
Cahaya pagi masuk ke dalam kamar Lia, sehingga wanita hamil muda itu terasa terusik akibat silau matahari. Di melenguh pelan dan mengerjapkan matanya menyesuaikan cahaya yang masuk.
"Eunggghhh," lenguh Lia.
Saat nyawanya sudah terkumpul sempurna, Lia terkejut melihat wajah Ezra yang berada tepat di depan wajahnya.
Sontak saja Lia memundurkan kepalanya, dia mengucek matanya untuk memastikan apakah ini beneran suaminya ataukah hanya halusinasinya
"Kak Ezra," lirih Lia.
Lia melihat tangan Ezra yang melingkar di perutnya, dia tersenyum dan balik memeluk suaminya.
Wajah tampan Ezra membuat Lia candu untuk terus melihat suaminya, bahkan dia dengan berani mengelus rahang tegas sang suami.
"Ganteng banget sih anak orang, tapi sayang jodoh gue," gumam Lia.
Ezra yang memang sedari tadi sudah terbangun tak sanggup lagi menahan senyumannya.
"Ka-kak Ezra, ko-kok senyum?" kaget Lia karena baru menyadari jika Ezra sudah bangun dari tidurnya.
Ezra membuka matanya, wajah cantik istrinya mengawali pagi harinya.
"Memangnya aku gak boleh senyum? kalau cium, boleh?" jahil Ezra.
Lia sangat malu, dia menarik selimut dan menutupi wajahnya. Ezra pun ikut masuk dalam selimut yang mana membuat Lia memekik histeris.
"IIIIHHH KAK EZRAAA!" teriak Lia.
Ezra keluar dari selimut, dia mengusap bibirnya pelan.
"Morning kiss sayang," ujar Ezra dan bangkit dari ranjang.
Lia melepas selimutnya, dia menatap Ezra dengan tajam. Sementara Ezra hanya santai memakai kaosnya dan berjalan menuju kamar mandi.
"Cari kesempatan mulu," gerutu Lia.
Lia menolehkan kepalanya, dia terkejut mendapati beberapa koper yang berada di pojok lemari.
"Itu kan koper gue sama kak Ezra, kok bisa ada disini? apa kak Ezra mau ngajakin gue jalan-jalan kali yah, tapi ... masa barang bawaannya kayak berasa mau pindah rumah?" gumam Lia.
Lia turun dari ranjang, dia mendekati koper itu dan membukanya. Netranya menelisik isi koper tersebut, banyaknya barang Ezra bahkan ada beberapa buku dan juga benda kecil yang ada di kamar Ezra.
"Ini mah bukan jalan-jalan, tapi pindah rumah," gumam Lia.
Cklek!
Lia menoleh, dirinya mendapati sang suami yang baru keluar dati kamar mandi.
"Kamu kok turun dari ranjang? ayo cepat naik lagi, nanti daddy marah." ujar Ezra seraya mendekati Lia.
Lia tak menggubrisnya, dia masih memperhatikan koper itu.
"AAAAA!" teriak Lia kala tubuhnya di gendong oleh Ezra.
"Turunin kak! itu kenapa kopernya banyak banget, kenapa barang kak Ezra dan Lia di bawa semua?" panik Lia.
Ezra hanya diam, dia membawa masuk Lia ke kamar mandi untuk membantu istrinya cuci muka dan gosok gigi.
"Gosok gigi dan cuci wajahmu, apa kau tak lihat wajahmu sebelas dua belas dengan badak?" ujar Ezra setelah menduduki Lia di meja westafel.
Lia menutup wajahnya, dia menoleh ke belakang dan menghadap ke cermin.
"Masa sih? gak ah, masih mulus cerah dan glowing,"
"Pake apa tuh neng?"
"Pake pemutih baju mas,"
Tawa mereka pecah, ada-ada saja kelakuan pasutri ini.
Setelah beres, Ezra kembali membawa Lia ke ranjang. Dia akan mengganti baju istrinya. Tapi saat akan mengangkatnya Lia malah menepis tangannya.
"Kamu mau ngapain?" heran Lia.
"Ganti baju kamu, semalem kamu keringetan jadi takutnya masuk angin," ujar Ezra.
"AKU BISA SENDIRI!"
Ezra terkekeh mendengar pekikan Lia, padahal mereka sudah sebulan lebih menikah dan Lia masih malu-malu padanya.
