
Sudah beberapa minggu setelah resepsi pernikahan mereka di gelar, kini Ezra dan Lia tengah bersantai di taman belakang.
"Kak," panggil Lia.
"Hm, kenapa?"
Lia menatap suaminya, dia menyingkirkan ponsel dari hadapan Ezra sehingga kini Ezra menatap istri kecilnya itu.
"Kabar bunda sama papah gimana yah? Viola juga gimana? aku kangen," ujar Lia.
Ezra terdiam, wajahnya menjadi datar sehingga Lia menyentuh lembut rahang tegas Ezra dengan jari lentiknya.
"Itu udah masa lalu bukan? sekarang kita Lupakan dan kembali menyambung persaudaraan. Mereka keluargamu walau sekarang marga kita telah berubah menjadi Castillo," ujar Lia.
Keputusan Ezra merubah marganya menjadi Castillo, berdasarkan artinya adalah bangunan besar berbenteng. Dirinya membentengi seluruh masa lalunya dengan nama Castillo.
Dertt!
Dertt!
Ezra tak menjawab ujaran Lia, dia melihat ponselnya karena ada seseorang yang menghubunginya.
"Halo,"
"Selamat siang tuan, maaf saya ingin mengabarkan jika meeting dengan perusahaan xx akan di segerakan menjadi satu jam ke depan. Kami mohon tuan untuk segera kesini karena mereka sedang dalam perjalanan,"
"Baik, saya segera kesana,"
Ezra mematikan ponselnya, dia menatap istrinya yang tengah menunggu penjelasan nya.
"Kita obrolin ini nanti, sekarang aku harus ke kantor karena ada beberapa meeting penting dengan klien dari luar negri," ujar Ezra.
"Aku ikut," pinta Lia.
Ezra mengelus lembut kepala istrinya, dia tak ingin mengajak sang istri karena beberapa hari ini mual Lia selalu parah.
"Jangan yah, nanti kalai kamu mual-mual aku lagi meeting loh," bujuk Ezra.
Mata Lia berkaca-kaca, bibirnya melengkung ke bawah yang mana membuat Ezra panik.
"Aku mau lihat kamu kerja," lirih Lia menahan suaranya yang bergetar.
"Tapi mual-mual kamu lagi parah Ay, disini aja yah," bujuk Ezra.
"Gak mau hiks ...,"
Inilah jurus ampuh untuk mendapatkan anggukan Ezra, yaitu menangis. Lia sangat jago berakting sehingga Ezra tak dapat menolaknya.
"Atau kita mampir ke mansion Wesley? ketemu sama mommy, nanti pulang aku jemput. Gimana?" tawar Ezra.
"Gak mau! aku kan maunya ikut ke kantor! apa kamu ada selingkuhan ya hiks ... ngaku kamu!" isak Lia.
Ezra tambah kelimpungan melihat sang istri yang menangis. Dia menenangkan sang istri dengan cara memeluknya.
"Nanti kalau kamu mual gimana?"
"Ke kamar mandi, tapi serius deh kalau mau kerasa mual aku bilang ke kamu," bujuk Lia.
Ezra pun melepas pelukannya, dia menatap perut Lia yang belum terlihat membuncit.
"Yasudah, sekarang bersiaplah." titah Ezra sambil bangkit dati duduknya.
Lia dengan senang hati mengangguk, dia berdiri dan berlari yang mana membuat Ezra hampir meneriaki istrinya
"Hais ... beginilah nikah sama anak kecil, harus ekstra sabar dengan tingkah nya," gumam Ezra.
***
Ezra memasuki kantornya dengan menggandeng lengan sang istri. Dia menghiraukan tatapan dari karyawan kantornya.
"Selamat pagi pak," ujar resepsionis.
"Selamat pagi," ramah Ezra.
"Maaf pak, direktur dari perusahaan xx telah menunggu anda di ruang meeting,"
"Baik, saya akan segera kesana," ujar Ezra
"Aku mau lihat kamu meeting," ujar Lia.
"Jangan ay, disana sumpek. Jadi di ruanganku aja yah," bujuk Ezra.
Lia menggelengkan kepalanya dengan cepat, dia tak mau menunggu Ezra seorang diri.
"Oke, jangan ganggu aku meeting. Promise?"
"Promise!" seru Lia.
