.
Brugh!
Lia terkejut ketika merasakan tubuh Ezra yang terjatuh, dia membulatkan matanya ketika melihat perut Ezra yang mengeluarkan darah.
"JENDRAL!" teriak Lia.
Lia menoleh menatap orang yang masih membidik mereka, dengan tatapan penuh amarah Lia langsung menembak orang tersebut tepat di dadanya.
Dor!
"Jendral! jendral!" panik Reno yang saat ini sudah duduk di hadapan Ezra.
Ezra meringis, peluru itu tembus hingga perutnya. Reno berusaha menekan darah itu begitu pula dengan Lia yang mencari sesuatu dalam tas yang ia bawa
"Hiks ... gimana ini gak ada apapun yang bosa di pakai buat hentiin darahnya." panik Lia sembari mengobrak abrik tasnya.
"Udah sekarang kita papah jendral, siapa tau di dekat sini ada rumah," ucap Reno.
Akhirnya Lia memapah Ezra, sedangkan Reno membantu Lio karena anggota yang Lio papah pingsan berbeda dengan Ezra yang masih sadar.
Netra Lio menangkap banyak mobil, begitu pula dengan yang lainnya.
"Ini mobil mereka? atau mobil militer?" bingung Reno.
Ezra menatap mobil itu dengan mata sayunya, dia bisa menebak mobil siapa itu hanya dengan warnanya.
"Itu milik militer, sepertinya mereka sudah berada disini tapi entah dimana keberadaan mereka," ucap Ezra dengan lirih.
Lio melepaskan pelan rangkulan temannya, dia mendekati mobil itu dan tersenyum ketika melihat ada sebuah kunci disana.
Lio segera memasuki mobil itu dan menyalakan nya.
Brumm!
Lio tersenyum, mobil itu hidup sehingga mereka bisa menggunakannya.
"Ayo cepat, kita masuk!" ajak Reno.
Mereka akhirnya masuk ke dalam mobil militer itu, Lio menyetir sementara Reno berada di sebelahnya setelah menaruh temannya yang terluka tadi. Semetara Lia duduk di tengah-tengah antara Ezra dan teman anggotanya.
"Lio, kita harus segera mencari rumah sakit!" pinta Lia saat melihat wajah Ezra yang semakin pucat.
Lio mengangguk, dia menjalan kan mobil itu keluar dari pendalaman hutan menuju jalan besar.
"Lia ...," lirih Ezra.
Lia menatap Ezra sambil menangis, dia tak sanggup melihat Ezra yang begitu kesakitan.
"Apa hm, jangan banyak bicara!" takut Lia.
"Bo-boleh a-aku pin-pinjam gelangmu?" tanya Ezra dengan terbata.
Lia mengangguk, dia menyerahkan tangannya pada Ezra sehingga kini Ezra memegang lengannya.
Ezra mengambil kalungnya yang berada di balik baju lorengnya, setelah itu dia membuka kalungnya dan mengarahkan bandulan kalung tersebut ke lubang yang ada di gelang Lia.
Tak!
Seketika gelang Lia terbuka yang mana membuat Lia terkejut, dia menatap Ezra yang tersenyum menatapnya.
"A-aku ... to-tolong ban-bantu aku mengingatmu ke-kembali Zanna ...,"
"JENDRAL!"