Dark Memory

Dark Memory
Aqila hamil?



Ravin tampak memeluk toples besar, dia segera keluar dari dapur menuju pintu utama. Para bodyguard pun bingung mengapa bocah itu membawa toples gula dari dapur? mengapa para maid dan koki tak ada yang melihatnya?


Ravin telah keluar dari gerbang, senyumnya tampak mengembang ketika melihat penjual permen kapas itu belum pergi.


"PAK! ini gulana," ujar Ravin dan memberikan gula tersebut pada penjual permen kapas.


Bapak tersebut tampak bingung, tapi dia tetap mengambil toples tersebut dan menatap Ravin.


"Sudah izin dengan ibunya belum?" takut bapak itu.


"Cudah, tadi Lavin ijin ke bibi dapul. Pinjam gulana telus di kacih, cepet buat ya pak! kebulu daddy culuh pulang," terang Ravin.


Akhirnya bapak itu membuatkannya, dia sebenarnya sedikit takut. Tetapi apa boleh buat? Ravin tetap memaksa.


Sedangkan di dapur, kini Amora telah kembali ke dapur karena tadi sempat pergi sebentar ke ruang kerja Alden.


"Dah beres juga, tinggal gula ...," Amora mengerutkan keningnya, dia mencari di mana toples gula.


Tangannya sibuk mencari toples gula di kumpulan para toples. Merasa tak dapat menemukannya, dia menoleh menatap koki.


"Paman, toples gula dimana?" tanya Amora.


"Aduh, maaf non. Tadi tuan kecil bawa toplesnya, saya tidak tau dia bawa kemana. Katanya sih tadi darurat, gitu," jawab koki tersebut.


Amora membulatkan matanya, dia keluar dari dapur untuk mencari sang anak.


"Mas liat Ravin gak?" tanya Amora ketika melihat Alden yang ternyata baru keluar dari lift dan mendekat ke arahnya.


"Gak, aku gak liat. Tadi kan sama kamu?" heran Alden.


"Tadi sama aku, terus dia beli permen kapas di depan. Masalahnya, toples gula di dapur dia bawa gak tau kemana," panik Amora.


Alden menghela nafasnya pelan, dia keluar dari mansion menuju pos penjaga.


"Pak Salim, liat Ravin gak?" tanya Alden.


"Si aden keluar tuan," ujar pak Salim penjaga gerbang.


Alden segera membuka pagar, dia menoleh ke kanan dan ke kiri mencari sang putra. Netranya menyipit ketika melihat Ravin sedang berada di depan penjual permen kapas.


"RAVIN!"


***


Elbert tengah berjalan terburu-buru di lorong rumah sakit, dia mendapat kabar jika Aqila masuk rumah sakit karena pingsan di jalan.


BRUGH!


"Eh sorry-sorry, gue buru-buru. Maaf," ucap Elbert dan kembali berlari meninggal kan seorang wanita ber jas dokter yang menatap heran Elbert.


"Siapa sih dia? gak tanggung jawab lagi, sakit nih!" gerutu wanita tersebut.


Sementara Elbert sudah menemukan kamar rawat Aqila, dia akan memutar knop pintu itu. Namun, tangannya terhenti ketika memdengar sesuatu.


PRANG!


"GUEE GAK MAU GUEE GAK MAU! LU HARUS TANGGUNG JAWAB FRANS!


"Terserah, gue gak mau nerima anak ini. Kalau gak mau nanggung malu, gugurin anak ini sekarang!" ucap seorang pria.


BRAK!


Elbert membuka pintu dengan kasar, dia menatap Aqila yang sedang nangis tersedu-sedu. Sementara Frans, hanya menatap datar ke arah Aqila.


BUGH!


Tanpa aba-aba, Elbert langsung memukul wajah pria yang bernama Frans itu hingga tersungkur.


" MAKSUD LU APA HAH?! LU APAIN KAKAK GUE!"


BUGH!


"ELBERT! udah hiks ... udah hiks," isak Aqila.


Elbert menghentikan pukulannya, dia menoleh menatap Aqila dan mendekati wanita itu.


Aqila masih menangis, sehingga dia tak sanggup menjawab pertanyaan dari Elbert.


"Uhuk! uhuk! lu ... lu mau tau apa masalah gue sama perempuan murahan ini?" tanya Frans.


Elbert mengepalkan tangannya ketika Frans menyebut jika Aqila adalah perempuan murahan.


"Dia ... dia hamil dan gak tau anak siapa?"


"INI ANAK KAMU!" lanjut Aqila.


