
Ezra tengah berada di taman rumah sakit, dia melamunkan ingatannya sehabis terapi kemarin.
"Kak Leon, nanti kalau Zanna sudah besar. Zanna mau nikahnya sama kak Leon aja," ucap Zanna.
"Harus, kau harus menikah denganku karena aku telah melamarmu sejak dari dalam kandungan," ucap Leon.
Kedua sudut bibir Ezra terangkat, dia terkekeh geli mengingat jika dulu Lia selalu mengajaknya menikah.
"Kak!"
Senyum Ezra luntur saat ada tepukan di bahunya, dia menoleh menatap orang yang telah menepuk bahunya.
"Kak Ezra ngapain disini? senyum-senyum lagi, awas! nanti kesambet loh," ujar orang tersebut yang tak lain adalah Lia.
Lia menduduki dirinya di sebelah Ezra, dia menyandarkan kepalanya pada dada bidang Ezra.
"Kok di sini ay? kan temen-teken kamu di dalam?" tanya Ezra sambil mengelus rambut istrinya.
"Kan suaminya Lia disini," jawab Lia dengan senyum manisnya.
Ezra terkekeh, dia mengecup pucuk kepala Lia berkali-kali hingga gadis itu memekik geli.
"Waah ... adik-kakak yang akur, harmonis! seneng deh ibu liatnya. Adiknya aja di sayang begitu apalagi istrinya nanti," ujar salah satu ibu-ibu yang lewat di depan mereka.
Ezra hanya tersenyum tipis, sementara Lia menatap kesal ke arahnya.
"Masih single kan? mau dong sama putri saya, dia arsitek loh," ujar ibu itu sambil menepuk bahu Ezra.
"Maaf bu, ini istri saya," ujar Ezra.
Seketika ibu tersebut menatap Lia dengan wajah terkejut, dia kira Lia adalah adik dari Ezra karena wajahnya yang masih terlihat sangat muda.
"Oh ... maaf, ibu kira kalian adik-kakak. Abisnya kamu cari istri yang muda banget sih, cari yang seumuran dong. Apa karena hamidun duluan?" ujar ibu itu yang mana membuat Lia memanas.
"Nih ibu minta di lempar apa bagaimana? emang muka gue keliatan kayak cewek tukang bunting apa?" batin Lia
Ezra ingin menjawab, tetapi Lia menghentikannya dan menatap ibu tersebut.
"Maaf nih bu, kok fasih banget yah ngomong hamidunnya? saya hamidun mah jelas, orang ada suaminya. jangan-jangan anak situ juga hamidun? oalah, bilang toh bu! jadi jatuhnya gak jilat ludah sendiri," sindir Lia.
Wajah wanita itu memerah padam, dia menunjuk Lia dengan jari telunjuknya.
"KAMU!"
"Apa? ibu aja marahkan anaknya di katain begitu? apalagi mommy saya, bisa abis rambut ibu di jambakin ama dia," tantang Lia.
Akhirnya ibu itu pergi dalam keadaan kesal, sementara Ezra hanya menatap Lia datar.
"Apa?! mau marah juga? aku nikah muda kamu yang minta bukan aku loh!" kesal Lia.
"Gak seharusnya kamu ngomong kayak tadi, gak sopan sayang," ujar Ezra.
Lia mendelik tajam, sepertinya delikan Amora menurun pada Lia.
"Terserah kamu! terserah! seharusnya kamu nikah sama janda, biar banyak pengalamannya termasuk kesopanan. Bukan nikahin perawan!" kesal Lia dan beranjak dari sana meninggalkan Ezra.
Ezra terkekeh melihat kekesalan istrinya, dia meraba saku jaketnya dan mencari sesuatu.
"Mungkin, ada saatnya aku mengingat kenangan kita dulu. Tapi sekarang, aku ingin mengukir banyak kenangan bersamamu. Hanya bersamamu," lirih Ezra.
Ezra membuka sebuah kotak yang sebesar telapak tangannya, ternyata itu adalah kalung yang sangat indah. Di hiasi dengan permata hijau seperti warna mata Lia.
"Kalung ini cantik ... cantik seperti kamu," gumam Ezra.
Berbeda dengan Lia yang saat ini tengah menggerutu kesal, bahkan dia menghiraukan tatapan aneh orang-orang padanya.
BRUGH!
"Aduh, maaf tante. Maaf, Lia gak sengaja," ucap Lia.
