
Kini Lia dan Ezra sedang berada di kamar, mereka sedang menidurkan Cia. Dengan berbaring di ranjang dan Cia yang berada di tengah mereka.
"Lia, boleh aku bertanya padamu?" tanya Ezra sambil menatap Lia yang tidur menyamping sambil menghadap Cia.
"Ya," jawab Lia.
"Ehm ... kemarin lusa kita bertunangan, lalu kapan kau siap menikah denganku?" tanya Ezra sambil menatap intens pada Lia.
Lia yang sedang mengelus kepala Cia akhirnya menghentikan kegiatannya, dia menatap Ezra dengan bingung.
"Kenapa harus buru-buru? aku masih berusia 19 tahun, dan juga pelatihan militerku belum selesai," jawab Lia.
"Tapi umurku sudah 26 tahun Lia, umurku sudah sangat matang untuk menikah. Kalau urusan militer, kau bisa berhenti dengan menyerahkan surat pengunduran diri," ujar Ezra yang merasa tak terima.
Lia tampak berpikir, dia juga tak menyukai masuk militer. Tapi, dirinya sudah nyaman berteman dengan teman kamarnya.
"Tapi aku masih terlalu muda untuk menikah," cicit Lia.
"Mau menunggu sampai kapan? sampai umur ku masuk kepala tiga?" tanya Ezra.
"Ya ... ya enggak, tapi ...,"
"Bagaimana aku menjelaskan pada Kak Ezra jika kakek Jacob selalu menentang keinginannya untuk menikahiku?," tanya Lia dalam hati.
"Lia!" kejut Ezra.
"Ha ... iya apa?" kaget Lia.
Ezra menghela nafasnya, dia bangkit dari acara berbaringnya dengan tangan yang setia memegang bekas luka tembakannya yang memang masih terasa sakit.
Lia hanya melihat kemana Ezra pergi, dia menatap Ezra dengan sendu ketika pria itu keluar dari kamar dan pergi entah kemana.
"Aku bingung, apakah memang kita di takdirkan untuk bersama. Ataukah hanya untuk pertemuan yang singkat?" gumam Lia
"Mungkin kau lupa dengan apa yang terjadi antara kamu dan kakekmu yang memperdebatkan tentangku." lanjut Lia.
Sementara Ezra kini berada di sebuah ruang, tak ada pencahayaan pada ruang itu. Hanya ada lampu kecil yang berada di pojok ruangan.
Ezra duduk di tepi ranjang sambil melihat lurus ke arah depan.
"Apa aku kurang meyakinkan Lia untuk menikah denganku? apa dia takut jika ini hanyalah lelucon? bukankah dia sudah menerima lamaranku? apa dia belum juga percaya dengan diriku yang serius padanya?" lirih Ezra.
Dertt!
Dertt!
Ezra berdecak sebal, dia mengambil ponselnya yang berada di saku celananya dan melihat siapa yang menelponnya.
"Ck, kenapa pak tua itu menelponku? menyusahkan!" gerutu Ezra.
Walau begitu, Ezra tetap mengangkatnya dan menunggu pak tua yang di maksud Ezra membuka suara.
"Kamu di mana Ezra?!"
"Apa urusannya dengan anda?" acuh Ezra.
"Kamu! huh ... kenapa kamu menolak perjodohan itu hah?! kakek sudah bilang jangan kecewakan kakek Ezra! apa kurangnya Clara untuk mu? dia cantik baik dan berpendidikan, kenapa kamu menolaknya?! lihat sekarang, dia malah membatalkan perjodohan itu!" sentak pria tua itu yang tak lain adalah Jacob Elvish kakek dari Ezra.
Ezra mencengkram kuat ponselnya, matanya memerah ketika mendengar sentakan Jacob. Dirinya lelah menjadi boneka bagi Jacob.
"Jika kau masih menganggapku boneka lagi, maaf sekali. Sepertinya aku sudah tidak bisa menjadi bonekamu yang selalu menuruti perkataanmu," ucap Ezra.
Tuuuut.
BRAK!
Ezra mematikan ponsel tersebut dan melemparnya, dirinya sudah lelah dengan ancaman dan tuntutan Jacob terhadap dirinya.
Ezra menumpu kepalanya menggunakan kedua tangannya, dia berkali-kali membuang nafas kasar untuk menetralkan emosinya.
Ezra mendengar suara pintu terbuka, tetapi dia tetap pada posisinya. Hingga tepukan di bahunya memaksanya untuk menoleh.
