Dark Memory

Dark Memory
Permintaan maaf ayah Mesya



"Mesya!" panggil jendral besar yang tak lain adalah Noah Emmerson.


Mesya menghentikan langkahnya, dia membalikkan tubuhnya dan menatap datar Noah.


"Mesya ... ayah minta maaf nak, tolong jangan seperti ini. Ayah sayang sama Mesya, pulang ya nak. Kasihan bunda," lirih Noah.


Mesya terkekeh sinis, dia menatap datar ayahnya itu. Matanya berkaca-kaca, rasanya sangat sulit untuk mengungkapkan perasaannya saat ini.


"Setelah belasan tahun ayah baru minta maaf sekarang? selama ini kemana aja yah? Mesya ... Mesya ...," rasanya Mesya tak sanggup untuk mengeluarkan isi hatinya, bahkan kini dia berusaha tegar di hadapan sang ayah.


"Mesya, ayah tau ... kami telah menyakitimu nak, untuk itu biarkan kami memperbaikinya," bujuk Noah.


Mesya mengusap air matanya yang berada di sudut matanya, dia menunjuk dadanya sambil memejamkan matanya.


"Sakitnya disini yah ... sakitnya di hati aku, ketika aku sebagai anak kandung di telantarkan. Ketika aku sebagai anak kandung di buang layaknya sampah ... hati ini ... hati ini hancur yah," isak Mesya.


"Gimana ayah mau memperbaikinya? sedangkan anak angkat itu masih ada di dalam hidupku!" ujar Mesya.


"Dia bukan anak angkat Mesya, dia ...,"


"Belum aja semenit ayah meminta maaf, sekarang ayah kembali menyakitiku lagi? sampai kapan yah? sampai kapan ayah terus menyakiti Mesya? bahkan disini Mesya yang merasa jika Mesya adalah anak angkat yang sebenarnya. Mesya gak minta di lahirin yah, Mesya gak minta," sela Mesya.


Noah tak sanggup menahan air matanya, dia sangat merasa bersalah karena telah menyakiti putrinya selama belasan tahun.


"Ayah selalu bandingin aku dengan kak Clara, bilang kak Clara hebat lah ini lah itu lah. Contoh kak Clara, dia perempuan baik ini dan itu. Aku capek! aku capek mendengar semua itu! aku juga mau di hargai!"


"Setiap pulang sekolah, ayah selalu tanya dari mana kamu? kenapa sih kamu gak bisa jadi anak kebanggaan ayah? tiru kakakmu! kamu harus bisa ini dan itu!" terang Mesya yang mengeluarkan apa yang ia rasakan selama ini.


"Mesya ... ayah ...,"


"stop! I'm not a robot dad! i'm tired!" sela Mesya.


( Berhenti! aku bukan robot ayah! aku lelah!)


Mesya memejamkan matanya, dia menghapus kasar air mata yang mengalir di pipinya.


"Aku hanya ingin mendengar kalian memujiku, sekaliii saja. Setelah itu kalian bisa membuangku," lirih Mesya dan membuka kembali matanya menatap sang ayah yang juga menangis.


"Maafin ayah nak, maafin ayah. Ayah menyesal," gumam Noah.


Noah berjalan mendekati Mesya, dia memeluk putrinya itu walau Mesya berontak.


"Ini yang gue mau sedari dulu, tapi ... kenapa baru sekarang? di saat hati gue hancur, ayah datang sebagai pahlawan yang sebenarnya dia adalah penyebab luka ini," batin Mesya.


Beruntunglah koridor sedang sepi sehingga tidak ada yang mengetahui pembicaraan mereka.


Noah melepaskan pelukannya, dia mematap Mesya dan menghapus air mata putrinya.


"Pulang lagi ke rumah yah nak, bunda kangen banget sama kamu. 3 tahun kamu gak pulang, pulang ya sayang," bujuk Noah dengan suara lembut.


"Oke, aku akan pulang," ujar Mesya yang mana membuat Noah tersenyum senang mendengarnya.


"Setelah ayah dan bunda usir anak angkat itu dari kehidupan kita!" lanjut Mesya yang mana membuat Noah mematung.


***


Malam telah tiba, mobil yang di tumpangi Ezra, Lia dan Viola telah sampai di akademi.


"Aku masuk dulu," ujar Lia.


Ezra menarik tangan istrinya, dia mengecup lembut kening sang istri beralih ke kedua pipinya.


Cup!


Cup!


Cup!


"Hati-hati," ujar Ezra setelah itu berlalu dari sana.


