Dark Memory

Dark Memory
Audrey Robertson



Sesampainya di mansion Elvish, Ezra turun dengan Lia yang ada di gendongannya. Ternyata istrinya tengah tertidur akibat kelelahan.


"Kalian sudah sampai rupanya, Loh Lia kenapa Zra?" tanya Kirana yang baru saja membuka pintu.


"Tidur bund, aku bawa dia ke kamar dulu yah," pamit Ezra.


Kirana mengangguk, dia akan mengikuti Ezra tetapi pendengaran menangkap bunyi suara motor sehingga Kirana kembali membalikkan tubuhnya.


"Viola?" gumam Kirana.


Netra Kirana melihat sang putri yang turun dari motor, begitu pula dengan Lio.


"Kamu kok gak bareng kakak kamu?" heran Kirana.


"Ck, gimana mau bareng? mereka mesra gak kenal tempat! kesel aku!" ujar Viola dan beranjak dari hadapan sang bunda.


Sementara Lio menyalimi tangan Kirana, dan kirana pun tersenyum menatap Lio.


"Terima kasih yah kamu udah anter Viola sampai sini, masuk duku yuk! istirahat, udah sore juga. Besok baru pulang," ajak Kirana.


"Gak usah tant, ini aku mau pulang soalnya mommy suruh pulang cepat karena Ravin rewel nungguin aku pulang," tolak Lio secara halus.


Kirana mengangguk, dia tersenyum dan menatap Lio yang kembali ke motornya.


"BANG LIOOOO!" teriak Kino yang baru saja keluar


Kirana dan Lio sontak saja terkejut mendengar teriakan Kino di tambah anak itu lari mendekati nya.


"Bang, Kino ikut abang pulang yah?" pinta Kino.


Kirana menghampiri anaknya itu, dia menarik Kino tetapi Kino melepasnya.


"Kino mau ikut kak Lio, becok luca balu di demput papah bundaaaaa!" rengek Kino.


Kirana bingung, dia belum izin dengan suaminya yang saat ini masih di kantor.


"Kino belum izin papah sayang," bujuk Kirana.


"Nanti bunda izinkan lah! plec bunda! kino mau main ama Lavin ama Cia duga," melas Kino.


Melihat tatapan melas dari sang anak membuat Kirana menghela nafasnya pelan, terpaksa dia mengangguk yang mana kembuat Kino berjingkrak senang.


"YEEEY! MAKACIH BUNDA!"


"Ayo bang, Kino ikut," ujar Kino.


Lio menatap Kirana meminta izin, Kirana mengangguk menyetujui hal itu.


Lio segera mengangkat Kino ke depannya, sehingga kini Kino sangat terlihat senang menaiki motor besar milik Lio.


"Hati-hati yah Lio, besok kami akan jemput Kino," bisik Kirana.


Kirana akan menjemput nya besok pagi, dia berbisik agar Kino tak mendengarnya.


"Baik tan, kalau gitu saya pamit dulu," pamit Lio.


Motor Lio berjalan meninggalkan mansion, sementara Kirana kembali masuk ke dalam.


***


Elbert kini sedang pusing memikirkan berksanya, sudah 2 minggu dirinya berada di Jepang.


"Ck! ni berkas dari tadi gak selesai-selesai apa?! perasaan dari tadi gue kerjain gak kurang-kurang tumpukannya!" gerutu Elbert.


Tak lama ponsel Elbert berdering, dia melihat nama kontak tersebut seketika raut wajahnya berubah menjadi senang.


Buru-buru Elbert mengangkatnya, dan bamgkit dari duduknya menuju jendela besar.


"Halo darling, bagaimana kabarmu?" sapa seorang wanita dari sana.


"Tak baik sayang, tidak ada kau di sampingku," ujar Elbert.


"Gombalanmu sunggu bagus, tapi sayang itu tak ampuh untukku,"


"Hahahah, honey ... ayolah, aku berkata jujur," ujar Elbert.


"Baiklah ... baiklah, coba lihat ke belakang. Ada siapa?" tanya wanita itu.


Elbert mengerutkan keningnya, dia membalikkan tubuhnya seketika raut wajahnya menjadi terkjut.


"HONEY!" seru Elbert.


Elbert segera mendekatinya, dia memeluk wanita itu dengan erat seakan dirinya akan kehilangannya.


"Kau membuatku terkejut," lirih Elbert dan melepaskan pelukannya.


"Sorry, aku gak bermaksud," ujar wanita itu.


