
Seorang pria berpakaian santai dengan menggunakan celana jeans dan jaket hitamnya membuat pria itu terlihat sangat tampan.
Pria itu turun dari jet pribadi nya, dirinya tersenyum karena merasa senang kembali mengi jak tanah airnya.
DERTTT!
Telpon pria tersebut berdering, senyumnya semakin lebar ketika melihat kontak siapa yang menelponnya.
Dia menggeser tombol hijau dan mengangkat telpon tersebut.
"ELBERT! DIMANA KAU HAH? KAU JANJI HARI INI AKAN PULANG, DIMANA KAU SEKARANG!"
Suara teriakan wanita membuat telinga pria yang bernama Elbert itu berdengung. Dirinya terkekeh mendengar ke khawatiran wanita itu siapa lagi jika bukan sang mommy.
"Aku sedang dalam perjalanan," ujar Elbert.
Elbert berjalan dengan telepon yang masih menyambung, dia harus pulang cepat untuk bertemu keluarga tercinta.
"Baiklah mommy, aku dalam perjalanan. Kenapa kalian begitu ingin aku cepat pulang? memangnya ada acara yang spesial?"
Elbert menggelengkan kepalanya, tak pernah sang mommy seheboh ini saat menyuruhnya pulang.
"Ok mommy, aku sudah berada di mobil. Dejam lagi aku sampai, bye ... aku sayang mommy," ujar ELbert dan mematikan ponselnya.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, ELbert asik memainkan ponselnya karena membalas chat dengan tunangan nya Audrey.
"Pak kita mampir ke toko kue dulu yah," pinta Elbert.
"Siap tuan muda," jawab sang supir.
Tak lama mobil yang di tumpangi ELbert terhenti di sebuah toko kue, dia turun dan memasuki toko kue itu.
"Selamat datang," ujar pelayan tersebut.
"Saya minta cheesecake lima, tolong cepat," titah Elbert.
"Baik tuan, silahkan tunggu kami akan mengemasnya segera," ujar pelayan itu dan berlaku dari hadapan Elbert.
Elbert kembali melihat ponselnya, dia membalas pesan dari rekan kantornya.
DUGH!
"Aduh maaf mas,"
Elbert melihat bajunya yang terkena kue, dia akan memarahi orang tersebut. Namun, dirinya malah melihat wanita yang pernah ia lihat seru waktu di rumah sakit.
"Lu? emang hoby lu yah nabrak gue?" kesal Elbert.
"Kan tadi saya udah minta maaf, salah masnya sendiri tadi berdiri disini!" ujar wanita itu.
"Ehm maaf ada apa ini?" tanya seorang pria yang baru datang. Terlihat dia merangkul wanita itu dengan lembut.
"lu pasti pacarnya kan? bilangin sama cewek lu buat gak sellau nabrak orang!" kesal Elbert.
Pria itu melihat jaket Elbert yang terkena kue, dia melihat tangan wanita itu yang masih memegang pring tadi.
"Aku gak sengaja mas," lirih wanita itu.
"Udah, yang penting Clara gak papa," ujar pria tersebut.
Elbert mengerutkan keningnya, dia menunjuk wajah Clara dengan telunjuknya.
"Lu seharusnya minta maaf sama gue, bukan sama pacar lu itu!"
"Maaf, tapi saya suaminya bukan pacar yang anda maksud," datar pria tersebut.
Elbert menahan geramnya, orang di depannya benar-benar membuatnya kesal.
"Lu! nama lu siapa?" tanya Elbert sambil menatap Clara.
"Ngapain nanya nama istri saya?" kesal pria itu.
"Eh triplek! terus gue nyebut istri lu apa? sayang gitu?" jengah Elbert.
"Clara, nama saya Clara," ujarnya
Saat Elbert akan berbicara kembali, seorang pelayan kembali dengan membawa pesanan Elbert.
"Maaf tuan, ini pesanannya," ujar pelayan tersebut.
"Baik, ini uangnya," ujar Elbert.
Pelayan tersebut menerimanya, Elbert menoleh menatap wanita yang bernama Clara dan juga suaminya itu. Tapi tiba-tiba saja mereka tidak ada.
"Ck, pasutri aneh!" gerutu Elbert.
***
Saat di mobil Elbert melepas jaketnya yang terkena kue sehingga kini dirinya hanya memakai kaos polosnya
"ABAAAANGGG!" seru Ravin di belakangnya ada Cia yang asik memakan permen sambil berjalan mengikuti Ravin.
