
"SAYANG!"
"SAYANG!
Alden berlari tergesa-gesa memasuki mansionnya sambil teriak memanggil sang istri.
"Apa sih mas teriak-teriak begitu?!" tanya Amora yang panik, dia baru saja keluar dari lift dan mendekati suaminya.
"Sekarang kamu siap-siap, kita berangkat ke akademi si kembar." ujar Alden sambil menarik lengan istrinya kembali menuju lift.
Amora terdiam, dia masih bingung dengan permintaan suaminya. Untuk apa dia harus ke akademi si kembar.
"Lepas mas! untuk apa sih! kamu lupa kalau lagi ada Deon sama Aira?!" kesal Amora.
"Minggu kemarin Lia makan ikan, dia sakit perut. Aku khawatir dia kenapa-kenapa," terang Alden.
Amora menarik tangannya, dia menatap Alden dengan wajah terkejutnya. Bukan terkejut karena kabar tersebut, tapi karena apa yang Alden beritahukan itu sidah minggu lalu.
"Kamu bercanda mas? itu kan minggu lalu! kalau Lia masih sakit pasti Ezra sebagai suaminya langsung bawa dia kerumah sakit," ujar Amora.
"Tapi kan yang, kasian putri kita loh ... dia pasti ...,"
"Pasti apa? kamu itu nyeleneh yah kelakuannya! udah ah, kamu berangkat sendiri, sekalian gak usah pulang!" kesal Amora dan meninggalkan Alden yang terdiam.
"Iya sih ... tapi kalau ada masalah sama perutnya gimana? tapi ... gak mau tidur di luar gue!" gumam Alden dan mengikuti kemana istrinya pergi tadi.
Alden akan memasuki ruang keluarga, netranya membulat sempurna ketika melihat sang putra yang sedang naik bangku dan menggapai sesuatu.
"RAVIN!" panik Alden.
Ravin yang tadinya akan mengambil toples terkejut, dia tak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya dan berakhir jatuh.
BRUGH!
Alden segera menghampiri putranya yang terjatuh, dia langsung membawa sang putra ke gendongannya dan melihat apakah ada luka di kepala putranya itu.
"Ravin gak papa sayang?" panik Alden sembari mengelus kepala sang putra.
Ravin hanya diam, sepertinya dia masih terkejut dengan kejadian tadi.
"SAYANG!"
"SAYANG! RAVIN JATUH NIH!" teriak Alden.
Tak lama Amora dan Aira menemui Alden, Amora langsung panik ketika melihat sang anak yang diam.
"Kenapa Ravin mas? jatuh dari mana?" panik Amora.
"Aku gak tau, tapi dia gak nangis malah diem begini yang buat aku khawatir," terang Alden.
Cia baru saja keluar dari dapur, dia menatap bingung dengan orang-orang yang mengelilingi Ravin.
"Loh, Lavin tenapa?" tanya Cia.
"Ravin jatuh sayang, Cia sudah minum susunya?" tanya Amora.
Cia mengangguk, dia kembali menatap Ravin yang hanya terdiam.
"Lavin jatuh nda nanis?" tanya Cia.
Ravin akhirnya merespon ucapan Cia, dia melengkungkan bibirnya ke bawah sambil menatap Alden.
"Cakit," lirih Ravin.
Alden segera membawa Ravin ke ruang tengah, dia menduduki dirinya agar lebih mudah melihat luka Ravin.
"Gimana mas? ada yang luka gak?" panik Amora.
"Benjol, waktu lalu di depan. Sekarang di belakang, lama-lama jadi mister gepeng kamu Vin," ujar Alden.
"HIKS HUAAAAA!"
Amora, Aira dan Alden terdiam. Mereka terkejut dengan tangisan melengking Ravin, padahal tadi bocah itu tidak menangis. Lalu, kenapa saat Alden menyebut mister gepeng dia menjadi menangis?
"Cup ... cup ... cup, daddy cuma bercanda," ujar Amora dan mengambil anaknya.
"Olang lagi nahan takit duga! malah di ledekin mistel gepeng hiks ... otakna daddy yang gepeng!" isak Ravin
"Dih, gak sopan kamu bilang daddy begitu," ucap Alden yang mana mendapat pelototan dari Amora.
Alden mendengus sebal, dia menoleh menatap Aira yang masih bingung dengan situasi.
"Mana si Manol?" tanya Alddn.
