Dark Memory

Dark Memory
Mesya



Flashback Off


Setelah menceritakan itu kini keduanya terdiam, bahkan mereka sudah duduk di kursi tunggu.


"Kau selalu menyebut papah ... papah ... dan papah di setiap malamnya, untuk itu ayah bertekad untuk mencari papahmu. Namun, kita tak mendapat petunjuk apapun soal siapa papahmu yang sebenarnya," terang Noah.


Clara menghapus air matanya, dia menatap Noah yang tersenyum lembut menatapnya.


"Yah, Clara sudah besar. Tolong biarkan Clara hidup mandiri, Clara juga akan berkerja di jepang. Menjadi dokter di sana adalah impian Clara, ajaklah Mesya untuk tinggal kembali bersama kalian. Clara yang akan memilih untuk keluar dari keluarga Emmerson," ujar Clara.


"Ayah menyetujuinya, carilah kebahagiaanmu nak. Jika kau perlu bantuan ayah, datanglah ke. ayah. Kau tetap putri kami," terang Noah.


Clara mengangguk, dia memeluk ayahnya begitu pula dengan Noah. Mereka tak sadar jika Mesya baru saja akan menjenguk ibu kandungnya.


Betapa sakitnya saat melihat sang ayah yang sangat menyayangi Clara, bahkan dirinya belum pernah merasakan kelembutan ayahnya setelah dia remaja.


Brak!


Kotak kue yang Mesya pegang terjatuh, air matanya luruh entah sesak yang ia rasakan membuatnya terdiam.


Clara dan Noah terkejut, terlebih Noah yang melihat putrinya yang sedang menangis. Tanpa pikir panjang dia langsung mengejar putrinya yang telah berlari pergi.


"MESYA! DENGARKAN AYAH NAK!" teriak Noah.


Mesya tetap berlari, bajkan kini dia telah berlari di jalan raya. Bahkan Noah tetap mengejarnya.


"Jika memang ayah lebih memilih Clara menjadi anak ayah, kenapa harus ada aku yah ... kenapa aku harus ada di kehidupan ayah dan bunda," batin Mesya


Mesya berlari ke arah tengah jalan, dia tak menyadari jika ada mobil yang melaju kencang ke arahnya.


"AAAAA!"


BRUGH!


"MESYAAAA!" teriak Noah dan Clara.


Mesya terpental hingga trotoar, darah mengalir dari pelipisnya. Dia terbatuk dan memejamkan matanya.


Noah dan Clara menghampiri Mesya, mereka menangis melihat kondisi Mesya yang begitu mengenaskan.


"Mesya maafin gue Mes, lu salah paham hiks ... ayah sayang sama lu ... lu mau kan kasih sayang ayah lagi? Tapi gue mohon lu harus bertahan," panik Clara.


Mesya menatap ayahnya, dia mengulurkan tangannya yang berdarah pada pipi Noah.


"Bener ka-kata orang, ketika kita te-telah ... uhuk! ti-tiada ... ba-baru ra-rasa kehilangan itu ... bena-benar nya ... nyata," lirih Mesya.


"Gak sayang hiks ... ayah sayang Mesya, ayah sayang sekali dengan Mesya. Bertahan yah sayang, ayah mohon ... apapun untuk Mesya, ayah akan berikan." isak Noah sambil memegang tangan putrinya yang ada di wajahnya.


Sedangkan Clara menelpon pihak rumah sakit untuk membawa ambulans, dia harus cepat menangani Mesya.


"A-ayah me-menyayangi Me-mesya?" tanya Mesya.


Noah mengangguk keras, dia tak dapat menahan melihat kondisi putrinya yang seperti ini.


"Me .. Mesya, mau dengar ... ayah bilang sayang ... uhuk! sama Mesya," lirih Mesya.


Noah memejamkan matanya, dia tambah mengeratkan genggamannya pada tangan sang putri.


"Ayah ... ayah sayang Mesya, putri kecil ayah," isak Noah.


Mesya tersenyum, tak lama kelopak matanya tertutup yang mana membuat Noah terkejut. Begitu pula dengan melemasnya tangan Mesya yang ada di pipinya.


"MESYA! BANGUN SAYANG!" panik Noah sambil menepuk pipi sang anak


Tak lama ambulan datang, dengan segera perawat membawa Mesya ke dalam ambulan. Noah dan Clara pun ikut masuk ke dalam ambulans.


Noah tak henti-hentinya memegangi tangan Mesya, sungguh hatinya hancur ketika melihat darah dagingnya terbaring lemah.


