Dark Memory

Dark Memory
Alysa Reva Miller



"LEEEOOOON! KAMU BELUM SAH KARENA BELUM DAPET RESTU DARI SAYAAAA!"


Ezra dan Lia terkejut, mereka menatap Arjuna yang menghampiri mereka.


"Om Juna?" gumam Lia.


Lia segera turun dari ranjang, dia mendekat ke arah Arjuna dan memeluk pria yang berstatus sebagai om nya itu.


"Kangen!" rengek Lia.


Arjuna terkekeh, dia membalas pelukan keponakannya dan kembali menatap Ezra dengan sorot mata yang tajam.


"Kamu mau di apain tadi sama dia?" tanya Arjuna sambil melepaskan pelukan mereka.


"Gak di apa-apain kok om, tadi kak Ezra bilang gerah. Terus Lia gak mau di tinggal jadinya kak Ezra buka kaosnya, eh om malah masuk," tetang Lia yang mana membuat Zidan dan Eveline yang memang berada di kamar itu menggelengkan kepalanya.


"Om kira dia ...,"


PLAK!


"Kamu tuh malu-maluin tau kak! udah ayo keluar, mereka sudah suami istri kamu gak berhak ikut campur. Ayo! Alysa di tinggal sendiri di ruang tamu!" kesal Eveline dan menarik lengan suaminya untuk keluar dari kamar pasutri baru itu.


Eveline dan Arjuna menikah saat si kembar berumur 1 tahun, mereka hanya memiliki satu putri yang bernama Alysa Reva Miller yang kini berumur 17 tahun.


"Istirahatlah, saat makan malam kami akan memanggil kalian." ujar Zidan sambil membalikkan tubuhnya dan keluar dari kamar mereka.


Ezra menghela nafasnya kasar, dia mengacak-acak rambutnya. Sementara Lia, dia kembali merebahkan dirinya dan tidur yang mana membuat Ezra menoleh menatap istri kecilnya itu.


"Kamu aja belum juga hamil udah pada heboh, gimana kalau kamu hamil?" gerutu Ezra.


"Hamil? ya pasti senenglah," ujar Lia.


"Gimana mau di buat hamil, orang baru buka baju aja di teriakin kayak tadi. Kalau kamu sampe hamil, bisa-bisa di gantung aku," gerutu Ezra.


"Coba aja aku tanam saham duluan, bisa-bisa tinggal nama aku," lanjut Ezra.


Lia membalikkan tubuhnya, dia menatap Ezra yang sedang frustasi. Dirinya bingung dengan saham yang Ezra maksud.


"Saham? kakak nanam saham dimana?" heran Lia.


"Di rahim kamu lah, emang dimana lagi?" seru Ezra dan bangkit dari ranjang menuju kamar mandi.


"Emang bisa?" bingung Lia.


"Bisa! tapi harus main celap-celup dulu!" sahut Ezra dan memasuki kamar mandi.


Lia mengangguk pelan, dirinya masih berpikir apa yang di katakan Ezra.


"Ada yah main celap-celup? kayak teh aja, perasaan gak ada deh mainan kayak gitu?" gumam Lia.


Beberapa menit kemudian, Ezra sudah keluar dari kamar mandi. Dia keluar hanya mengenakan handuk sepinggang, dan berjalan menuju Lia yang kini sedang asik bermain ponsel.


"Ay, bajuku mana?" tanya Ezra.


Lia hanya senyam-senyum sendiri yang mana membuat Ezra kesal dan mengambil ponselnya.


"KAKAK!" seru Lia.


"Aku nanya kamu gak jawab, baju aku mana?!" datar Ezra.


Lia mengerutkan keningnya, dirinya tak mengerti apa yang Ezra ucapkan. Kenapa Ezra bertanya dimana bajunya?


"Aku gak tau, paling masih ada di koper. Emangnya kakak gak punya baju disini?" heran Lia.


Ezra tampak menghela nafasnya, sepertinya dirinya harus mengajarkan istri kecilnya untuk mengurus perlengkapan dirinya. Dia paham jika Lia berasal dari keluarga konglomerat dimana semua kebutuhan sudah tersiapkan, inilah yang menjadi ujian rumah tangganya untuk menghadapi istri kecilnya itu.


"Ay, sekarang statusmu telah berganti menjadi seorang istri. Istri itu tugasnya melayani suaminya, termasuk menyiapkan keperluan suaminya. Seperti baju, makanan dan lain-lain." terang Ezra sambil duduk di tepi ranjang.


"Ooo gitu ... Lia sering lihat mommy pasangkan dasi daddy, apa itu termasuk tugas seorang istri?" tanya Lia.


"Iya, jadi mulai sekarang belajarlah untuk menjadi istri seorang Ezra Louise Elvish hm," ujar Ezra.


Lia mengangguk pelan, dia bangkit dari ranjang dan mendekati koper mereka yang berada di pojok ruangan.


"Kakak pengen pake baju apa?" tanya Lia sambil membuka koper.


"Terserah, yang penting baju santai," jawab Ezra.


Lia mengangguk, dia mengambilkan Ezra kaos serta celana pendek selutut. Setelah itu dia kembali mendekati Ezra yang menatapnya.


