
"Gimana dok? apa transfusinya sudah selesai?" tanya Alden ketika melihat sang dokter yang telah keluar.
"Sudah, kami akan segera menuju ruang oprasi tuan Zidan. Kalau begitu kami permisi," ucap dokter tersebut dan berlalu dari sana.
Alden mengangguk dan tak lama kemudian Clara keluar dari ruang transfusi darah.
"Gimana keadaan kamu?" tanya Alden.
"Baik om, saya sudah mendonorkan darah saya. Kalau begitu saya pamit kembali ke akademi," jawab Clara.
"Jangan dulu, lebih baik kamu istirahat dulu. Nanti orang suruhan saya yang akan mengantar kamu," ucap Alden.
Clara mengangguk, dia juga merasa lemas. Dia menduduki dirinya dan menatap Alden yang sibuk menepuk punggung Ravin. Sementara Amora dan Aurora sedang berada di kamar rawat Kirana.
"Om kayaknya sayang keluarga banget yah?" tanya Clara memecah keheningan.
"Harus, laki-laki harus bertanggung jawab menyayangi keluarganya. Semoga nantinya kamu menemukan laki-laki yang tepat," ujar Alden.
Clara tersenyum miris, dia mengingat kembali Ezra yang menolak nya secara terang-terangan.
"Aku sudah menemukan yang tepat om, tapi sayang ... waktunya yang gak tepat," lirih Clara.
Alden tahu apa yang Clara maksud, dia menduduki dirinya tepat di samping Clara dan memandang lurus ke depan.
"Kamu berhak mencintai pria mana pun tapi liat kondisi dan waktu. Kamu tidak bisa merebut pria yang hatinya sudah menjadi milik orang lain dan juga kamu tidak bisa memaksa pria itu untuk mencintai kamu seperti kamu mencintainya." terang Alden sambil membenarkan letak tidur Ravin.
"Semakin kamu mengejar pria itu maka semakin jauh pula dia dari jangkauanmu. Sama saja seperti kamu yang menggenggam erat pasir, bukannya semakin kuat kamu menahannya malah semakin berhamburan bukan?" terang Alden yang di balas anggukan oleh Clara.
"Tapi om, selama ini aku yang berjuang untuknya. Tetapi, malah dia menyukai wanita lain." lirih Clara sambil menundukkan kepalanya.
"Lupakanlah dia nak, walaupun kamu mendapatkannya justru itu akan semakin sakit jika kamu berhubungan dengan seseorang yang masih terikat akan masa lalunya," saran Alden.
Clara menghela nafasnya berat, dia tak tau harus apa. Namun, cintanya pada Ezra begitu besar. Tapi dia harus apa? dia tak mungkin melakukan rencana jahat hanya untuk seorang pria bukan?
"Oh ya, siapa namamu?" tanya Alden.
"Clara om, kalau om?" tanya Clara.
"Clara ya, panggil saja om Alden. Saat mendengar namamu, om jadi teringat akan putra sulung om. Waktu umurnya tiga tahun dia pernah memeluk seorang anak perempuan, dia memeluk bahkan menciumnya hahaha ... dia memanggil anak itu Clala karena kecadelannya yang mana membuat putri angkatku meledeknya," ujar Alden.
Clara tersenyum, dia merasa terhibur dengan cerita Alden. Tetapi beberapa detik kemudian dirinya kembali murung, dia teringat jika dia anak tanpa orang tua. Bahkan dirinya hanya anak angkat.
"Pasti anak-anakmu sangat bahagia memiliki ayah semacam dirimu, hah ... andaikan saja ayah kandungku tidak membuang ku," lirih Clara.
"Kau tadi bicara apa?" heran Alden.
"Aa tidak! tidak!" gugup Clara.
Alden mengangguk, tak lama ruang oprasi terbuka yang mana membuat Alden segera bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati ruang oprasi.
"Gimana keadaan kakak saya dok?" tanya Alden.
"Tuan Zidan sudah melewati masa kritisnya, kita akan segera membawa tuan Zidan ke ruang perawatan," jawab sang dokter.
Tak lama, brankar Zidan keluar dari ruang oprasi. Alden langsung tersenyum melihat sang kakak yang baik-baik saja, bahkan wajah sang kakak tak banyak berubah.
"Loh, om Zidan?!" kaget Clara.
Alden menoleh menatap Clara, dia mengerutkan keningnya bingung. Apakah Clara mengenal Zidan?
"Kau mengenal kakak om?" heran Alden.
"Iya om, walau aku hanya melihatnya baru 2 kali tapi aku yakin ini om Zidan papahnya Ezra," ucap Clara.