Setibanya di rumah sakit, para petugas medis pun langsung membawa Mesya ke ruang oprasi.


Noah menunggu dengan cemas, begitu pun dengan Clara.


"Yah, apa kita harus mengabari bunda?" tanya Clara.


Clara mengangguk, dia juga khawatir apalagi sang bunda memiliki penyakit darah rendah.


Noah menduduki dirinya di kursi tunggu, dia menatap sendu tangannya yang di penuhi darah sang putri.


"Ayah mohon nak ... bertahanlah ... bertahanlah ...," lirih Noah.


***


"Eh, si Mesya mana dah! bener-bener yah tuh anak, ngilang gak bilang - bilang. Terus gimana nih? mau nunggu si Mesya, apa mau langsung balik ke asrama? kita izin cuma ampe sore loh," ujar Ica pada kedua temannya yang masih bermain ponsel.


Lia terlebih dulu mengalihkan pandangannya ke arah Ica, dia menghela nafasnya pelan.


"Tadi Mesya izin mau kemana gak?" tanya Lia.


"Mana gue tau, kita kan tadi lagi sibuk nyari makanan. Nah, pas gue balik si Mesya udah ilang gak tau kemana," terang Ica.


"Lu telpon deh ca, gue takut gerbangnya dah di tutup. Masa iya kita harus nginep di luar," ujar Viola memberi saran.


Ica mengangguk, dia mencoba menelpon Mesya. Namun, tak ada yang mengangkatnya.


"Gimana?" khawatir Lia.


"Gak di angkat," ujar Ica.


Lia tambah panik, bahkan Viola pun juga. Tiba-tiba Ica kembali menelepon tapi bukan ke Mesya, melainkan jendral besar yang tak lain adalah Noah.


"Halo,"


"Halo, maaf jendral ini saya Ica. Apakah anda tahu dimana Mesya berada? soalnya kami ingin balik ke asrama, tapi Mesya gak tau kemama," ujar Ica.


"Mesya ... Mesya tadi kesini, dia kecelakaan dan saat ini ada di ruang oprasi," ucap Noah dengan suara bergetar.


Ica membulatkan matanya, dia baru teringat jika Mesya bilang ibunya di rawat di rumah sakit dekat akademi. Untuk itu dia segera mematikan ponselnya dan masuk ke dalam mobil.


"Eh ca, gimana?" panik Lia.


"Kalian cepet masuk, kita harus ke rumah sakit. Mesya kecelakaan," ujar Ica dan menyalakan mesin mobil.


Viola dan Lia pun masuk, mereka sungguh terkejut dengan apa yang Ica beritahukan.


Lia mengirim pesan pada kembarannya untuk mengizinkan mereka. Sepertinya mereka akan pulang hingga larut malam.


Selang berapa menit mereka sampai di urmah sakit, mereka seegra keluar dan masuk ke dalam rumah sakit. Tiba-tiba saja ponsel Lia berdering yang mana membuat dia menghentikan langkahnya.


"LIA! ayo!" seru viola.


"Duluan aja!" ucap Lia.


Viola pun mengikuti Ica, Sedangkan Lia menjawab telpon yang ternyata dari Ezra.


"Halo,"


"Halo ay, kok suaranya ngos-ngosan gitu? kamu abis latihan?" bingung Ezra.


"Gak ... aku lagi di rumah sakit." jawab Lia sambil berjalan.


"DI RUMAH SAKIT? KAMU SAKIT AY? AKU PULANG YAH?! panik Ezra.


Lia menghentikan langkahnya, dia menghela nafasnya pelan untuk mengontrol nafasnya.


"Bukan aku yang sakit, tapi Mesya yang kecelakaan. Udah yah kak, nanti aku telpon lagi. See you," ujar Lia dan mematikan ponselnya.


Lia segera menuju resepsionis untuk bertanya dimana ruang oprasi Mesya, tetapi keributan membuat langkahnya terhenti.


"INI SEMUA GARA-GARA LU! COBA AJA LU GAK EGOIS MEREBUT SEMUA KEBAHAGIAN MESYA TERMASUK ORANG TUANYA, PASTI DIA GAK BAKAL KAYAK GINI! LU PARASIT TAU GAK! MUNGKIN ORANG TUA LU NGEBUANG LU KARENA LU BEBAN BAGI MEREKA DAN KENYATAANNYA EMANG BEGITU!" teriak Ica.


Lia terkejut ketika melihat Clara yang menangis dan Ica yang membentaknya. Bahkan Viola dan Noah berusaha menghentikan Ica.


"Jadi ... Clara dan Mesya ...,"? gumam Lia.


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.