
"Lia dan Ezra nikah kamu gak ngasih kabar sama kita,"
"Kan udah di kabarin, papihnya aja yang sibuk," bela Alden.
"Kamu ngasih tau pas kita ada di London dan mereka menikah lima menit kedepan. Gak ada otak kamu yah!" kesal Arthur.
Alden menatap istrinya meminta pembelaan, Sedangkan Amora hanya menaikkan bahunya acuh karena tak ingin ikut campur.
"Gak usah minta pembelaan kamu! emang nyatanya kamu mau Lia dan Ezra nikah cepat!" sentak Arthur.
"Gak pi, si Ezra udah berani tidur berdua ama anak Alden. Masa iya aku biarin nanti malah di buntingin lagi sama dia kayak si Frans!" ujar Alden
"Frans? siapa Frans?" tanya Arthur sambil menaikkan satu alisnya.
Alden menatap istrinya, Amora mengangguk menyetujui jika Alden harus bicarakan ini dengan Arthur.
"Frans pria yang menghamili Aqila pi," ujar Alden.
"Hah? tuh anak bunting duluan?" ujar Arthur.
"PAPI!" sentak Amora dan Queen mereka takut Aqila mendengar walau sekarang mereka berada di ruang keluarga.
"Eh iya, terus gimana? mau tanggung jawab gak? atau anaknya di hawa kabur? ngerasain kan kamu anak di buntingin duluan!" sindir Arthur.
Alden menggaruk belakang lehernya, sementara Amora hanya menggelengkan kepalanya.
"Kecewakan? itu yang saya rasakan saat kamu menghamili putri saya dan membawanya kabur! putri yang saya jaga dan dengan mudahnya kamu menghancurkan putri saya?" ujar Arthur.
Alden menundukkan kepalanya, dia menyesal karena dulu pernah menyakiti Amora.
"Pi sudah, itu sudah masa lalu dan mas Alden belajar dari kesalahannya. Dia sangat menjaga putrinya, Lia dan Aurora. Maka dari itu dia menikahkan Ezra dan Lia karena takut apa yang aku alami terjadi dengan Lia. Dan mengenai Aqila, Alden benar-benar tak tahu karena tanggung jawab Aqila ada pada Gio ayahnya," terang Amora.
Arthur mengangguk, memang benar apa yang di katakan Amora. Tapi dirinya masih terasa kesal jika mengingat masa lalunya.
"Yasudah, sekarang mami dan papi istirahatlah. Nanti malam aku akan mengajak kalian makan malam," ujar Amora.
***
"Bagaimana jika di gedung xx bang? disana sangat luas, bahkan ada 4 lantai yang mana membuat tamu merasa nyaman," ujar Ica.
"Jangan, itu terlalu sempit. Gio mengabari ku jika acara pernikahan Frans akan di gabung dengan Ezra. Dia dan istrinya akan mengulang pernikahan," tolak Geo.
Frans dan lainnya terkejut. "Buat apa mengulang pernikahan? kan mereka sudah sah?" bingung Frans.
"Iya, tapi katanya maharnya tak sesuai karena acara dadakan, dan Ezra menginginkan pernikahan ulang untuk menambah mahar," ujar Geo.
"Memangnya berapa mahar yang sebelumnya dia berikan?" heran Frans.
"Entah, Gio gak bilang dengan papah,"
Mereka kembali sibuk dengan brosur urusan pernikahan. Ane begitu antusias mendengar putranya akan kembali melaksanakan pernikahan.
"Kalau begitu bagaimana jika di mansion lama kita? itu kan lebih besar dua kali lipat dari inj, kita akan banyak mengundang orang bukan? Apalagi Ezra akan melakukan pernikahan kembali? astagaaa alu sungguh bahagia!" antusias Ane.
Geo tersenyum hangat menatap istrinya, tak pernah dia lihat senyum bahagia istrinya sejak Ezra mengetahui yang sebenarnya.
"Mah," panggil Frans dengan lembut.
"Apa hm?" tanya Ane tanpa melepas pandangannya.
"Mah," panggil Frans sekali lagi.
"Iya apa sayang?" tanya Ane sambil menatap Frans.
"Pernikahan aku dan Ezra, aku serahkan sama mamah. Mamah yang mengatur acara kami, aku akan bicara ini dengan Ezra nanti," ujar Frans.
Mendengar hal itu Ane tersenyum bahagia, ini yang dirinya nantikan. Menyaksikan persiapan pernikahan putra-putranya.