Wanita itu menatap Lia dengan seksama, bahkan Lia yang ikut menatapnya pun terheran.
"Tante," panggil Lia.
"Oh iya, tidak papa. Tadi juga saya meleng, jadi gak lihat ke depan," ujar wanita tersebut.
Lia mengangguk, dia akan kembali berjalan tetapi wanita itu menahan lengan Lia.
"Oh iya, kalau tante boleh tau. Siapa namamu?" tanya wanita tersebut.
"Itu ... wajahmu mirip dengan teman tante," ujarnya.
"Oooo gitu, nama saya Lia tante. Zanna Lia ...,"
"LIA!"
Lia menoleh, ternyata yang memanggilnya adalah Ezra. Ternyata tak lama setelah itu Ezra mengikuti istrinya dan dia melihat istrinya berbicara pada seorang wanita paruh baya tapi sayang wanita itu membelakanginya.
"Apa?" bingung Lia.
"Kamu ngobrol sama siapa?" bingung Ezra.
"Oh, aku tadi ngobrol sama tan ... Loh, tantenya mana? tadi kan disini?" gumam Lia.
Lia menoleh kesana sini dan mencari wanita itu, tapi sayang dia tak menemukannya.
"Siapa sih ay?" bingung Ezra.
"Ish! siapa sih! tau ah! kamu juga ngapain ikutin aku? udah sana ... aku lagi marah sama kamu!" ujar Lia dan pergi dari sana.
Sementara Ezra menghela nafas, istrinya ngambek padanya. Apa yang harus dia lakukan untuk membujuk istri kecilnya itu?
"Punya istri kecil tuh susah, mau di bujuk tapi gak bisa di sogok. Mau pake coklat pasti tambah garang di kata kamu mau bikin aku gendut lah ini lah itu lah. Gue harus gimana coba!" frustasi Ezra.
Akhirnya Ezra mengikuti istrinya yang telah hilang dari pandangannya.
Sementara, wanita tadi berada di balik tembok. Dia membuka kaca mata coklatnya dan menatap kepergian Ezra dengan sendu.
"Ternyata kamu masih hidup, benar firasatku. Istrimu sangat cantik sayang," lirih wanita itu dan kembali memakai kaca matanya.
Saat wanita itu berbalik, ada seorang gadis remaja yang memperhatikannya. Dia mengerutkan keningnya ketika melihat wanita itu berada di rumah sakit.
"Loh ... kok mamah ada disini sih? emang siapa yang sakit?" bingungnya.
"Ca! lu liat apaan sih?!" sentak Viola pada gadis yang ternyata adalah Ica.
"Gue liat nyokap gue, tapi kok gak kasih tau gue yah kalau dia kesini? gue telpon deh!" ujar Ica.
Ica mengambil ponselnya, dia mencoba menghubungi mamahnya.
"Halo,"
"Kok suara mamah serak kayak abis nangis yah?" batin Ica.
"Halo?"
"Ooh halo mah, mamah lagi dimana?" tanya Ica.
"Mamah lagi di mansion lah, kenapa sayang?"
Ica mengerutkan keningnya, dia yakin jika wanita paruh baya tadi adalah mamahnya. Dia yakin itu, tapi kenapa mamahnya berbohong?
"Mamah gak bohongin Ica kan?"
"Gak sayang, ngapain mamah bohongin kamu. Udah yah, mamah mau masak kasian papahmu,"
Sambungan telfon itu terputus, Ica berdecak sebal karena sang mamah berbohong padanya.
"Ck! mamah ini kenapa sih? kok bohong yah?" gumam Ica.
"Mungkin bukan mamah lu kali, udahlah. Kita bali ke kamar Mesya yuk!" bujuk Viola.
Ica mengangguk pasrah, dia menerima tarikan Ica dan mereka pergi menuju kamar Mesya.
Ica dan Viola akan masuk, tapi langkah mereka terhenti ketika melihat Ezra yang sedang memegangi kaki Lia persis anak kecil.
"Mereka kenapa?" tanya Ica.
"Gak tau, kayaknya abang gue ada salah sama bininya. Makanya begitu," ujar Viola.
"Bucin yah ceritanya," ucap Ica yang di balas anggukan oleh Viola.
_________________
**Waduh ... siapa tuh ... mulai masuk ******* cerita nih🤭🤭🤭. Mau lanjut gak nih? komen sebanyak-banyaknya yah😍.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤**.