
"Gimana? kalian gak papa?" panik Zidan.
Ezra keluar dari mobil, di melihat mobil papahnya yang menabrak pembatas jalan.
"Ck, kalau gak bisa bawa mobil biar yang lain!" kesal Ezra sambil menatap papahnya yang keluar dari mobil.
"Maaf, tadi papah gak konsen," ujar Zidan.
"Udah sini biar Ezra yang bawa!" ujar Ezra.
Zidan mengangguk, dia berganti tempat duduk dengan Ezra. Kali ini Ezra yang menyetir mobil itu dengan pelan.
***
Alden dan Amora tengah menunggu Lia bangun, mereka akan pulang tapi setelah Lia sadar.
"Mas, kamu tidak boleh seperti itu. Bagaimana juga Ezra suami dari Lia, dia butuh suaminya di saat-saat kehamilan," bujuk Amora.
Alden menatap lurus ke arah putrinya, dia beralih menatap sang istri yang tengah berusaha membujuknya.
"Apa aku salah menikahkan mereka?" tanya Alden.
Amora menggeleng, dia mengelus baju suaminya berusaha untuk memberi ketenangan.
"Tidak, kamu tidak salah. Mereka telah berjodoh, aku yakin Ezra suami yang tepat untuk putri kita. Hanya saja rumah tangga mereka sedang di terjang masalah-masalah, mereka harus melewati masalah itu," terang Amora.
Alden menatap Amora berkaca-kaca, dia mengambil tangan istrinya dan menggenggamnya pelan.
"Mereka menikah baru beberapa bulan, tapi mengapa masalah bertubi-tubi menghampiri mereka? kenapa ujian mereka seberat ini?" lirih Alden.
"Mas, ujian itu untuk membuat seseorang semakin kuat. Lihat Lia, dia menjadi tegar menghadapi masalah karena ada Ezra di sebelahnya. Sama seperti kita dulu," ujar Amora.
Lio hanya mendengarkan percakapan orang tuanya tanpa berniat berbicara untuk memberi saran, menurutnya semua yang terjadi hanyalah kesalahan mereka masing-masing. Manusia memang tak terluput dari salah.
"Eunghh," lenguh Lia.
Alden dan Amora sontak saja mendekati brankar Lia, mereka tersenyum ketika putrinya telah membuka matanya.
"Kak Ezra," lirih Lia.
Alden menatap Amora begitu pula sebaliknya, sehingga Amora memaksa senyumnya untuk menenangkan Lia.
"Ezra sedang menyelesaikan masalahnya, kau tenanglah. Habis ini kita pulang," bujuk Amora.
Lia tampak terdiam, dia ingin menduduki dirinya. Tapi Alden menahan bahunya.
"Jangan, tiduran saja. Kau harus bed rest karena kandungan mu lemah," ujar Alden.
Lia terkejut, dia menyentuh perutnya. Dia hampir lupa jika dirinya tengah mengandung dan merasakan sakit luar biasa tadi.
"Lio, panggilkan dokter. Kita akan bawa Lia pulang sekarang," titah Alden yang langsung di laksanakan oleh Lio.
Lia panik, dia merasa jika pulang yang di maksud sang daddy adalah ke mansion Wesley.
"Kak Ezra gimana dad?" panik Lia.
"Tadi mommy sudah bilang bukan? Ezra masih meluruskan masalahnya, sekarang kita pulang," ujar Alden.
Lia mengangguk walau ragu, dirinya masih kepikiran dengan sang suami. Masalah rumit yang suaminya hadapi dia tahu jika itu berat.
Tak lama dokter masuk, dia mendekati brankar Lia dan memeriksa Lia.
"Apakah perutnya masih terasa sakit?" tanya sang dokter.
"Sedikit," jawab Lia seadanya.
Dokter itu mengangguk dan menoleh menatap Alden. Dia berdehem sebentar untuk berbicara dengan Alden.
"Kita akan mempersiapkan kepulangan putri tuan," ujar sang dokter.
Alden mengangguk, dia menatap istrinya untuk memberi isyarat bahwa dirinya akan mengikuti dokter untuk mempersiapkan semuanya.
"Pergi lah," ujar Amira.
Alden dan dokter keluar, sementara Lio dia membantu kembarannya untuk minum karena Lia merasa sangat haus.
"Bagaimana? sudah?" tanya Amora ketika melihat Alden yang sudah kembali.
"Sudah, bersiap lah. Sebentar lagi kita akan pulang," pinta Alden.
Selama perjalanan pulang, Lia hanya diam. Sesekali dia mengobrol dengan Lio tapi itu pun hanya singkat.