Sedangkan Cia, bocah itu masih menatap Ravin yang masih terisak di pangkuan Amora.
"Cakit yah Lavin? tahan yah, katana mau jadi pakpoy," ujar Cia
***
Sore hari, Ezra sudah sampai di bandung, dia segera masuk ke dalam mansion lamanya.
Sepi, itu yang Ezra rasakan. Terdapat banyak sekali foto sang mamah di setiap sudut, bahkan foto dirinya pun tak sebanding foto wanita yang telah melahirkannya.
Ezra mengambil satu bingkai foto, dia mengelus foto tersebut.
"Mamah, Leon kangen," lirih Ezra.
Ezra tahu jika itu adalah mamahnya, Zidan sudah menceritakan padanya mengenai ibu kandungnya saat dia amnesia.
"Mah, sekarang Leon sudah menikah. Istri Leon sangaaat cantik seperti mamah. Jika mamah masih disini, Leon yakin mamah pasti akan bahagia mendengar kabar ini," ucap Ezra.
Ezra menghapus air mata di sudut matanya, setelah itu dia menaruh kembali foto tersebut.
Ezra kembali melangkah memasuki mansionnya lebih dalam, netranya menangkap pintu bercat hitam yang hanya ada satu di sudut ruangan.
Dengan inisatif Ezra langsung mendekati pintu itu, dia mengeluarkan kunci yang tadinya di berikan oleh sang papah untuk membuka pintu itu.
"Huuuhh," Ezra menghela nafasnya, dia nampak sangat gugup.
Ezra membuka pintu dengan kunci tersebut, dengan perlahan dia membuka pintu tersebut.
Cklek!
Ezra memasuki ruangan itu, dia mencari saklar lampu.
TAK!
"Ini ... ini ... ini foto Zanna," gumam Ezra.
Di Sekeliling ruangan hanya ada foto Lia, bahkan foto Ezra hanya beberapa saja. Yang buat Ezra semakin kagum, dia melihat foto Lia saat matanya hijau di redupnya malam.
"Hijau ... setelah pernikahan ku dengan Lia, kenapa mata hijaunya tidak kembali? apakah Lia memakai soflens?" gumam Ezra.
Ezra kembali menatap sekeliling ruangan, netranya menangkap sebuah mading kecil yang terdapat banyak tulisan.
Ezra mendekati mading itu, tangannya terangkat untuk menyentuh mading tersebut.
"Disini tertulis semua hal yang Zanna sukai dan tidak sukai, bahkan segala jenis warna yang Zanna sukai aku telah tulis disini," gumam Ezra.
Ezra menyobek kertas tersebut, dia melipatnya dan menaruhnya di saku celananya. Setelah itu dia mengambil beberapa foto Lia yang tergantung indah.
"Setidaknya ada ini yang bisa gue pakai untuk membuka kembali ingatan gue," gumam Ezra.
Ezra akan kembali ke pintu, tetapi dirinya tak sengaja menginjak sebuah kunci.
"Kunci apa ini?" gumam Ezra.
Ezra mengambil kunci tersebut, dia menatap sekeliling dan menemukan sebuah kotak besar yang ada di pojok ruangan.
Ezra mendekati kotak itu, dia mengarahkan kunci tersebut ke dalam sebuah lubang.
Tak!
KREEET!
Ezra membuka kotak itu, disana terlihat banyak sekali barang, mulai mainan bayi hingga mainan balita. Tampak juga beberapa boneka, yang menjadi pusat perhatian Ezra adalah kamera.
"Kamera? pasti ada video ku dan Zanna bukan?" gumam Ezra.
Ezra menyalakan kamera itu, ternyata kamera itu telah habis batrai sehingga dia harus mengecasnya.
Ezra kembali mencari sesuatu, dia menemukan sebuah kotak kecil dengan tulisan angka 24. Dibukanya kotak tersebut dan terlihat sebuah beberapa memory card.
Ezra membawanya beserta kamera itu, setelah itu dia segera keluar dari kamar tersebut tak lupa menguncinya kembali.
"Leon ...,"
Langkah kaki Ezra terhenti, dirinya tertegun mendengar suara itu. Suara yang sepertinya sangat dia rindukan.
Ezra membalikkan tubuhnya, netranya membulat sempurna ketika melihat sosok wanita yang sangat cantik dengan balutan dress putih.
"Mamah ...," lirih Ezra.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.