Dark Memory

Dark Memory
Tentang Ane



wanita paruh baya baru saja memasuki mansionnya, dia melepas kacamatanya dan berjalan masuk.


"Abis dari mana kamu ane?" tanya seorang pria paruh baya yang tak lain adalah Geo.


wanita paruh baya yang bernama Ane itu terkejut, dia melihat suaminya yang sedang menghampirinya sambil melipat lengan kemejanya hingga siku.


"Oh, hai mas. Tadi kan aku sudah izin kalau jenguk teman aku di rumah sakit," jawab Ane dan menghentikan langkahnya ketika sampai di depan suaminya.


"Rumah sakit dekat akademi Ica? benar?" tanya Geo sambil menaikkan satu alisnya.


Ane menatap takut suaminya, dia mengeratkan pegangannya pada tas limited nya.


"Iy ... iya mas, kok ka-kamu bisa tau sih?" heran Ane dengan gugup.


"Kamu lupa jika setiap kamu kemana-mana, aku selalu perintahkan mafioso buat ikutin kamu?" datar Geo.


Ane tertawa sumbang, dia menggaruk pelipisnya ketika sang suami menatapnya dengan datar.


"A-aku ke sana cuman jenguk temen kok! bener deh, gak bohong," ujar Ane dengan wajah melasnya.


"Bener?" curiga Geo.


"Ish! iya-iya! tadi aku gak sengaja tabrakan sama Lia, istri dari Leon. Terus pas Leon manggil dia aku langsung sembunyi deh," terang Ane.


Geo menghela nafasnya, dia mendekati istrinya dan memeluknya pelan.


"Kenapa kamu gak ketemu sama Leon? bilang kalau kamu sebenarnya masih hidup?" ujar Geo sambil mengelus rambut istrinya.


"Gak mas, cukup sekali waktu itu saja aku udah sangat bahagia," gumam Ane.


"Hahahaha, kau menyelinap masuk saat Leon memasuki kamar itu demi mengambil foto Leon. Dan kau berbicara dengan putramu seperti arwah karena ingin berbicara dengannya bukan? untung saja aku datang tepat waktu dan menyemprotkan bius untuk Leon sehingga dia tidak tau jika ternyata dirimu masih hidup," terang Geo.


Ane terkekeh, benar apa yang di ceritakan suaminya.


Flashback on


"Mas, kita lewat mansion lama mantan suamiku. Siapa tahu Leon ada disana," pinta Ane.


Geo mengangguk, dia mengarahkan mobilnya masuk ke dalam mansion setelah melihat gerbang telah terbuka.


"Mobil siapa itu mas?" bingung Ane.


"Gak tau, coba kita turun dan cek," ujar Geo.


Ane dan Geo turun, mereka melangkah memasuki mansion. Sedikit bingung karena pintu mansion terbuka dan terdengar suara berisik dari salah satu kamar.


Ane mencoba mengendap-ngendap ke kamar tersebut, dia mengintip dan netranya menangkap Ezra yang sedang membuka sebuah kotak besar.


"Leon," lirih Ane.


Menyadari jika Ezra akan keluar, Ane segera bersembunyi. Setelah terlihat Ezra sudah keluar dan berjalan pelan di depannya membuat Ane nekat berbicara dengan Ezra.


"Leon,"


jantung Ane berdegup kencang saat melihat Ezra yang membalikkan badannya dan terkejut melihat wajah Ezra. Rindunya dengan sang buah hati membuatnya ingin menangis.


Mamah ...," lirih Ezra.


Ane tampak tersenyum manis, dia berjalan mendekati Ezra yang tengah menahan air matanya agar tidak keluar.


"Putra mamah sudah besar yah nak, selamat atas pernikahanmu. Makasih Karena kamu telah menjadikan Zanna istrimu, mamah yakin kalian akan bahagia." ucap Ane sambil mengulurkan tangannya mengelus pipi Ezra.


Ezra terdiam, dia memejamkan matanya menikmati sentuhan sang ibu. Sedari lahir dirinya tak pernah merasakannya, dan untuk itu pertama kalinya dia merasakan bagaimana sentuhan sang ibu.


"Leon ... bisa mamah minta sesuatu pada mu nak," tanya Ane dengan lembut.


Ezra membuka matanya, dia mengangguk pelan. Dirinya tak lagi dapat menahan air matanya, sehingga kini air matanya telah mengalir di pipinya.


