
"Tante?!" kejut Lia.
"Kamu?!"
Lia segera berdiri, dia terkejut mendapati seorang wanita paruh baya yang ia temui di rumah sakit.
"Kalian saling kenal?" tanya Ica memecah keheningan.
"Kita gak sengaja ketemu waktu itu," jawab Lia.
"Tante nyokapnya si Ica?" tanya Viola.
Ane, dia sama terkejutnya dengan Lia. Bahkan dirinya takut ketika Lia menatapnya dengan pandangan terkejut.
"Duduk sini mah," ajak Raisa.
Lia berperang dengan pikirannya, kebimbangan dalam hatinya tentang Ane membuatnya semakin pusing.
"Ica ini ... tante ini nyokap lu?" tanya Lia dengan suara bergetarnya
Ica memandang Lia aneh."Iya," sahutnya.
Lia mengingat kembali ucapan Ezra yang mengatakan jika mamanya masih hidup. Lia tambah pusing memikirkan hal ini, kepalanya berkunang-kunang.
"Hahaha ... ini ...," lirih Lia.
Viola merasa aneh, dia berdiri dan mendekati kakak iparnya itu.
"Lia lu kenapa?" khawatir Villa.
Lia menggeleng, netranya kembali menatap Ane yang tengah menatapnya bingung.
Lia menyingkirkan badan Viola, dia mendekati Ane yang terduduk.
"Nama tante, Diana?" tanya Lia.
sontak saja Ane langsung berdiri, dia menatap Lia dengan tatapan terkejutnya. Bahkan matanya kini sudah berkaca-kaca.
"Kamu ... kamu kok bisa,"
Lia memegang kepalanya, rasa pusing yang kini dia rasakan membuatnya tak sanggup berdiri.
"Lia, lu kenapa?" panik Ica yang kini sudah mendekati Lia.
Lia menggeleng pelan, air matanya luruh sembari menggeleng.
"Tante Diana ibu Ica, kenapa mirip dengan ibu kak Ezra. Ada apa ini? batin Lia.
Viola mengambil lengan Lia, dia segera mengajak Lia untuk duduk. Tapi belum saja Lia duduk, dia sudah pingsan di pelukan Viola.
"LIA!" panik Viola.
"Eeh pingsan beneran?" kaget Ica.
"Beneran lah beg0! dikira bercanda apa?!"
"Sudah-sudah, Ica kamu mending bantu Viola kita bawa ke rumah sakit," ujar Ane menengahi perdebatan mereka.
Ica mengangguk, dia membantu Ane membawa Lia ke mobil.
"Berat banget," dumel Viola.
"Syuuuttt berisik lu!
" Kenapa gak di bawa ke kamar aja sih? kenapa harus ke rumah sakit?" heran Viola.
"Muka Lia pucet banget kayak orang mati, kalau dia sampe ada apa-apa lu di buang sama bang Ezra!" kesal Ica.
Dengan sekuat tenaga mereka kahirnya bisa membawa Lia ke mobil dengan di bantu oleh bodyguard.
"Cepet!" panik Viola.
"Sabar napa! ini juga lagi masuk!" kesal Ica.
Mobil melaju ke rumah sakit, dengan di susul mobil Ane di belakangnya. Sementara Frans yang melihat dari balkon kamarnya mengernyit bingung.
"Ada apaan sih? heboh banget," gumam Frans.
Sedangkan kini Viola tengah melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ica, dia kini sedang memunculkan kepalanya di jendela sambil berteriak pada pengendara lain.
"MINGGIR WOY! DARURAT NIH DARURAT!" teriak Lia.
Mereka bahkan menerobos lampu merah membuat beberapa polisi mengejar mereka.
"Eh Vi, polisi ngejar," panik Ica.
"Suara lu sih bikin gendang telinga pecah!" kesal Viola.
"LU NEROBOS LAMPU MERAH DODOL!" teriak Ica yang kesal karena di salahkan.
Viola kaget, dia mengerem mobilnya secara mendadak yang mana membuat Ica serta Lia terpentuk.
"Katanya kita nerobos," ujar Viola.
"TERUS NGAPAIN BERHENTI JUMINTEEENNN!"
Ica menatap Viola dengan sangat kesal, dan tiba-tiba saja kaca mobil mereka di ketuk oleh polisi.
