
Mobil mereka terus berjalan tetapi tak juga satu pun rumah mereka temukan, bahkan kini keadaan keduanya semakin parah terlihat dari bibir mereka yang semakin membiru.
"Hiks ... hiks apakah masih lama?" isak Lia.
Reno menoleh, dia menatap Ezra kemudian beralih menatap temannya dan membulatkan matanya.
"Lio! Lio! lajukan mobilnya lebih kencang lagi!" sentak Lio.
Lio tak mengerti, tetapi dia menuruti ucapan Reno. Jantungnya berdegup kencang, dia takut keadaan kedua orang itu semakin parah.
"Lia! periksa denyut nadi mereka!" ucap Reno sambil menoleh menatap Lia.
Lia mengangguk, dia memeriksa denyut nadi Ezra. Seketika matanya membulat sempurna, bahkan dia mengecek denyut nadi yang berada di leher Ezra.
"Denyut nadinya lemah!" ujar Lia.
Lia beralih memeriksa temannya, sama seperti Ezra. Dia merasakan denyut nadi yang lemah.
"Bagaimana ini hiks bagaimana!" histeris Lia.
Reno terdiam, seketika dia mengambil ponselnya dan ingin menghubungi seseorang.
"Kau ingin menelpon siapa hah?!" tanya Lio.
"kakek Jacob, hanya dia yang bisa menolong kita," ujar Reno.
Lio terkejut, dia mengambil paksa ponsel Reno dan membuangnya keluar.
"Apa yang kau lakukan hah?! kau mau mereka mati?!" sentak Reno.
"Diam bodoh! ambil ponsel ku dan cari kontak opaku. Jika kau menghubungi Jacob, bukannya kita tertolong malah mati konyol disini!" kesal Lio.
Reno tak mengerti apa yang di maksud Lio, tetapi dia menuruti perintah Lio. Tangannya segera mencari ponsel Lio yang berada di sakunya.
Saat Reno mencari kontak, tiba-tiba saja ada yang menelpon Lio tertera nama kontak tersebut adalah abang yang tak lain Elbert.
"Ini ada yang nelpon lu, tertulis abang," ujar Reno.
"Angkat, dan loud speaker!" titah Lio.
Reno langsung mengangkatnya dan meloud speaker ponsel Lio.
"Halo! apa kau tidak apa-apa? kenapa perasaanku tidak enak?" tanya Elbert.
"Bang, tolong kirim anak buahmu kesini! aku akan kirim lokasinya, 2 temanku terluka parah dan pasukan inti belum datang karena kendala," ucap Lio.
"Baiklah, dalam 5 menit kami sampai," ujar Elbert.
Lio menepikan mobilnya, dia mengambil ponselnya dan mengirim dimana lokasinya pada Elbert.
"Kenapa gak dari tadi Lio!" gemas Lia.
"Maaf, karena panik aku lupa. Lagi pula aku kira ada rumah warga dekat sini," ringis Lio.
Reno memutar bola matanya malas, dia memilih keluar dari mobil untu mengawasi sekitar.
Netra Reno menatap sesuatu yang menyala, dirinya terkejut dan kembali masuk kedalam mobil.
"MENUNDUK!" seru Reno sambil menundukkan kepalanya.
Lio dan Lia menunduk, mereka terkejut ketika mendengar dentuman yang sangat keras.
JDEERR.
"Suara apa itu?" tanya Lia
"Pesawat sukhoi Su-27, sepertinya para pasukan tambahan sudah berada disini. Tapi gue gak tau kenapa mereka melepaskan tembakan," jawab Reno.
Tak lama mereka melihat beberapa helikopter terhenti di tanah lapang tepat di samping mobil mereka.
Lio dan Reno keluar dari mobil dan menunggu helikopter tersebut mendarat sempurna.
Netra mereka melihat Elbert yang turun dari helikopter dengan pakaian formalnya.
"Abang!" seru Lia yang ternyata sudah keluar dari dalam mobil.
Lia berlari ke arah Elbert, dia menerjang tubuh abangnya dengan pelukan. Dia sangat merindukan abangnya ini.
"Apa kabarmu baby girl?"
"I'm oke, tapi Ezra dan temanku terluka parah. Tolong mereka bang," ujar Lia.
Elbert menoleh menatap Lio dan Reno yang sedang mengeluarkan Ezra dan teman mereka.
"Kalian! bantu mereka dan bawa mereka ke heli," titah Elbert pada anak buahnya.
Elbert merangkul sang adik untuk naik helikopter bareng dengannya tetapi Lia menolak, dia ingin Ezra bersamanya.
"Memangnya siapa dia hingga kamu menolak naik heli bareng abang hah?!" kesal Elbert.