Elbert mematung, dia menatap Aqila tak percaya. Mata Elbert mengembun, dia sungguh tak percaya jika Aqila melakukan dosa yang begitu besar.


"Kak Qila ... Bilang kalau ini gak bener, bilang kalau ini cuma kebohongan Frans?" tanya Elbert dengan tubuh bergetar.


Aqila menggeleng, dia menangis. Apa yang dia katakan dan Frans barusan adalah kenyataannya. Dirinya hamil, dan itu adalah anaknya Frans.


"Lu udah rusakin kakak gue Frans! gue gak terima lu giniin kakak gue!" bentak Elbert.


"Ck, dia yang suka rela naik ke tempat tidur gue. Kenapa gue harus tanggung jawab?" acuh Frans.


Elbert akan memukuli Frans, tetapi pria itu tertawa sinis yang mana membuat Elbert bingung.


"Lu tau? buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, ibunya seorang j4l4ng anaknya pun akan sama. Dia gak terima pisah dari gue, dan dia berbuat nekat dengan memasukkan obat tidur ke dalam minuman gue. Dia ingin tubuh gue, bukan cinta gue," terus terang Frans.


Elbert mematung, dia menoleh menatap Aqila tak percaya. Apakah perempuan itu merendahkan dirinya hanya demi seorang pria seperti Frans?


"Besok gue berangkat ke Belanda, kita udah gak ada hubungan apa-apa lagi." ujar Frans sambil menatap Aqila yang terisak.


Elbert menatap kepergian Frans, setelah itu dia menoleh menatap Aqila yang sesenggukan.


Elbert mencengkram kuat bahu Aqila, dia menatap tajam Aqila yang sedang meringis kesakitan.


"BILANG KAK! INI GAK BENER KAN! LU GAK MUNGKIN SEMURAHAN ITU! INGAT KAK, ITU DOSA BESAR!" bentak Elbert.


"HIKS ... HIKS ... IYA! KAKAK YANG LAKUIN SEMUA! KAKAK YANG LAKUIN SEMUA HIKS ... KAKAK PEREMPUAN KOTOR, PENDOSA DAN HINA! TINGGALKAN AKU SENDIRI MULAI SEKARANG EL! LU GAK PANTES PUNYA KAKAK KAYAK GUE!" teriak Aqila.


Elbert terdiam, cengkramannya pada pundak Lia melonggar. Netranya menatap Lia tak percaya, tangannya menutup separuh wajahnya dan tak lama air matanya jatuh.


"Hahaha ... gue kira lu beda kak, gue kira lu gak bakal ikutin jejak ibu lu itu. Gue kira didikan daddy masih melekat, ternyata gue salah ... lu gak ada bedanya dengan pel4cur di luar sana! GUE KECEWA SAMA LU KAK!"


Setelah mengatakan itu Elbert keluar meninggalkan Aqila yang menangis tersedu-sedu. Bahkan wanita itu kini meremas dadanya sangking sakitnya perkataan 2 pria itu untuknya.


"Hiks ... hiks ... gue terpaksa ... gue terpaksa ... maaf ... maaf," isak Aqila.


Sedangkan Frans sudah sampai di mansion nya, pria keturunan itali itu memasuki mansionnya.


"Frans!" panggil seorang pria paruh baya bernama Geovano Gevonac, dia merupakan ayah dari Frans.


Frans menghentikan langkahnya, dia membalikkan badan menatap sang ayah yang mendekatinya.


"Kamu yakin ingin kembali ke Belanda? bukankah pertunangan mu dengan Aqila sudah dekat?" tanya Geo.


"Batal!" jawab singkat Frans dan berlalu dari hadapan Geo.


"FRANS! PAPAH BELUM SELESAI BICARA!" teriak Geo.


Geo menghela nafasnya kasar, dia sungguh kesal dengan putra sulungnya yang seenaknya membatalkan pertunangannya.


"Nanti gue ngomong ke Gio nya gimana kalau pertunangannya batal?" gumam Geo.


"Ada apa sih pah? kok teriak - teriak begitu?" heran seorang wanita yang merupakan istri dari Frans yang bernama Aneisha Gevonac.


"Kamu liat anak kamu! dia batalin pertunangannya dengan Aqila," kesal Geo.


Ane terkejut, dia menutup mulutnya tak percaya.


"APA?! DASAR ANAK ITU!" teriak ane dan pergi dati hadapan suaminya menuju kamar sang putra.


sedangkan Geo langsung mengambil ponselnya, dia akan membicarakan ini pada Gio.


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.