
Entah mengapa belakangan ini Ezra sudah sangat jarang menemui Lia, bahkan ketika mereka bertemu Ezra tak menyapanya sama sekali yang mana membuat Lia heran.
"Lia, lu ada masalah sama abang gue? kok gue liatin dia kayak ngehindarin lu yah?" tanya Viola yang sedang duduk di ranjangnya.
"Gak tau, mungkin karena masalah beberapa hari yang lalu kali. Hais ... abang lu kekanak-kanakan juga yah, gue kira cool gitu," kesal Lia.
"Ya elah Li ... kalo udah punya bini mah, wajar manja. Sama bini sendiri, lah kalo sama bini tetangga baru gak wajar itu," usul Viola.
Lia membulatkan matanya, dia langsung memakai sendalnya dan keluar dari asrama meninggalkan Viola yang bingung dengan reaksi Lia. Beruntunglah mereka berbicara tentang Ezra saat Viola dan Mesya sedang tidak ada.
Lia berjalan tergesa-gesa menuju kamar Ezra, dia ingin meminta maaf atas kejadian beberapa hari lalu.
Tok!
Tok!
To!
"Masuk!"
Setelah di izinkan Lia pun langsung membuka pintu dan menutupnya kembali, dia membalikkan badannya dan melihat Ezra sedang asik bermain ponsel.
"Ada keperluan apa? bukankah hari ini tidak ada latihan? jika tidak ada yang penting silahkan keluar, jangan menggangguku!" ucap Ezra tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.
Lia terkejut mendengar suara Ezra yang terdengar dingin, dia memilin tangannya berusaha untuk mendekati Ezra.
"Sudah saya bilangkan kalau saya tidak mau di ganggu silahkan kelu ... loh ay?"
Ezra terkejut, dia langsung menaruh ponselnya di ranjang dan mendekati Lia yang menatapnya takut.
"Aku ganggu? yaudah aku balik yah," ucap Lia.
Saat Lia akan berbalik badan, Ezra langsung menarik lengannya sehingga wanita itu menubruk dada bidangnya.
"Mau kemana?" tanya Ezra dengan suara beratnya.
"Ma-mau ... mau ... mau balik lah!" ucap Lia berusaha berani.
Lia tak henti-henti mengalihkan pandangan, dia sangat gugup ketika Ezra menatapnya dengan intens.
"Jika sudah masuk, maka sulit untuk keluar lagi sayang." ujar Ezra sambil berkata di dekat telinga Lia.
Lia memejamkan matanya, dia meringkuk takut ketika Ezra tak sengaja meniup telinganya.
Ezra yang menyadari hal itu segera melepas genggamannya, dia berjalan ke arah ranjangnya dan duduk kembali bermain ponsel.
Sedangkan Lia tengah bingung dengan sikap Ezra, dia tahu bahwa ada yang salah dari Ezra.
"Kak aku ...,"
"Keluar lah ay, aku mau istirahat," sela Ezra tanpa melepaskan pandangannya dari ponsel.
Lia tak mengindahkan ucapan Ezra, dia melangkah mendekati ranjang Ezra dan duduk tepat di sebelah pria itu.
"Kamu gak denger aku suruh apa?" ujar Ezra dengan datar.
"Aku ada salah?" tanya Lia dengan wajah memelasnya.
Ezra menghela nafasnya pelan, bagaimana dia beri tahu Lia tentang keadaannya saat ini.
"Bukan kamu yang salah ay, tapi aku ... aku juga pria normal. Aku takut kamu gak nyaman dengan kelakuanku terhadapmu, baru deket kayak tadi aja udah takut," batin Ezra.
"Enggak, udah sana balik ke asrama mu," ujar Ezra.
Lia tak menyerah, dia menyingkirkan ponsel itu dari tangan Ezra dan menduduki dirinya di pangkuan Ezra.
"Ay, jangan macam-macam," peringat Ezra.
Lia hanya menggeleng, dia menjatuhkan kepalanya di dada bidang Ezra sambil menghirup bau maskulin bercampur mint pria itu.
"Sayang ... honey ...," bujuk Ezra.
"Gak mau! gak mau!" rengek Lia dengan menggerakkan badannya.
Ezra memejamkan matanya, tampaknya dirinya sangat menahan sesuatu yang bergejolak yang tak bisa di deskripsikan.
Lia terkejut, dia mengangkat kepalanya dan menatap Ezra tak percaya. Apakah tadi suaminya baru saja membentaknya?