Tak terasa mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di mansion, Alden segera turun untuk mengambil kursi roda Lia yang ada di bagasi mobil.
Lio pun menggendong kembarannya dan menaruhnya di kursi roda yang telah Alden siapkan.
"DADDY! MOMMY!" seru Laskar yang berlari ke arah mereka.
"Ada apa? kenapa panik begitu?" bingung Amora.
Laskar sampai di hadapan mereka, dia mengatur nafasnya dan menatap Amora.
"Kenapa lama sekali? Ravin, Cia dan Kino tengah menangis karena kalian tak datang-datang," ujar Laskar.
Amora panik, dia segera berlari masuk dengan diikuti Laskar. Sementara Alden mendorong kursi roda Lia dan Lio tengah berjalan di samping sang daddy.
"Apa mereka lupa membawa putra mereka pulang dad?" bingung Lio.
"Jangankan putra mereka, masalah mereka pun mereka tinggalkan. Dasar, keluarga bermasalah!" gerutu Alden.
"Dad! gak boleh seperti itu, setiap orang punya masa lalu," peringat Lia.
"Iya-iya terserah dirimu," jengah Alden karena putrinya selalu membela suaminya.
***
"Keadaannya sudah membaik, dia sudah sadar dan kalian bisa melihatnya," ujar sang dokter.
Zidan dan yang lainnya menghela nafas. Keadaan jacob membaik, mereka masuk kedalam kamar jacob dan melihat Jacob yang sudah membuka mata dan menatap mereka dengan senyum di balik masker oksigennya.
"Daddy," lirih Zidan.
"Zidan ... maaf ... maafkan daddy," lirih Jacob.
Ezra hanya menatap datar Jacob, dia ingin keluar dari sana. Namum suara Jacob membuatnya terhenti.
"Ezra," lirih Jacob.
Ezra menoleh, dia mendekati ranjang Jacob dan menatap dalam kakeknya itu.
"Maafkan kakek, kakek telah menekanmu untuk menjadi apa yang kakek mau hingga kau amnesia kakek tetap memaksamu untuk memenuhi keinginan ku. Maafkan kakek," sesal Jacob.
Ezra menatap mata Jacob dengan serius, dia mencari ketulusan dan penyesalan dalam mata Jacob. Memang dia menemukannya, tapi dirinya masih kecewa terhadap sang kakek yang menjadikannya boneka.
"Ezra gak pernah benci kakek, Ezra hanya kecewa dengan sikap kakek selama ini. Sekarang, Ezra telah menjadi suami dari cucu mantan istri kakek. Restui hubungan kami kek," ujar Ezra.
Jacob terkejut, tapi sedetik kemudian dia tersenyum dan menatap Ezra dengan senyum tulus.
"Kakek merestui kalian," ujar Jacob.
"Terima kasih kek, dan juga Ezra ingin meminta izin kalian. Bahwa sejak hari ini, Ezra akan melepas nama Elvish dari nama belakang Ezra,"
Mereka semua mematung terlebih Kirana yang merasa sangat bersalah.
"Ezra kau ...,"
"Pah, Ezra gak bakal putus hubungan ayah dan anak. Tapi Ezra bakal keluar dari keluarga Elvish, dan untuk papah ... jalani kehidupan baru papah bersama istri tercinta papah itu. Aku gak bisa pah, kenyataan ini sungguh menyakitkan," sela Ezra.
Zidan mematung, dia sadar seberapa dalam dirinya menyakiti sang putra.
"Ezra ini bukan salah bundamu, bundamu itu ...,"
"Stop pah, sudah cukup penjelasan kalian. Ezra sudah lelah dengan masalah ini, selamat berbahagia untuk kalian. Dan untuk kakek, semoga kakek lekas sembuh," ujar Ezra dan pamit pergi menghiraukan panggilan Zidan dan Kirana.
_______________
HAI🤗.
Memang banyak dari kalian yang kecewa entah itu alurnya ribet atau apalah. Tapi ... puncak tersulit membuat novel itu ya membuat kalian puas dengan alurnya.
Sorry kalau aku masih banyak kekurangan dalam membuat novel, karena aku pun masih banyak belajar😅😅.
Aku hanya bisa jadikan yang telah lalu sebuah pelajaran, aku akan sedikit-dikit belajar membuat alur yang gak ribet dan ringan.
Mungkin cerita Aqila dan Frans hanya cerita ringan kehidupan mereka gak seperti Ezra dan Lia yang di bumbui dengan rahasia😉😉😉