"Maaf mbak, mbaknya telah menerobos lampu merah," ujar polisi itu ketika Viola menurunkan jendela mobil.
"Pak kita lagi buru-buru," melas Ica.
"Maaf, peraturan tetap peraturan," ujar polisi itu.
Ica menatap Viola panik, begitu pun sebaliknya hingga tercetus ide di otak Ica.
"Pak, temen saya pingsan. Lagi bunting itu pak, kalau janinnya gak selamat gimana? bapak mau dia nerobos akhirat? mending nerobos lampu merah kan?!" usul Ica.
Polisi itu melihat Lia yang duduk di belakang, bisa di lihat memang wajah Lia sangat pucat.
"Bener?" tanya polisi itu.
"Yaelah pak, bener lah! mau ngulur waktu? keburu koid temen sayaaaa!" kesal Viola.
Polisi tersebut akhirnya mundur yang mana membuat Viola dan Ica memekik girang.
***
Cklek!
"Gimana dok keadaan teman saya?" tanya Ica pada dokter yang baru saja keluar dati ruang UGD.
"Bisa saya bicara dengan suaminya?" tanya dokter tersebut.
Ica menatap Viola, Viola pun menggelengkan kepalanya karena dia belum memberitahukan hal ini pada Ezra
"Ehm saya ibu mertuanya dok, suaminya lagi ada urusan," ujar Ane yang membuat Ica dan Viola sontak saja membulatkan matanya.
"Oh baik, jadi begini bu. Menantu ibu kini tengah mengandung, usianya masih sangat muda. Saya sarankan agar menantu ibu tak banyak pikiran apalagi di umurnya yang masih terbilang sangat muda untuk mengandung dan memiliki resiko yang sangat tinggi,"
Mereka semua terkejut mendengar penuturan sang dokter, Viola dan Ica saling memeluk senang. Sedangkan Ane tersenyum karena dirinya sebentar lagi akan menjadi nenek.
"Baik dok terima kasih," tulus Ane.
"Sama-sama, Pasien sudah sadar dan kalian bisa menjenguknya. Saya permisi," ujar sang dokter dan berlaku dati sana.
Setelah kepergian sang dokter, Ane masuk ke dalam ruang rawat Lia. Dia mengunci pintu agar Viola dan Ica tak masuk.
Terlihat Lia tengah duduk sambil memegangi perutnya, sedari tadi wanita itu terus mengeluarkan air matanya.
"Lia." panggil Ane sembari mendekati brankar Lia.
Lia menghapus air matanya, setelah itu menoleh menatap Ane dengan tatapan terkejut.
"Kamu sudah tau siapa saya?" tanya Ane.
"Iya, Lia tau siapa tante. Tante itu Diana kan ibu kandung dari kak Leon?" tanya Lia sembari menatap Ane.
Ane mengangguk, dia menduduki dirinya di tepi brankar Lia.
"Jika kamu sudah tau, saya mohon rahasiakan ini. Jangan sampai Leon tahu," pinta Ane.
"Kak Leon sudah tahu," ujar Lia dengan suara parau nya.
Ane membulatkan matanya. "Bagaimana bisa?"
Lia menghela nafasnya pelan, dia mengambil minum di atas nakas dan meminumnya perlahan.
"Dulu saat kecil kami sering membuat video, saat anda mendatangi papah. Disitu ada saya yang sedang memvideokan, dan kak Leon lihat video itu yang ternyata memory cardnya ada pada kak Leon." terang Lia sambil.kembali menaruh gelas tersebut.
Sontak saja Ane tertegun, dirinya harus apa sekarang?
"Tapi ... dia gak tau alasan saya pergi bukan?" takut Ane.
Lia tertawa sumbang, dia menatap Ane dengan tatapan tak bisa terbaca.
"Anda jangan egois, anda tidak mau kak Leon tau karena takut putra anda sendiri membenci ibu kandungnya bukan? jika anda seperti ini yabg di salahkan adalah papah!" ucap Lia dengan emosi.
"Kamu tidak tau yang sebenarnya," datar Ane.
"Apa yang tidak aku tahu?" tanya Lia dengan tatapan tajamnya.
Ane menghela nafasnya pelan, dia akan menceritakan. Tapi gagang pintu terus bergerak.
BUGH!
BUGH!
"Mamah! ini ada suaminya si Lia! jangan di kunci dong! udah panik nih suaminya!" teriak Ica.
DEGHH!