Dark Memory

Dark Memory
Sadarnya Mesya



Pagi ini Lia dan yang lain tengah berada di ruang rawat Mesya, setelah semalam dokter mengatakan jika kondisi Mesya membaik dan telah melewati masa kritisnya membuat semuanya menunggu di ruangan itu kecuali Lia dan Ezra.


"Saya titip putri saya dulu, saya ingin kembali ke ruangan istri saya sebentar," ujar Noah dan berlalu dari sana.


"Putri saya ... putri saya ... giliran sekarat aja baru sadar siapa putrinya," gumam Ica.


Viola dan Lia saling pandang, mereka terkekeh pelan mendengar gumaman Ica.


"Kalian udah sarapan belum?" tanya Lio.


"Dari tadi lu ngeliat kita makan kagak?" sewot Viola.


Lio menggeleng kecil, dia sedari tadi tidak melihat mereka semua makan.


"Berarti kita belum makan dodol! gitu aja pake nanya, peka dikit dong!" seru.


" Gue nanya baik-baik, kok lu sewot sih! awas lu, entar jodoh sama gue baru tau rasa!" ujar Lio.


Viola langsung bergidik ngeri, sementara yang lain hanya terkekeh kecuali Ezra tentunya yang selalu memasang wajah datar andalannya.


"Idih, amit-amit cabang mangga. Gue jodoh sama lu? iiiiwwww ... strawberry mangga donat sorry gak minat!" histeris Viola.


"Ck," decak sebal Ezra karena menonton drama di depannya.


Ezra mendekati Lio, dia menarik lengan pria itu keluar dari ruangan.


"Eeehh lu ngapa ...,"


"Diem!" sentak Ezra dan menariknya keluar.


Lia dan Ica hanya menatap kepergian 2 laki-laki itu, dia kembali terkekeh ketika melihat wajah Viola yang menahan kesal.


"Udah lah Vi, siapa tau bener kan aoa yang Lio bilang. Gue mau kok lu jadi adik ipar gue," canda Lia.


"Iiihhh sorry layaw! selera gue oppa korea bukan dia! masih jauuuuhhh sama selera gue," ujar Viola sambil memperaktekkan tangannya yang menujukkan sejauh mana.


"Kembaran gue bule loh, yakin gak mau? oppa korea warna matanya kebanyakan hitam, coklat lah kembaran gue abu-abu. Yakin gak mau?" ledek Lia.


Viola mbuang wajahnya, dia melipat tangannya dengan kesal sambil menggerutu tidak jelas.


BRAK!


Mereka semua terlonjak kaget saat mendengar suara pintu yang terbuka keras. Netra mereka menajam melihat siapa yang masuk.


"RENO!" teriak ketiganya.


"Hehehe sorry, abisnya gue terlalu semangat sih," ujar Reno.


"Semangat sih semangat, tapi jangan sampai buat orang kaget juga dong! badak gurun!" gerutu seseorang.


Viola dan Lia saling tatap, mereka menggelengkan kepala kemudian menatap Ica.


"Apa? bukan gue yang ngomong!" bantah Ica.


"Kalau bukan lu berarti ...,"


Ucapan Lia terhenti, dia mengarah pada Mesya begitu pula yang lain.


"Ngapa pada liatin gue? kangen yah?" ujar Mesya dan membuka matanya menatap ketiga temannya atau lebih kepada sahabatnya itu.


"MESYA!" teriak ketiganya dam memeluk Mesya dengan erat.


Sementara Reno, dia memeluk temannya yang berada di samping yang bernama Agam.


"Lepas Ren! h0mo lu beg0!" sentak Agam dan melepas pelukan Reno.


"Dih," rengut Reno.


Lia dan lainnya melepas pelukan mereka, mereka menatap temannya yang sedang tersenyum.


"Masih ada yang sakit gak Mesy? gue panggil dokter yah?" tanya Viola.


"Gak kok ... cuma yah aga pusing aja. Oh iya, bokap gue pasti gak jengukin gue kan? hahaha sudah gue duga, seharusnya gue gak terlalu berharap," lirih Mesya.


Lia dan lainnya saling tatap, mereka akan berniat membicarakan semuanya jika Noah menunggunya semalaman. Namun, secara mengejutkan sebuah suara mengagetkan mereka.


