
Cklek!
"Ezra?" bingung Zidan.
Zidan yang baru saja memasuki ruang kantornya sehabis rapat tadi di buat terkejut dengan adanya Ezra yang tengah duduk anteng sambil melihat majalah.
"Sudah selesai rapatnya?" tanya Ezra tanpa mengalihkan pandangan.
"Hm," dehem Zidan dan kembali menutup pintu.
Zidan berjalan mendekati Ezra, dia duduk tepat di samping putranya.
"Ada apa?" tanya Zidan.
Ezra menutup majalah itu, setelah itu dia menaruhnya di meja. Netranya menatap serius Zidan yang tengah menunggu jawabannya.
"Aku ingin kembali menjalani pengobatan amnesiaku," jawab Ezra.
"Terus?" heran Zidan sambil menaikkan satu alis matanya.
"Aku ingin meminta kenangan ku dengan Zanna, pasti kau memilikinya bukan?" pinta Ezra.
Zidan terdiam, dia menghela nafasnya pelan dan bangkit dari duduknya. Dia melangkah mendekati meja kantornya dan membuka laci.
SREK!
Zidan mengambil sebuah kunci yang berbandul nama Zanna dan kembali mendekati Ezra.
"Ini." ucap Zidan sambil memberikan kunci tersebut pada putranya.
Ezra menerimanya, dia menatap bingung kunci tersebut. Netranya kini beralih menatap sang papah yang sudah menduduki dirinya kembali.
"Kembalilah ke mansion lama kita yang ada di bandung, kamar yang bercat hitam. Itulah jawaban yang selama ini kamu cari, maaf ... maaf papah tidak memberi tahumu dari awal karena papah takut kesehatanmu terganggu," terang Zidan.
Ezra mengangguk, dia memasukkan kunci itu dan beranjak dari duduknya.
"Ehm, kalau gitu aku berangkat sekarang. Terima kasih banyak pah." ujar Ezra sambil tersenyum menatap sang papah.
Zidan ikut tersenyum, netranya hanya menatap kepergian sang anak. Saat putranya sudah menghilang dari pandangannya, senyum itu luntur berubah menjadi sendu.
"Papah takut kamu kecewa jika tau kalau mamahmu meninggal karena papah, maaf karena harus membuatmu tumbuh besar tanpa mamahmu," lirih Zidan.
Cklek!
Netra Zidan menatap datar orang yang masuk, dia berdecak sebal dan kembali ke kursi kerjanya.
"Ngapain lu kesini?" sinis Zidan.
"Gak ngapain-ngapain, ketemu sama besan sendiri emang salah?" sahut orang tersebut yang ternyata adalah Alden.
Alden berjalan mendekati Zidan, dia duduk tepat di depan meja kerja Zidan dan menatap kakaknya dengan serius.
"Anak lu ngapa ada disini? terus putri gue gimana disana?" tanya Alden.
"Ya di tinggal lah, paling cuma berapa jari doang. Khawatiran amat lu," jawab Zidan.
"Abis di nikahin, di tinggalin. Melas banget nasib putri gue," dramatis Alden.
"Ck, anak gue pergi karena mau pengobatan amnesianya. Bukan buat cari bini baru! drama banget lu!" kesal Zidan.
Alden membulatkan matanya, dia terkejut dengan apa yang Zidan katakan. Buat apa Ezra mengobati amnesia jika Zanna sudah menjadi miliknya? lagi pula masa lalu mereka hanya kisaran kurang dari 10 tahun.
"Untuk apa? bukankah mereka telah bersama? lagi pula takdir sudah menyatukan mereka," heran Alden.
"Entah, mungkin saja Ezra takut jika kejadian minggu lalu terulang lagi. Dia tak tau apa pantangan bagi Lia, dia tak tau apa yang disukai Lia dan dia juga tidak tau apa yang Lia tidak suka. Atau bisa jadi dia merasa kecewa dengan ingatannya yang tak kunjung kembali," terang Zidan.
"Minggu lalu? apa yang terjadi dengan minggu lalu?" tanya Alden dengan wajah khawatirnya.
Zidan menatap Alden dengan heran, apakah menantunya tak bercerita apapun pada Alden?