"Aku sudah menyiapkan mas kawin untuk Aqila," ujar Frans.
"Benarkah? kau akan memberinya apa?" tanya Geo.
"Hm ... sudah aku siapkan, nanti akan menjadi kejutan untuk kalian," ujar Frans.
"Alah, palingan juga cincin. Ck, basi tau gak!" jengah Ica.
Frans menarik rambut Ica, sehingga adiknya itu meringis sakit dan menatap sang papah untuk meminta bantuan.
"Frans jangan jahili adikmu," peringat Geo.
"Lepas!" pinta Ica.
Frans akhirnya melepas tarikannya, dia kembali fokus dengan persiapan pernikahannya.
DERTT!
DERTT!
"Siapa Frans?" tanya Geo.
"Gak tau pah, nomor yang gak di kenal," ujar Frans.
"Angkat," titah Geo.
Frans mengangkat telpon tersebut, suara lembut menyapa telinganya.
"Aqila?" heran Frans.
"Iya ini aku, pakai telpon ayah. Kan kamu block nomor aku!" sinis Aqila.
Frans meneguk lidahnya kasar, dia berdehem sebentar dan bangkit dari duduknya dan menjauh dari keluarganya
"Iya, gimana?" tanya Frans.
"Aku mau ngomong, besok fitting gaun pengantin. Tapi perutku sudah mulai kelihatan, kalau aku pakai gaun apa gak kelihatan perutku? nanti kalau mereka membicarakan tentang kandunganku gimana?" khawatir Aqila.
Frans terdiam, memang dia sempat melihat perut Aqila saat berkunjung ke mansion Wesley. Hanya saja perut Aqila sudah terlihat membuncit tapi tak terlalu kelihatan.
"Kamu pakai gaun jangan yang pas di tubuh, cari yang sedikit longgar jadi orang ngiranya gaunnya memang longgar," saran Frans.
Aqila diam, mungkin dirinya masih memikirkan saran Frans.
"Yaudah gini aja, besok aku jemput kamu. Kita fitting baju okay," ajak Frans.
"Hmmm ... yaudah," pasrah Aqila.
"KAlau begitu aku tutup telponnya," lanjut Aqila.
"E-eh! tunggu jangan di tutup dulu," rengek Frans.
Sepertinya Aqila meringis dengan rengekan Frans.
"Aku mau nanya, kamu udah minum susu?" tanya Frans dengan lembut.
"Dah," jawab Aqila dengan malas
"Sudah makan?" tanya Frans kembali.
"Hm,"
"Sudah ...,"
"Tanya lagi aku tutup telponnya!" ancam Aqila.
Frans terkekeh, setelah itu dia tersenyum lembut.
"Aqila, maafkan aku ... maaf dengan perkataanku dan juga perlakuanku. Tapi sungguh, aku ingin merubah semuanya," ujar Frans.
"Rubah apa? semuanya dah terjadi, masa depanku sudah sirna. Gak ada lagi yang visa di ubah," ujar Aqila.
Frans menunduk sedih, ini lah balasan yang lantas dirinya dapat kan. Aqila yang dulunya sangat lembut terhadapnya berubah menjadi galak dan judes.
"Benar aku tak mampu merubah semuanya," lirih Frans.
Terdengar helaan nafas dari Aqila, sepertinya dirinya juga tak tega. Namun, rasa sakit mendominasi hatinya.
"Tapi kamu bisa memperbaikinya, aku memberimu satu kesempatan Frans, jika suatu saat kamu kembali menyakiti aku. AKu memilih untuk tak pernha lagi memberimu kesempatan," ujar Aqila.
Senyum terbit di bibir Frans, hatinya berbunga-bunga ketika mendengar perkataan Aqila. Frans tau di balik sikap judes Aqila, wanita itu masih memiliki.kelembutan yang membuat dirinya nyaman.
"Oh yah, apa kau masih sering mual?" tanya Aqila.
Frans mengerutkan keningnya. "Bagaimana kau tahu?" heran Frans.
"Aku tahu dari om Geo," ujar Aqila.
"Ooh begitu ... sudah kok, mualku sidah berkurang. Hanya saja ngidamku semakin menjadi-jadi," lirih Frans.
"Ngidam? ngidam apa?" heran Aqila.
Frans mengangkat satu sudut bibirnya, dia memasukkan satu tangannya ke dalam saku celananya.
"Aku ngidam pingin peluk kamu sekarang," ujar Frans yang membuat Aqila terdiam seribu bahasa.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.