"Awas, abang bawa kue nanti jatuh kuenya Ravin gak bisa makan," ujar Elbert.
Ravin mengentikan langkahnya, dia menatap berbinar kue tersebut.
"Lavin mau Lavin mau!" seru Ravin.
"Iya, bawa ini ke dapur. Awas, jangan sampai jatuh," pinta Elbert menyerahkan satu kotak kue yang hanya bisa di bawa oleh adiknya.
Sedangkan Cia hanya menatap Elbert dengan polos.
"Hai sayang, bagaimana kabarmu?" ujar Elbert dengan lembut.
"Baik abang, abang pulangna dali mana?" heran Cia.
"Abang dari ...,"
"Eh Elbert sidah pulang, Loh Cia kok disini? makan permen lagi? tadi kan mommy suruh habisin susunya,"
Amira mendekati Cia, dia menggendong putrinya dan menatap Elbert yang terlihat merindukan sang mommy.
"Masuk duku yuk," ajak Amora
Netra Amora melihat kue yang di bawa Elbert, sehingga dia memanggil maid dan menyuruhnya untuk membawa kue tersebut.
Amora mengajak Elbert masuk, dirinya Memang sangat sibuk menyiapkan pernikahan kedua putrinya lusa nanti.
Elbert menatap aneh para pekerja yang sibuk menyiapkan sesuatu, bahkan banyak barang-barang mewah yang ada di meja ruang tamu.
"Mom ini kenapa banyak sekali barang? memangnya ada apa?" heran Elbert.
"Oh iya mommy lupa ngasih tau kamu, kalau lusa pernikahan kedua saudara kamu," ujar Amora.
Elbert mengerutkan keningnya, dia bingung yang mana lagi adiknya yang akan menikah. Apakah Aurora? masa iya adik kecilnya menikah di usia dini?
"Aurora?" heran Elbert.
"Ngaco kamu! emang ini zaman apa menikahi anak diusia dini, umur adikmu itu masih sebelas tahun!" kesal Amora.
"Yah terus siapa dong?" kesal Elbert.
"Ezra sama Lia mereka akan menikah kembalj dan juga Aqila ... dia menikah dengan ...,"
Perkataan Amora terhenti ketika melihat Frans yang telah dayang dan kini berdiri di belakang Frans.
"NAH, tu dia calon Aqila," ujar Amora.
Elbert menolehkan kepalanya, sontak saja dirinya membulatkan matanya ketika melihat Frans yang menatapnya dingin.
"MOMMY YAKIN DIA INGIN MENIKAHI AQILA?" kaget Elbert.
Amora mengangguk pelan, dia tak mengerti mengapa reaksi Elbert seperti itu. Sedangkan Cia memaksa turun dari gendongan AMora dan menyusul Elbert yang ada di dapur.
"Lu ... cowok egois yang pernah gue temuin mau menikahi cewek yang udah lu rusak? kepala lu kejedot dimana hah?"
"Oh, atau lu mau menikahi kak Qila hanya karena bayinya aja?"
Perkataan Elbert membuat Frans mengepalkan tangannya. Tak pernha terbesit di benaknya untuk berniat seperti yang Elbert tuduhkan padanya.
"Elbert, kau tahu?" heran Amora.
"Ya aku tahu, aku tahu jelas apa yang pria ini katakan pada kak Qila. Kalian mau menikahkan Aqila dengan pria yang dengan tega menyuruh Aqila untuk menggugurkan bayi tak berdosa itu?!"
Amora terkejut bukan main, dirinya kira ELbert tak mengetahuinya.
"Elbert, ini bukan pilihan kami. Tapi Aqila, dia ...,"
"Mom, bagaimana jika dia memaksa kak Qila untuk mengugurkan janinnya kembali?" sela Elbert.
Frans menatap Elbert yang balas menatapnya dengan tak kalah dingin.
"Saya menyesal waktu itu, untuk itu saya akan memperbaiki semuanya," ujar Elbert.
"El, mommy mohon nak. Gak usah cari masalah kembali, keluarga kita baru saja damai. Bila Aqila tak menikah dengan Frans, jika bayi itu lahir tanpa ayah bagaimana nak?" bujuk Amora.
Elbert menghela nafasnya, dia akan berbalik. Namun dirinya mendapati Aqila yang ternyata melihat perdebatan mereka.
"Kak Qila?"
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.