Dark Memory

Dark Memory
malam pernikahan



"Ay, mandi dulu jangan langsung tidur," pinta Ezra pada Lia yang sudah tepar karena lelah.


"AKu ngantuk hiks ... ngantuk!" rengek Lia.


Ezra dengan sabar mendekati sang istri, dia mendudukkan Lia walau wanita itu masih memejamkan matanya.


Ezra membuka resleting gaun Lia, dia membantu sang istri membuka gaunnya sehingga Lia kini hanya memakai tanktop dan celana pendeknya.


"Mau mandi sendiri apa aku bantu?" tanya Ezra.


Lia menggaruk keningnya, dia membuka matanya dan Ezra dengan tatapan lelah.


"AKu gak ada tenaganya, capek banget," lirih Aqila.


Ezra pun menggendong Lia ala bridal style, dia membawa Lia masuk kamar mandi dan membantu istrinya mandi sekaligus dia juga membersihkan dirinya.


Setelah setengah jam, mereka keluar dengan Lia yang masih di gendongan Ezra.


Ezra menurunkan Lia di ranjang, dia mendekat ke arah lemari untuk mengambil baju Lia.


"Kenapa tak ada baju sama sekali?" bingung Ezra.


Ezra melihat banyaknya lingerie, akhirnya dia mengambil salah satu yang tak terlalu terbuka.


"Ay pakai baju dulu," ujar Ezra.


Lia yang tertidur pun akhirnya membuka matanya, dia mengerutkan keningnya ketika melihat baju yang ada di tangan Ezra.


"Kok bajunya pendek begitu? belum jadi yah bikin bajunya?" ujar Lia.


"Hah ... bukan ay, ini tuh namanya baju lingerie yang biasanya untuk para istri. Gak ada lagi selain ini, pakai ini dulu yah,"


Lia pun mengangguk, dia bangkit dan memakai baju itu. Sementara Ezra mencari bajunya sendiri dan memakainya.


Saat Ezra berbalik badan, ternyata istrinya sudah tidur lelap dengan selimut yang membungkus tubuhnya.


"Huh, capek banget pasti," lirih Ezra.


Ezra pun mendekati ranjang, dia akan merebahkan dirinya tapi Lia berbalik badan dan menatapnya dengan sendu.


"Kenapa ay? sakit perutnya?" panik Ezra.


Lia menggeleng, dia menduduki dirinya dan memilin tangannya.


"Kak," cicit Lia.


"Hm," sahut Ezra.


"Aku ... aku ngidam," lirih Lia.


Ezra mengangkat satu alisnya, dia menduduki dirinya di tepi ranjang dan menatap istrinya dengan lembut.


"Ngidam apa ay? ini udah malem," lembut Ezra


"AKu mau ...,"


"Aku mau itu," cicit Lia


Ezra menarik satu sudut bibirnya, dia mengira jika Lia meminta haknya tapi ternyata dugaannya salah besar.


"Aku mau kak Ezra keringetan, aku mau lihat," seru Lia.


Ezra menjatuhkan rahangnya, netranya membulat sempurna karena yang dia kira jauh dari keinginan Lia.


"Terus aku harus gimana? kan kita pakai AC, terus juga aku habis mandi. Udara di luar juga dingin, gimana caranya aku keringetan? kecuali kamu mau aku ...,"


"GK! Lia gak mau itu, capek. Kak Ezra lompat-lompat di kasur, nantikan juga keringetan," ujar Lia.


Ezra terkejut, bukankah malam pertama itu dirinya dan istrinya melakukan hal yang seharusnya? tapi kenapa sekarang malah dirinya di suruh untuk loncat-loncat di tempat tidur.


"Sayang, ayolah ... aku lelah," bujuk Ezra.


"Kalau gak mau gak usah! biarin aja aku gak tidur ampe pagi," kesal Lia dan membalikkan badannya.


Ezra memejamkan matanya, dia menarik nafas dan membuangnya dengan perlahan. Dia kembali membuka matanya dan tersenyum paksa menatap punggung Lia yang membelakanginya.


"Oke ... aku akan turutin kemauan kamu," pasrah Ezra


Lia pun menoleh dengan senyum mengembang, dia menduduki dirinya dan menatap Ezra yang kini membuka kaosnya.


"Cepet!" seri Lia.


"Kamu duduk di sofa, takutnya kamu ikut terpental," ujar Ezra.


Pia pun menurut, dia bangkit dari ranjangnya dengan selimutnya dan duduk di sofa dekat dengan ranjang.


