Dark Memory

Dark Memory
Gak bisa tidur



"Huh ... gak bisa tidur! hiks ... mas suaminya gak ada!" kesal Lia yang sedari tadi membolak-balikkan tubuhnya di atas kasur king sizenya.


Padahal jam sudah menunjukkan pukul 02.00, tapi Lia belum juga bisa tidur.


"Gue telpon aja kali yah," gumam Lia.


"Tapi ... kalau gue telpon terus bangun, kasihan dong mas suami," frustasi Lia.


Lia mengahadap kanan, dia berusaha memejamkan mata. Tapi matanya berusaha untuk terbuka kembali.


"ARGHHH! gue mau tidur mata! badan gue capek! gue mau tidur hiks ...," isak Lia.


Lia menduduki dirinya, dia hanya terdiam menunggu matanya tertutup. Tapi tetap saja, matanya malah semakin segar.


Akhirnya Lia memutuskan untuk pergi ke kamar Lio, dia beranjak dari kasur dan pergi ke kamar saudara kembarnya itu yang bertepatan di sebelah kamarnya.


Tok!


Tok!


Tok!


Tak ada jawaban, Lia pun inisiatif langsung masuk. Netranya pertama kali melihat kembarannya yang tertidur dengan selimut yang menutupi seluruh badannya kecuali kepala.


"Ck, kebiasaan! gak suka dingin tapi pake AC nya kenceng!" gerutu Lia.


Lia kembali menutup pintu, kaki jenjangnya melangkah mendekati kasur Lio. Dengan iseng, Lia menoel pipi Lio.


"Gue tidur disini yah?" tajya Lia.


Lio yang merasa terusik membuka matanya, seketika matanya melotot ketika wajah Lia dekat dengannya apalagi rambut wanita itu yang tergerai.


"AAAAAAAA!" teriak Lio.


"SYUUUT jangan berisik ogeb!" kesal Lia.


Plak!


Lio memukul mulut Lia, Sementara Lia mengusap bibirnya.


"Lu jahat banget sih!" kesal Lia.


Lio berdecak sebal, dia menatap Lia dengan tajam. "Lu ngapain malem-malem ke kamar gue? mau jadi babi ngepet lu?!"


"Yaelah sensian amat lu, gue mau nebeng di kasur lu. Boleh yah?" pinta Lia.


Lio melirik sinis Lia. "Kamar lu ilang? kayak anak gelandangan lu nginep di kamar orang!"


Lia menimpuk Lio dengan guling, dia sungguh kesal dengan kembarannya ini. Tangannya terangkat menunjuk Lio.


"Yang sopan dong yul! gini-gini gue kakak lu!" seru Lia.


Lio menepis tangan Lia, netranya menatap tajam kembarannya itu.


"Yul?"


"Iya tu-yul!" kata Lia.


Lio bangkit dari ranjangnya, dia menarik Lia keluar dari pintu.


"Lepas! ngapain sih! iiiihh Liooo!" rengek Lia.


Lio membuka pintu, dia mengeluarkan kembarannya yang tengah merengek kepadanya.


"Keluar dari kamar gue, kadal gurun!" sentak Lio dan menutup pintunya kembali.


BLAM!


"Ck, tega bener dah jadi sodara," kesal Lia.


Terpaksa Lia kembali ke kamarnya, dia membuka pintu dengan lesu. Padahal dirinya sangat ingin tidur, tapi yah sifat jahilnya pasti akan keluar jika bersama dengan Lio.


Gadis bermata hijau itu menjatuhkan dirinya di kasur empuk miliknya, cahaya kamarnya yang redup membuatnya tambah merindukan suaminya.


"Coba aja ada telepon batin, gue mau ngomong sama pak suami kalau gue gak bisa tidur karena kangen," cicit Lia.


DERTT!


DERTTT!


Lia terkejut, dia menduduki dirinya dan menatap ponselnya yang berdaa di nakas.


Mulutnya menggumamkan nama kontak tersebut. " Pak suami,"


"AAAA MY LOVE MY HUNNY BUNNY," histeris Lia.


Lia berjingkrang girang, padahal dia belum menjawab panggilan itu.


"Eh ... gue jawab dulu deh,"


Lia mengangkatnya, setelah itu dirinya melihat Ezra yang tengah menatap dirinya sembari tidur samping.


"Kok belum tidur ay?"


Suara berat Ezra memasuki gendang telinga Lia, tampaknya pria itu sudah tertidur dan entah mengapa dia malah menelpon Lia.


