
"Halo? siapa yah?"
Tiba-tiba Lia di telfon seseorang, dia segera mengangkatnya dan Ezra juga kini tengah tertidur pulas.
"Maaf sayang, ini mamah Diana,"
Lia sontak membulatkan matanya, dia menoleh menatap suaminya yang tak terganggu sama sekali. Dia segera bangkit dari ranjang dengan perlahan dan keluar dari kamarnya.
"Iya mah, kenapa? kok bisa tau nomor Lia?" tanya Lia sambil berjalan menuju taman belakang.
"Mamah tau dari Ica, dia sudah tau semuanya jadi kamu gak perlu khawatir. Mamah telfon cuman mau tanya sama kamu, kamu kenal Aqila Lawrance?"
"Kenal mah, dia anak angkat daddy. Kenapa?"
"Kami ada di depan apartemen Aqila, tapi maid bilang dia sudah pergi dengan daddy kamu. Bisa kita minta tolong nak?"
"Tolong apa mah?" bingung Lia.
"Kamu tau kan kalau kita bakalan gak bisa masuk ke dalam gerbang mansion Wesley, untuk itu mamah mohon tolong bujuk daddy kamu untuk menerima kehadiran kita,"
Lia tampak diam, dia berpikir apa yang terjadi hingga keluarga Gevonac mendatangi Aqila.
"Mmm ... nanti coba Lia bicara sama daddy ya mah,"
"Makasih sayang, mamah tunggu yah. Bye sayang,"
"Bye mah," sahut Lia.
Lia menarik ponselnya dari telinganya, dia menghela nafasnya pelan dan mencari kontak sang daddy.
"Mamah siapa yang kamu maksud Lia?"
DEGHH!
Lia mematung di tempat, jantungnya berdegup sangat kencang hingga dia tak menyadari jika pemilik suara itu sudah ada di hadapannya.
"Kenapa diam? dan kenapa wajahmu takut seperti itu?"
"Kak ... se-sejak kapan ka-kak bangun?" panik Lia.
"Sejak ponselmu berbunyi," jawabnya yang ternyata dia adalah Ezra.
Lia memegang ponselnya dengan erat, dirinya sangat takut jika Ezra tahu segalanya karena dia telah berjanji pada Diana.
"Itu mamah temanku, tapi memang a-aku memanggilnya mamah," gugup Lia.
"Terus ... untuk apa kau berbicara dengannya tentang daddy?" tanya Ezra sambil menaikkan satu alisnya
"Itu ... dia ... dia mau ke mansion Wes ... KAK EZRA!"
Ezra tiba-tiba saja menarik ponselnya dan menjauh darinya, Lia akan menghampiri Ezra tapi Ezra menyuruh bodyguard yang berada di belakang Lia untuk menahannya.
"Kau tahan dia," ujar Ezra dengan dingin.
"LEPAS! KAK KEMBALIKAN PONSELKU!" teriak Lia.
Ezra sungguh penasaran, sedari tadi dia mendengar percakapan istrinya tapi tak jelas. Sehingga Ezra kembali menghubungi nomor tak di kenal itu kembali.
"Halo,"
"Halo, Lia kamu baik-baik aja nak? kok diam aja sayang?"
Ezra belum juga menjawab, dia masih diam untuk mendengarkan percakapan selanjutnya.
"Mah, apakah Lia telah berbicara pada daddynya?,"
"Nanti pah bentar, ini menantu kita telpon sebentar. Mamah takut Lia kenapa-napa,"
"Menantu? mamah?" tanya Ezra secara tak sadar dia berbicara seperti itu.
Ane pun mungkin sama terkejutnya dengan Ezra, dia diam setelah Ezra mengatakan itu.
"Mamah? siapa anda hah? kenapa anda menelpon istri saya?"
"Le ... Leon?" kaget Ane.
Ezra menatap istrinya yang kini sudah berlinang air mata. Sementara mata Ezra kini berkaca-kaca karena merasa kecewa.
Ezra menjauhkan ponsel itu dari telinganya, dia mematikan sambungannya dan menatap Lia dengan kecewa
"Kau sudah bertemu dengan mamah? kenapa kau tak pernah bilang padaku?"
"Kau bilang jika kau ingin menjadi tempatku bercerita, tapi mengapa kau malah seperti ini Lia? kamu tau kan kalau aku mencari mamah," kecewa Ezra.
Lia hanya bisa menangis, pegangan bodyguard kini sudah terlepas. Tiba-tiba saja tubuhnya tersentak saat Ezra menariknya keluar.
"Kak Ezra hiks ... pelan-pelan hiks ... kasihan janinnya," isak Lia.
Ezra menghentikan langkahnya, dia baru ingat jika Lia sedang hamil.
"Ikuti aku, kita ke mansion Wesley sekarang!" titah Ezra.