"Lia tak memberitahumu? ku kira malam itu dia atau Ezra menelponmu untuk menanyakan obat untuk Lia," heran Zidan.
"Ck, hanya masalah kecil. Kami tidak tahu jika Lia sangat tidak suka ikan, dia muntah-muntah dan berakhir sakit perut," ujar Zidan.
"KENAPA TIDAK ADA YANG BILANG PADAKU HAH?! aku harus menemui putriku, siapa tau perutnya masih sakit. Iya aku harus menemui putriku,"
Zidan terkejut ketika mendengar bentakan Alden, tetapi sedetik kemudian dia di buat heran dengan Alden yang melirihkan ucapannya dan pergi dati ruangannya dengan tergesa-gesa.
"Lah si bambang, orang udah minggu lalu juga," ujar Zidan.
***
Amora kini terlihat berlari mendekati pintu utama, dirinya di kabarkan jika Aira temannya telah datang mengunjungi mansionnya.
"AIRA!" seru Amora.
"KAKAK!" seru Aira.
Mereka akhirnya berpelukan, sampai-sampai pada bodyguard bingung dengan mereka.
"Bagaimana kabarmu? oh ya ayo masuk!" ujar Amora setelah melepas pelukannya mereka dan membawa Aira ke ruang tamu.
Amora dan Aira duduk, para maid pun menyajikan makanan untuk mereka.
"Oh iya kak Deon sama Alvaro mana?" tanya Amora.
Aira adalah istri dari Deon Erlangga, mereka telah memiliki seorang putra yang bernama Alvaro Erlangga yang kini berumur 15 tahun.
"Mas Deon sedang ada urusan, sedangkan Alvaro masih sekolah kak," ujar Aira.
Tak lama terdengar suara tawa anak kecil, siapa lagi kalau bukan Cia dan Ravin.
"Oh iya, apakah program bayi tabung kemarin sudah berhasil? bukankah kata mas Alden kalian berniat memiliki anak kembali?" antusias Amora.
Raut wajah Aira berubah sendu, matanya kini berkaca-kaca menatap Amora yang menatapnya bingung.
"A-ada apa? kenapa kau menangis? ma-maaf kakak salah bicara yah?" panik Amora.
"Gak kak, kakak gak salah. Mungkin kami belum di beri kepercayaan kembali menggendong anak," lirih Aira.
Amora memeluk Aira, dia tak tega melihat wanita itu bersedih. Apalagi selama ini Deon selalu memimpikan memiliki seorang putri.
"Tak apa, kau masih beruntung memiliki Varo. Di luar sana masih banyak yang masih berusaha," ujar Amora dan melepaskan pelukannya.
Aira mengangguk, setidaknya dia sudah mengeluarkan unek-uneknya pada Amora.
"MOMMY! MOMMY!" seru Cia yang berlari mendekati Amora.
"Jangan lari-lari sayang nanti jatuh," panik Amora.
Cia terkekeh pelan, dia merentangkan tangannya sehingga Amora membawa putrinya itu ke pangkuannya.
"Kak ... siapa dia?" tanya Aira karena setahunya Amora tak memiliki anak perempuan kecil.
"Oh ini Gracia Wesley, putri bungsuku," terang Amora.
"Bukankah anak bungsu kakak laki-laki? apakah kakak hamil kembali dan aku tidak tahu?" heran Aira.
Amora tersenyum, dia membisikkan sesuatu pada Cia sehingga putrinya itu mengangguk dan berlari keluar ruangan.
"Aku dan suamiku mengangkatnya menjadi putri kami, kasihan dia ... seorang anak yatim piatu di tambah sang kakak juga ikut meninggalkannya," terang Amora.
"Kasihan sekali, padahal dia anak yang sangat manis. Kau beruntung mengadopsinya kak," ucap Aira dan menatap Amora dengan raut wajah sedih.
"Benar, dia anak yang sangat manis. Bahkan dia tak pernah membebaniku, dia anak yang sangat penurut. Bahkan mas Alden lebih menyayanginya ketimbang Ravin," ujar Amora.
Aira mengangguk, dia juga menginginkan seorang putri terlahir dari rahimnya. Dia ingin mengabulkan keinginan suaminya yang ingin memiliki 2 orang anak. Namun, segala usahanya belum memiliki hasil.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.