"Nih," ucap Lia dan menyerahkan pakaian Ezra.


Ezra mengangguk, dia berdiri mengambil pakaian itu sambil mencuri kecupan sang istri.


Cup!


"Makasih my honey," ujar Ezra dan lari terbirit-birit ke kamar mandi.


"Hiks ... bibir Lia gak suci lagi hiks ...," rengek Lia yang terdengar oleh Ezra.


"Malah dari kemarin sayang," kekeh Ezra.


Ezra terkekeh, dia mengecap bibirnya. Senyum manis tersungging di bibir indahnya.


"Manis," gumam Ezra.


***


"Papi abis dari mana sih! kok Alysa di tinggal sendiri!" gerutu Alysa sambil menatap sang papi yang tengah mengobrol dengan Zidan.


"Sini sayang, kenalkan ini om Zidan. Kakak dari mami sekaligus mertua dari kak Lia," ujar Eveline.


Alysa mendekati sang mami, dia duduk di samping sang mami dan menatap Zidan dengan aneh.


"Kalian halu yah? kan kak Lia lagi di akademi, masa iya udah nikah," ujar Alysa.


"Jangankan kamu, papi juga kiranya ni orang gila!" ketus Arjuna.


Zidan menatap datar Arjuna, beruntung istrinya sedang menidurkan sang putra jika tidak dia akan memukul habis Arjuna yang terlewat angkuh itu.


"Gue sempet heran, kenapa Alden merestui hubungan mereka?" gumam Arjuna.


"Mereka terciduk tidur bersama," sahit ZIdan.


"APA?! DASAR! GAK BAPAK GAK ANAK SAMA AJA?!" bentak Arjuna.


"Kok jadi bawa-bawa gue? belasan tahun gak ketemu mulut lu kok jadi kayak petasan mercon yak!" kesal Zidan.


Arjuna bangkit berdiri, begitu pula dengan Zidan. Mereka saling berhadpan bahkan jarak mereka hanya beberapa cm saja.


"Loh, ada apa ini?" sahut seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah Dea.


Arjuna dan Zidan menoleh, mereka terkejut melihat Dea yang datang dengan membawa nampan berisi beberapa cangkir kopi.


"Eh, mommy ...," ucap Zidan.


Dea menaruh nampan tersebut, dia memeluk singkat Zidan dan menatap putra tirinya itu.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Dea.


"Baik mom, oh iya maaf aku tidak ada disaat daddy masuk rumah sakit. Saat itu kami benar-benar sibuk karena pernikahan Ezra yang terlalu mendadak," ujar Zidan.


"Tidak apa, mommy mengerti yang penting keluarga Wesley sudah tau jika kalian masih hidup. Bahkan kini cinta Leon dan Zanna bersatu dengan tali pernikahan. Mommy senang dengarnya," seru Dea.


Zidan tersenyum, berbeda dengan Arjuna yang duduk kembali dan menatap kesal Zidan.


"Kamu senangkan Ezra nikah sama Lia? kan sama-sama keponakanmu." ujar Dea sambil menatap Arjuna yang menekuk wajahnya.


"Gak!" sinis Arjuna.


"Loh kenapa?" bingung Dea.


"Mommy, keluarga besar Wesley dan Miller sangat bermusuhan dengan daddy. Bagaimana jika mereka tahu kabar ini? bersyukur kalau daddy bangun dan insaf!" gerutu Arjuna.


Dea berpikir benar apa yang di katakan Arjuna, ketiga keluarga itu sedang berperang dingin akibat berita meninggalnya Zidan dan Leon.


Apalagi semenjak itu tidak ada lagi hubungan keluarga mereka, bahkan Eveline sangat susah bertemu dengan orang tuanya.


"Benar juga, lebih baik kita rahasiakan ini dari papi kak. Aku takut papi menentang keras, di tambah Lia adalah cucu kesayangan papi," usul Eveline.


"Kau benar juga, hais ... Alysa, kau harus mencari pria yang tidak mempunyai masalah dengan keluarga kita. Jika tidak, sulit bagimu untuk bersatu," ujar Arjuna.


"Tenanglah papi, aku tak tertarik dengan pria yang mempunyai latar belakang keluarga kaya raya. Aku akan mencari pria yang sederhana," ucap Alysa.


Mereka semua menatap Alysa dengan wajah terkejut mereka. Memang tak habis pikir dengan jalan pikir remaja itu, bagaimana bisa putri seorang konglomerat mencari pria sederhana.


"Jangan bercanda lys, mau makan batu kamu hidup sama pria sederhana?" heran Arjuna.


"Aku tak mencari yang kaya papi, aku hanya mencari yang tampan. Uang tak masalah menurutku, karena uang bisa di cari sementara keturunan tak bisa di perbaiki," seri Alysa.


Arjuna menggelengkan kepalanya, sementara yang lain terkekeh dengan jawaban Alysa.


"Yasudah terserah kamu, tapi kamu jangan ngeluh kalau kalian ...,"


"Suamiku minta uang belanja dong,"


"Gak usah yah sayang, kan aku dah tampan,"


"HAHAHAHA!" tawa semua orang pecah.


"PAPIIIII!" teriak Alysa.


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.