"Tolong jaga Zanna, jaga keluarga kecilmu. Jangan sakiti dia nak, jaga kepercayaannya untukmu. Jika kau menyakiti dia, sama saja kau menyakiti mamahmu ini. Jangan pernah sekali-kali kamu khianatin dia, sebab ... mamah tiada karena sebuah pengkhianatan," ujar Ane.


"Bukan tiada nak, hampir tiada. Pernikahan kita memang karena perjodohan, tapi mamah ingin keluarga kita utuh. Tapi, cinta pertama papahmu menghancurkan segalanya," batin Ane


Ane melihat ke belakang Ezra, suaminya menyemprotkan bius tepat di depan wajah Ezra sehingga kini pandangan Ezra menggelap, dia terjatuh tak sadarkan diri.


"Pingsan mas, kamu gotong gih ke sofa. Kasihan, dingin lantainya," pinta Ane.


Geo mengangguk, dia membopong tubuh Ezra menuju Sofa.


"Berat banget sih badannya, makan apa nih bocah!" gerutu Geo.


Ane ikut membantu suaminya, akhirnya Ezra berhasil mereka baringkan di sofa.


Ane kembali ke tempat tadi, dia mengambil barang Ezra yang terjatuh dan menaruhnya di bufet.


"Ternyata dia kesini untuk mengambil kenangannya, manis sekali," gemas Ane.


"Honey! balik yuk!" ajak Geo.


Ane mengangguk, dia dan suaminya keluar. Namun, langkahnya terhenti dan segera berbalik.


Ane mendekati Ezra, dia mengelus kepala Ezra dan memberi kecupan pada kening Ezra.


"My baby," lirih Ane.


Geo menatap sendu istrinya, dia tahu jika sang istri sangat merindukan Ezra.


Ane kembali menghampiri suaminya, dia menggenggam tangan suaminya dan menolehkan kepalanya


"Selamat tinggal sayang," lirih Ane.


Flashback Off.


"Kenapa kamu gak kasih tau aja dia sekarang?" tanya Geo sambil menatap istrinya.


"Aku harus bilang apa ke dia? masa iya aku bilang Leon mamah masih hidup? terus kalau dia tanya aku harus jawab apa? aku jawab iya dan dia pasti akan bertanya kenapa mamah tidak menemuiku dan kenapa baru sekarang?" sedih Ane.


Geo mengelus punggung istrinya, dia tau apa yang istrinya rasakan.


"Terus sampai kapan kamu mau menyembunyikan ini semua?" tanya Geo.


Ane melepaskan pelukannya, dia menatap Geo yang juga menatapnya.


"Aku gak tau, aku takut dia membenciku. Lebih baik aku melihatnya dari jauh dari pada harus menerima kebencian putraku," ujar Ane dan berlalu dari sana.


Geo menatap kepergian istrinya dengan sendu, dia sungguh kasihan dengan cerita hidup sang istri.


"10 tahun ... selama 10 tahun kamu koma, tiga tahun kemudian kita menikah karena saling mencintai. Frans yang saat itu sudah berumur 13 tahun dan Ica berumur 6 tahun, mereka sangat menyayangimu walau mereka tahu jika kamu bukanlah ibu kandungnya,"


Geo menghela nafasnya dan menjeda ucapannya.


"Pernikahan kalian sedari awal memang seharusnya tidak terjadi, sakit ... itulah yang hanya kalian rasakan. Zidan tak bisa bersama dengan wanita yang dia cintai, dan kamu ... kamu tidak bisa mendapatkan kebahagiaan mu sendiri," lirih Geo.


***


"Diana, bagaimana kabarmu? maaf, aku telah membawa putra kita pergi karena aku tak mau dia kecewa padaku dan ikut denganmu. Leon satu-satunya putra yang aku miliki saat itu, maafkan aku," lirih Zidan sambil menatap layar ponselnya yang terdapat foto pernikahannya dan mantan istrinya.


Cklek!


"Mas," panggil Kirana.


Kirana melihat suaminya menatap sendu ponselnya, dia tahu seberapa penyesalan suaminya. Dia tak pernah marah ataupun cemburu, karena dia tahu mereka telah punya kehidupan masing-masing.


"Luruskan masalah ini dengan Ezra, aku yakin dia akan menerimanya pelan-pelan," ucap Kirana.


Zidan menatap istrinya, dia menghela nafas pela ketika mendengar ucapan sang istri.


"Aku tak siap di benci putraku sendiri, Kirana," lirih Zidan.


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.