Dark Memory

Dark Memory
Will you marry me



Mereka semua tengah menunggu Ezra dan teman mereka yang sedang di tangani oleh dokter. Bahkan lampu ruang oprasi pun masih merah.


"Oh iya, siapa anggota yang terluka tadi?" tanya Lia.


"Dia Heri, anak dari jendral Hendri. Tapi sayang ayahnya sudah tiada karena gugur di medan perang begitu pula dengan ibunya, dia hanya tinggal dengan adiknya yang saat ini baru berusia tiga tahun." jawab Reno sambil menduduki dirinya di bangku tunggu.


"Terus, adiknya gimana? kan kakaknya tinggal di asrama," tanya Lia yang ikut nimbrung percakapan mereka.


"Ada di panti," jawa Reno dengan singkat.


Lia mengangguk, dia merasa kasihan dengan adik Heri yang baru berumur tiga tahun tinggal di panti. Dirinya teringat akan Ravin yang juga berumur sama dengan adik Heri.


"Kasihan sekali, adiknya pasti sangat sedih ketika mengetahui keadaan kakaknya," lirih Lia.


Netra Lia tak sengaja melihat lampu ruang oprasi yang berubah hijau, dia segera berdiri dan mendekati pintu ruang oprasi.


Cklek!


"Dok bagaimana keadaan mereka?" tanya Lia dengan tidak sabaran.


Terlihat dokter tersebut membuka maskernya, dia menatap Lia yang sedang terlihat khawatir.


"Maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi, tuhan lebih sayang padanya," ucap sang dokter yang mana membuat Lia terdiam dengan air mata yang mengalir di pipinya.


Elbert langsung menahan tubuh sang adik yang hampir limblung, dia menatap dokter yang menghela nafasnya ketika melihat raut terkejut mereka.


"Dok apa yang kau katakan? kau pasti bercanda," lirih Lia.


"Maaf, pasien bernama ...,"


Brak!


Lia memaksa masuk yang mana membuat Lio dan Elbert memanggil Lia yang sudah berada di samping brankar Ezra.


"Hiks! bangun! hiks ... Ezra bangun!" sentak Lia.


Lia mengguncang tubuh Ezra dengan keras, dia menangis histeris karena Ezra tak kunjung membuka matanya.


"Bangun! kau jendral bukan? kau harus bangun Ezra hiks ... kau harus menjelaskan semuanya padaku hiks ... kau harus bersama ku hiks ... aku memaafkan kesalahanmu yang telah menghilang hiks ... ta-tapi hiks ... tapi ku mohon bangunlah! bangun!" histeris Lia.


"Lia, sudah biarkan Ezra tenang," ucap Lio.


Lia menoleh, dia menatap tajam Lio yang mendekatinya.


"DIAM DISANA! KENAPA KALIAN TIDAK ADA YANG PERCAYA PADAKU HAH?! EZRA GAK MUNGKIN MATI! LEONNYA ZANNA GAK MUNGKIN NINGGALIN ZANNA YANG KEDUA KALINYA HIKS ... HIKS .." teriak Lia.


Tangan Lia saling mengepal, bahkan kotak yang Lia bawa kini terjatuh dan terbuka yang mana membuat atensi mereka beralih menatap barang yang menggelinding tersebut.


"Cincin?" gumam Reno.


Reno memgambil nya, dia membulatkan matanya ketika melihat cincin tersebut.


"Berlian woy!" seru Reno.


Lio segera mendekat, dia mengambil cincin itu dan mendekati Lia. Sedangkan Lia yang tersadar dari terkejut nya segera mengambil cincin itu.


"Kamu beli ini buat apa hah! bangun dulu hiks ... bilang ini cincin buat siapa hiks ... kamu jahat tau gak hiks ...," isak Lia.


Lia menghentikan tangisannya, dia menatap cincin itu yang terdapat nama Zanna.


"Hiks huaaa! bangun Zra! jangan mati dulu! lu mau lamar gue kan? ayok lamar dulu jangan mati dulu!" ujar Lia sambil menangis histeris kembali.


Reno dan Lio saling tatap, mereka bingung bagaimana cara megekspresikan wajah mereka terhadap suasana saat ini.


"Dek, udah!" sentak Elbert.


Bugh!


Lia yang akan membalas ucapan Elbert tak sengaja menghentakkan tangannya pada perut Ezra.


"Aaaww!"


Mereka semua terkejut melihat Ezra yang terbangun dan memegangi perutnya.


"Jen- jendral?!" seru Reno.


Ezra kembali membuka matanya, dia menatap satu persatu orang yang berada di ruangan itu.


"Ka-kamu masih hidup?" kaget Lia.


Ezra mengangguk, dia menoleh dan menarik tirai yang berada di sebelah kirinya.


"Yang gak bisa di selamatin Heri, dia terkena racun yang ada di peluru tersebut. Dokter tadi udah bilang sama saya," ujar Ezra.


Mereka menatap tubuh Heri yang sudah berselimutkan kain putih.