Lia terdiam dengan wajah yang memerah, beruntunglah keadaan gelap sehingga pipinya tak terlihat merona.


"CIEEE ... CIEEE ... pengantin baru beda yah bund," ledek Viola.


"Apaan sih!" malu Lia.


Setelah itu mereka memutuskan untuk masuk kedalam asrama.


Tok!


Tok!


Tok!


Cklek!


"Siapa sih malem-malem ganggu a ... LIA! VIOLA! AAAA KANGEN!" histeris Mesya.


"Masuk, masuk ayo!" ajak Mesya.


Akhirnya Viola dan Lia masuk, mereka langsung menghempaskan tubuh mereka pada ranjang masing-masing.


"Kalian tuh yah ... janjian pulang janjian masuk, enak banget yah!" sindir Ica.


Viola dan Lia terkekeh, mereka akhirnya berbincang bahkan Mesya terlihat antusias. Berbeda beberapa saat lalu, kini dirinya terlihat baik-baik saja tanpa beban.


"Gue denger dia punya adik, terus gimana adiknya?" tanya Ica yang mana membuat Mesya terdiam.


"Iya dia punya adik, gue bawa dia pulang. Terus sekarang di rawat sama mommy dan daddy gue, berhubung mereka masih memiliki anak yang seumuran dengan Cia," terang Lia.


"Oh yah ... wah ... bonyok lu bae bener dah," puji Mesya.


Lia tersenyum, tetapi dapat Lia tangkap jika terjadi sesuatu pada Mesya.


Beberapa saat kemudian, akhirnya mereka semua tidur dan hanya Lia saja yang belum karena dia sibuk mengirim balasan chat dari suaminya.


...Paksu❤...


Ay!


^^^kenapa?^^^


kangen ...,


^^^Terus?^^^


**Kamu mah gak peka!


^^^ya terus aku harus gimana sayang**?^^^


"Aneh," gumam Lia.


Lia mengambil cermin, dia melepas soflennya dan menaruhnya kembali ke tempatnya semula. Setelah itu dia menarik selimut sambil merebahkan dirinya.


Sedangkan Ezra yang saat ini tengah melihat balasan chat Lia yang memanggilnya sayang pun tersenyum sendiri, sehingga Reno yang sedang baca buku mengerutkan keningnya ketika netranya beralih menatap Ezra.


"Jendral sehat?" tanya Reno.


Ezra mengalihkan pandangannya, seketika senyuman itu luntur terganti wajah masam.


"Menurutmu?" tanya Ezra dengan wajah datar andalannya


"Gak," jawab Reno.


Ezra yang kesal segera melempar bantal pada wajah Reno, dia sungguh kesal dengan sepupunya itu.


"Balik aja sana ke asrama mu! ganggu!" kesal Ezra.


"Jangan marah dong jendral, saya kan cuma jujur dengan apa yang saya lihat." bela Reno sambil menampilkan wajah memelasnya.


"Jujur sih jujur, tapi jangan buat orang darah tinggi dong! kamu mana tau apa yang saya rasain, jomblo karatan sih!" gerutu Ezra.


Reno kesal, dia bukan jomblo hanya saja ingin mencari yang pas. Namun, sedetik kemudian dia tersadar dengan ucapan Ezra barusan.


"Maksudnya jendral udah ada gebetan gitu?" tanya Reno.


"Udahlah! malah halal, bisa ngapain aja!" bangga Ezra.


Reno menaruh bukunya, dia langsung mendekat ke arah Ezra yang bersandar pada kepala ranjang.


"Sama siapa? sama siapa? kapan kawinnya?" seru Reno.


PLAK!


Ezra memukul mulut Reno dengan ponselnya, dia merasa kesal dengan pertanyaan Reno.


"Sakit dral!" ringis Reno sambil mengusap bibirnya.


"Makanya kalau ngomong di filter dulu! kawin ... kawin, emang situ kira saya hewan!" kesal Ezra.


Reno meringis pelan mendengar kekesalan Ezra, doa menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal.


"Sorry dral, terus jendral nikahnya sama siapa? kasih tau dong!" rengek Reno yang mana membuat Ezra risih.


"Geli tau! saya nikah dengan Lia, PUAS! ujar Ezra yang mana membuat Reno melototkan matanya


"SAMA LIA KEMBARANNYA LIO? KOK BISA!"


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.


Berhubung vote, like dan hadiah sangat lancar hari ini, aku bakal tambah 1 atau 2 episode lagi🥰🥰