Lia mengangguk, dia menghapus air matanya kasar dan mengikuti Ezra dari belakang.
"Loh, kalian pada mau kemana?" tanya Zidan dengan bingung."
"Bersiap lah pa, kita akan ke mansion Wesley bertemu dengan wanita yang telah melahirkanku. Sayangnya istriku sendiri menyembunyikan fakta ini," ujar Ezra.
Zidan terkejut, dia menoleh menatap Lia yang sudah menangis tersedu-sedu di pelukan Kirana.
"Apa maksudmu Ezra?" bingung Zidan.
"Ibu kandungku masih hidup pah! mamahku masih hidup! dan KAU JUGA TAHU ITU KAN?"
zidan mematung, putranya telah mengetahuinya. Lalu ... Apa yang akan dia lakukan sekarang?
"Ezra papah ...,"
"Berhenti pah, kalian harus jelaskan ini semua setelah bertemu dengan mamah di mansion wesley," ujar Ezra.
Ezra berlalu dari sana, sementara Zidan langsung menyuruh istri beserta Lia untuk bersiap.
"Kita langsung ke mansion Wesley," ujar Zidan.
"Tapi Viola gimana? dia kan lagi ngajak Kino ke mall?" bingung Kirana.
"Mereka nyusul, kita harus menyusul Ezra secepatnya," ujar Zidan.
Mereka pergi menyusul Ezra yang sudah terlebih dahulu pergi menggunakan motornya.
Selama di perjalanan Lia hanya menggengam tangannya saru sama lain, dirinya takut Ezra tahu. Mau menghubungi Ane agar pergi dari sana tapi ponselnya di bawa oleh Ezra.
Selang setengah jam, mobil yang mereka tumpangi sampai di gerbang mansion wesley. Dia melihat Ezra yang tengah mengetuk pintu mobil.
"Kak Ezra!" panggil Lia yang telah keluar dari mobil.
Ezra menoleh, dia menarik Lia.mendekati mobil itu.
"Panggil wanita itu keluar, aku mau bertemu dengannya," dingin Ezra.
Lia mengangguk, dia mengetuk pintu itu seketika pintu tersebut terbuka
"Mah," panggil Lia.
Tampak lah Ane dengan wajah yang sudah basah karena air mata, netranya menatap Lia dan beralih menatap Ezra.
"Mmm ... masuklah, kita bicara di dalam. Gak enak di lihat orang," ujar Lia dan berlalu dari sana ke penjaga gerbang.
Sedangkan Ezra, pandangannya tak lepas dari Ane. Matanya menajam melihat seorang pria keluar dan malah merangkul Ane.
"Siapa anda?" tanya Ezra dengan dingin.
"Saya ... Geo, suami dari Ane ... wanita ini," ujarnya.
Mata Ezra beralih menatap Ane yang menatapnya dengan air mata yang berlinang.
"Dia Ane? bukankah nama aslimu Diana mamah," tekan Ezra pada kata mamah.
"Nak ... mamah ...,"
Ane belum melanjutkan ucapannya, dia berjalan pergi ke motornya ketika mendengar suara gerbang dibuka.
Sedangkan yang lain pun masuk mobil kembali hanya tinggal Ane yang menangis karena sang anak tampak kecewa padanya.
"Ayo kita masuk dulu, kita jelaskan pada Leon," bujuk Geo.
"Ini yang aku takutkan hiks ... dia tampak kecewa padaku," isak Ane.
***
Semua keluarga telah berkumpul, keluarga Wesley merasakan aura tak enak dari Ezra yang kini tengah menahan emosinya.
"Hm ... sepertinya ini bukan masalah kami, kami tinggal dan kalian bicaralah," ujar Alden.
Alden menarik istrinya, mereka pergi dari ruang tamu menuju kamar bermain Ravin dan Cia.
"Mereka orang yang aneh," ujar Alden.
"Maksudnya? bingung Amora.
" Yah ... mereka ke rumah kita hanya untuk menyelesaikan masalah mereka tentang Diana yang mati suri,"
Amora memukul lengan suaminya. " ucapannya mas! bukan mati suri! mungkin aja dia selamat, ngawur kamu!" kesal Amora.
"Ya habis nya mereka dateng kesini bawa masalah, emang mereka kira rumah kita persidangan apa?!" kesal Alden.
Langkah Amora terhenti yang mana membuat Alden juga pun sama dengan istrinya, mereka saling tatap hingga Amira berkata.
"Mas bilang jika yang menghamili Aqila putra dari keluarga Geovonac ... tadi itu tuan Geo Gevonac bukan sih?" ragu Amora
Alden berpikir sebentar, setelah itu dia berdecak kesal.
"SI4L! pantas aja mereka ada disini!" kesal Alden dan kembali ke ruang tamu.
"E-EH MAS!"
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.