Dark Memory

Dark Memory
Kedatangan Geo di apartemen Aqila.



Aqila baru saja memasuki apartekennya, dia segera memabawa belanjaannya ke dapur dan menaruhnya di atas meja makan.


"Hah ... haus banget," gumam Aqila.


Aqila membuka kulkas, dia mengambil botol air dan meminumnya.


Sesudah meminumnya, Aqila menaruh botol tersebut kembali ke dalam kulkas. Setelah itu Aqila duduk dan terdiam mengingat kejadian tadi.


"Aurora ... dia masih inget aku gak yah? kalau inget dia curiga gak yah aku beli susu hamil?" gumam Aqila.


Aqila melihat perutnya, dia tersenyum tipis dan mengusapnya pelan.


"Anak bunda gak rewel yah sayang, maafin bunda yah belum bisa kasih tau kehadiran kamu sama keluarga besar kita. Bunda takut mereka malah menyuruh bunda buat hilangin kamu, kamu kekuatan bunda sayang," gumam Aqila.


Tak lama Aqila mendengar suara pintu yang terketuk, dia segera bangkit dari duduknya dan mendekati pintu tersebut.


Cklek!


Aqila terkejut melihat siapa yang berdiri di depannya, dia bahkan sampai tak berucap apapun karena sangking kagetnya.


"O-om Geo?"


Orang itu adalah Geo, dia tersenyum menatap Aqila yang tengah terkejut.


"Kenapa terkejut begitu?" bingung Geo.


"Ga-gak papa om, om ngapain disini?" tanya Aqila.


"Oh maaf om silahkan masuk," ujar Aqila.


Geo tersenyum, dia masuk ke dalam apartemen Aqila.


"BI! ambilin minum buat tamu yah!" titah Aqila pada pembantunya.


"Baik nya,"


Aqila menyuruh Geo duduk, sementara dirinya duduk di sebrang Geo.


"Om tumben kesini, ada apa? tante sehat kan?" khawatir Aqila.


"Tante sehat, cuma belakangan ini dia banyak pikiran. Kamu tau sendirikan kalau tantemu sangat menginginkan kamu dan Frans menikah? dia sangat sedih ketika mendengar kalian memutuskan pertunagan, untuk itu om mau tau kenapa kalian memutuskan pertunangan?" tanya Geo.


Aqila terdiam, dia tak tahu apakah dirinya harus menceritakan ini. Namun, dirinya kembali mengingat perkataan yang menyakitkaj dari orang yang dia cintai sendiri..


"Gak ... aku gak boleh bilang, aku gak mau anak aku di sebut haram lagi. Aku gak mau di katain cewek murahan lagi, aku gak mau!" batin Aqila.


Geo heran melihat Aqila menggelengkan kepalanya dengan wajah panik, dia semakin curiga jika ada yang terjadi diantara mereka berdua.


"Aqila, kamu kenapa nak?" tanya Geo.


"A-aku gak papa kok om," gugup Aqila.


"Kami memutuskan pertunangan lantaran tidak ada kecocokan di antara kami om, mungkin bukan jodoh," ujar Aqila.


Raut Geo berubah, dia dapat menemukan kebohongan pada raut wajah Aqila. Pria yang merupakan master Mafia itu menatap datar ke arah Aqila.


"Selama bertahun-tahun saya menjadi seorang mafia, saya terbiasa melihat kebohongan di mata musuh saya. Untuk itu, mudah bagi saya melihat kebohongan dari mata kamu," ucap Geo.


"Om a-aku ...,"


"Aqila, Kalian kenal bukan setahun dua tahun tapi sedari kalian remaja. Seharusnya waktu itu sudah cukup membuat kalian saling mengenal, jika tidak adanya kecocokan di antara kalian ... kenapa baru kemarin kalian memutuskan pertunangan kalian? om gak bodoh Qila," sela Geo dengan nada datarnya.


Aqila meneguk ludahnya kasar, dia bingung harus menghindar bagaimana lagi. Dia tidak mau memberi tahu Geo tentang hal ini.


"Maaf om, se-sebenarnya ... kak Frans baru mengetahui jika ibuku adalah mantan ... yah kau pasti sudah tau bukan? terima kasih selama ini om dan tante telah menyayangiku walau tahu jika ibuku yah bisa di bilang bukan wanita baik-baik. Taoi om, walau begitu dia tetap ibuku. Anak om tak berhak untuk menghinanya," terang Aqila.


Geo tertegun, dia sungguh terkejut dengan apa yang Aqila ucapkan.


"Jadi selama ini Frans belum tahu?" bingung Geo.


"Iya, aku belum memberitahunya. Dia hanya tahu jika ibuku telah tiada," ujar Aqila.


Geo mengangguk, sepertinya dia mendapat jawaban atas pertanyaannya.


"Maaf kan Frans, om tau dia pasti sangat-sangat menyakitimu," tulus Geo.