"Ka ... kamu ... hiks ... bentak aku!" isak Lia.
Jatuhlah sudah pertahanan Lia, dia menangis tersedu-sedu mendengar Ezra yang membentaknya.
Lia memukul dada bidang Ezra, dia sangat kesal dengan suaminya itu. Tak lama Ezra menangkap tangannya dan menatap dalam pada Lia.
"Kamu jahat tau gak! daddy gak pernah bentak aku! kamu hanyalah pria baru dalam kehidupan ku yang berani bentak aku!" sentak Lia.
Lia turun dari pangkuan Ezra, dia menarik lengannya tetapi tenaga Ezra lebih kuat. Sementara pria itu hanya diam sambil menatap Lia.
"Seharusnya dari awal aku sadar, kamu Ezra bukan Leon! Leon gak pernah bentak aku, bahkan dia selalu berkata lembut!" ujar Lia yang mana membuat Ezra mengendurkan pegangannya.
Lia berhasil melepaskan tangannya dari genggaman Ezra, dia keluar dari kamar Ezra sembari menangis.
Sementara Ezra, dia hanya menatap datar kepergian Lia. Tak lama ponselnya berdering dan langsung dia mengangkatnya.
"Halo?"
"Besok gue berangkat untuk pengobatan itu, gue gak mau dia semakin kecewa dengan gue," ujar Ezra.
"Kan! gue bilang juga apa?! bukan hanya lu yang tersakiti, tapi Zanna juga!"
"Lupakan! terus ketika lu jarang berada di dekat Zanna, apa yang lu rasakan?"
"Sepi ... hati gue kembali seperti awal sebelum bertemu dengannya, dia ... dia emang tulang rusuk gue yang hilang,"
"Ok, berarti itu tandanya amnesia lu bisa sembuh dengan Zanna. Seharusnya lu punya video tentang kalian berdua, gue yakin bokap lu pasti punya kenangan tentang kalian. Terapi amnesia lo kemungkinan bisa berhasil,"
"Hm ... gue akan coba minta ke papah, terima kasih,"
Setelah mematikan ponselnya Ezra terdiam, dia menatap foto Lia yang ada di meja nakasnya. Foto Lia saat wanita itu tertidur.
"Apapun akan gue lakukan, termasuk menghilangkan memory hitam gue ini menjadi berwarna. Kita bisa merajut sebuah hubungan dengan landasan cinta, bukan karena masa lalu," lirih Ezra.
Sedangkan Lia memasuki kamar asramanya dan menangis tersedu-sedu. Wanita itu menelungkupkan kepalanya lada bantal.
"Kenapa tuh?" tanya Mesya yang sedang berdandan.
"Gak tau, balik langsung begini," jawab Ica.
Viola langsung mendekati Lia, dia mengelus punggung bergetar wanita itu dan membisikkannya.
"Lu kenapa? coba sini cerita sama gue," ujar Viola.
Lia langsung duduk, dia memeluk Viola dengan erat. Dirinya tambah terisak ketika teringat bentakan Ezra.
"Hiks hiks ... kakak lu ... kakak lu bentak gue ...," isak Lia.
Mesya dan Ica mengerutkan keningnya, bukankah Lia biasa di bentak? apalagi ketika latihan, lalu kenapa hanya karena Ezra wanita itu menangis seperti itu..
Viola melepaskan pelukannya, dia menatap Lia dengan wajah terkejutnya.
"Bener? abang gue bentak lu?" kaget Viola.
Lia mengangguk, dia kembali menangis bahkan dia tanpa sadar mengambil kotak tisu Mesya yang berada di ranjangnya.
"Iya hiks ... tujuan gue ketemu dia buat nanya gue salah apa hiks ... abisnya dia ngehindarin gue mulu hiks ...," isak Lia.
"WAAAH ... BENER-BENER TUH ORANG YAH! HARUS DI KASIH PELAJARAN!" teriak Viola sambil menggulung lengan bajunya.
Mesya dan Ica di tambah penasaran, memangnya apa yang salah jika Ezra berprilaku seperti itu? bukankah wajar?
"Lah ... apa masalahnya? kan dia jendral, bukannya biasanya juga gitu yah kalo latihan?" heran Ica.
"MASALAHNYA NTU JENDRAL SUAMINYA LIA!" teriak Viola tepat di depan kedua temannya itu.
"APA?!
" Ups ... sorry ... bocor Li ...," ringis Viola.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN HADIAHNYA YAH❤❤❤.