Elbert menariknya menuju sofa, dia mendudukan wanita itu setelah nya dia menduduki dirinya di samping sang kekasih.


"Audrey, kenapa kau bisa ke jepang? apa om Marvin mengetahuinya?" tanya Elbert.


"Iya, papi mengetahuinya. Dia memarahiku, tapi kau tenang saja ... mami selalu membelaku," ujar wanita yang bernama Audrey itu.


Audrey Robertson, putri bungsu dari Marvin Robertson yang merupakan teman dari Alden.


"Elbert aku ke sini ingin membicarakan sesuatu," ujar Audrey.


"Apa?" bingung Elbert.


"Kak Riyo, dia berkata jika pernah melihatmu bersama cewek lain beberapa kali. Bahkan dia pernah melihatmu membeli susu hamil dan membawanya ke suatu apartemen.".


"Jawab sejujurnya El, apakah kamu selingkuh? bukan maksudku, jika hubungan kita harus ...,"


Ucapan Audrey terpotong karena melihat tatapan dingin Elbert, dia merasa takut karena tatapan dingin itu tak pernah di tunjukkan oleh Elbert padanya kecuali pada lawan bisnisnya.


"Kau mencurigaiku?" tanya Elbert.


"Tidak ... maksudku kau ...,"


"Aku tanya, kau percaya padaku tidak?" sela Elbert dengan wajah datarnya.


Audrey meneguk ludahnya kasar, dia takut jika tatapan Elbert menjadi datar padanya.


"Pe-percaya," gugup Audrey.


Elbert menghela nafasnya, dia kembali menormalkan ekspresinya dan menatap Audrey dengan lembut.


"Wanita itu adalah Aqila Lawrance, dia merupakan kakakku sebab ibunya adalah istri pertama daddy yang sudah daddy ceraikan. Dia di perkosa oleh seorang laki-laki yang tidak bertanggung jawab, lebih tepatnya dia adalah mantan kekasih Aqila. Mereka telah merencanakan pertunangan, entah mengapa tiba-tiba pria itu membatalkan," terang Elbert.


"Lalu ... dia memperkosanya? kejam sekali," lirih Audrey.


Elbert mengangguk, kehidupan Aqila tak seberuntung Audrey. Audrey hidup dengan keluarga yang lengkap dan kasih sayang yang lengkap. Berbeda dengan Aqila yang tumbuh tanpa sosok ibu dan kembali disakiti oleh Frans.


"Terus, kamu sering ke apartemen dia?" tanya Audrey.


"Gak sih ... paling cuman beliin dia makanan yang dia pengenin. Kamu taukan kalau wanita hamil itu banyak ngidamnya? apalagi aku gak tega ngeliat dia muntah-muntah kayak gitu," ujar Elbert.


"Kasihan sekali, apa keluarga tidak ada yang tahu?" heran Audrey.


"Tidak, ini baru aku yang tahu. Dia masih trauma dengan ucapan pria itu yang mengatainya wanita murahan dan mengatakan bahwa janinnya adalah anak haram. Dia takut jika keluarga tahu mereka akan berkata seperti itu padanya," lirih Elbert.


Audrey terdiam, dia membenarkan apa yang Elbert ucapkan. Tak semua orang bisa menerima kenyataan ini, kebanyakan mereka akan memandang rendah wanita yang hamil di luar nikah.


"Yasudah, kau sudah makan siang? ayo kita makan di luar," ajak Audrey.


Elbert mengangguk seraya tersenyum, dia beranjak dari duduknya. Begitu pula dengan Audrey.


Mereka memutuskan untuk makan di restoran terdekat.


Sementara itu, Alden tengah sibuk berkutat pada berkas kantornya. Karena beberapa hari ini mengalami masalah karena bawahannya yang korupsi.


"Ck, tikus gak ada akhlak!" kesal Alden.


Alden mengacak rambutnya frustasi, jam telah menunjukkan pukul 4 sore.


"Masa lembur lagi? hah ... kesel! kesel! kesel!" gerutu Alden.


Alden menatap pintu, dia melihat asistennya masuk dengan laptop di tangannya.


"Gimana Alvan? dah ketemu tadi tikusnya?" tanya Alden.


"Sudah tuan, ternyata dia adalah seorang pria yang memiliki 3 istri dan 2 anak. Pria itu bernama Seno tuan," ujar Alvan.


Alden melongo mendengar penjelasan asistennya, bahkan dia sampai merebut laptop Alvan.


"Gue kira mukanya cakep makanya punya bini tiga, eehh malah 11 12 sama upil dugong,"


"Haah?!"


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.