"Terus ngapain masih disini?" heran Lia.
"Pantau kamu," ujar Ezra dengan santai.
"AKU MALU! KAK EZRA KELUAR SANA!" kesal Lia.
"Loh kok malu? aku udah liat semuanya, rasain juga udah," jahil Ezra.
Lia kesal, dia mengambil ponsel Ezra yang berada di tempat tidur dan akan melemparnya ke arah Ezra. Tapi Ezra lebih dulu keluar meninggalkan Lia yang menatapnya kesal.
"Huh ... huh ... awas aja!" kesal Lia.
TRING!
Lia terkejut mendengar ponsel Ezra yang berbunyi menandakan pesan masuk. Lia menengok ke pintu yang tertutup, setelah itu dia kembali menoleh menatap layar ponsel Ezra.
"Papah?" gumam Lia.
Lia membuka pesan dari Zidan, dia membacanya tapi pada saat kata terakhir Lia membulatkan matanya.
"Kak Ezra ...," lirih Lia.
***
"Ya ini maksudnya apa?" datar Lia.
Setelah berganti pakaian, Lia memanggil Ezra. Ezra yang kebetulan sedang berjalan ke kamar mereka mendengar panggilan istrinya.
"Iya, itu semua bener. Aku telah memutuskan menghapus marga dari Elvish dari namaku, papah masih saja menyuruhku pulang tapi ini pilihanku ay. Aku mau memperbaiki kehidupanku dan menghapus mimpi buruk itu Aku ingin membuka lembaran baru bersama mu," ujar Ezra.
Mata Lia berkaca-kaca, dapat dia lihat jika Ezra sangat kecewa dengan semuanya.
"Jangan menangis ay, kasihan bayi kita akan ikut menangis. Please mommy, don't cry," lirih Ezra.
Lia yang tadinya akan menangis tiba-tiba saja dirinya tersenyum, dia memeluk Ezra yang kini duduk di sampingnya.
"Sekarang kita sarapan, mereka telah menunggu kita turun," ajak Ezra.
Ezra menggendong Lia, dia tak membawanya ke kursi roda karena Ezra mau menggendong istrinya saja dan Lia pun tak keberatan. Mungkin baby nya ingin sang ibu di gendong oleh daddynya.
"Waduh waduh, berasa kayak pengantin baru yah. Padahal pengantin jamuran," sindir Lio yang sedang memakan ayamnya.
Lia melirik sinis Lio. "ILI? BILANG DOMBLO!"
Bukan Lia yang bilang melainkan makhluk kecil yang kini berada di pangkuan sang mommy.
"Eh mulutnya, mau abang sumpel cabe huh?" kesal Lio.
"Hahaha, yang di katakan adikmu benar Lio. kapan nih kamu bawa mantu mommy ke sini?" tanya Amora.
"Masih nyari mom," ujar Lio.
"Huh bukan macih nyali itu mommy, tapi nda laku. Iya kan abang?" tanya Cia dengan wajah di buat tak bersalah.
Mereka semua tertawa, kecuali Lio yang menggerutu kesal sambil memakan ayamnya.
Lio menatap tajam Cia, sementara Cia hanya menaikkan satu sudut bibirnya dan menatap Lio tajam.
Tatapan mereka belum terputus, semua orang kini sibuk dengan urusan makannya. Kecuali Cia dan Lio yang berperang tatapan.
"Abang," gumam Cia tanpa suara.
Lio hanya melihat apa yang akan di lakukan adiknya itu, tiba-tiba saja netranya membulat sempurna melihat apa yang di lakukan Cia.
"EH BEG0 LU BELAJAR ITU DARI MANA?! MINTA DI SANTET NIH ANAK!"
teriak Lio membuat semua orang beralih menatap Cia, sedangkan Cia sudah menurunkan tangannya kembali dan menatap orang-orang dengan polos.
"Cia nda lakuin apa-apa kok," lugu Cia.
"LIO, MULUTMU MAU DADDY JAHIT HAH?!" bentak Alden karena dia takut Ravin dan Cia meniru ucapan Lio.
"Dih, anak daddy tuh! masa dia beginiin ...,"
Cia menatap tajam Lio, dia memicingkan matanya seakan-akan ingin memukul habis Lio.
"Lio ... gak jadi," cicit Lio
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.