Dark Memory

Dark Memory
Kekecewaan Raisa



Aqila tengah memasang wajah masang akibat Frans yang tiba-tiba ke apartemennya membawa segala jenis makanan.


"Bisakah kau keluar dari apart ku?!" sentak Aqila.


"Tidak sebelum kau makan!" ujar Frans sambil menatap Aqila yang duduk di meja makan.


Aqila mendengus kesal, dia berdiri dan menatap kesal ke arah Frans.


"KELUAR GAK!" teriak Aqila.


"Jangan berteriak, anak kita akan terkejut nanti," ujar Frans yang membuat Aqila semakin tambah marah.


"ANAK KITA JIDATMU! INI HANYA ANAKKU" sentak Aqila.


Aqila menghentakkan kakinya kesal, itu adalah merupakan kebiasaannya jika kesal. Dan kebiasaannya itu membuat Frans khawatir.


"OKE FINE! aku pulang," pasrah Frans.


"Tapi jangan menghentakkan kaki begitu, bayi kita bisa pusing nanti," lanjut Frans.


Aqika memegang kepalanya, rasanya kepalanya ingin pecah melihat tingkah laku Frans.


"Bi, ambil panci bi," pinta Aqila pada maid yang menonton live adegan mereka.


"Buat apa nyonya?" bingungnya.


"Bawa aja napa sih!" kesal Aqila.


Maid tersebut langsung ke dapur dan kembali dengan membawa panci, Aqila langsung mengambilnya dan melempar panci itu ke arah Frans.


DUGH!


KLONTANG!


"Aqila!" kesal Frans.


"APA?! BELUM JUGA PISAU YANG AKU LEMPAR KE KAMU!" teriak Aqila.


Frans mengusap jidatnya yang terasa sakit, bahkan kini benjolan tersebut terbentuk dan dapat di lihat oleh Aqila dan maid itu.


Terpaksa Frans keluar dari apartemen, dia sedikit ngeri dengan perubahan Aqila saat ini


"Aduuh ngeri banget yah," ringis Frans.


"Ini belum seberapa di banding kata-kata kamu!" sentak Aqila dan menutup pintu dengan keras.


BLAM!


Lagi-lagi Frans terkejut, Aqila menjadi galak semenjak wanita itu hamil.


Sementara Aqila tengah mencak-mencak kesal, netranya menatap semua makanan yang ada di meja makan. Begitu banyak makanan dan dirinya tidak mood untuk makan.


"Bi, bibi panggilin deh pak satpam yang jaga di bawah kan ada banyak tuh. Biar mereka yang habisin, aku ngantuk mau tidur," ujar Aqila.


"Tapi non, dari pagi non belum makan loh," ujar maid tersebut.


"Aku gak lapar bi," ujar Aqila.


"Tapi setidaknya untuk bayi non, dia juga pasti laper non,"


Ucapan maid itu membuat Aqila tersentuh, dia memandang perutnya dan mengelusnya perlahan


"Yaudah deh Qila makan," pasrah Aqila.


Aqila berjalan menuju meja makan, dia menatap hidangan yang akan ia makan.


Berbeda dengan Frans yang saat ini senyum-senyum sendiri, dia berhasil memasang CCTV di apartemen Aqila tanpa ada yang tahu. Sebuah CCTV yang kecil dan sulit di cari.


Frans yang kini berada di dalam mobil dan tengah perjalanan pulang ingin rasanya dia kembali, tapi dia juga tak mungkin di lempar panci kembali atau bahkan mungkin pisau.


"Kau, tolong antarkan aku ke pemakaman xx," pinta Frans pada supirnya.


"Baik King,"


Frans menumpu wajahnya dengan tangan kirinya, dia memandang jalanan yang tampak ramai. Dirinya kembali tersenyum membayangkan jika nanti ada yang memanggilnya daddy.


"Apa kau punya anak?" tanya Frans pada supirnya.


"Punya King,"


"Apa kau senang memiliki anak?" tanya Frans kembali.


"Tentu saja, anak adalah sebuah kado terindah yang maha kuasa berikan. Sebuah titipan yang sangat istimewa," ujar supir tersebut.


Frans tersenyum, dia menegakkan tubuhnya dan menatap supir dari spion tengah.


"Kau benar," ucap Frans.


"Secepatnya," ujar Frans.


Supir itu pun tertawa, tak banyak yang tahu jika Frans sebetulnya ramah. Hanya saja dirinya harus menjaga imagenya.