"Udah bang mending si jendral naik heli abang aja," ucap Lio yang baru saja menghampiri mereka.
Elbert mengangguk pasrah, dia menyuruh anak buahnya untuk membawa tubuh Ezra ke dalam helikopternya.
Setelah mereka semua berada di dalam helikopter, Elbert memerintahkan mereka untuk berangkat menuju rumah sakit terdekat.
Dengan di dului oleh Helikopter milik Elbert, mereka berangkat menuju rumah sakit.
"Lepas!" ucap Elbert yang merasa tak suka pada Lia yang memegang lengan Ezra.
"Ih! kenapa sih bang! sirik amat!" kesal Lia.
Lia yang sedari tadi memegangi lengan Ezra membuat Elbert kesal, dia seperti tak suka Lia yang memegang tangan Ezra.
"Jangan-jangan dia sekaratnya modus!" seru Elbert
"Abang ih!" kesal Lia.
"Lagian dimana-mana tuh jendral lindungi anak buahnya bukan di lindungi," gerutu Elbert.
"Ezra begini karena Lia bang! kalau aja Ezra gak bantu Lia, mungkin sekarang Lia udah gak ada di hadapan abang!" lirih Lia.
Elbert merasa situasi yang berbeda, dia mendekap adiknya dan terkejut ketika mendapati sang adik yang menangis.
"Kenapa hm?" tanya Elbert dengan suara lembut.
"Hiks ... hiks ... Leon hiks ...," isak Lia.
"Hust! Leon udah gak ada, gak usah di inget-inget!" ucap Elbert yang mana. semakin membuat Lia menangis.
Elbert yang bingung pun mencoba menenangkan sang adik yang menangis histeris.
"Abang percaya padaku kan?" tanya Lia sambil melepaskan pelukannya dan menatap lekat mata sang abang.
Elbert mengangguk, dia terheran saat melihat Lia yang memberi gelang yang biasa adiknya pakai.
"Gelang ini ...,"
"Ini gelang yang kak Leon kasih, aku ingat kala itu kak Leon mengunci gelangku dengan kalungnya. Abang, katakan padaku ... apa kau percaya jika kak Leon ternyata masih hidup hiks ...," ujar Lia.
"Dek, abang mohon kamu harus ...,"
"Harus apa? apakah aku harus melupakan kak Leon yang saat ini ada di sebelah ku?" sela Lia.
Elbert terkejut, dia menoleh menatap Ezra yang berada di sebelah Lia. Dia menajamkan matanya dan melihat betapa miripnya pria itu dengan Leon.
"Dia Leon?" tanya Elbert yang di balas anggukan antusias dari Lia.
"Apa mentalmu terguncang lagi Lia?" tanya Elbert dengan hati-hati.
"Aku tidak sedang berkhayal bang! ini beneran Leon! Lihat gelang ini, gelang ini terbuka karena sebelum Ezra pingsan ... dia membuka gelangku dengan kalungnya." terang Lia sembari memperlihatkan gelangnya dan kalung Ezra yang tadi sempat ia lepas.
Elbert menatap sendu adiknya, dia takut apa yang adiknya bicarakan hanyalah khayalan sang adik. Dia takut apa yang terjadi beberapa tahun silam kembali terjadi pada adiknya.
"Lia, bukankah kau ...,"
"Abang, percaya padaku. Kali ini mentalku sehat, aku tidak berkhayal ataupun semacam yang abang pikirkan. Ezra dia memanggilku dengan Zanna," sela Lia kembali.
Elbert berusaha percaya, walau sebenarnya dia agak ragu. Tak lama helikopter mereka mendarat di atas sebuah gedung, bahkan di atas gedung beberapa dokter dan suster sudah bersiap.
Elbert dan Lia segera turun, sementara dokter dan suster segera membawa tubuh Ezra ke brankar.
"Sebelum kemari aku sudah menghubungi rumah sakit ini untuk bersiap, karena hanya rumah sakit ini yang paling dekat." terang Elbert sambil merangkul adiknya mengikuti brankar Ezra yang dibawa masuk ke dalam lift oleh mereka.
Tak!
Netra Lia mendengar bunyi barang yang jatuh, dia menatap sebuah kotak berwarna merah yang jatuh dari celana Ezra.
Dengan segera Lia menunduk dan mengambil kotak tersebut. Setelah itu Lia bangkit dan menatap kotak tersebut.
"Apa isinya yah?" gumam Lia.
Lia akan membukanya, tetapi Elbert malah menarik tangannya untuk masuk ke dalam lift.
"Cepatlah!" ajak Elbert.
"Iya! iya!" kesal Lia.
**JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.
Maaf atas keterlambatan updatenya**.