
"Raisa, kamu kan sekarang di rumah nih. Bantuin papah ngurus mafioso yah?" pinta Geo di sela sarapannya.
Ica yang sedang sibuk memakan sarapannya, akhirnya mengalihkan perhatiannya. DIa menatap papahnya dengan tak suka.
"Gak mau ah, kan ada abang!" tolak Ica.
Frans yang sedang fokus makan menatap tajam adiknya, dia sudah mengurus perusahaan di tambah mafia seorang diri. Apa harus adiknya tak mau membantunya?
"APA? MAU MINTA DI COLOK MATANYA?!" sentak Ica sambil mengacungkan garpu di depan Frans.
"Ck," decak sebal Frans.
Ica kembali memakan makanannya, dia menghiraukan tatapan Frans padanya dan kembali fokus pada makanannya.
Ane memandang suaminya, dia menggeleng pelan agar tak suaminya tak menyuruh Ica. Bagaimana pun Ica merupakan perempuan, dia khawatir pada anak perempuannya itu.
"Tapi yang," melas Geo.
"Makan!" tekan Ane.
"Huh ...,"
Ane terkekeh melihat raut di tekuk suaminya, sementara Ica sudah tersenyum senang sambil mengacungkan jempol pada sang mamah.
Setelah sarapan, Frans pamit ke kantor. Sedangkan Ica ke kamarnya. Kini tinggal Ane yang sedang membereskan meja makan.
"Honey," panggil Geo.
Ane menoleh, dia tersenyum tanpa menghentikan aktifitasnya. "Ya,"
"Kamu ngapain sih beresin meja makan, kan banyak maid. Apa kurang?" kesal Geo.
"Apa sih mas, ini cuma bersihin meja doang. Gak usah lebay deh!" kesal Ane.
Geo menghela nafasnya kasar, dia menarik lap yang ada di tangan istrinya dan berteriak memanggil maid. "BIBI! BERESIN MEJANYA!"
"Udah kan? sekarang ikut aku," pinta Geo.
Ane menghela nafasnya, dia terpaksa menurut suaminya yang membawanya ke kamar.
"Ada apa sih mas?" tanya Ane ketika mereka telah di kamar.
"Aku mau bahas sesuatu sama kamu, ini tentang Leon," ujar Geo.
Ane mengerutkan keningnya. "Leon? ada apa dengannya?"
"Gak mungkin kita seperti ini terus, kau harus jelaskan semuanya pada dia. Sebelum dia tahu semua faktanya dan akan membenci kalian," terang Geo.
"Apa mas? apa yang harus di jelaskan? hubunganku dengan Zidan terlalu rumit, bahkan hingga kini aku masih merasa bersalah sama Kirana," lirih Ane.
Gei mengacak rambutnya frustasi, padahal istrinya yang tersakiti. Tapi masih saja menyalahkan dirinya.
"Bukan salah kamu, tapi salah dia yang jadi selingkuhan Zidan!" bentak Geo.
"Kamu jadi perempuan mikir dong, yang di sakiti kamu, yang kehilangan putra itu kamu, yang harus menanggung sakit itu kamu. Bukan Kirana!"
"Kamu seharusnya.
"AKULAH YANG MENJADI PENGGAGGU DI HUBUNGAN MEREKA MAS!" teriak Ane dengan nafas memburu.
Geo terdiam, apa ada hal yang tidak di ketahui tentang istrinya? apa ada hal yang tidak dia tahu?
"Apa maksudmu?" tanya Geo pada istrinya yang kini sudah terisak.
"Aku ... akulah mantan istri kedua mas Zidan hiks ...,"
JDEEERRR!
Seketika dunia berasa runtuh, Geo tak pernah tau bahwa Ane adalah mantan istri kedua Zidan. Yang dia tahu jika Ane istri pertama Zidan dan Zidan berselingkuh dengan Kirana.
Flashback on.
Pernikahan Ane dan Zidan di karenakan perjodohan, tapi walau begitu mereka berusaha untuk mempertahankan rumah tangga mereka.
"Diana, aku mau ke kantor dulu. Kamu hati-hati di rumah, jangan kerja capek-capek. Ingat, kamu lagi hamil," titah Zidan pada Diana yang tengah sibuk membereskan kasur.
Diana menoleh, dia mengangguk dan tersenyum. Dia mendekat pada Zidan dan memasangkan suaminya itu dasi.
"Aku pergi ke rumah temen boleh?" izin Diana.
"Boleh, asal anak aku gak papa," sahut zidan.