"Hiks ... hiks ..."


Bugh!


"Lia! Lia!" panggil Lio dan mengikuti kemana Lia pergi.


Ezra terkejut, dia merasa bersalah karena berpura-pura. Dirinya hendak bangkit tetapi Elbert menahannya.


"Diamlah bodoh! Lia seperti itu karena kecewa padamu! Seharusnya kau tak perlu melakukan hal konyol seperti ini! buat apa kau berpura-pura mati seperti itu hah?!" kesal Elbert sambil menatap tajam Ezra.


Ezra hanya menatap Elbert, dia kesal dengan ucapan Elbert yang menuduhnya. Padahal dia tak benar berpura-pura hanya saja di tertidur namun terbangun karena tangisan Lia.


"Ck, kamu siapa sih hah?!" kesal Ezra.


"Lu ... lu lupa sama gue hah?! jangan bercanda, kata Lia lu Leon?" tanya Elbert.


Ezra hanya menatap datar Elbert, dia tak menjawab apa yang Elbert tanyakan.


"Nah kan! bener berarti, mental adek gue terguncang lagi nih pasti. Ampe nganggep lu Leon," cerocos Elbert yang tak mendapat jawaban dari Ezra.


"Mental?" heran Ezra yang terpancing dengan omongan Elbert.


"Iya, adek gue Lia sempet terguncang mentalnya karena di tinggal Leon. Selama tiga tahun dia pengobatan mental," ujar Elbert.


Ezra membulatkan matanya, dia akan bangkit dan ingin menemui Lia. Tetapi netranya menangkap sosok yang dia rindukan.


"Zanna," lirih Ezra.


Lia hanya berdiri di ambang pintu, dia masih terisak saat melihat Ezra yang juga tengah menatapnya.


Elbert mengerti situasi yang ada, dia segera keluar dan membiarkan Lia dan Ezra berbicara.


Kini hanya tinggal mereka berdua, Lia berjalan pelan mendekati brankar Ezra.


"Hiks ... hiks ..." isak Lia.


Ezra tersenyum tipis, entah mengapa setiap melihat Lia hatinya berbunga-bunga.


"Sini, Zanna nya Leon," lirih Ezra.


Lia yang tak kuat menahan tangis akhirnya tangisnya pecah bersamaan dengan dirinya yang menubruk tubuh Ezra untuk dia peluk.


"Hiks ... huaaa hiks ...," isak Lia.


Ezra hanya mampu mengelus rambut Lia, walau dia sedikit merasa sakit pada perutnya tetapi dirinya tak ingin merusak momen ini.


"Leon hiks ... kak Leonnya Zanna udah balik hiks ... selama ini Zanna gak berkhayal, Leonnya Zanna masih hidup hiks," oceh Lia.


Leon tersenyum, dia melepas pelukannya dan menghapus air mata Zanna dengan ibu jarinya.


"Jangan menangis, air matamu terlalu berharga untuk menangis karena ku. Maaf kan aku yang belum bisa mengingatmu hingga kini, tapi wajahmu ini selalu terbayang dalam mimpiku," ujar Ezra.


Lia tersenyum, dia mengelus wajah Ezra yang sangat halus itu. Lia sangat iri mengapa wajah pria itu sangat halus dan lembut, bahkan wajahnya pun mungkin akan kalah.


"Aku merindukanmu," lirih Ezra.


Lia mengangguk, tangannya terulur untuk mengambil sebuah cincin dari sakunya.


"Ini cincin buat aku?" tanya Lia.


"Bukan!" canda Ezra.


Bugh!


"Aw! sakit ay!" ringis Ezra karena Lia memukul dadanya lumayan kencang.


"Ay, ay apa? ayam!" kesal Lia.


Ezra terkekeh geli, dia mengambil cincin yang berada di tangan Lia dan menatapnya sebentar.


"Lima tahun lalu aku membeli cincin ini, aku tidak tau siapa kamu tapi ... aku yakin kamu masa depanku. Zanna, nama yang terlintas di pikiranku ketika melihat cincin ini." terang Ezra sambil menatap Lia.


Lia tertegun, dia menatap Ezra yang tengah memegang tangannya dan akan memasukkan cincin itu ke jari manisnya.


"Jadi Zanna Liana Wesley, maukah kamu membantuku untuk mengingat kembali kenangan kita? maukah kau membantuku untuk membuka lembaran baru sebagai Ezra Louise Elvish bukan Leonardo Elvish? maukah kamu berjuang bersamaku?" tanya Ezra sambil menatap lekat ke arah Lia.


"A-aku ...,"


"And will you marry me?" sela Ezra sambil menutup mulut Lia dengan satu jarinya.


Jantung Lia berpacu dengan cepat, bahkan kini pipinya memerah ketika mendengar ucapan Ezra yang terakhir dan juga perlakuannya.


"Gentong mana gentong?! kasih gue gentong cepet! rasanya gue mau teriak!" ucap Lia dalam hati.



JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.