
"Ada apa? kenapa kau menemuiku?" heran Ezra.
Frans menatap datar Ezra, dia menumpu kakinya.
"Beri tahu aku cara meluluhkan hati perempuan," pinta Frans.
Mendadak suasana menjadi hening, sedetik kemudian mereka tertawa lepas mengundang pertanyaan dari Frans yang terlihat.
"Kau bertanya padaku? bukankah aku dan kau lebih dulu kau yang menjalin kasih?" heran Ezra.
Frans mengacak rambutnya, dia juga tak mengerti tentang cinta. Menyadarinya pun sangat telat.
"Aku gak tau! aku gak tau apa itu cinta, telat aku nyadarinnya!" sentak Frans.
"Gini bro, kita itu gak bisa mahamin bagaimana sifat wanita. Tapi kita bisa tahu apa hal yang dia suka dan benci dari tatapan dia, coba kamu lihat apa yang dirinya gak suka dari tatapannya," ujar Ezra.
Frans tampak terdiam, dia menoleh menatap Kenan yang menahan tawanya.
"Non Aqila tuh selalu natap satu objek yang paling dia gak suka," ujar Kenan.
"Apa?" serentak Ezra dan Emily.
Kenan melirik Frans yang mendengus kesal. "Tuh, suami non Qila sendiri,"
Tawa Ezra dan Emily pecah, sungguh mereka tak habis pikir dengan Frans.
"Kau harus hati-hati Frans, kau punya masa lalu yang buruk. Jangan sampai Qila terpincut dengan pria lain yang lebih baik darimu," kekeh Ezra.
Ezra melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 12 siang, istrinya harus makan dan minum vitamin penguat janin.
"Aku harus balik, Lia pasti sudah bangun," ujar Ezra pada Frans. Setelah Ezra meninggalkan Frans, Frans pun pulang bersama Kenan meninggalkan Emily yang sedang santai dengan ponselnya.
"Emily," panggil Ezra yang memunculkan kepalanya di pintu.
"Eh iya tuan?" tanya Emily sambil menoleh menatap Ezra.
"Belikan saya dan istri saya makan siang," ujar Ezra.
Emily mengerutkan keningnya, "Sate mau? kan di deket kantor cuman ada restoran sate, kalau cafe masih jauh,"
Ezra terdiam, dia tengah menimbang ucapan Emily.
"Boleh deh," ujar Ezra.
Emily pun mengangguk, dia berdiri dan beranjak dari sana melaksanakan permintaan bosnya.
Sedangkan Ezra kembali masuk ke kamarnya, dia melihat istrinya yang sudah duduk dan memainkan game di ponsel dirinya.
"Aku pinjam ponselku sebentar boleh?" pinta Ezra.
"Bentar aja tapi," ucap Lia sambil menyerahkan ponsel suaminya.
Ezra mengangguk, dia mengambil ponselnya sementara Lia memainkan jas Ezra.
"Kak," cicit Lia.
"Hm,"
"Tadi perut aku kepentuk, gak sakit tapi dedeknya pasti kaget,"
Ucapan Lia membuat Ezra secara mengejutkan menoleh menatap istrinya itu. Dia menaruh ponselnya dan memegang perut sang istri.
"Sakit gak? ada yang kerasa gak nyaman gak?" panik Ezra.
Lia menggeleng pelan, Ezra kembali mengambil ponselnya dan mengubungi temannya.
"Halo Desi, lu dokter kandungan kan? nah, gue mau lu periksa istri gue sore ini bisa? harus bisa, gue ke rumah sakit jam empat nanti,"
Ezra mematikan ponselnya, dia menoleh menatap istrinya. Seketika keningnya mengerut kala melihat mulut istrinya yang terbuka lebar.
"Kenapa?" heran Ezra.
"Kamu itu kok bisa-bisanya maksa orang begitu, aku yakin pasti dokter itu belum bicara apapun," gumam Lia.
Ezra tersenyum, dia mengelus pipi istrinya dengan lembut.
***
"Yaaaaangg!"
Ezra terkejut, dia yang sedang mengambil botol air akhirnya kembali menuju sofa yang dimana istrinya akan makan disana.
"Apa ay?" heran Ezra.
"Kamu beliin aku makan siang sate?" tanya Lia.
Ezra mengangguk, memangnya apa ada yang salah dengan makanannya.
"Kenapa sate hiks ... kasihan ayamnya di jadiin sate hiks ... kamu kalau di jadiin sate gak mau kan hiks ...,"
"Terus aku buang satenya?" tanya Ezra.
