Dark Memory

Dark Memory
Gracia



Suasana pemakaman pagi ini terasa berbeda, karena banyaknya pasukan militer yang mengelilingi sebuah makam yang bertuliskan nama Heri Andre pratama.


"ABANG! ABANG! HIKS JANGAN TINDALI CIA!"


Teriakan seorang anak kecil membuat atensi mereka beralih menatapnya, mereka terkejut ketika anak kecil tersebut terjatuh tepat di makam sang kakak.


"Abang! hiks ... jangan tindali Cia hiks ... bunda cama ayah udah pelgi tindali Cia, maca abang juga pelgi!" isak anak kecik itu yang mana membuat mereka merasa sangat kasihan.


Lia dan Ezra melihat kejadian itu, mereka berada di barisan paling depan sehingga menyaksikan betapa rapuhnya bocah itu.


"Dia Gracia, adik satu-satunya dari Heri. Menjadi yatim piatu saat berumur 1 tahun adalah mimpi paling buruknya. Dia harus kembali di tinggal Heri saat umurnya 2 tahun karena Heri mengikuti militer, dan kini dirinya harus kehilangan sang kakak keluarga yang hanya dia miliki saat ini," ujar Ezra. Tatapannya pun tak lepas dari anak kecil yang bernama Gracia tersebut.


Lia merasa tersentuh hatinya, dia teringat akan adiknya yang hidup bergelimpang harta dan juga kasih sayang. Sementara Cia, dia harus merelakan semua keluarganya mati di medan pertempuran.


Dengan perlahan Lia melepaskan tangannya yang di genggam oleh Ezra, dia mendekati Cia yang masih terisak sambil menelungkupkan kepalanya.


"Cia namamu bukan?" tanya Lia dengan lembut sambil menjongkokkan dirinya.


Cia merasa terkejut, dia mengangkat wajahnya dan melihat Lia. Air matanya kini kembali jatuh saat kembali melihat makam sang kakak.


"Hiks ... kakak, bilang cama abang hiks ... Cia nda mau uang abang hiks ... Cia hanya mau abang! Cia mauna cama abang, Cia gak makan juga nda papa acal cama abang hiks ...," isak Cia.


Air mata Lia terjatuh, dia tak sanggup mendengar perkataan Cia yang begitu menyayat hati.


"Cia, abang Cia sudah lelah sayang. Nih dengerin kakak," ujar Lia.


Lia memangkup pipi kurus Cia, dia menatap wajah Cia yang begitu sendu.


"Abang selalu ada bersama Cia, bahkan kini lebih dekat dengan Cia. Karena abang Cia selalu ada di sini ...," ucap Lia dan menarik tangannya dari pipi Cia. Setelah itu menaruhnya di dada Cia.


"Di hati Cia," lanjut Lia.


Cia menghentikan tangisnya, dia menatap wajah Lia yang tersenyum sendu.


"Abangnya Cia ada di hati Cia? kenapa ndak di depan Cia aja?" tanya lugu Cia.


"Karena tugas abang sudah selesai, kini saatnya abang kembali. Walau abang sudah kembali ke pangkuan pencipta, tapi kasih sayang dan cinta abang masih berada di hati Cia." jawab Lia sambil mengelus rambut pendek Cia.


Tak lama Ezra mendekati mereka, perutnya masih terasa perih tetapi dia menahannya karena ingin menghadiri pemakaman Heri.


"Sudah mau hujan, lebih baik kita pulang," ujar Ezra.


Lia mengangguk, dia menatap Cia yang masih sedih akibat kepergian sang kakak.


"Mmm maaf, saya ingin membawa pulang Cia kembali ke panti," ujar seorang ibu-ibu yang tiba-tiba saja ada di belakang Ezra.


Lia dan Ezra menatap ibu tersebut dengan pandangan aneh, netra Lia beralih menatap Cia yang memegang lengan Lia dengan erat.


"Hiks ... hiks ... Cia gak mau pulang ke panti kak! hiks ... Cia gak mau!" ujar Cia sambil menggeleng berutal.


Lia memegang pundak Cia, netranya beralih menatap Ezra yang juga tenga menatapnya.


"Em ... Cia, kapan-kapan kakak akan berkunjung ke panti Cia untuk bertemu Cia yah," bujuk Lia ketika kembali menatap Cia.


Cia kembali menangis saat ibu panti menarik lengannya dengan kasar, bahkan Lia dan Ezra menatap ibu tersebut dengan kasar.


"Anda bisa gak jangan kasar?!" sentak Lia sembari beranjak berdiri.


"Maaf, saya harus membawanya kembali ke panti," ujar ibu tersebut dan menggeret Cia dengan kasar.


Lia akan mengejarnya tetapi Ezra malah menghalangi nya, Lia yang kesal akhirnya menyentak tangan Ezra dan berlari mengejar ibu itu. Tapi sayang ibu tersebut sudah hilang bersama Cia.