Tak lama mobil telah sampai di sebuah pemakaman, Frans segera turun dan memakai kaca mata hitamnya.


Frans mampir ke penjual bunga, dia membeli bunga dan dan menuju sebuah makam.


Tap!


Tap!


Tap!


Langkah Frans terhenti di depan sebuah makam, dia menjongkokkan dirinya dan menaruh bunga tersebut. Tangannya terangkat membuka kaca matanya.


"Aluna ... kau ibu dari Aqila bukan? Tujuanku kesini ingin meminta izinmu, aku berniat melamar Aqila untuk menjadi istriku. Namun aku masih takut pria rakus itu menyakiti Aqila dan anak kami," lirih Frans.


"Kau telah melahirkan wanita yang hebat, wanita yang kuat, walau dirimu bukan wanita baik tapi aku yakin Aqila adalah wanita baik,"


"Tenanglah disana dan restui kami,"


Setelah berbicara, Frans mengelus nisan tersebut. Dia bangkit dari jongkoknya dan memakai kembali kaca matanya. Tapi tiba-tiba dirinya terkejut mendengar sebuah tepukan di bahunya.


"Abang?"


"Raisa?"


***


"Abang bener-bener gila tau gak?! kok bisa abang berbuat seperti itu dengan kak Qila? aku perempuan, mamah juga perempuan bang! kalau abang sakitin perempuan, kita juga termasuk yang abang sakitin!" bentak Ica.


Frans hanya menunduk, ternyata adiknya mengikutinya sehabis dari apart Aqila.


"Maaf,"


"Gak bang, pemintaan maaf itu tidak dibutuhkan oleh kak Qila. TAPI TANGGUNG JAWAB!" kecewa Ica.


"Raisa, abang akan tanggung jawab. Tapi bukan sekarang, tunggu ...,"


"Tunggu apa? tunggu lebaran gajah? iya?" tanya Ica.


Frans terdiam, dia bingung harus menjawab apa.


"Raisa, kau tau paman Daniel akan berbuat apapun demi menghancurkan ku," ujar Frans.


"AKU TAU! SANGAT TAU! APA KAU LEMAH SAMPAI KAU TAK BISA MENJAGA ISTRI MU KELAK HUH? KAU MEMILIKI MAFIA YANG BERADA DI NAUNGAN PARA POLISI DAN PEMERINTAH! TAK MUNGKIN MUDAH BAGI DANIEL KAMPRET ITU UNTUK MENGHANCURKANMU!" bentak Ica dengan nafas memburu.


Frans terdiam, benar apa yang di katakan adiknya. Namun, perasaan takut kehilangan membuatnya banyak berpikir.


"Pikirkan lah bang, lebih baik kau sadari sebelum terpambat. Jika tidak kau akan kehilangan kak Aqila dari hidupmu selama-lamanya. Karena kak Aqila, adalah anak dari keluarga Lawrance yang bersahabat dengan Wesley. Pertarungan antar keluarga bisa terjadi hanya karena dirimu!" ujar Ica


Ica meninggalkan Frans yang terdiam di bangku taman tersebut, dia merenungi ucapan adiknya.


"Benar, aku akan kehilangan Aqila karena keegoisanku," lirih Frans.


Sementara Ica, dia naik motor kembali ke mansionnya. Dirinya sungguh kesal dengan kenyataan barusan.


Saat sampai di mansion, Ica langsung masuk dengan wajah menahan amarah. Dia bahkan tak menghiraukan para maid yang menyapanya.


"Raisa, kau kenapa sayang?" tanya Ane saat melihat putrinya masuk dengan wajah kesal.


"Mamah tanya sama putra kesayangan mamah itu, putra mamah yang sangat mamah manja itu dia menghamili seorang wanita yang tak lain adalah kak Qila!"


JDEERRR.


"Apa maksudnya Raisa?" kaget Ane.


"Abang telah merusak masa depan seorang gadis!"


Ane memegang dadanya, sungguh sesak rasanya mengetahui jika sang putra telah menghamili seorang gadis.


"Jangan bercanda Raisa!" sentak Geo yang baru saja datang dan sepertinya dirinya telah mendengar percakapan mereka.


"Aku tidak bercanda, lebih baik kalian tau dari awal dari pada kalian tahu saat janin itu telah berusia balita!" geram Ica.


Geo mengepalkan tangannya, sementara Ane sudah menangis tersedu-sedu.


"Mana abangmu?" tanya Geo dengan penuh amarah.


"Aku disini papah,"


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.