"Ez ...," Alden baru mengingat jika Leon mengganti namanya menjadi Ezra. Berarti benar apa yang istrinya ceritakan.
Brankar Zidan berjalan meninggalkan Alden yang menatap Clara dengan bingung.
"Dia papah dari pria yang aku cintai om, untuk itu aku sangat mengenalnya." cicit Clara.
"O-oh begitu rupanya,"
"Aku bukan wanita jahat om yang akan menggunakan kesempatan untuk menjadikan Ezra sebagai milikku. Aku bisa saja membuat om Zidan memaksa Ezra untuk menikahiku dengan alasan aku yang telah menyelamatkannya, tapi aku gak sejahat itu. Untuk itu, aku mohon ... om jangan bilang pada siapa pun yah. Aku takut Ezra semakin membenciku," ujar Clara.
"Om tau, kamu anak baik. Jangan salah jalan nak, carilah kebahagiaanmu pada pria yang mampu membahagiakanmu bukan pria yang menaruh luka pada hatimu." ucap Alden sembari menepuk pelan kepala Clara.
"Benar kata om, terima kasih sudah membuat ku sadar. Aku yakin anak-anak om pasti bangga memiliki ayah seperti om," ucap Clara.
Alden tersenyum, dia menarik tangannya dari atas kepala Clara ketika melihat sang istri yang berjalan mendekati mereka.
"Sudah selesai? gimana keadaan Zidan?" tanya Amora sembari tersenyum manis.
"Sudah di bawa ke ruang rawat," jawab Alden.
Amora mengangguk, dia menatap Clara yang tengah menatapnya. Tangannya terulur untuk menangkup kedua pipi Clara.
"Terima kasih banyak kamu sudah mendonorkan darahmu, udah cantik baik lagi," puji Amora dan menarik kembali tangannya.
"Hahaha, terima kasih tante. Aku juga senang bisa membantu, oh iya sepertinya aku harus pulang karena pastinya ayahku khawatir," ucap Clara.
Alden mengangguk, dia memanggil satu bodyguardnya yang memang menunggunya tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Kamu antar nona ini kembali ke akademi, helikopter masih ada di atas gedung. Kau bisa meminta Erwin untuk mengantar kalian karena dia masih berada di sana," terang Alden.
Akhirnya bodyguard tersebut mengarahkan jalan pada Clara, setelah berpamitan Clara pun mengikuti bodyguard tersebut.
"HATI-HATI!" titah Amora
"Ya!" sahut Clara.
Amora menghela nafasnya, setelah itu dia menatap Alden dengan tajam.
"Ingat umur! gak usah modus!" kesal Amora karena melihat suaminya yang menepuk kepala Clara.
"Astaga yang, aku cuma beri dia semangat doang kok," bela Alden.
"Beri semangatnya sambil modus ya pak?" ledek Amora.
Alden menghela nafasnya, tampaknya cemburu sang istri yak mengenal tempat dan waktu.
"Gak gitu yang aku ...,"
"Kemarin aja pas aku ngobrol sama Ezra cemburunya kebangetan padahal ama keponakan sendiri," gerutu Amora.
"Ya beda yang! umurku sudah 45 tahun mana ada yang mau sama aku sedangkan kamu masih 42 tahun. Banyak yang mau sama janda muda yang," terang Alden.
"Kamu doain aku jadi janda hah?! tuh kan!" sentak Amora.
Alden mengacak rambutnya frustasi, dirinya selalu salah bicara jika berdebat dengan sang istri.
"Gak yang, bukan gitu! maksud aku kalau wanita kan gak bisa nikah lagi kalau masih punya suami. Beda sama pria yang boleh nikah lagi," bela Alden.
"Terus maksudnya kamu mau nikah lagi hah?!" kesal Amora.
"Gak yang bukan ...,"
"Apalagi hah?! ngeles aja kayak bajai! berani nikah lagi, aku potong batang kamu! biar tau rasa!" marah Amora.
Alden meringis pelan, sementara Aurora hanya tertawa walau ia tidak mengerti. Dia suka dengan perdebatan orang taunya yang selalu berakhir di menangkan oleh sang mommy.
"Daddy payah," gumam Aurora.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.
pada salah ngira nih🤭🤭🤭, gak kok. Yang kalian kira gak pernah aku cantumin di cerita ini, alur itu udah pasaran guys🤭. Aku berusaha buat alur ini berbeda dari yang lain, seperti novel sebelumnya🥰🥰🥰
alur selanjutnya akan tambah buat kalian geregetan karena Ezra dan Lia .... hm ... gimana yah ...