Ezra pun mengajak Lia ke ruang meetingnya, dia membuka pintu dan masuk ke dalam.
"Kamu duduk di sofa itu aja, meetingnya dua jam jika bosan kamu bisa ke ruanganku dan istirahat disana," ujar Ezra.
Lia mengangguk patuh, dua berjalan menuju sofa dan menduduki dirinya.
Sedangkan Ezra, dia berjalan menuju kursinya dan menatap pria yang menjadi direktur perusahaan yang akan bekerja sama dengannya.
"Selamat pagi Pak Hari, senang bertemu dengan anda," ujar Ezra dengan nada datarnya
"Selamat pagi juga tuan Ezra," ujar Hari.
Ezra duduk di kursinya, dia membenahi letak kursinya. Netranya tak sengaja menatap wanita yang berada di sebelah oak Hari yang tengah menatapnya dengan takjub.
"Dia ...,"
"Oh, maaf. Dia putriku, katanya dia sangat ingin sekali bertemu dengan anda. Maaf jika saya membawanya," ujar Hari.
Ezra mengangguk kecil, dia juga tak mempermasalahkan hal iyu. Namun, dirinya risih ketika putri dari pak Hari menatapnya dengan intens.
"Jadi bagaimana? kerja sama ini tetap berjalan atau ...,".
" Maaf pak, saya lihat di beberapa berkas ... keuntungan yang saya dapat hanya 30% saham. Padahal saya donatur saham terbesar, jadi ini tak sesuai dengan pengeluaran saya," dingin Ezra
Hari memaksa senyumnya, dia berusaha membujuk Ezra agar menerima tawarannya
"Maaf tuan, CEO saya telah mengatakan bahwa tuan hanya mendapat 30% jika tuan ingin 50% tuan harus menambah pemasukan pada proyek ini," ujar Hari.
Ezra menahan kekesalannya, dirinya tak gampang di bodohi oleh pria paruh baya di depannya ini.
"Ehm ... maaf tuan, apa kau tak mau menerimanya? kalau kau menerima kerja sama ini aku akan senang sekali," ujar anak pak Hari dengan lembut
Ezra memandang sinis, dia menunjuk wanita itu dan menatapnya tajam.
"SIapa kamu sampai aku harus membuatmu senang huh? Aku mengizinkanmu disini agar tak menggangguku, wanita macam kau banyak aku jumpai di pasaran," kesal Ezra.
Wanita itu tampak malu, sementara ayahnya merasa tak enak dan menatap Ezra dengan pandangan bersalah.
"Maaf tuan,"
"Saya akan berbicara ini dengan CEO anda, saya kira yang datang CEO anda tapi kenapa jadi direktur yang datang? kami telah sepakat untuk bertemu dan saya merasa di permainkan disini!" sentak Ezra.
Melihat adegan itu, Lua hanya tersenyum. Dia mengusap perutnya dan berbicara pada sang anak dengan memuji suaminya.
"Lihatlah sayang, ayahmu sangat gagah ketika bekerja. Kalau besar, apa kau ingin menjadi seperti ayahmu hm?" lirih Lia berbicara pada bayinya.
Tiba-tiba Lia merasa jika perutnya bergejolak. DIrinya ingin muntah sehingga lia keluar dari ruangan Ezra menuju kamar mandi.
Tapi saat sampai di toilet karyawan, belum saja masuk ke WC. Lia sudah muntah di lantai toilet sehingga pekikan histeris seorang wanita membuat Lia terkejut
"ASTAGAAA! APA YANG KAU LAKUKAN? KAU TELAH MENGOTORI TOILET INI! APA KAU TAHU AKU SUDAH MEMBERSIHKANNYA HUH? DAN SEKARANG KAU MENGOTORINYA!" bentak seorang wanita yang tampak seperti OB.
Lia terkejut, dia segera membasuh wajahnya di westafel dan menatap wanita itu dengan pandangan bersalah.
"Maaf, Lia gak sengaja," cicit Lia.
"MAAF, MAAF! BERSIHKAN SEKARANG JUGA!" sentak wanita itu dan melempar kain pel kepada Lia.
Lia tersentak kaget, perutnya tak sengaja terpukul oleh kain pel. Dia pun meringis pelan, tapi tak urung dia membersihkan bekas muntahannya.
"Hiks ... Lia takut," lirih Lia.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.