"Gak bisa tidur." cicit Lia sambil berjalan kecil ke arah tempat tidur dan merebahkan dirinya.


"Aku kangen," lirih Lia.


Dari sana Ezra juga pun sama halnya dengan Lia, tapi dirinya bisa tidur tak seperti istrinya.


"Tidur, aku temenin," bujuk Ezra.


"Hiks ... gak bisaaa!" isak Lia.


Ezra tersenyum, "Bisa, aku disini. Kamu coba meremin mata kamu,"


Sepertinya bujukan Ezra berhasil, Lia memejamkan matanya dan berusaha untuk tertidur.


Tapi, Lia kembali membuka matanya. "Besok kesini yah,"


"Aku gak tau, besok kan kamu pulang sama bunda dan papah. Nanti aku bakal tunggu disini kok," ucap Ezra.


"Aku maunya di jemput!" kekeh Lia.


Sepertinya Ezra harus ekstra sabar menghadapi kelabilan istrinya, dia juga tak mungkin membujuk Lia langsung saat ini.


"Besok nenek pergi arisan, kakek gak ada yang ngawasin. Jadi, aku harus jaga kakek,"


Alasan Ezra memang benar, dirinya harus memantau sang kakek walau ada dokter dan suster disana.


Lia kembali berpikir. "Hm ... yaudah," lirih Lia.


Ezra tersenyum, dua menatap Lia yang sepertinya istri kecilnya itu tengah mengantuk.


Benar saja, Lia memejamkan matanya. Tak lama dengkuran halus terdengar, Ezra menyunggingkan senyumannya.


"Gak bisa tidur karena kangen, padahal baru tidur serumah sehari tapi gak bisa lepas," kekeh Ezra.


Di layar ponsel Ezra ada pemberitahuan Chat, dia segera membukanya dan ternyata itu dari Lio.


...Lio...


"Gimana? udah tidur tuh bocah?"


^^^"Udah,"^^^


"Ribetin tau gak istri lu,"


^^^"Hahahaha, tapi gue cinta,^^^


"Terserah lu,"


Ezra terkekeh, tadinya dia memang tertidur dan Lio menelponnya. Lio mengatakan jika sepertinya lia tidak bisa tidur, maka dari itu dia meminta Ezra untuk menelpon Lia.


"Selamat tidur my wife,"


***


Seorang pria berpakaian hitam dan bermasker hitam tengah memanjat di sebuah jendela, kepalanya menoleh kesana dan kemari mengawasi sekitar.


KREEET!


Pria tersebut membuka jendela, dia menoleh ke kanan kiri untuk memastikan. Kakinya terangkat untuk melompati jendela itu.


TAP!


Dia berjalan mengendap-endap menuju sebuah kamar, kamar yang bercat putih itu dia geser perlahan.


KREEET.


Dirinya masuk setelah memastikan aman, setelah itu dia kembali menutup pintu dan membalikkan tubuhnya.


Kakinya melangkah pelan mendekati ranjang, netranya menatap seorang wanita yang tengah tertidur dengan posisi menyamping kanan.


"Dia tidur kayak gitu, apa tu anak gak kegencet yah?" gumam pria tersebut.


Pria tersebut membuka maskernya, dan terlihat jika pria itu ternyata adalah Frans.


Frans memasuki apartemen Aqila seperti maling, entah apa yang dirinya ingin lakukan.


Setelah sampai di dekat Aqila, Frans akan membenarkan letak tidur wanita itu. Dia meringis ketika melihat perut Aqila yang sepertinya akan tergencet jika tidur menyamping.


"Shhhtttt,"


Frans berhasil membuat Aqila tidru terlentang, dia menarik selimut sampai di leher Aqila.


Tangannya terangkat mengelus kepala Aqila dengan tangan lain yang mengelus perut wanita itu.


"Maaf ... maafkan aku, tak seharusnya aku mengatakan itu padamu. pasti kau sangat kecewa bukan? maaf ... aku hanya terkejut saat situasi itu, dan saat aku tahu kau hamil. Aku tambah cemas, aku takut kau akan menjadi sasaran empuk pria rakus itu," lirih Frans.


Air mata Frans jatuh, dia beralih menatap tangan kanannya yang mengelus perut Aqila.


"Hai anak daddy, maafkan daddy yang mengatakanmu anak haram. Sungguh sayang, daddy tak bermaksud mengatakan itu. Baik-baik di perut bunda mu ini ya sayang," lirih Frans.


"EUNGHHH,"


DEGHHH!


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.