"Ay, ngapain kamu kesini?" tanya Ezra dengan lembut.
Lia menatap sendu Ezra, dirinya sedih melihat Ezra yang rapuh. Dengan segera Lia memeluk kepala Ezra.
Ezra yang terkejut membalas pelukan Lia, Ezra menyembunyikan wajahnya. Dia sangat ingin sekali menangis.
"Apa salah aku hidup di dunia ini? apakah aku hidup untuk menjadi boneka pak tua itu? apakah aku tidak pantas hidup," lirih Ezra.
"Syuut jangan ngomong begitu, masih ada aku yang ada di samping kamu." bujuk Lia sambil menyisir rambut Ezra dengan jari lentiknya.
Tak lama dengkuran halus terdengar, Lia melihat ternyata Ezra sudah tidur. Dengan inisiatifnya Lia merebahkan Ezra kemudian dia mengangkat kaki Ezra ke ranjang.
Lia menarik selimut sebatas dada Ezra, tangannya memgelus pelan kening Ezra yang keluar keringat.
"Haaah ... terkadang beberapa orang menusukmu dari belakang, lalu mereka bertanya mengapa kamu berdarah? dan itulah yang kini kamu rasakan. Kau merasa kakekmu selalu memberikan yang terbaik bagimu hingga akhirnya kamu merasa telah menjadi bonekanya." lirih Lia sambil mengelus wajah damai Ezra.
Tiba-tiba saja kening Ezra mengerut dalam yang mana membuat Lia beralih mengelus kerutan itu.
"Syuuut, syuuut tenanglah ... Zannanya Leon ada disini," bisik Lia.
Tak lama kerutan itu memudar yang menandakan bahwa Ezra sudah tenang. Lia yang melihat hal tersebut bergegas keluar, dia ingin melihat keadaan Cia selama dia tinggalkan tadi.
***
Di lain tempat, tepat nya mansion Elvish kini Jacob sedang memecahkan barang. Bahkan ruangan kerjanya kini sangat berantakan akibat ulahnya.
"Ezra gak boleh bertemu dengan Lia! dia harus menikah dengan Clara bagaimana pun caranya! Aku tidak sudi memiliki cicit dari keluarga Wesley!" geram Jacob.
Cklek!
Netra Jacob beralih menatap seorang wanita paruh baya yang masuk kedalam ruangannya dengan tatapan terkejut.
"Apalagi ini mas?" heran wanita itu yang dia adalah Dea Wulan Elvish istri dari Jacob Elvish.
Jacob tak menjawab, tetapi Dea mendekati suaminya yang sedang kelewat emosi itu.
"Kamu pasti berantem lagi dengan Ezra kan? mau sampai kapan sih mas?! masa lalu kamu dengan keluarga Jeslyn gak ada hubungannya sama sekali dengan Ezra! kenapa kamu jadikan dia korban hah?!" ujar Dea.
"Diamlah! kau tak mengetahui apapun!" sentak Jacob.
"Iya! aku memang tidak mengetahui apapun, tapi aku tau kenapa kamu benci dengan keluarga Wesley. Karena kamu masih mencintai Jeslyn bukan?" ucap Dea.
"TUTUP MULUTMU DEA!" marah Jacob.
Jari telunjuk Jacob mengarah tepat di wajah Dea, dia menatap tajam Dea yang kini menatapnya terkejut.
"Apa hah?! benarkan, kalau kamu itu sebenarnya masih cinta dengan Jeslyn! kau terpaksa menceraikannya karena rasa bencimu pada Jeslyn lebih besar dari pada rasa cintamu!" ujar Dea.
"Jangan bicara omong kosong Dea! sedari awal perjodohan itu aku memang tidak mencintai Jeslyn. Karena ayah Jeslyn, ayahku tiada karena menyelamatkannya dan jadilah perjodohan konyol itu terjadi!" bentak Jacob sambil menarik kembali tangannya.
Dea terkejut, dia menatap tajam pada Jacob yang juga tengah menatapnya.
"Itu bukan salah ayah Jeslyn mas! itu sudah takdirnya ayah untuk tiada! mungkin ayah Jeslyn juga tak mau hal itu terjadi pada ayahmu!" ujar Dea.
"Tau apa kau tentang takdir hah?! Semua ini salahnya semua ini salahnya!" bersikeras Jacob.
Dea menggelengkan kepalanya, dia tak mengerti mengapa Jacob sangat ingin membalas apa yang terjadi pada ayahnya.
"Sepertinya kejiwaanmu harus di periksa mas," lirih Dea.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.