Ezra oun mulai naik ke kasur, dia lompat-lompat sampai suara ranjang berbunyi. Lia pun sangat senang, dia bertepuk tangan kala Ezra menuruti keinginannya.


Ezra pun mulai mengeluarkan keringat, dia berhenti dengan nafas tersenggal sambil menatap sang istri.


"Hah ... hah ... hah ... udah ya ah ... ay, a-aku capek," ujar Ezra.


"Lagi! aku mau lagi!" ujar Lia.


TOK!


TOK!


TOK!


DUGH!


"BUKA!"


Ezra menghentikan loncatannya, dia menatap Lia yang juga tengah bingung mengapa kamarnya di ketuk hingga sekeras itu.


"Biar hah ... aku lihat," ujar Ezra.


Ezra turun dari ranjang, dia menatap Lia agar sang istri menutupi tubuhnya dengan selimut.


Setelah itu Ezra berjalan mendekati pintu dan membukanya..


"Stres ya lu ngetok pintu keras banget," kesal Ezra.


Ternyata yang mengetuk pintunya adalah Frans, bahkan Frans sudah menatap Ezra dengan wajah terkejut


"Kalau kau ingin seperti itu, bisa tidak pengedap suaranya di nyalakan? kau menggangguku bodoh!" sentak Frans.


"Hei! kau pikir aku sedang melakukan apa huh? otakmu terlalu kotor kau tahu?" kesal Ezra.


Frans mengacak rambutnya frustasi, dia melihat tubuh Ezra yang keringetan.


"Kalau kau mau membuatku iri, jangan sekarang! aku sedang lelah, dan kau malah tak menyalakan pengedap suaranya!" kesal Frans.


Ezra menatap tubuhnya, memang benar tubuhnya basah karena keringat. Tapi dirinya bingung dengan apa yang di maksud Frans..


"Aku membuatmu iri apa? aku tak mengganggumu," ujar Ezra


"Suara de***nmu dan decitan ranjang menggangguku bodoh!" sentak Frans karena sudah kesal hingga melontrakan kata seperti itu.


Ezra menghela nafas berat, dia menutup pintu kamarnya sehingga kini hanya ada dia dan Frans


"Kau kira aku menjenguk bayiku huh? istriku menyuruhku untuk lompat-lompat di ranjang bukan seperti yang kau bayangkan!" gerutu Ezra.


Frans membulatkan matanya, dia menatap Ezra tak percaya. Nasib mereka sepertinya sama, malam yang diidamkan menjadi malam yang tak di inginkan.


"So-sorry, gue gak tau," ujar Frans..


"Kalau gak tau nanya dodol, malah main nuduh aja," kesal Ezra


Ezra pun balik ke kamarnya, dia mendengus kesal dan berjalan menuju ranjang.


"Kenapa?" tanya Lia..


"Tidur ay, sebelum aku meminta hak ku," kesal Ezra.


Lia pun mengangguk, dia hanya menunggu Ezra tidur. Dan ketika suaminya merebahkan dirinya, Lia langsung memeluknya dan mencium aroma suaminya.


"AKu suka bau keringet kamu," ujar Lia.


"Aku mau mandi lagi, gerah banget," ujar Ezra.


Lia menggeleng. "Gak usah, aku suka begini," cicit Lia.


Ezra pun hanya pasrah dengan istrinya yang memeluk tubuhnya bahkan Lia tengah mengendus ketiaknya yang mana membuat Ezra bingung.


"Bau ay!" ringis Ezra.


"Wangi kok," ujar Lia.


Ezra menjauhkan tubuhnya dari Lia, Lia oun tersadar jika suaminya menjauh segera mengeluarkan jurusnya.


"E-eh,"


Lia akan menangis, segera Ezra kembali mendekatkan istrinya ke sang istri


Lia pun dengan senang hati memeluk tubuh suaminya, dan menghirup aroma tubuh sang suami yang begitu membuatnya candu.


***


"Gimana? kopernya udah di pindahin kan?" tanya Amora pada Ane.


Ane mengangguk. "Sudah, kau yakin ini akan berhasil?"


Amora mengangguk antusias, dia menyuruh Ane mendekati sebuah pintu.


"Kau dengar tidak?" tanya Amora.


"Dengar! astaga, kenapa kita menjadi penguntit seperti ini? sungguh tidak sopan," kekeh Ane.


Amora pun membawa Ane menjauh, mereka pergi kembali ke kamar masing-masing dengan hati bahagia karena mereka pikir rencana mereka berhasil.


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.