"Hm ... aku bisa pastiin anak kita gak papa,"
Setelah selesai, Zidan pamit berangkat ke kantornya. Tinggal Diana yang harus bersiap.
Selesainya bersiap, Diana akan berangkat. Namun, dia melihat berkas Zidan yang masih tertinggal di atas nakas.
"Mas Zidan kebiasaan deh, selalu aja ada yang ketinggalan," gerutu Diana.
"AKu bawa ke kantornya aja deh, sesekali ke kantornya mas Zidan gak marahkan? lagian juga kasihan mas Zidan harus balik lagi," gumam Diana.
Diana berniat membawa berkas itu ke kantor Zidan, dengan di temani supir Diana pergi ke kantor Zidan.
Tak berselang lama, mobil yang Diana tumpangi sudah sampai di parkiran kantor suaminya. Dia langsung ke luar menuju ruang suaminya.
"Selamat pagi bu, ada yang bisa saya bantu?" tanya resepsionis tersebut pada Duana.
"Oh maaf, saya ingin tanya dimana ruangan Zidan Elvish?" tanya Diana.
Diana baru pertama kalinya ke kantor Zidan, sebelumnya dia hanya menunggu di mobil dan menunggu suaminya. Tapi kali ini dia baru masuk untuk membawa berkas suaminya karena dia tak tega suaminya balik lagi hanya untuk mengambil berkas.
"Kalau saya boleh tau, ibu ada urusan apa yah sama CEO?" tanya wanita tersebut.
"Saya istrinya mbak, saya ingin memberikan berkas ini pada suami saya,"
Jawaban Diana membuat resepsionis tersebut terkejut, dia menatap Diana dengan intens.
"Ibunya jangan bohong bu, saya kenal betul siapa istrinya tuan Zidan," bingung wanita tersebut.
"Saya gak bohong mbak, ini saya unjukin foto pernikahan kami," ujar Diana dan menyodorkan ponselnya.
Wanita tersebut terkejut, bahkan dia sampai tak bisa berkata-kata.
"Terus, kalau ibu ini istrinya. Terus, yang selama ini dateng siapa dong? kata tuan Zidan istrinya juga?"
"Apa mbak?" kaget Diana.
"Ibu ke lantai 2 nanti disana ada tulisan ruang CEO," ucap wanita itu.
Diana langsung pergi ke tempat yang dimaksud, air matanya kini sudah mengalir mendengar jika ada wanita lain yang mengaku istri suaminya.
Pintu lift terbuka, Diana segera keluar dan mencari ruangan CEO. Setelah menemukannya, Diana akan membukanya tapi pembicaraan suaminya dan seorang wanita terdengar olehnya.
"Kalau Diana tau bagaimana mas?"
"Aku dan dia sudah terikat perjanjian, setelah bayi itu lahir kita akan bercerai dan anak itu bisa menjadi milik aku dan kamu,"
"Kamu tega mas? Diana ibu kandungnya, bukan aku!"
"Kiran, ini tidak akan terjadi jika daddy tak menjodohkanku dengan dia."
Diana tak tahan lagi, dia langsung membuka pintu tersebut dan menatap tajam keduanya dengan air mata yang mengalir.
"Oh, jadi gitu. Aku kira setelah perhatian kamu selama ini aku kira kamu bakal batalin perjanjian itu, ternyata aku salah," lirih Diana.
Kirana dan Zidan terkejut, dia tambah posisi mereka yang memang sangat dekat karena Kirana yang berada di pangkuan Zidan.
Kirana bangkit dari duduknya, dia menatap Diana dan Zidan secara bergantian.
"Diana ini gak ...,".
" Waw, pelakor ini sampai tau namaku tapi aku gak pernah tau dia siapa? KAU GILA MAS!" sentak Diana.
Kirana hanya diam, begitu pula dengan Zidan yang mulai berdiri dan mendekati Diana.
"Diana aku bisa jelaskan kalau ...,"
"APA? APA YANG HARUS KAMU JELASKAN SETELAH KALIAN TERANG-TERANGAN BEMESRAAN DENGAN PELAKOR INI?!" teriak Diana sambil menunjuk Kirana.
Diana mendekati Kirana yang merasa bersalah, dia menunjuk wajah Kirana dengan menahan amarah.
"KAMU! kamu sebagai wanita seharusnya ngerti sakitnya ketika suamimu menduakanmu. Seharusnya kamu paham bukannya merendahkan derajat wanita dengan menjadi selingkuhan suami orang!"
"Oh, atau bisa di sebut Pe-la-kor?"
"CUKUP DIANA!" bentak Zidan.
Deghh!
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