"Ck, kemana lagi mereka?! gue yakin pasti ada yang gak beres!" gumam Lia.


Ezra dan Lio menghampiri Lia, tetapi Lia menatap Ezra dengan kesal.


"Ini semua gara-gara jendral tau gak?! firasat aku tuh gak enak tentang ibu itu!" kesal Lia.


"Aku tau, tapi kamu gak bisa menghalangi ibu panti. Heri telah menitipkan Cia itu artinya kamu gak bisa ngambil dia seenaknya!" terang Ezra.


Lia menghela nafas kasar, kemudian dia menggandeng lengan Ezra untuk membawanya ke mobil. Sementara Lio, dia kembali menghampiri Reno yang akan beranjak kembali ke akademi bersama yang lain.


"Reno!" seru Lio.


"Gue mau tanya, panti adiknya Heri dimana yah? gue mau kesana," ujar Lio.


"Ngapain?" bingung Reno.


"Lu gak merasa ada yang aneh gitu sama perempuan tadi, dia kayaknya kasar banget sama anak kecil itu. Di depan kita aja kasar apalagi di belakang kita," terang Lio.


Reno mengangguk, dia kembali mengingat di mana panti Cia.


"Gue lupa alamatnya, tapi kalau gak salah tuh panti kasih namanya," ujar Reno.


Lio mengangguk, tangannya terulur untuk mengambil ponselnya dan menelpon seseorang.


"Halo, apa hah?! ganggu aja?!" kesal orang yang Lio telpon.


"Ingat umur dad, gak usah bikin anak lagi," jengah Lio.


Orang yang Lio telpon adalah Alden, sepertinya Lio sangat menggangu Alden hingga pria itu kesal.


"Ck, kamu mau apa telpon daddy hah?!" kesal Alden.


"Daddy mau anak lagi gak?" tanya Lio.


Sepertinya Alden bingung dengan pertanyaan Lio, padahal putra-putrinya tidak mau memiliki adik kembali. Lalu mengapa sekarang dirinya di tanya tentang anak?


"Maksud kamu apa sih?! tadi daddy di bilang gak boleh buat anak lagi terus sekarang di tanya mau punya anak lagi apa gak. Emang kamu kira anak turun dari langit hah tanpa proses pembuatan dulu?!" sentak Alden.


"Bukan maksud aku daddy buat lagi! keenakan daddy yang dirugikan mommy! aku bertanya tinggal di jawab saja," jengah Lio.


"Kamu emang anak titisan jelangkung yah?! kalau gak di buat gimana mau jadi Liooo!" gemas Alden.


Lio terkekeh yang mana membuat Reno terheran-heran. Tetapi dia hanya mengangkat bahunya acuh dan setia menunggu Lio yang asik menelpon.


"Aku mau daddy adopsi anak," pinta Lio.


"Adopsi anak? ngapain? masih kekurangan saudara kamu? tenang daddy buatkan sekarang juga, gak usah adopsi adopsian!" tolak Alden.


"Bukan dad! aku mau daddy adopsi seorang anak perempuan yatim piatu seumuran dengan Ravin, dia baru saja di tinggal abangnya keluarga satu-satunya yang dia miliki. Boleh ya dad?" bujuk Lio.


Alden tak menjawab, tetapi Lio mendengar suara orang tengah beradu mulut disana.


"Halo dad?!" seru Lio.


"Halo! gak, daddy gak ma ...,"


"Halo Lio! ini mommy, mommy mau mengadopsinya. Tidak apa, kau urus segalanya. Jika kau butuh pengacara mommy akan minta pada om Arjuna mu." sela Amora yang sepertinya mengambil paksa ponsel Alden.


"Gak! gak! suruh yang lain aja yang, nanti bakal berantem terus sama Ravin loh," bujuk Alden.


Sedangkan Reno membulatkan matanya, dia terkejut ketika Lio yang ternayta menginginkan hak asuk Cia untuk orang tuanya.


Bugh!


"Gak usah dengarkan daddymu sayang, mommy akan merawat anak itu. Perempuan tadi katamu kan, oh iya ... pasti Ravin akan senang mempunyai teman baru. Jika kamu minta bantuan kami, kami akan segera membantumu," terang Amora.


"Thank you mom! you are the best mother, and he's a bad father," ujar Lio.


Lio tak tau saja jika Alden tengah naik pitam mendengar ucapan sang anak mengenai dirinya.


"ANAK GAK ADA AKHLAK KAMU LIO! PAS KAMU DI KANDUNGAN SIAPA YANG MEMUPUK MU HAH?! GAK ADA BALAS BUDINYA KAMU!" teriak Alden.


Lio menjauhkan ponselnya, sedangkan Reno menatap Lio sambil terkekeh. Sepertinya Reno mendengar teriakan daddynya.


"Crazy family," kekeh Reno



Gracia pratama.


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.