Mesya dan lainnya terkejut, mereka menatap Noah yang datang dengan istrinya yang duduk di kursi roda.


"A-ayah ...," lirih Mesya.


Noah mendorong kursi roda sang istri, dia mendekati Mesya yang terisak ketika melihat orang tuanya.


Lia dan lainnya menepi, memberikan mereka ruang khusus untuk berbicara dari hati ke hati.


"Eh, nunggu di kamar sebelah aja yuk! takut ganggu," ajak Ica.


Mereka semua mengangguk dan mengikuti Ica yang sudah lebih dulu pergi keluar.


Sementara itu, ayah Mesya mendorong kursi roda istrinya sampai di samping brankar Mesya. Setelah itu dia membiarkan sang istri untuk berbicara pada putri mereka.


"Mesya ... sayang, maafin bunda nak. Bunda sudah tidak adil sama kamu, maafin bunda sayang." ujar Ratih sambil menggenggam tangan Mesya.


"Harus sekarang yah bun? harus aku sekarat dulu baru kalian sayang sama aku?" lirih Mesya.


"Gak sayang, gak ... jangan bicara seperti itu nak, bunda sayang Mesya," lirih Ratih.


Mesya terdiam dengan air mata yang mengalir, dipikirannya hanya ada jika dirinya sekarat orang tuanya baru menyayanginya. Kenapa tidak dari dulu dia lakukan? jika itu membuat dirinya mendapat kembali orang tuanya.


"Jika saja menyakiti diri sendiri itu gak dosa bund, pasti Mesya bakal celakain diri Mesya untuk dapat kembali kalian hiks ... jika saja bunuh diri itu juga gak dosa, lebih baik Mesya gak ada hiks ...,"


"Jangan sayang hiks ... jangan sakiti dirimu sendiri hiks ... bunda mohon hiks ... kita perbaiki hubungan kita yah sayang, hanya ada Ayah, bunda dan Mesya," bujuk Ratih.


Mesya memikirkan apakah dirinya harus menerima kembali orang tuanya? ataukah tidak? tapi ... ibunya telah berkorban demi dirinya lahir, sementara sang ayah banting tulang demi memenuhi kecukupannya. Apa dia harus membenci orang tuanya?


"Mesya ... Mesya mau memperbaiki semuanya dengan kalian, tapi Mesya mohon ... jangan lagi kalian punya hubungan dengan Clara. Biarkan dia mencari kehidupannya sendiri," pinta Mesya.


Ratih menatap Noah, begitu pula dengan Noah. Dia melihat suaminya yang memejamkan mata dan menghela nafasnya pelan. Setelah itu suaminya kembali membuka mata dan mengangguk mantap.


"Iya sayang, kami turuti keinginanmu," ujar Noah.


Mesya tersenyum bahagia, ini lah penantiannya selama ini. Orang tuanya kembali menyayanginya bukan membuangnya.


"Kalau gitu Mesya mau peluk kalian," pinta Mesya.


Noah dan Ratih tersenyum, mereka memeluk Mesya yang kini tengah tersenyum bahagia.


"Yah ... suatu saat pasti akan berakhir indah," batin Mesya


Berbeda dengan ruang sebelah, kini mereka tengah asik makan sarapan yang di bawa oleh Ezra dan Lio.


"Kamu mau makan apa ay?" tanya Ezra.


"Emang adanya apa?" bingung Lia.


Ezra menatap makanan yang dia beli, hanya ada bubur ayam dan botol minum.


"Bubur," lugu Ezra.


"Terus, aku suruh pilih makanan apa lagi jendraaall! orang adanya bubur!" kesal Lia.


Lia mengambil buburnya, dia membuka bungkus itu dan mulai memakannya. Sementara Ezra hanya diam sambil melihat ke arah Lia.


"Kamu kenapa sih? kok liatin aku terus?" bingung Lia.


Ezra menyodorkan bungkusan buburnya yang mana membuat Lia semakin tidak paham.


"Kamu gak mau makan? yaudah taro aja disitu," ujar Lia.


"Ish! ayang gak peka banget sih! aku kan minta di suapin!"


"AYANG? SEJAK KAPAN JENDRAL DAN KEMBARAN SI LIO JADIAN?!" teriak agam yang mana membuat mereka menatap tajam agam.


"Ketinggalan jaman lu kambing! mereka udah married!" kesal Reno.


"APAAAA?!"


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.