"Yasudah, kalau begitu om akan pulang." ujar Geo sambil bangkit dari duduk nya.


"Oh iya, om hanya ingin memberi kabar. Belakangan ini Frans selalu mual-mual dan bertingkah aneh, apa kamu tau dia kenapa?" tanya Geo.


Aqila mengerutkan keningnya, dia heran mengapa Frans bisa mengalami hal serupa dengannya. Namun, dirinya teringat jika belakangan ini dia sudah tak mual dan ngidam lagi. Dirinya kembali normal, lalu mengapa Frans yang mengalaminya?


"Oo-oh begitu, hm ... tunggu sebentar om," ujar Aqila dan pergi ke kamarnya.


"Om, berikan parfum ini kepada Frans jika dia mual-mual kembali," ujar Aqila.


Geo dengan bingung menerimanya, dia mencium parfum tersebut dan kembali menatap Aqila.


"Ini parfum bayi?" heran Geo.


"Iya om, kalau aku mual aku juga mencium parfum itu. Seketika mualku hilang," ujar Aqila.


"Beli dimana parfum ini?" tanya Geo.


"Aku membuatnya sendiri," jawab Aqila.


Geo mengangguk, dia mendekati Aqila dan memberikan sesuatu pada wanita itu.


"Om ... ini ...,"


"Ambillah cincin itu, istriku masih menganggap mu menantunya dan dia ingin kau memakainya walau kalian telah membatalkan pertunangan kalian. Ambillah, kamu sudah kami anggap putri kami sendiri," ujar Geo.


Aqila tersenyum haru, dia memegang kotak tersebut dan menatap Geo yang tersenyum menatapnya.


"Te-terima kasih," tulus Aqila.


"Iya, kalau begitu om pulang dulu," ujar Geo.


Aqila mengangguk, dia mengantarkan Geo keluar.


"Baik sekali mereka, tapi sayang ... mereka memiliki anak yang tak memiliki akhlak!" lirih Aqila dengan penuh kekesalan terhadap Frans.


Sementara Geo telah pulang, selama perjalanan dia hanya menatap parfum yang Aqila kasih.


Beberapa menit Kemudian, dia telah sampai di mansionnya. Dia segera masuk dan mendengar suara histeris istrinya.


Geo segera berlari mendekati asal suara, dia menadapati istrinya yang memekik histeris saat sang putra tumbang karena lemas sehabis muntah.


"PAH! HIKS ... TOLONGIN FRANS PAH!" panik Ane ketika melihat suaminya.


Geo langsung membantu sang anak bangun, dan ternyata Frans masih sadar hanya saja dirinya sangat lemas.


"Pah ... ma-mau muntah lagi ...," lirih Frans.


Geo segera membantu sang anak mendekati westafel, dan dia mengurut tengkuk sang anak.


"Kenapa bisa begini mah?" tanya Geo.


"Gak tau pah, tadi ada temen mamah datang kesini. Terus papasan sama Frans, eh nih anak malah muntah-muntah. Dia bilang mual nyium parfum teman mamah," terang Ane.


Geo yang mendengar kata parfum segera teringat Aqila yang memberinya parfum, segera dia mengambil parfum yang ada di sakunya dan mendekatkan ke hidung sang anak.


"Hirup wanginya," titah Geo.


"Gak mau pah! aku mual nyium parfum," lirih Frans.


"Hirup dulu!" kesal Geo.


Terpaksa Frans menghirupnya, dia menempelkan hidungnya pada kepala parfum. Seketika mualnya terhenti dan dia terus candu dengan parfum itu.


"Gimana? Enakan?" tanya Geo.


"Hm ... papah beli dimana?" tanya Frans.


"Papah di kasih ...


"Kalau bilang ini dari Aqila pasti di buang, kan sayang banget kalau di buang," batin Frans.


"Oh ini papah beli sama temen papah, enakkan wanginya kayak wangi bayi," seru Geo.


Frans mengangguk, dia memegang parfum itu dan keluar dari kamar mandi. Meninggalkan kedua orang tuanya yang saling tatap.


"Kamu dapet parfum itu dari mana mas?" curiga Ane.


"Apaan sih, tadi temen aku tawarin ya aku beli lah," ujar Geo menghindar dari pertanyaan Ane.


Geo keluar dari kamar mandi, sementara Ane masih bingung dengan jawaban suaminya.


"Perasaan temen-temen suami gue pada jualan senjata, saham ataupun properti. Kok bisa minyak wangi?" gumam Ane.


________________


Ok, karena banyak yang bilang jika yang baru lebih bagus. Author akan menggantinya😄, terima kasih untuk kalian yang sudah memberi saran😍😍😍.


Aku sempet kaget sih kemarin karena sama, mungkin karena terlaku sibuk kali yah jadi gak pernah liat beranda. Sekalinya lihat langsung ada itu ya aku kaget, terus juga ada yang komen katanya sama jadi bingung🤭.