"HIKS HUAAAA! KOK DI BUANG HIKS! UDAH DI SATE TERUS DIBUANG, TEGA KAMU MAS!"
Ezra terbengong, kenapa istrinya menjadi mellow begini. Dia memijat pangkal hidungnya, sungguh memiliki istri yang mudah berubah mood seperti ini sangat membuat Ezra pusing.
"Terus aku musti apa?" gemas Ezra.
"Kuburin hiks ... kasihan hiks ...," isak Lia.
Ezra mengangguk pasrah, dia membungkus kembali sate itu dan membawanya keluar ruangannya.
"Eh tuan Ezra, gak makan tuan? padahal satenya enak loh," ujar Emily yang sedang menyantap sate di meja kerjanya.
Ezra menghampiri Emily, dia menyerahkan bungkus sate itu yang mana membuat EMily bingung.
"Kamu suka satenya?" tanya Ezra.
"Suka banget tuan, enak banget. Emang beda yah sate bintang lima sama sate kaki lima,"
Ezra menggelengkan kepalanya, dia menyerahkan bungkus sate itu di meja kerja Emily.
"Istri saya gak mau, dia malah suruh saya nguburin satenya. Lebih pada mubadzir mending kamu makan atau gak kasih ke orang lain," ujar Ezra.
Ezra berbalik menghiraukan ucapan terima kasih Emily yang sanagt antusias.
Cklek!
"Ayamnya udah di kubur?" tanya Lia.
"Udah, terus jadinya kamu mau makan apa?" tanya Ezra sambil mendekati istrinya.
Lia tampak berpikir, Ezra pun menghela nafasnya kasar dan akan duduk di samping istrinya. Tapi kegiatannya terhenti ketika mendengar ucapan sang istri.
"Aku mau makan ayam bakar,"
Otak Ezra stuck, dia terdiam dengan badan yang akan duduk. Lia pun menatap suaminya bingung, memangnya ada yang salah dari keinginannya.
Ezra menduduki dirinya dengan pasrah, dia memejamkan matanya mengontrol emosinya yang sudah kesal dengan keinginan sang istri.
"Aku salah yah?" lirih Lia karena menyadari aura yang berbeda dengan Ezra.
Ezra membuka matanya, dia mengambil ponselnya dan menelpon suruhannya untuk membelikan yang istrinya mau.
Setelah itu Ezra kembali duduk, dia fokus dengan ponselnya. Sedangkan istrinya, Lia sedang merasa bersalah karena dirinya juga bingung dengan apa yang terjadi pada dirinya.
Tok!
Tok!
Tok!
"Masuk!"
Emily masuk dengan bungkusan di tangannya, dia menyerahkan bungkusan itu pada Ezra.
"Nih pesenannya, tadi tukang ojolnya kesini ngasih beginian," ujar Emily.
Ezra mengambilnya, dia menyerahkan bungkusan itu pada Lia. Lia pun menerimanya dan mulai membukanya.
"Makasih, kamu bisa kembali," ujar Ezra.
Emily mengangguk, dia berbalik pergi tak ingin mengganggu sang tuan muda.
Wajah Lia berubah murung saat melihat isi bungkusan itu, di sana terdapat ayam bagian paha. Dirinya tak pernah suka paha ayam, dia lebih suka sayap di bandingkan paha entah karena apa.
"Kenapa? mau ganti lagi? keburu sore dan anak kita kelaparan," datar Ezra.
"Eh eng-enggak kok, ini Lia mau makan," ujar Lia karena takut tatapan Ezra
Lia pun mulai makan ayam bakarnya, saat satu gigitan masuk dalam mulutnya. Belum juga mengunyahnya Lia merasakan mual luar biasa.
"Hmp!"
Ezra menoleh, dia mengerutkan keningnya saat melihat Lia yang sedang menahan mual.
"Kenapa?" bingung Ezra.
Lia menggeleng, dia membuka botol air dan meminumnya. Sungguh rasanya sangat mual dan dia tak pernah suka.
Ezra yang merasa aneh pun akhirnya makan, tapi dirinya tak menemukan adanya rasa aneh. Tetap rasanya enak seperti biasa.
Lia pun mencoba memakannya lagi karena dia takut Ezra marah, tapi bukannya berhasil dirinya malah mual dan berlari ke kamar mandi.
"HWEK! HWEK!"
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.